Rabu, 12 November 2014

[121114] Musim yang Salah

Apa salahnya menyukai seseorang ? setidaknya aku juga hanya manusia biasa yang masih hidup menggunakan akal dan juga perasaanku secara sadar, tapi terkadang waktu selalu tidak pernah bisa kita kendalikan, terutama saat perasaan itu datang hanya dan hanya di waktu yang sangat tidak seharusnya, lalu siapa yang salah ? haruskah aku menyalahkan diriku sendiri, atau …sang waktu ? atau aku harus melepas hatiku dan hidup hanya menggukan pikiranku saja ? setidaknya aku tidak perlu merasakan sakit atau perasaan yang lainnya hanya karena aku memikirkannya, bukan merasakannnya.

Musim hujan tahun ini datang sangat terlambat, rasanya aku sudah lupa bagaimana aroma pagi saat hujan turun deras dimalam sebelumnya, aku pun mulai terbiasa dengan panas mentari yang menyengat dari pada hawa dingin yang menyengat membawa aura kesunyian, aku terbangun dari tidurku dan masih berada didalam selimut tebalku, hujan deras tadi malam disertai gemuruh petir membuatku sulit untuk tertidur, bukan karena takut, mungkin aku hanya belum terbiasa. Berbulan bulan menikmati musim panas yang lebih panjang dari tahun tahun sebelumnya, membuatku sedikit menyadari datangnya musim hujan yang terlambat ditahun ini. Aku memaksa mataku dan mengumpulkan tenagaku untuk segera bangkit dari tempat tidur, mau tidak mau, aku harus berangkat kesekolah hari ini, kalau tidak aku harus mengulang ujian susulan matematika saat libur setelah musim ujian selesai, setelah mandi dan mengenakan seragam sekolahku, aku segera berlari menuju sekolah sembari berusaha memasang dasi sekolahku dengan terburu buru, jarak dari rumah kesekolah hanya butuh sepuluh menit dengan berjalan kaki, aku harap hujan tadi malam tidak membuat jalanan licin untukku berlari cukup kencang.

Tepat pada saat bel masuk sekolah berbunyi, akhirnya aku berada didalam kelasku, aura dingin yang disisakan hujan tadi malam sepertinya bukan hanya aku yang merasakan dampaknya, setidaknya bukan hanya aku yang terlambat sampai dikelas hari ini jika saja aku tidak tinggal cukup dekat dengan sekolah, “bisa kita bicara ?” ujar seorang siswa laki laki yang mendatangi mejaku, jangan khawatir dia bukan orang yang tidak aku kenal, bahkan kami belajar dikelas yang sama selama dua tahun berturut turut, “oh ketua kelas ternyata ? masih ada perlu, atau ada sesuatu yang ternyata belum kita selesain ?” jawabku langsung padanya, bahkan aku melotot menjawab kalimatnya, “ikut aku” ujarnya menarik tanganku keluar kelas.

“apaan nih, pagi pagi sudah ngajak ribut, nggak denger apa kalau bel sudah bunyi ?” tanyaku tidak suka, belum lagi pergelangan tanganku sedikit terasa nyeri oleh genggamannya, “kamu tahu kan kalau aku nggak suka kamu ikut campur dengan urusan aku, lagi pula kita sudah nggak ada hubungan apapun lagi, jadi tolong berhenti ikut campur urusan orang” bisikknya padaku dengan menekan setiap kata yang keluar dari mulutnya, saat itu aku sama sekali takut mendengar kata katanya, kalimat itu terdengar seperti bentakan ditelingaku, belum lagi matanya yang memandangku dengan tatapan benci dan amarah, “oke, aku minta maaf” jawabku tepat didepan wajahnya lalu pergi masuk kedalam kelas.

Selama jam ujian, aku berhasil melupakan sedikit masalah barusan karena soal ujian yang cukup rumit sebab aku tidak mau nilai ujianku menurun, dan juga aku sangat berharap bisa segera keluar dari kelas dan pergi sebelum dia lagi lagi mendatangiku.

