Rabu, 12 November 2014

[121114] Musim yang Salah

Apa salahnya menyukai seseorang ? setidaknya aku juga hanya manusia biasa yang masih hidup menggunakan akal dan juga perasaanku secara sadar, tapi terkadang waktu selalu tidak pernah bisa kita kendalikan, terutama saat perasaan itu datang hanya dan hanya di waktu yang sangat tidak seharusnya, lalu siapa yang salah ? haruskah aku menyalahkan diriku sendiri, atau …sang waktu ? atau aku harus melepas hatiku dan hidup hanya menggukan pikiranku saja ? setidaknya aku tidak perlu merasakan sakit atau perasaan yang lainnya hanya karena aku memikirkannya, bukan merasakannnya.

Musim hujan tahun ini datang sangat terlambat, rasanya aku sudah lupa bagaimana aroma pagi saat hujan turun deras dimalam sebelumnya, aku pun mulai terbiasa dengan panas mentari yang menyengat dari pada hawa dingin yang menyengat membawa aura kesunyian, aku terbangun dari tidurku dan masih berada didalam selimut tebalku, hujan deras tadi malam disertai gemuruh petir membuatku sulit untuk tertidur, bukan karena takut, mungkin aku hanya belum terbiasa. Berbulan bulan menikmati musim panas yang lebih panjang dari tahun tahun sebelumnya, membuatku sedikit menyadari datangnya musim hujan yang terlambat ditahun ini. Aku memaksa mataku dan mengumpulkan tenagaku untuk segera bangkit dari tempat tidur, mau tidak mau, aku harus berangkat kesekolah hari ini, kalau tidak aku harus mengulang ujian susulan matematika saat libur setelah musim ujian selesai, setelah mandi dan mengenakan seragam sekolahku, aku segera berlari menuju sekolah sembari berusaha memasang dasi sekolahku dengan terburu buru, jarak dari rumah kesekolah hanya butuh sepuluh menit dengan berjalan kaki, aku harap hujan tadi malam tidak membuat jalanan licin untukku berlari cukup kencang.

Tepat pada saat bel masuk sekolah berbunyi, akhirnya aku berada didalam kelasku, aura dingin yang disisakan hujan tadi malam sepertinya bukan hanya aku yang merasakan dampaknya, setidaknya bukan hanya aku yang terlambat sampai dikelas hari ini jika saja aku tidak tinggal cukup dekat dengan sekolah, “bisa kita bicara ?” ujar seorang siswa laki laki yang mendatangi mejaku, jangan khawatir dia bukan orang yang tidak aku kenal, bahkan kami belajar dikelas yang sama selama dua tahun berturut turut, “oh ketua kelas ternyata ? masih ada perlu, atau ada sesuatu yang ternyata belum kita selesain ?” jawabku langsung padanya, bahkan aku melotot menjawab kalimatnya, “ikut aku” ujarnya menarik tanganku keluar kelas.

“apaan nih, pagi pagi sudah ngajak ribut, nggak denger apa kalau bel sudah bunyi ?” tanyaku tidak suka, belum lagi pergelangan tanganku sedikit terasa nyeri oleh genggamannya, “kamu tahu kan kalau aku nggak suka kamu ikut campur dengan urusan aku, lagi pula kita sudah nggak ada hubungan apapun lagi, jadi tolong berhenti ikut campur urusan orang” bisikknya padaku dengan menekan setiap kata yang keluar dari mulutnya, saat itu aku sama sekali takut mendengar kata katanya, kalimat itu terdengar seperti bentakan ditelingaku, belum lagi matanya yang memandangku dengan tatapan benci dan amarah, “oke, aku minta maaf” jawabku tepat didepan wajahnya lalu pergi masuk kedalam kelas.

Selama jam ujian, aku berhasil melupakan sedikit masalah barusan karena soal ujian yang cukup rumit sebab aku tidak mau nilai ujianku menurun, dan juga aku sangat berharap bisa segera keluar dari kelas dan pergi sebelum dia lagi lagi mendatangiku.

Sekitar beberapa minggu yang lalu, dia mengajakku untuk menemaninya bermain basket bersama teman temannya, saat itu semua keributan diantara kami berawal . . .
“kamu tuh ya, ngapain sih tebar pesona dengan anak anak cheers yang kecentilan itu ?”
“kamu bilang aku tebar pesona ? terus kamu sendiri gimana ? aku tadi liat kamu ngobrol akrab banget dengan temen temen basket aku !”
“wajar dong aku akrab sama temen kamu, aku kan juga pengen kenal dengan temen temen kamu, lagian kamu sendiri kok yang ajakin aku kesini ?”
“iya emang aku yang bawa kamu kesini, tapi bukan berarti kamu bisa sok akrab sama temen temen aku, ngerti ?”
“oke fine, mulai sekarang jangan pernah lagi kamu minta temenin aku untuk latihan ! aku pulang duluan”

huhff, masalah sepele kekanakan mungkin, tapi disitulah semuanya benar benar bermula, saat keesokannya aku melihatnya bersama para siswi cheerleader bahkan dia sampai tidak menyadari aku yang sengaja lewat didepan mereka . . .

waktu jeda antara jam ujian matematika dan bahasa inggris adalah 45menit, cukup untukku menenangkan diri ditaman belakang sekolah, sembari membuka lembaran buku bahasa inggrisku, aku duduk bersandar di salah satu pohon besar yang rindang, aku masih bisa mencium aroma lembab rerumputan dan dedaunan setelah mereka diguyur hujan pertama sepanjang malam tadi, entah kenapa aku merasa musim hujan kali ini sangat datang diwaktu yang tidak tepat.

“kamu mantannya Boby kan ? kapten tim basket, kalo nggak salah kalian sekelas kan ?” seorang siswi tiba tiba datang bersama dua temannya berdiri dihadapanku, mereka terlihat tinggi dan jujur terkadang aku iri dengan tubuh sempurna yang mereka miliki, “mantan Boby ?” tanyaku mengulang kalimat mereka, apa lagi ini ? bisakah aku hanya fokus pada ujianku saja kali ini ? aku berdiri dari dudukku dan membersihkan sedikit sisa rerumputan dari seragam sekolahku, dengan pin yang mereka gunakan di dada sebelah kanan seragam mereka, aku semakin yakin bahwa mereka adalah anggota cheers, “ada perlu apa ? kalau kalian pengen ketemu dengan dia, dia tadi masih dikelas” jawabku mencoba bersikap biasa, lalu berbalik badan meninggalkan mereka, “berenti ! kita belum selesai ngomong” teriak salah seorang dari mereka, “kenapa ?” jawabku setengah ingin tau, “kenalkan, aku Erika kapten cheers yang juga pacar barunya Boby” ujar salah satu dari mereka dan mengajakku bersalaman dengan menyodorkan tangannya kearahku, ah memuakkan! Apakah dia perlu melakukan hal itu ? kenapa dia tidak sekalian pergi keradio sekolah dan membuat pengumuman disana ? oh aku lupa mungkin karena Boby bukan hanya pacar yang dia punya ? bukankah anak anak cheers yang centil seperti mereka akan selalu berusaha mencari kesempatan untuk mengumpulkan pacar se update mungkin ? “oh iya, hai aku Raina mantannya Boby sih, tapi tenang kita putus bukan karena orang ketiga, jadi santai aja, oke ?” jawabku berusaha bergaya ramah sembari sedikit tertawa, aku bisa membayangkan dua reaksi yang akan mereka berikan berikutnya, pertama mereka akan terkejut dan setelah itu masa bodoh denganku, yang kedua ..ah bisa saja gadis itu emosi lalu dia menjadikanku korban penindasan mereka ? “wah Raina, thanks ya kayaknya kamu iklas kalau Boby udah jadian dengan aku ?” jawab gadis itu, baiklah kedua tebakanku salah mungkin ? “oke, bye” jawabku dan kali ini aku benar benar pergi.