Sekitar beberapa minggu yang lalu, dia mengajakku untuk menemaninya bermain basket bersama teman temannya, saat itu semua keributan diantara kami berawal . . .
“kamu tuh ya, ngapain sih tebar pesona dengan anak anak cheers yang kecentilan itu ?”
“kamu bilang aku tebar pesona ? terus kamu sendiri gimana ? aku tadi liat kamu ngobrol akrab banget dengan temen temen basket aku !”
“wajar dong aku akrab sama temen kamu, aku kan juga pengen kenal dengan temen temen kamu, lagian kamu sendiri kok yang ajakin aku kesini ?”
“iya emang aku yang bawa kamu kesini, tapi bukan berarti kamu bisa sok akrab sama temen temen aku, ngerti ?”
“oke fine, mulai sekarang jangan pernah lagi kamu minta temenin aku untuk latihan ! aku pulang duluan”

huhff, masalah sepele kekanakan mungkin, tapi disitulah semuanya benar benar bermula, saat keesokannya aku melihatnya bersama para siswi cheerleader bahkan dia sampai tidak menyadari aku yang sengaja lewat didepan mereka . . .

waktu jeda antara jam ujian matematika dan bahasa inggris adalah 45menit, cukup untukku menenangkan diri ditaman belakang sekolah, sembari membuka lembaran buku bahasa inggrisku, aku duduk bersandar di salah satu pohon besar yang rindang, aku masih bisa mencium aroma lembab rerumputan dan dedaunan setelah mereka diguyur hujan pertama sepanjang malam tadi, entah kenapa aku merasa musim hujan kali ini sangat datang diwaktu yang tidak tepat.

“kamu mantannya Boby kan ? kapten tim basket, kalo nggak salah kalian sekelas kan ?” seorang siswi tiba tiba datang bersama dua temannya berdiri dihadapanku, mereka terlihat tinggi dan jujur terkadang aku iri dengan tubuh sempurna yang mereka miliki, “mantan Boby ?” tanyaku mengulang kalimat mereka, apa lagi ini ? bisakah aku hanya fokus pada ujianku saja kali ini ? aku berdiri dari dudukku dan membersihkan sedikit sisa rerumputan dari seragam sekolahku, dengan pin yang mereka gunakan di dada sebelah kanan seragam mereka, aku semakin yakin bahwa mereka adalah anggota cheers, “ada perlu apa ? kalau kalian pengen ketemu dengan dia, dia tadi masih dikelas” jawabku mencoba bersikap biasa, lalu berbalik badan meninggalkan mereka, “berenti ! kita belum selesai ngomong” teriak salah seorang dari mereka, “kenapa ?” jawabku setengah ingin tau, “kenalkan, aku Erika kapten cheers yang juga pacar barunya Boby” ujar salah satu dari mereka dan mengajakku bersalaman dengan menyodorkan tangannya kearahku, ah memuakkan! Apakah dia perlu melakukan hal itu ? kenapa dia tidak sekalian pergi keradio sekolah dan membuat pengumuman disana ? oh aku lupa mungkin karena Boby bukan hanya pacar yang dia punya ? bukankah anak anak cheers yang centil seperti mereka akan selalu berusaha mencari kesempatan untuk mengumpulkan pacar se update mungkin ? “oh iya, hai aku Raina mantannya Boby sih, tapi tenang kita putus bukan karena orang ketiga, jadi santai aja, oke ?” jawabku berusaha bergaya ramah sembari sedikit tertawa, aku bisa membayangkan dua reaksi yang akan mereka berikan berikutnya, pertama mereka akan terkejut dan setelah itu masa bodoh denganku, yang kedua ..ah bisa saja gadis itu emosi lalu dia menjadikanku korban penindasan mereka ? “wah Raina, thanks ya kayaknya kamu iklas kalau Boby udah jadian dengan aku ?” jawab gadis itu, baiklah kedua tebakanku salah mungkin ? “oke, bye” jawabku dan kali ini aku benar benar pergi.

Aku kembali kekelas, duduk ditempat dudukku yang berada di sisi jendela kelas yang menghadap kelapangan upacara dan melembar pandanganku jauh, bukan karena memikirkan ujian bahasa inggris yang sebentar lagi akan dimulai, tapi aku bingung, untuk apa gadis itu menemuiku, dan tunggu ! Boby tadi pagi kesal padaku karena apa ? apakah aku melakukan sesuatu sebelumnya ?

“Raina !! denger deh, lagu cover yang kamu kirim keradio sekolah di play loh” panggil Ana, teman sekelasku yang selalu juara kalo urusan olimpiade matematika dan juga jago bermusik, dia mendatangiku dan memberikan salah satu earphone yang terhubung pada ponsel ditangannya, “emm, iya” jawabku tidak sepenuhnya antusias mendengarkan siaran radio, “ini lagu request dari boby beberapa minggu lalu kan ? waktu itu dia minta kamu cover lagu ini ?” ujar Ana kemudian, baiklah aku pikir Ana sudah cukup baik jika saja dia tidak menyebutkan nama itu saat ini, tapi ternyata dia sama saja, ...huhff aku mendesah nafas panjang dan berjalan keluar kelas meninggalkan Ana yang bingung dengan sikapku, tapi biarlah aku pun tak tahu harus melakukan apa.

Sejak satu jam yang lalu aku masih terkurung dihalte bis didepan sekolah, sial aku lupa untuk membawa payung, padahal aku sudah mempersiapkannya tadi malam, belum lagi jas sekolahku yang hanya satu satunya ini, bahaya jika basah terkena hujan meskipun aku bisa saja berlari kencang menuju rumah, hanya saja hujan siang ini terlalu deras, bahkan aku cukup sulit melihat kearah seberang jalan. Aku memeluk erat diriku sendiri, rok sekolahku yang hanya sebatas lutut membuat aku mulai merasa kedinginan setelah satu jam lebih disini, hm akankah musim hujan kali ini menjadi sangat tidak bersahabat untukku ?

“Ini, kebetulan aku ada payung dimobil, kamu bisa pake ini dan balikin besok saat kita ketemu dikelas” tiba tiba seseorang turun dari mobilnya dan memberikanku sebuah payung lipat berwarna coklat tua, “nggak aku nggak butuh payung kamu” tolakku melangkah mundur darinya, “terserah deh kamu mau ambil atau tinggalin payung ini disini, aku buru buru dah” ujarnya memberikan payung itu secara paksa ketanganku, saat dia kembali kedalam mobilnya, aku sekilas melihat Erika duduk disebelah kursi kemudi, apa maksudnya ? menyebalkan !

Tepat pukul dua siang, aku berhasil tiba dirumah dengan keadaan sepatu sekolah yang basah terkena hujan, aku langsung buru buru melepas sepatu dan kaos kakiku lalu masuk kekamarku, “Raina, kamu hujan hujanan dek ??” teriak kakak yang sepertinya melihat jejak tetesan air yang menetes dari seragam sekolahku, aku langsung masuk kekamar mandi untuk membuka seragamku, lalu aku mengguyur tubuhku dengan air hangat dan membiarkan pancurannya membasahi seluruh tubuhku, aku benci hari ini, bukan karena ujian, bukan karena Boby, Erika ataupun Ana, aku hanya tidak suka ketika perasaan dingin, sepi dan deru hujan datang berasamaan memenuhi seluruh hariku.

Terkadang, aku merasakan bahwa aku sangatlah kesepian, tapi aku bukanlah tipikal seseorang yang akan menunjukan hal itu pada orang lain, tapi sejak aku dan Boby hampir setiap hari bertengkar saat kami bertemu disekolah, aku hampir selalu gagal menyembunyikan perasaan perasaan negatifku itu.

“Raina, kakak pergi dulu ya. Kalau kamu mau makan, itu masih ada ikan goreng didapur” ketuk kakak dari depan pintu kamarku, hm kakak memang selalu begitu, yang dia pikirkan hanya makan dan sekolahku saja, dia tidak pernah mau tau apa yang sedang terjadi padaku, setidaknya tolong beri aku waktu untuk tidak sendirian setiap aku pulang kerumah.

Besoknya disekolah, aku datang tanpa menggunakan jas sekolahku, dan juga aku terpaksa menggunakan sepatu olahraga karena baik sepatu maupun jas sekolahku basah kuyup karena hujan kemarin siang, belum lagi aku sedikit terserang flu sejak tadi aku bangun tidur, untung saja ujian hari ini adalah evaluasi praktek bahasa Indonesia dan bahasa daerah, aku hanya berharap aku mendapatkan giliran lebih awal agar bisa segera beristirahat diruang UKS.