Aku kembali kekelas, duduk ditempat dudukku yang berada di sisi jendela kelas yang menghadap kelapangan upacara dan melembar pandanganku jauh, bukan karena memikirkan ujian bahasa inggris yang sebentar lagi akan dimulai, tapi aku bingung, untuk apa gadis itu menemuiku, dan tunggu ! Boby tadi pagi kesal padaku karena apa ? apakah aku melakukan sesuatu sebelumnya ?

“Raina !! denger deh, lagu cover yang kamu kirim keradio sekolah di play loh” panggil Ana, teman sekelasku yang selalu juara kalo urusan olimpiade matematika dan juga jago bermusik, dia mendatangiku dan memberikan salah satu earphone yang terhubung pada ponsel ditangannya, “emm, iya” jawabku tidak sepenuhnya antusias mendengarkan siaran radio, “ini lagu request dari boby beberapa minggu lalu kan ? waktu itu dia minta kamu cover lagu ini ?” ujar Ana kemudian, baiklah aku pikir Ana sudah cukup baik jika saja dia tidak menyebutkan nama itu saat ini, tapi ternyata dia sama saja, ...huhff aku mendesah nafas panjang dan berjalan keluar kelas meninggalkan Ana yang bingung dengan sikapku, tapi biarlah aku pun tak tahu harus melakukan apa.

Sejak satu jam yang lalu aku masih terkurung dihalte bis didepan sekolah, sial aku lupa untuk membawa payung, padahal aku sudah mempersiapkannya tadi malam, belum lagi jas sekolahku yang hanya satu satunya ini, bahaya jika basah terkena hujan meskipun aku bisa saja berlari kencang menuju rumah, hanya saja hujan siang ini terlalu deras, bahkan aku cukup sulit melihat kearah seberang jalan. Aku memeluk erat diriku sendiri, rok sekolahku yang hanya sebatas lutut membuat aku mulai merasa kedinginan setelah satu jam lebih disini, hm akankah musim hujan kali ini menjadi sangat tidak bersahabat untukku ?

“Ini, kebetulan aku ada payung dimobil, kamu bisa pake ini dan balikin besok saat kita ketemu dikelas” tiba tiba seseorang turun dari mobilnya dan memberikanku sebuah payung lipat berwarna coklat tua, “nggak aku nggak butuh payung kamu” tolakku melangkah mundur darinya, “terserah deh kamu mau ambil atau tinggalin payung ini disini, aku buru buru dah” ujarnya memberikan payung itu secara paksa ketanganku, saat dia kembali kedalam mobilnya, aku sekilas melihat Erika duduk disebelah kursi kemudi, apa maksudnya ? menyebalkan !

Tepat pukul dua siang, aku berhasil tiba dirumah dengan keadaan sepatu sekolah yang basah terkena hujan, aku langsung buru buru melepas sepatu dan kaos kakiku lalu masuk kekamarku, “Raina, kamu hujan hujanan dek ??” teriak kakak yang sepertinya melihat jejak tetesan air yang menetes dari seragam sekolahku, aku langsung masuk kekamar mandi untuk membuka seragamku, lalu aku mengguyur tubuhku dengan air hangat dan membiarkan pancurannya membasahi seluruh tubuhku, aku benci hari ini, bukan karena ujian, bukan karena Boby, Erika ataupun Ana, aku hanya tidak suka ketika perasaan dingin, sepi dan deru hujan datang berasamaan memenuhi seluruh hariku.

Terkadang, aku merasakan bahwa aku sangatlah kesepian, tapi aku bukanlah tipikal seseorang yang akan menunjukan hal itu pada orang lain, tapi sejak aku dan Boby hampir setiap hari bertengkar saat kami bertemu disekolah, aku hampir selalu gagal menyembunyikan perasaan perasaan negatifku itu.

“Raina, kakak pergi dulu ya. Kalau kamu mau makan, itu masih ada ikan goreng didapur” ketuk kakak dari depan pintu kamarku, hm kakak memang selalu begitu, yang dia pikirkan hanya makan dan sekolahku saja, dia tidak pernah mau tau apa yang sedang terjadi padaku, setidaknya tolong beri aku waktu untuk tidak sendirian setiap aku pulang kerumah.

Besoknya disekolah, aku datang tanpa menggunakan jas sekolahku, dan juga aku terpaksa menggunakan sepatu olahraga karena baik sepatu maupun jas sekolahku basah kuyup karena hujan kemarin siang, belum lagi aku sedikit terserang flu sejak tadi aku bangun tidur, untung saja ujian hari ini adalah evaluasi praktek bahasa Indonesia dan bahasa daerah, aku hanya berharap aku mendapatkan giliran lebih awal agar bisa segera beristirahat diruang UKS.

“Jadi kamu bener bener pulang hujan hujanan kemarin ?” tanya Boby mendatangi tempat dudukku, kali ini aku tidak melihat tatapan emosi dimatanya, “nggak, sorry aku kasih payung itu ke anak kecil yang kebetulan juga nggak bawa payung” jawabku tanpa memandangnya, tapi aku tidak berbohong tentang payung itu, tanpa bicara apapun, dia langsung menempelkan tangannya dikeningku, aku refleks menepis tangannya dari kepalaku, “apaan sih, nggak usah sok perhatian deh” bentakku padanya, sepertinya suaraku terlalu keras hingga membuat seisi kelas memandangi kami berdua, “oh iya maaf, aku lupa kalau kita sudah nggak ada hubungan apa apa lagi” jawabnya yang sama sekali tidak terpancing emosi, aku bingung apa maksud sikapnya itu ? kemana ketua kelas yang pagi pagi kemarin menarik tangaku dengan kasar dan berbicara seolah menintimidasiku ? “kemarin Erika nemuin aku” ucapku cepat saat dia sudah berbalik menuju kekursinya, “selamat ya, ketua kelas” lanjutku lagi yang aku yakin dia bisa mendengarku dengan jelas, lalu aku segera berjalan menuju pintu sepertinya aku butuh memasahi kepalaku agar pikiranku sedikit tenang, “tunggu ! Raina tunggu !” teriaknya padaku sedikit membentak, ini yang tidak aku suda darinya, dia tahu dengan baik bahwa aku tidak suka mendengar bentakannya, tapi dia sering melakukan ini jika dia sedang kesal meski hanya untuk masalah sepele, aku terus berlajan menjauh keluar kelas, perlahan menambah kecepatan langkah kakiku, aku berusaha untuk tidak berbalik dan bersikap seolah aku tidak mendengar teriakannya, “drama apa ini ?” tiba tiba Erika muncul tepat dihadapanku dan melotot padaku, beberapa detik kemudian Boby sudah berhasil menyusulku dan berdiri dibelakangku, “sayang, apa kamu masih ada urusan yang belum diselesain sama cewek ini ?” tanya Erika sinis, dia menepuk pundakku beberapa kali seolah memprovokasiku, atau mungkin Boby dengan aksinya itu, “maaf aku buru buru” tolakku dan berusaha meninggalkan mereka, “RAINA BERHENTI!” teriak Boby lagi, aku langsung terpaku berdiri mematung saat itu juga, seolah hawa dingin dari musim hujan berlhasil membekukanku hanya dengan hitungan detik, membuat dadaku terasa seperti ikut membeku dan nafasku menjadi berat, kali ini aku sudah benar benar tidak tau harus melakukan apa lagi, saat nafasku mulai terasa berat dan sesak, saat itulah aku roboh dan tak sadarkan diri.

Aku membuka mataku, tentu saja kakak yang pertama kali aku lihat ada disampingku, sepertinya aku sudah bisa menebak dimana saat ini aku berada, aku bahkan merasakan selang oksigen yang teruhung pada hidungku meski aku tidak melihatnya, “dek kok asma kamu bisa kambuh ? mendadak ? bikin kakak cemas tahu gak ?” ujar kakak yang melihatku sudah membuka mata, “kak, haus kak” jawabku dengan sedikit susah payah mengeluarkan suara, “oh iya sampe lupa” jawab kakak dan membantuku untuk minum, aku lihat dia masih menggunakan kemeja kantornya yang kedua lengannya digulung dan dasinya yang mulai terlihat longgar, “kemarin kamu hujan hujanan berapa lama ? kan dari sekolah kerumah cuma sepuluh menit dek ?” tanya kakak lagi, kali ini aku tidak tau harus menjawab apa, “kak, aku pengen pulang kesekolah sekarang soalnya, hari ini masih ada ujian” jawabku pada kakak yang masih belum mendapatkan jawaban dari dua pertanyaannya, “pulang ?” tanya kakak sedikit kaget, “iya kak, lagian kakak juga harus balik kekantor kan ?” jawabku yang berusaha meyakinkan kakak bahwa aku baik baik saja, “ini udah jam 12 lewat dek, kamu mau ujian dengan siapa disekolah ?” balas kakak menunjukan jam tangannya padaku, aku melotot kaget, bukankah tadi terakhir kali aku disekolah tepat sebelum bel berbunyi ? “kak, emang tadi aku kenapa ?” tanyaku berusaha kembali mengatur konsentrasiku, “nggak tahu, tadi Boby yang telpon, dia bilang kamu tiba tiba pingsan, terus kakak jemput kamu disekolah dan kakak bawa kamu keisni” jawab kakak menjelaskan, “kak, kalau kakak nggak suka sama orang, apa kakak bakalan tetap bantuin orang itu saat orang itu dalam masalah ?” tanyaku, “tergantung dek”
“kak, kalau kakak mutusin pacar kakak karena kakak udah dapet pacar baru, terus mantan kakak sakit apa kakak masih bakalan bantuin dia ?”
“hem ? kalian putus dek ?” tebak kakak tepat, tapi aku yakin aku tidak perlu menjawab kalimatnya barusan, “mungkin dia ngebantuin kamu cuma sebagai manner aja, biar gimana pun dia kan cowok, nggak mungkin dia nggak ngelakuin apa apa kalau dia ngeliat seorang cewek dalam kesulitan, oh iya dia juga ketua kelas kan ? jadi dia pasti ngerasa tanggung jawab dengan anggota sekelasnya” jawab kakak yang menurutku sangat masuk akal, apakah masalah kami sesederhana itu dipikirannya ? “oh iya bener juga” jawabku mendesah kecewa, aku merasa itu bukan jawaban yang aku ingin dengar dari kakak, “kalian putus baik baik kan dek ?” tanya kakak kali ini, aku mengangguk tak ingin menjawabnya lebih, sulit untukku menjawabnya karena takut kakak akan melakukan hal lain jika dia tau bahwa Boby hampir selalu bersikap kasar padaku akhir akhir ini, “kak, aku udah baikan. Pulang yuk” ajakku berusaha memohon, tapi sepertinya gagal karena kakak justru memintaku untuk istirahat setelah aku melahap makan siangku.

Aku jadi teringat saat kami berdebat mulut beberapa hari yang lalu, dia ternyata masih menyangka bahwa aku berusaha selingkuh darinya, dia bahkan menuduh teman sesama organisasiku sengaja mendekatiku, aku tidak tau pikiran apa yang sudah memasuki kepalanya, dia begitu posesif padaku dan seolah tidak ada solusi lain selain bertengkar sembari marah marah padaku dengan suaranya yang keras, dan aku jauh tidak bisa mengerti kenapa aku tidak melakukan apapun dan hanya menerima semua amarah yang dia lontarkan melalui kata katanya itu, ya saat itulah saa dia mengatakan untuk kami berpisah. . . .

Malam ini, hujan deras kembali turun, aku sudah berada dikamarku sejak setengah jam yang lalu, karena menurut dokter aku tidak perlu menginap dirumah sakit, belum lagi besok aku masih harus mengikuti jadwal ujian terakhir disekolah, aku berusaha keras menutup mataku agar biasa tertidur, aku menutup seluruh tubuhku hingga kepala dengan selimut tebal berharap deru hujan tidak bisa kudengar setidaknya hingga aku terlarut dalam tidurku, lalu tiba tiba ponselku berbunyi, ‘sudah tidur ? maaf untuk tadi pagi, kamu baik baik aja kan ?’ oh ternyata pesan masuk dari kontak bernama ‘ketua kelas’ diponselku, aku kembali meletakan ponselku tanpa membalas pesan tersebut, kembali berusaha tidur agar besok kondisiku menjadi sedikit lebih baik, tapi ternyata ponselku kembali berbunyi, kali ini kontak yang sama muncul sebagai panggilan masuk, aku lagi lagi mengabaikannya, namun karena dia terus menghubingiku, akhirnya aku menjawab telpon itu, “kamu baik baik aja kan ? maaf ya aku sudah bentak kamu tadi” ujarnya langsung saat aku menjawab telponnya itu, “halo ? kamu denger aku kan ? kamu baik baik aja kan ? gimana keadaan kamu sekarang ?” tanyanya lagi karena tidak mendapat respon dariku, tapi begitu selasai ia berbicara aku langsung menekan tombol ‘hold’ pada layar ponselku, aku tidak ingin mendengarnya lagi, dan lebih baik aku membiarkan dia berbica sendiri.

Keesokan paginya, Erika menyambutku digerbang sekolah bersama dua temannya, tidak perlu aku tanya lagi kenapa wajahnya begitu terlihat kesal padaku kali ini, dan aku juga tidak perlu menjelaskan ataupun minta maaf padanya bukan ? “pagi Raina sayang, kayaknya kamu harus pindah ke ekskul teater deh, karena akting kamu kemarin bagus banget” sapanya padaku, aku menatapnya dengan tatapan penuh tanya, hal apa yang aku lakukan kemarin yang menurutnya aku sedang berakting ? “akting ?” tanyaku mengulangi kata dari kalimatnya, “iya, lari lari di koridor sekolah dan pingsan, pake ending digendong pula oleh kapten basket ke ruang UKS” ujar salah seorang teman Erika menjelaskan dengan sewot, oke setidaknya aku baru tahu beberapa fakta yang terakhir, wajar rasanya jika mereka kesal padaku, bukan maksudku Erika lebih tepatnya, “maaf, tapi kemarin itu bukan akting” jawabku datar, lalu berjalan masuk kearah gedung sekolah, aku malas meladeni mereka, lagi pula aku sama sekali tidak menginginkan hal seperti itu terjadi.