“Jadi kamu bener bener pulang hujan hujanan kemarin ?” tanya Boby mendatangi tempat dudukku, kali ini aku tidak melihat tatapan emosi dimatanya, “nggak, sorry aku kasih payung itu ke anak kecil yang kebetulan juga nggak bawa payung” jawabku tanpa memandangnya, tapi aku tidak berbohong tentang payung itu, tanpa bicara apapun, dia langsung menempelkan tangannya dikeningku, aku refleks menepis tangannya dari kepalaku, “apaan sih, nggak usah sok perhatian deh” bentakku padanya, sepertinya suaraku terlalu keras hingga membuat seisi kelas memandangi kami berdua, “oh iya maaf, aku lupa kalau kita sudah nggak ada hubungan apa apa lagi” jawabnya yang sama sekali tidak terpancing emosi, aku bingung apa maksud sikapnya itu ? kemana ketua kelas yang pagi pagi kemarin menarik tangaku dengan kasar dan berbicara seolah menintimidasiku ? “kemarin Erika nemuin aku” ucapku cepat saat dia sudah berbalik menuju kekursinya, “selamat ya, ketua kelas” lanjutku lagi yang aku yakin dia bisa mendengarku dengan jelas, lalu aku segera berjalan menuju pintu sepertinya aku butuh memasahi kepalaku agar pikiranku sedikit tenang, “tunggu ! Raina tunggu !” teriaknya padaku sedikit membentak, ini yang tidak aku suda darinya, dia tahu dengan baik bahwa aku tidak suka mendengar bentakannya, tapi dia sering melakukan ini jika dia sedang kesal meski hanya untuk masalah sepele, aku terus berlajan menjauh keluar kelas, perlahan menambah kecepatan langkah kakiku, aku berusaha untuk tidak berbalik dan bersikap seolah aku tidak mendengar teriakannya, “drama apa ini ?” tiba tiba Erika muncul tepat dihadapanku dan melotot padaku, beberapa detik kemudian Boby sudah berhasil menyusulku dan berdiri dibelakangku, “sayang, apa kamu masih ada urusan yang belum diselesain sama cewek ini ?” tanya Erika sinis, dia menepuk pundakku beberapa kali seolah memprovokasiku, atau mungkin Boby dengan aksinya itu, “maaf aku buru buru” tolakku dan berusaha meninggalkan mereka, “RAINA BERHENTI!” teriak Boby lagi, aku langsung terpaku berdiri mematung saat itu juga, seolah hawa dingin dari musim hujan berlhasil membekukanku hanya dengan hitungan detik, membuat dadaku terasa seperti ikut membeku dan nafasku menjadi berat, kali ini aku sudah benar benar tidak tau harus melakukan apa lagi, saat nafasku mulai terasa berat dan sesak, saat itulah aku roboh dan tak sadarkan diri.

Aku membuka mataku, tentu saja kakak yang pertama kali aku lihat ada disampingku, sepertinya aku sudah bisa menebak dimana saat ini aku berada, aku bahkan merasakan selang oksigen yang teruhung pada hidungku meski aku tidak melihatnya, “dek kok asma kamu bisa kambuh ? mendadak ? bikin kakak cemas tahu gak ?” ujar kakak yang melihatku sudah membuka mata, “kak, haus kak” jawabku dengan sedikit susah payah mengeluarkan suara, “oh iya sampe lupa” jawab kakak dan membantuku untuk minum, aku lihat dia masih menggunakan kemeja kantornya yang kedua lengannya digulung dan dasinya yang mulai terlihat longgar, “kemarin kamu hujan hujanan berapa lama ? kan dari sekolah kerumah cuma sepuluh menit dek ?” tanya kakak lagi, kali ini aku tidak tau harus menjawab apa, “kak, aku pengen pulang kesekolah sekarang soalnya, hari ini masih ada ujian” jawabku pada kakak yang masih belum mendapatkan jawaban dari dua pertanyaannya, “pulang ?” tanya kakak sedikit kaget, “iya kak, lagian kakak juga harus balik kekantor kan ?” jawabku yang berusaha meyakinkan kakak bahwa aku baik baik saja, “ini udah jam 12 lewat dek, kamu mau ujian dengan siapa disekolah ?” balas kakak menunjukan jam tangannya padaku, aku melotot kaget, bukankah tadi terakhir kali aku disekolah tepat sebelum bel berbunyi ? “kak, emang tadi aku kenapa ?” tanyaku berusaha kembali mengatur konsentrasiku, “nggak tahu, tadi Boby yang telpon, dia bilang kamu tiba tiba pingsan, terus kakak jemput kamu disekolah dan kakak bawa kamu keisni” jawab kakak menjelaskan, “kak, kalau kakak nggak suka sama orang, apa kakak bakalan tetap bantuin orang itu saat orang itu dalam masalah ?” tanyaku, “tergantung dek”
“kak, kalau kakak mutusin pacar kakak karena kakak udah dapet pacar baru, terus mantan kakak sakit apa kakak masih bakalan bantuin dia ?”
“hem ? kalian putus dek ?” tebak kakak tepat, tapi aku yakin aku tidak perlu menjawab kalimatnya barusan, “mungkin dia ngebantuin kamu cuma sebagai manner aja, biar gimana pun dia kan cowok, nggak mungkin dia nggak ngelakuin apa apa kalau dia ngeliat seorang cewek dalam kesulitan, oh iya dia juga ketua kelas kan ? jadi dia pasti ngerasa tanggung jawab dengan anggota sekelasnya” jawab kakak yang menurutku sangat masuk akal, apakah masalah kami sesederhana itu dipikirannya ? “oh iya bener juga” jawabku mendesah kecewa, aku merasa itu bukan jawaban yang aku ingin dengar dari kakak, “kalian putus baik baik kan dek ?” tanya kakak kali ini, aku mengangguk tak ingin menjawabnya lebih, sulit untukku menjawabnya karena takut kakak akan melakukan hal lain jika dia tau bahwa Boby hampir selalu bersikap kasar padaku akhir akhir ini, “kak, aku udah baikan. Pulang yuk” ajakku berusaha memohon, tapi sepertinya gagal karena kakak justru memintaku untuk istirahat setelah aku melahap makan siangku.