Ana mendatangiku tepat setelah jadwal ujian berakhir, dia terlihat mengkhawatirkann keadaanku yang kemarin tiba tiba pingsan dan harus dibawa kerumah sakit, tapi sayangnya aku sama sekali tidak ingin mengingat kejadian kemarin, “Raina, maafin aku ya” Boby tiba tiba mendatangi mejaku dan menyodorkan tangannya untuk meminta maaf, wajahnya terlihat menyesal dan suaranya juga terdengar lirih, “bisa kamu berhenti ngeganggu aku ? kamu suka kan kalau aku masuk rumah sakit ? atau kamu suka kan kalau Erika salah paham dengan aku ?” jawabku padanya berusaha menahan emosiku, dia hanya berdiri diam disamping meja ku, tidak bergerak sama sekali bahkan aku hanya bisa mendengar desah nafasnya saja, “aku tau seharunya aku nggak ninggalin kamu dan milih dia” ujarnya beberapa detik kemudian dengan penuh penyesalan, tapi sayang aku sama sekali tidak tertarik untuk kembali dengannya, “oh ya ? terus aku harus gimana ?” tanyaku ketus, “sayangnya aku nggak pernah nyoba untuk belajar nulis dibuku bekas yang sebelumnya sudah pernah aku pake dan sudah penuh dengan banyak coretan” lanjutku tidak ingin menunggunya berbicara, Ana yang melihat kami hanya diam dan pergi tanpa berbicara, “lagi pula, baik buku baru atau pensil baru biasanya selalu terllihat lebih baik dan manarik dibandingkan yang lama kan ? aku yakin kamu lebih tau dari itu, cuma aku memang belum butuh buku baru ataupun buku yang lama sekalipun saat ini” lanjutku lagi dan berdiri dari dudukku, “oh iya ketua kelas, setelah ujian selesai dan kita naik kelas, kamu pengen aku ganti nama apa di phonebook aku, hm?” tanyaku sambil tersenyum kearahnya, aku tahu wajahnya merah padam mendengar deretan kalimatku, namun tetap terlihat jelas bahwa dia menyesal dengan semua kelakuannya, tapi tetap saja, aku tidak ingin memberinya kesempatan kedua, tidak akan pernah.

Akhir pekan diawal musim hujan, aku duduk di teras belakang rumah sambil memeluk gitar kakak, saat ini aku sedang sendirian dirumah karena kakak harus pergi bersama teman teman kantornya, aku mulai memetik gitar itu dan memainkan lagu apapun yang melintas dikepalaku, pagi ini aku harap matahari tidak akan melupakan kami untuk menjadi penyemangat karena sudah hampir seminggu ini dia istirahat dari memberikan sengatan teriknnya dan mengalah pada hujan, aku tiba tiba menghentikan petikan gitarku, saat aku melihat rintik hujan perlahan turun, cepat cepat aku berlari masuk kedalam rumah dan masuk kedalam selimutku, aku takut kalau kalau petir dan gemuruh angin musim hujan segera kembali terdengar.

Aku sebenarnya bukanlah seseorang yang membenci hujan, terkadang aku menikmati turunnya hujan membasahi seluruh bumi dari balik jendela kamarku, dan menanti munculnya pelangi tepat seasaat setelah hujan mereda, dan akupun sebenarnya tidak begitu membenci udara dingin yang terkadang memang snagat menyejukan seakan alam ingin memanjakan kita dengan tiupan udaranya yang melambaikan dedaunan, tapi kenapa musim hujan tahun ini harus datang disaat speeti ini ? kenapa mereka datang terlambat tapi disaat yang tepat ? kenapa mereka harus datang seolah ingin membuatku merasakan sepi, dan seakan hujan juga turun membasahi hatiku. Musim hujan tahun ini, terasa sangat menyedihkan untukku, aku harap musim akan cepat berganti dan aku bisa kembali bersemangat menulis dibuku ku yang baru, . . .



#030891

Kamis, 28 Agustus 2014

[Part II] Chase after Unno

Karena sedikit merasa aman, aku memutuskan untuk istirahat sejenak disebuah kedai kopi kecil di dekat exit selatan tersebut, aku meminum kopiku dengan santai sembari menikmati suasana disekitarku, jujur saja bibirku tak bisa berhenti mengulum senyum sejak tadi, bayangkan hanya tinggal 500 meter lagi aku bisa bertemu denganny. Bagaimana penampilannya kini ? apakah dia masih mengingatku ? hmm, aku rasa jarak 500 meter tidak ada artinya dengan jarak yang ada diantara kami selama 7 tahun ini.

Sekitar pukul 1 siang, aku melanjutkan perjalananku, menarik serta koperku, menggendong tas ranselku serta tak lupa alamat dan selembar foto digenggamanku dan akhirnya, aku sampai dialamat yang aku tuju ! aku tak bisa membayangkan jika aku tak bertemu dengan Rei, mungkin aku tidak akan pernah mengetahui alamat kantor Unno bekerja saat ini. Tapi …kenapa kantor ini ramai sekali ? dibagian depan pintu masuk gedung, terlihat sekumpulan remaja wanita berdiri dan membuat kerumunan, entah apa yang sebenarnya mereka lakukan disini. Namun akhirnya mau tak mau aku beranikan diri menerobos keramaian itu, beberapa dari mereka menatapku penuh tanya dan tatapan tak suka, aku tidak mengerti dengan sikap mereka, tapi akhirnya aku tahu, sepertinya mereka tidak mendapatkan ijin memasuki gedung ini, mengingat akupun tak luput dari pertanyaan petugas keamanan sebelum akhirnya aku mendapatkan ijin masuk dan dipersilahkan untuk menunggu, tentu saja setelah aku menjelaskan dengan lengkap maksud dan tujuan kedatanganku kesini. Tak lama kemudian aku mendengar suara riuh rendah teriakan para gadis remaja diluar tadi, saat sebuah minibus datang dan berhenti tepat didepan pintu masuk gedung ini, aku tak bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi, dan siapakah yang datang sehingga membuat para remaja diluar sana terdengar cukup berisik dari tempatku duduk saat ini, di saat yang bersamaan seorang pria berjalan menghampiriku dengan setelan jas rapi, “maaf, apakah ada sesuatu yang bisa ku bantu ?” tanyanya sopan padaku, ah aku pikir dia Unno, ternyata bukan, “aku, aku datang kesini untuk menemui seorang teman. Kami bertemu 7 tahun yang lalu dan dia sempat memberikanku alamat tempat tinggalnya, tapi karena ternyata dia tidak lagi tinggal disana, aku mendapatkan alamat tempat dia bekerja dari seorang petugas kepolisian yang tinggal tak jauh dari alamat tersebut” jelasku sedikit gugup, rasanya akupun bekerja pada perusahaan yang cukup terkemuka di tempatku, tapi apakah sesulit ini jika ingin menemui seseorang ? sepertinya baru kali ini aku harus menjelaskan alasan sedetail itu bahkan pada seseorang yang baru pertama kali aku temui, “maafkan aku, tapi kau tidak akan bisa bertemu dengannya saat ini, karena belakangan ini dia sangat sibuk. Aku harap kau bisa mengerti, jika memang ada yang ingin kau sampaikan padanya, aku bisa membantumu untuk menyampaikan hal itu padanya” jelas pria itu padaku, tapi jujur bukan kalimat itu yang ingin aku dengar darinya, bukan setelah aku menempuh perjalanan sejauh ini, “lalu, kapan aku bisa menemuinya ?” tanyaku tak ingin cepat putus asa, aku juga berusaha berpikir bahwa mungkin saja dia memang orang yang cukup penting diperusahaan ini dan sangat sibuk, “maafkan aku, tapi hingga akhir pekan ini saja jadwalnya masih cukup padat” jawab pria itu kemudian. Sulit untukku mempercayai begitu saja jika dia memanglah sesibuk itu bahkan untuk beberapa hari kedepan !? “percaya padaku, jika kau perlu menyampaikan sesuatu padanya, aku bisa menyampaikan langsung pesanmu padanya, kau juga bisa meninggalkan nomor kontak yang bisa dihubungi jika memang perlu ?” lanjut pria itu lagi, mungkin dia mengerti sedikit gurat keraguan diwajahku. Akhirnya dengan sedikit berat hati akhirnya aku menitipkan surat yang dari awal memang aku tuliskan untuknya yang tanpa kuduga kembali lagi ketanganku itu, aku juga menitipkan kartu namaku, kalau saja dia akan segera menghubungiku setelah dia membaca surat dariku, “baiklah aku akan menunggu” ujarku akhirnya, “oh iya, apakah ada penginapan dengan harga murah didekat sini ?” tanyaku tak ingin cepat putus asa, “ya kau memang harus sedikit bersabar. Penginapan ? kau bisa pergi ke café di seberang jalan, kalau tidak salah mereka menyewakan ruangan dilantai atas gedung” jawab pria berdasi itu, “baiklah, terima kasih. Jangan lupa sampaikan pesanku padanya” pamitku akhirnya dan berjalan pergi kembali kearah kerumunan para gadis remaja diluar sana, namun belum sempat aku sampai dibibir pintu langkahku terhenti saat beberapa pria masuk dan para petugas keamanan memberikan mereka jalan, kebeberapa pria muda dan tampan tersebut terlihat melambaikan tangan dan melemparkan senyuman kepada para kerumuman yang histeris melihat mereka. Tanpa terlalu memusingkan hal tersebut, aku segera melangkah keluar gedung dan mencoba mendatangi café diseberang jalan, berharap memang benar ada ruangan yang bisa ku tempati setidaknya hingga aku berhasil menemui Unno.

Dan ternyata café ini memang menyewakan beberapa kamar munngil untuk wisatawan dengan tarif cukup bersahabat. Aku merebahkan tubuhku diatas kasur kecil dan mencoba menenangkan sejenak pikiranku, juga tetap berdoa penuh harap semoga dia segera membaca suratku dan langsung menghubungiku.

Siang sudah berganti gelap, aku baru terbangun dari tidur siangku, setelah berganti pakaian aku bersiap untuk segera keluar kamar sembari sedikit berkeliling dan mencari makan malam. Entah hampir tiap menit atau mungkin detik aku mengecek ponselku, berharap dia segera menghubungiku, serta foto kami saat 7 tahun yang lalu, entah kenapa senyumannya di foto itu terlihat sedikit sendu untukku saat ini, aku pun mulai merasa khawatir akankah aku bisa bertemu dengannya …?

Hari kedua …bahkan sampai hari ketiga, masih juga belum kudapatkan kabar apapun darinya. Sedangkan besok akan menjadi hari terakhirku disini, sesuai tiket yang sudah lebih dulu aku beli, penerbanganku besok sekitar pukul 2 siang. Pagi ini aku bangun jauh lebih awal untuk sedikit berjalan pagi, aku rasa aku tak merasakan lagi jetlag setelah beberapa hari berada disini.

Aku mengenakan setelan training berwarna pastel dan juga sebuah topi berwarna sedikit lebih tua. Pagi ini aku mulai dengan sedikit berjalan cepat disekitar area penginapanku, meskipun saat ini waktu belum menunjukan pukul 6 pagi tapi suasana disini tidak menyeramkan sama sekali untukku berkeliaran seorang diri.

Tak terasa aku sampai disebuah taman bermain kecil yang disebalahnya ada sebuah lapangan yang tidak terlalu besar, aku memutuskan untuk duduk istirahat sejenak disalah satu kursi taman, “ah permainan basketmu sangat payah !” teriak salah seorang dari beberapa pemuda yang sedang bermain disana, dari tempatku duduk aku bisa melihat beberapa dari mereka sedang bermain basket bersama. Aku memakai topi yang tersambung langsung dengan jaket training ku, berusaha melindungi udara dingin pagi yang segar namun tetap saja terasa begitu lembab, perhatianku masih belum bisa terlepas dari para pemuda dilapangan itu, ah aku semakin merindukan teman temanku, “hei kenapa kau tidak ikut bermain ?” tiba tiba seseorang menepuk pundaku dari arah belakang, aku benar benar kaget dan secara reflex berdiri dari dudukku dan memutar badanku kearah orang tersebut, “oh maafkan aku, aku pikir kau salah satu temanku” ujar pria yang menegurku itu beberapa detik setelah dia menyadari bahwa aku bukanlah salah satu dari kelompok mereka, dan langsung melangkah pergi menuju lapangan, “tunggu !” ujarku cepat, aku merasa seperti mengenalnya tapi entah dimana, lidahku terasa kaku dan pikiranku seakan terhenti, tapi dimana ? aku sepertinya benar benar pernah melihat pria itu, “ada apa, apakah aku mengenalmu ?” tanyanya menghentikan langkahnya karena teriakanku, namun karena tak juga ada jawaban dariku, dia akhirnya benar benar pergi menyusul teman temannya untuk ikut bermain. Karena merasa tidak enak, akhirnya aku langsung memutuskan pergi dari sana dan kembali kepenginapanku, aku pikir tak ada gunanya memikirkan pertemuan barusan.

“Hei, kenapa kalian tidak menungguku ? lihat, aku baru saja mendapatkan surat dari manajer kita, dia mengatakan beberapa hari yang lalu ada seorang wanita yang memberikan surat ini langsung kepadanya dan memintanya untuk menyerahkan surat ini padaku” teriak pria tadi sesampainya dia dilapangan ditengah temannya yang lain, “wah benarkah ? siapa dia, apakah dia cantik ?” tanya salah seorang dari temannya, tanpa menjawab pria itu langsung mencoba membuka surat yang ada ditangannya, “hm …disini tertulis bahwa namanya Anne. Entahlah aku tidak begitu ingat, dia mengatakan bahwa kami pernah bertemu saat aku mengikuti pertukaran pelajar” ujar pria itu membaca ringkas surat tersebut, “Unno ? hha …bagaimana bisa dia memanggilmu Unno ?” sahut seorang teman yang lainnya, “Unno …hm, aku tidak begitu ingat bagaimana awalnya aku mendapatkan panggilan seperti itu” pikirnya berusaha mengingat, “tapi jika melihat gaya bahasa yang ia gunakan, sepertinya kau cukup akrab dengannya ?” pendapat yang lainnya lagi tentang surat itu, “benarkah ? astaga aku benar benar tidak ingat apa apa tentang hal itu” keluhnya karena tidak bisa mengingat siapa pengirim surat tersebut, “oh ya, manajer bilang dia juga meninggalkan kartu namanya” ingat pria itu yang kemudian mengeluarkan kartu nama yang ia dapat bersamaan surat tersebut dari sang menajer, “baiklah, mungkin besok atau lusa aku akan mencoba menghubunginya” ujar pria itu lalu melipat kembali surat tersebut, dan memasukannya disaku pakaiannya, sebelum akhirnya mereka melanjutkan permainan basket mereka.

Hari ini, adalah hari terakhirku dikota ini, tak bisa aku percaya ternyata kedatanganku kesini sangatlah sia sia, meskipun aku sempat berkeliling kota dan menikmati liburanku disini, tapi tetap saja tujuan utamaku kesini ialah untuk menemui Unno. Sebelum akhirnya aku benar benar berangkat kebandara, untuk terakhir kalinya aku menyempatkan diri menanyakan kembali apakah ada sedikit kemungkinan untuk aku bisa menemuinya dikantornya, aku benar benar berdoa sekalipun kemungkinan itu kini sangatlah kecil, aku sangat ingin bertemu dengannya.