Aku jadi teringat saat kami berdebat mulut beberapa hari yang lalu, dia ternyata masih menyangka bahwa aku berusaha selingkuh darinya, dia bahkan menuduh teman sesama organisasiku sengaja mendekatiku, aku tidak tau pikiran apa yang sudah memasuki kepalanya, dia begitu posesif padaku dan seolah tidak ada solusi lain selain bertengkar sembari marah marah padaku dengan suaranya yang keras, dan aku jauh tidak bisa mengerti kenapa aku tidak melakukan apapun dan hanya menerima semua amarah yang dia lontarkan melalui kata katanya itu, ya saat itulah saa dia mengatakan untuk kami berpisah. . . .

Malam ini, hujan deras kembali turun, aku sudah berada dikamarku sejak setengah jam yang lalu, karena menurut dokter aku tidak perlu menginap dirumah sakit, belum lagi besok aku masih harus mengikuti jadwal ujian terakhir disekolah, aku berusaha keras menutup mataku agar biasa tertidur, aku menutup seluruh tubuhku hingga kepala dengan selimut tebal berharap deru hujan tidak bisa kudengar setidaknya hingga aku terlarut dalam tidurku, lalu tiba tiba ponselku berbunyi, ‘sudah tidur ? maaf untuk tadi pagi, kamu baik baik aja kan ?’ oh ternyata pesan masuk dari kontak bernama ‘ketua kelas’ diponselku, aku kembali meletakan ponselku tanpa membalas pesan tersebut, kembali berusaha tidur agar besok kondisiku menjadi sedikit lebih baik, tapi ternyata ponselku kembali berbunyi, kali ini kontak yang sama muncul sebagai panggilan masuk, aku lagi lagi mengabaikannya, namun karena dia terus menghubingiku, akhirnya aku menjawab telpon itu, “kamu baik baik aja kan ? maaf ya aku sudah bentak kamu tadi” ujarnya langsung saat aku menjawab telponnya itu, “halo ? kamu denger aku kan ? kamu baik baik aja kan ? gimana keadaan kamu sekarang ?” tanyanya lagi karena tidak mendapat respon dariku, tapi begitu selasai ia berbicara aku langsung menekan tombol ‘hold’ pada layar ponselku, aku tidak ingin mendengarnya lagi, dan lebih baik aku membiarkan dia berbica sendiri.

Keesokan paginya, Erika menyambutku digerbang sekolah bersama dua temannya, tidak perlu aku tanya lagi kenapa wajahnya begitu terlihat kesal padaku kali ini, dan aku juga tidak perlu menjelaskan ataupun minta maaf padanya bukan ? “pagi Raina sayang, kayaknya kamu harus pindah ke ekskul teater deh, karena akting kamu kemarin bagus banget” sapanya padaku, aku menatapnya dengan tatapan penuh tanya, hal apa yang aku lakukan kemarin yang menurutnya aku sedang berakting ? “akting ?” tanyaku mengulangi kata dari kalimatnya, “iya, lari lari di koridor sekolah dan pingsan, pake ending digendong pula oleh kapten basket ke ruang UKS” ujar salah seorang teman Erika menjelaskan dengan sewot, oke setidaknya aku baru tahu beberapa fakta yang terakhir, wajar rasanya jika mereka kesal padaku, bukan maksudku Erika lebih tepatnya, “maaf, tapi kemarin itu bukan akting” jawabku datar, lalu berjalan masuk kearah gedung sekolah, aku malas meladeni mereka, lagi pula aku sama sekali tidak menginginkan hal seperti itu terjadi.