“Maaf, dari nama yang kau sebutkan dan foto orang yang ingin kau temui, sepertinya ada sedikit kekeliruan, tapi dia bukanlah Unno. Orang orang biasa memanggilnya Junho, kau hanya terlambat beberapa menit saja datang kemari. Karena mobil yang barusan pergi tadi adalah rombongan mereka, hari ini mereka akan berangkat ke Jepang. Apakah kau tidak tahu grup idola yang bernama 2PM ? pria yang kau cari itu adalah salah satu dari angota grup tersebut” ujar seorang pegawai wanita yang aku tanyai saat aku datang kekantornya kali ini.

Astaga bodohnya aku ! ya, tentu saja aku tahu nama lengkapnya, tapi bagaimana bisa aku tidak peka seperti ini ? tak pernah terpikirkan olehku untuk mencari tahu tentang perusahaan yang sudah beberapa kali aku masuki ini, rasanya aku ingin menangis atau bahkan teriak saat ini juga ! kenyataan bahwa aku sama sekali tak mengenalinya sedikitpun, tidak mengetahui apapun tentang statusnya saat ini, benar benar membuatku hampir gila, bahkan saat ini …mereka sudah jauh lebih dulu pergi. Aku mencoba mengontrol diriku dan berusaha kembali meminta pegawai tersebut memastikan apakah yang dia lihat benar, dan tetap saja wanita itu mengatakan 100% bahwa orang yang digambar itu ialah Lee Junho !!

Bodoh bodoh bodoh ! apa saja yang sudah aku lakukan selama ini ??

Jika memang kenyataannya seperti itu, sangatlah sulit bahkan hanya untukku memikirkan kemungkinan dia akan menerima dan membaca surat dariku ! bagaimana mungkin aku bisa sebodoh ini ?? kenapa tidak terpikirkan dari awal olehku untuk mencari tahu semuanya setidaknya sejak aku mengetahui nama perusahaan tempatnya bekerja ? entahlah aku merasa seperti orang yang sangat dan benar benar bodoh didunia ini. Aku bahkan pergi seorang diri dengan tak pernah menduga sama sekali hal seperti ini akan terjadi.

Selama ditaksi diperjalanan menuju bandara, aku tak berhenti menyesali kebodohanku, bahkan rasanya aku sangat tidak peka terhadap apa yang terjadi dengan dunia disekitarku, setidaknya jika saja selama ini aku tidak terlalu gila bekerja dan berusaha mengumpulkan semuanya untuk pergi menemuinya …oh Tuhan ada apa denganku ??

Sesampainya dibandara aku langsung mencoba mencari tahu segala informasi melalui ponselku, aku ingin memastikan tentang informasi yang aku dengar barusan tentangnya, setelah membaca beberapa fakta tentang perusahaan tersebut, aku akhirnya menyadari betapa banyaknya kesalahan yang sudah aku lakukan selama berhari hari disini, aku memang mengetahui nama lengkapnya, dan memang aku mendengar teriakan mana itu beberapa hari sejak aku disini, namun bukankah bisa saja ada 1 juta orang diluar sana yang memiliki nama yang sama dengannya ? jadi tak pernah terpikirkan sejauh ini oleh ku tentangnya, tentang teman yang sudah 7 tahun ini selalu aku rindukan itu.

Aku melangkah berat menuju lift untuk naik keruang tunggu penumpang, rasanya aku belum bisa menerima pulang tanpa hasil setelah aku menempuh semuanya seorang diri, “Anne !” sebuah suara tiba tiba menghentikan langkahku secara otomatis, aku membalikan badanku kearah sumber suara untuk memastikan bahwa pendengaranku tidak salah, “apakah kau akan pergi begitu saja ?” ucap seorang pria dengan suara yang sama tersenyum padaku, selanjutnya dia melepas topi serta kacamata yang ia gunakan, lalu ia mengacak rambutnya secara tak beraturan sambil terus tersenyum kearahku, “apakah kau ingat siapa aku ?” ujarnya lagi, astaga ! tanpa menunggu aku langsung berlari kearahnya dan memeluknya erat, seolah aku tak pernah ingin melepaskannya lagi dari pelukanku, “aku sangat merindukanmu !” teriakku memukul tubuhnya pelan, “benarkah ? kau beruntung karena seseorang dari perusahaan mengatakan padaku bahwa ada yang datang mencariku tadi” ujar pria itu kembali mengenakan topinya, tapi tetap menggenggam kacamata disebelah tangannya, “kau masih memanggilku dengan nama itu ?” tawa pria itu membuat matanya nyaris tak terlihat, “baiklah, Junho. Lee Junho” jawabku tak ingin berdebat tentang hal itu padanya, “kalau saja aku tidak harus naik penerbangan berikutnya, mungkin kita tidak akan bisa bertemu disini” sambung Junho lagi, ah aku benar benar tidak percaya bahwa dia sama sekali tidak berubah, dia masih seperti seorang teman yang ku kenal dulu, bertahun tahun yang lalu, hanya penampilannya saja yang terlihat jauh berubah, setelah 7 tahun aku tidak melihatnya penampilannya kini jauh terlihat lebih baik.

Akhirnya kami naik lift bersama menuju ruang tunggu keberangkatan, aku bahkan melihat pria yang waktu itu membantuku menyerahkan suratku pada Junho ikut bersama beberapa orang yang lainnya, “maafkan aku, kalau saja aku bisa mengingatmu lebih awal dan segera menghubungimu, mungkin kita bisa sedikit punya waktu yang cukup panjang untuk bertemu” ujarnya saat kami keluar dari lift, tapi menurutku dia akhirnya mengingatku saja, sudah lebih dari cukup untukku, “kau tidak perlu khawatir, dalam waktu dekat kami pasti akan melaksanakan konser dikotamu. Dan kita bisa bertemu lagi, kau akan datang bukan ?” tanya Junho lagi padaku, “tentu, aku akan menunggumu” jawabku dan dia pun merangkul tangannya diatas pundakku, “jadi, ini sudah waktunya kita berpisah ?” tanya Junho akhirnya setelah terdengar pengumuman bahwa sudah waktunya aku naik ke pesawat, tak lagi aku lihat senyuman diwajahnya detik itu, aku tidak langsung menjawab pertanyaan, aku justru memasangkan sebuah gelang yang melingkar disalah satu tanganku dan memasangkannya pada pergelangan tangannya, “kita belum akan berpisah …” jawabku mecoba tersenyum, “…kita baru saja akan bertemu kembali. Jaga dirimu teman” jawabku mengakhiri pertemuan kami dengan kembali memeluknya.

Jaga dirimu teman, pastikan padaku bahwa kau akan selalu bersinar dan selalu baik baik saja. Aku akan selalu menunggu kesempatan untuk bertemu lagi denganmu, sampai jumpa.

Sukses untukmu …


Dari teman 100 hari mu, 7 tahun yang lalu, Anne …


.....[finish]

[Part I] Chase after Unno

Aku membaca kembali surat itu, sebelum akhirnya benar benar aku kirimkan padanya. . . .

Sekitar 7 tahun yang lalu, aku bertemu dengannya secara tidak sengaja, saat dia datang ke kotaku sebagai siswa pertukaran pelajar disekolahku, dari sekian banyak siswa dikelas aku mendapatkan kesempatan duduk sebangku dengannya, hal itu karena dua tahun sebelumnya aku juga pernah mewakili sekolahku mengikuti program pertukaran pelajar. Selama hampir tiga bulan, kami berteman dan belajar bersama, meskipun pada awalnya dia adalah orang yang sangat asing bagiku, tetapi ternyata tidak membutuhkan waktu lama untuk kami bisa dekat dan merasa nyaman satu sama lain, oh iya aku juga biasa memanggilanya dengan panggilan Unno, meskipun itu bukanlah namanya yang sesungguhnya, tapi nama itu sudah cukup mewakili namanya yang sebenarnya.