Ana mendatangiku tepat setelah jadwal ujian berakhir, dia terlihat mengkhawatirkann keadaanku yang kemarin tiba tiba pingsan dan harus dibawa kerumah sakit, tapi sayangnya aku sama sekali tidak ingin mengingat kejadian kemarin, “Raina, maafin aku ya” Boby tiba tiba mendatangi mejaku dan menyodorkan tangannya untuk meminta maaf, wajahnya terlihat menyesal dan suaranya juga terdengar lirih, “bisa kamu berhenti ngeganggu aku ? kamu suka kan kalau aku masuk rumah sakit ? atau kamu suka kan kalau Erika salah paham dengan aku ?” jawabku padanya berusaha menahan emosiku, dia hanya berdiri diam disamping meja ku, tidak bergerak sama sekali bahkan aku hanya bisa mendengar desah nafasnya saja, “aku tau seharunya aku nggak ninggalin kamu dan milih dia” ujarnya beberapa detik kemudian dengan penuh penyesalan, tapi sayang aku sama sekali tidak tertarik untuk kembali dengannya, “oh ya ? terus aku harus gimana ?” tanyaku ketus, “sayangnya aku nggak pernah nyoba untuk belajar nulis dibuku bekas yang sebelumnya sudah pernah aku pake dan sudah penuh dengan banyak coretan” lanjutku tidak ingin menunggunya berbicara, Ana yang melihat kami hanya diam dan pergi tanpa berbicara, “lagi pula, baik buku baru atau pensil baru biasanya selalu terllihat lebih baik dan manarik dibandingkan yang lama kan ? aku yakin kamu lebih tau dari itu, cuma aku memang belum butuh buku baru ataupun buku yang lama sekalipun saat ini” lanjutku lagi dan berdiri dari dudukku, “oh iya ketua kelas, setelah ujian selesai dan kita naik kelas, kamu pengen aku ganti nama apa di phonebook aku, hm?” tanyaku sambil tersenyum kearahnya, aku tahu wajahnya merah padam mendengar deretan kalimatku, namun tetap terlihat jelas bahwa dia menyesal dengan semua kelakuannya, tapi tetap saja, aku tidak ingin memberinya kesempatan kedua, tidak akan pernah.

Akhir pekan diawal musim hujan, aku duduk di teras belakang rumah sambil memeluk gitar kakak, saat ini aku sedang sendirian dirumah karena kakak harus pergi bersama teman teman kantornya, aku mulai memetik gitar itu dan memainkan lagu apapun yang melintas dikepalaku, pagi ini aku harap matahari tidak akan melupakan kami untuk menjadi penyemangat karena sudah hampir seminggu ini dia istirahat dari memberikan sengatan teriknnya dan mengalah pada hujan, aku tiba tiba menghentikan petikan gitarku, saat aku melihat rintik hujan perlahan turun, cepat cepat aku berlari masuk kedalam rumah dan masuk kedalam selimutku, aku takut kalau kalau petir dan gemuruh angin musim hujan segera kembali terdengar.

Aku sebenarnya bukanlah seseorang yang membenci hujan, terkadang aku menikmati turunnya hujan membasahi seluruh bumi dari balik jendela kamarku, dan menanti munculnya pelangi tepat seasaat setelah hujan mereda, dan akupun sebenarnya tidak begitu membenci udara dingin yang terkadang memang snagat menyejukan seakan alam ingin memanjakan kita dengan tiupan udaranya yang melambaikan dedaunan, tapi kenapa musim hujan tahun ini harus datang disaat speeti ini ? kenapa mereka datang terlambat tapi disaat yang tepat ? kenapa mereka harus datang seolah ingin membuatku merasakan sepi, dan seakan hujan juga turun membasahi hatiku. Musim hujan tahun ini, terasa sangat menyedihkan untukku, aku harap musim akan cepat berganti dan aku bisa kembali bersemangat menulis dibuku ku yang baru, . . .



#030891