Sudah 7 tahun berlalu, aku sangat penasaran bagaimana keadaannya saat ini …

Sepulangnya dari mengirimkan suratku itu melalui kantor pos, aku mulai merapikan beberapa pakaian dan perlengkapan lain yang akan aku butuhkan untuk perjalananku pergi menemuinya nanti, sudah beberapa minggu ini aku sengaja mengambil waktu lembur agar bisa mendapatkan ijin cuti dati tempatku bekerja. Pakaian, biaya perjalan, hingga kesiapan mental dan fisik semuanya sudah benar benar aku perhitungkan, dan tinggal menunggu beberapa hari lagi, akhirnya aku akan terbang untuk menemuinya.

Aku tersenyum kecil membayangkan bagaimana pertemuan kami nanti…

Apakah dia sudah mendapatkan surat yang aku kirimkan padanya beberapa hari yang lalu ? apakah dia akan datang dan menyambutku dibandara ? aku memandangi selembar foto yang mulai pudar ditanganku, 7 tahun bukanlah waktu yang singkat untuk menghapus tentangku diingatannya bukan ? tapi aku tidak pernah melupakannya, maka dari itu aku yakin dia juga tidak akan melupakanku.

Setelah berjam jam di pesawat, akhirnya aku tiba di kota kelahirannya, satu hal yang aku pikirkan saat ini ialah berharap dia benar benar akan datang menungguku diluar sana. Tapi …aku sama sekali tidak melihat sosoknya ! bahkan aku tidak menemukan seorangpun dengan wajah mirip dirinya seperti yang ada pada foto yang kubawa, jujur aku kecewa dengan imajinasi ku sendiri, tanpa buang waktu aku segera menuju parkiran taksi dan minta diantarkan kesebuah alamat, ya 7 tahun lalu dia memberikan alamat itu padaku. Meskipun awalnya beberapa dari mereka menolak untuk mengantarkanku, akhirnya ada seorang pengemudi taksi yang mengaku bahwa ia mengenal daerah tersebut,  ah syukurlah aku cukup lega.

Taksi yang aku naiki ternyata langsung mengambil jalur bebas hambatan, sekitar 50 menit kemudian aku sudah sampai disebuah perkampungan kecil yang padat dengan rumah rumah bergaya tradisional dan memiliki jalanan sedikit berbukit dan berliku, namun begitu, kampung ini tetap terlihat indah dan sangat bersih, pengemudi taksi itu mengatakan padaku bahwa dari sini, aku cukup berjalan sedikit kearah jalan berbukit didepan kami, lalu akan akan segera tiba dialamat tersebut, setelah membayar ongkos taksi dan mengucapkan terima kasih padanya, aku langsung menarik koperku, tak lupa juga aku mengencangkan tali sepatuku. Tidak seperti yang aku duga ternyata cukup sulit menemukan alamat yang aku cari, sialnya lagi aku tak menemukan seorang wargapun yang bisa aku tanyai tentang alamat ini, terik matahari dikota ini pada tengah tahun seperti ini, ternyata tidak kalah teriknya seperti dikotaku. Meskipun jalanan berbukit yang seakan tanpa ujung terbentang didepan mataku, aku tetap menyapu pandanganku dan membaca satu persatu tanda alamat yang tertera pada tembok depan disetiap bangunan rumah yang aku lalui, sudah cukup lama aku mencari bahkan rasanya aku ingin menyerah, hingga akhirnya aku menemukan sebuah toko kecil dan memutuskan untuk sejenak beristirahat disana, kebetulan ada tempat duduk kecil didepan toko itu, setelah meneguk habis minumanku, tak lupa aku menanyakan alamat yang aku cari, dan …betapa bahagianya aku saat si penjaga toko mengatakan bahwa tempat aku berdiri saat inilah alamat yang aku cari ! hal yang sangat tidak pernah aku duga sebelumnya. Tapi ternyata senyum dibibirku hanya bertahan beberapa detik saja, karena sipenjaga toko mengatakan bahwa tak ada seorangpun yang seusiaku yang tinggal disana, lalu tiba tiba dia juga mengatakan bahwa dia juga menerima sebuah surat yang ditujukan pada alamat toko ini padaku, astaga ! ternyata surat itu adalah surat yang aku kirimkan beberapa hari yang lalu ! rasanya saat ini tiba tiba sebuah batu berukuran raksasa jatuh tepat diatas kepalaku… barulah aku tahu darinya bahwa ternyata keluarga pemilik bangunan ini yang sebelumnya, sudah pindah kekota sekitar 2 tahun yang lalu, aku langsung merasa putus asa dan kecewa bukan main, parahnya lagi dia tidak mengetahui alamat persis tempat tinggal mereka saat ini !

Aku mendesah nafas panjang, …kecewa …kesal …putus asa dan berbagai macam hal berputar dikepalaku, bagaimana nasibku disini selanjutnya ?

Hari mulai beranjak gelap, dengan langkah lunglai tanpa semangat dan terus berpikir keras, aku melangkahkan kakiku menuju halte bis terdekat. Ya Tuhan …bagaimana ini ? apakah aku harus menyerah sampai disini dan kembali ke bandara saja ? disisi lain, aku juga tak tahu harus bermalam dimana, karena mulanya aku berpikir akan bisa langsung bertemu dengannya.

Bis yang aku tunggu tak juga datang, dari kejauhan aku baru menyadari ada sebuah kantor polisi kecil tak jauh dari halte tempatku menunggu saat ini. Aku beranikan diri melangkah dan menyeberangi jalanan yang mulai sepi didepanku, pikirku akan ada secercah harapan jika aku menanyakan hal ini pada mereka, benar bukan ?
“maaf, apakah kami bisa melihat kartu identidas anda ?”
ya, sudah kuduga mereka tidak akan langsung begitu saja mempercayai orang asing sepertiku menanyakan sebuah alamat dan memberitahuku begitu saja, jadi aku langsung menunjukan semua surat yang berhubungan dengan data diri yang aku bawa, setelah itu mereka juga menanyakan beberapa pertanyaan padaku, seperti apa hubunganku dengan pemilik alamat tersebut, hingga apa alasanku sampai jauh jauh datang kesini. Sekitar setengah jam berlalu, mereka menyambungkan sebuah nomor telpon padaku yang mereka yakini itu adalah nomor telpon dari alamat baru orang yang aku cari, satu kali, dua kali, hingga yang ketiga kalinya, ternyata tetap saja tidak ada jawaban dari nomor telpon tersebut, aku kembali putus asa dan tanpa aku sadari waktu saat ini juga telah menunjukan lewat dari pukul 9 malam. Aku terduduk lemas disebuah kursi yang ada disalah satu sudut kantor polisi tersebut, aku tidak tahu lagi harus bagaimana mengusahakannya, hingga seorang polisi watina menghampiriku dan menawarkanku sepotong roti serta sebotol air mineral padaku, “hai boleh aku menanyakan sesuatu padamu ?” ucapnya ramah tersenyum padaku, baiklah setidaknya aku tidak benar benar merasa terasing disini, “dari alamat yang kau cari, sepertinya aku mengenal salah satu dari penghuni sebelumnya yang tinggal disana” lanjutnya kemudian, mataku langsung terbuka lebar terbelalak tak percaya, “benarkah ?” tanyaku, aku tak bisa lebih sabar menanti kalimat berikutnya dari polisi wanita muda itu, “aku Rei, dulu aku berteman dengan salah seorang anak dari keluarga itu, kalau tidak salah dia memiliki seorang kakak perempuan yang usianya beberapa tahun diatasnya. Dan aku dengar beberapa tahun yang lalu mereka sekeluarga pindah ke kota” cerita polisi yang bernama Rei itu padaku, “apakah kau mengetahui alamat mereka ?” tanyaku menggebu, “hmm, sayang sekali sejak mereka pindah, berita yang terakhir aku dengar saat ini mereka hidup dengan sangat baik, dan akan sedikit sulit jika kita ingin menemui mereka” ujarnya bercerita yang tanpa sadar kembali membuatku putus asa, “tapi…” polisi itu kembali membuka suaranya, “…aku mengetahui dimana temanku itu bekerja. Ya sebenarnya aku dan temanku itu dulunya berteman cukup dekat karena kami sama sama tergabung dalam kelompok drama sekolah” ceritanya padaku lalu memberikan sebuah alamat padaku, “kau bisa bermalam dirumahku malam ini, butuh waktu sekitar 2 jam jika berangkat menggunakan bis kesana, kau bisa mencoba mendatangi alamat itu besok, bagaimana ?” ujarnya yang saat ini justru menawarkanku untuk bermalam ditempatnya, ”benarkah ? apakah itu tidak akan merepotkanmu ?” tanyaku mulai bersemangat lagi, tentu saja aku sangat membutuhkan alamat yang dia berikan, tapi aku lebih membutuhkan tempat untuk bermalam saat ini, “tentu saja, ini juga termasuk tugasku sebagai pelayan masyarakat, lagi pula aku yakin kau bukan orang jahat” jawabnya lagi.

Satu jam kemudian tepatnya pukul 10 malam, kami berjalan pulang menuju rumahnya, tentu saja kami melewati jalanan berbukit dan menanjak yang sama dengan yang aku lalui siang hari tadi, jujur kakiku sebenarnya sudah tidak sanggup lagi berjalan, belum lagi aku harus menarik koper dan menggendong ranselku. “maaf, aku hanya punya ini, kau pasti lapar bukan ? aku akan memasakannya untukmu, sekarang kau mandi dan segera ganti pakaianmu” ujarnya padaku saat kami sudah tiba ditempat tinggalnya, dan mempersilahkanku menggunakan kamar mandi miliknya.

Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, saat ini kami duduk berhadapan dilantai persis didepan kami ada sebuah meja kecil dengan dua mangkuk mi instan diatasnya, dengan asap yang masih mengepul diudara, “ayo makan, kau pasti lapar” ujarnya padaku, “terima kasih, selamat makan” balasku padanya, beberapa menit kemudian aku melihat tatapannya tertuju pada ponselku yang terletak tak jauh dari piring makanku, lalu tanpa bicara dia langsung mengambil selembar foto yang berada persis dibawah ponselku, tentu saja itu fotoku bersama Unno, “oh, kau kah ini ? bagaimana bisa kau ada di foto ini bersamanya ?” tanya Rei kaget saat melihat foto yang pudar ditangannya, “oh…Unno. Jika kau menanyakan hal itu, karena dialah aku berada sidini saat ini, aku kesini karena ingin bertemu dengannya. 7 tahun yang lalu kami bertemu saat dia menjadi siswa pertukaran disekolahku” jawabku yang ikut mengambil jeda untuk menyeruput sup dari mi instan ku, “Unno ? ah mungkin kau lupa, tapi tadi aku sudah mengatakan hal ini padamu bahwa aku berteman dengan anak laki laki dari keluarga pemilik alamat yang kau cari itu. Tapi apakah kau yakin ?” sahutnya panjang, tersirat sedikit kekhawatiran dibalik kalimatnya, “maafkan aku, jadi kau mencari siswa laki laki yang ada di foto ini ?” tanya Rei lagi, jujur aku tidak mengerti apa maksud pertanyaannya, tapi tentu saja, aku jauh jauh kesini memang untuk menemuinya. Seorang teman yang sangat aku rindukan, seseorang yang meski hanya 100 hari aku kenal sekitar 7 tahun yang lalu, “ada apa ? apakah ada sesuatu yang tidak aku ketahui ?” tanyaku padanya, “hmm …aku tidak terlalu yakin. Hanya saja pertama dia bukan Unno, takkan ada yang mengenalinya jika kau menanyakan tentang seseorang dengan nama Unno, namanya tidak hanya sesederhana itu, kau pasti tahu bukan ? dan, tanpa bermaksud membuatmu putus asa, aku juga akan ikut mendoakanmu agar kau berhasil menemuinya besok. Tunggu, aku akan memperlihatkan foto alumni angkatan kami dan padamu” ucapnya semakin membuatku penasaran, aku duduk diam menunggunya mencari buku yang dia maksud diantara jajaran buku pada arak yang menjadi sekat antara ruang makan dan kamar tidurnya itu, tak ada sedikitpun lagi rasa lapar diperutku, yang ada aku hanya ingin segera mengetahui informasi tentang Unno dari Rei, “jadi ternyata saat itu dia pergi mengikuti pertukaran pelajar disekolahmu ?” tanya Rei saat kembali duduk didekatku sambil membuka sebuah buku hitam cukup tebal ditangannya, “ya, kami berteman cukup baik, maka dari itu sebelum dia pergi dia memberikanku alamatnya padaku dan mengatakan padaku bahwa dia akan menunggu kunjunganku kerumahnya suatu hari nanti. Sayangnya saat itu juga terakhir kalinya kami saling berbicara satu sama lain, aku bahkan tak menyangka perlu waktu hingga 7 tahun untuk aku bisa pergi mengunjunginya” jawabku sedikit bercerita, “benarkah begitu ? hm …nah ini dia” jawab Rei singkat lalu menunjukan padaku sebuah foto siswa laki laki berseragam sekolah di dalam buku itu, “ya benar itu Unno” jawabku membenarkan sembari membandingkan foto itu dengan selembar foto ditanganku, dibuku itu terpasang foto seorang murid laki laki dengan garis wajah yang tegas dan senyum tipis dibajahnya tengah menggunakan seragam sekolah dari sekolah asalnya, dia terlihat jauh lebih tampan dengan jas sekolah berwarna biru gelap difoto itu jika dibandingkan dengan fotonya saat menggunakan seragam kemeja putih dengan dasi panjang berwarna nudy has seragam sekolahku dulu, disamping foto itu tertera sedikit biodata singkat tentangnya dan beberapa prestasinya selama disekolah. Jika diingat, tepat satu tahun setelah masa pertukaran pelajar selesai adalah masa kelulusan bagi kami, jadi bisa dipastikan foto ini diambil satu tahun setelah kami berpisah, alias enam tahun yang lalu, “dia adalah salah satu siswa yang popular disekolah, entahlah mungkin karena dia cukup berprestasi dan bagi beberapa siswa perempuan seperti kami, wajahnya juga cukup tampan. Hha…” kenang Rei bercerita tanpa aku minta, “benar, dia juga cukup populer saat dia datang kesekolah kami” sahutku setuju dengan kalimatnya, “apakah kau yakin akan tetap mencarinya ? sayang sekali besok aku harus bekerja, kalau tidak aku pasti akan menemanimu mencari alamat itu” tanya Rei padaku, “jangan khawatir, aku rasa aku sudah terlalu banyak merepotkanmu” jawabku mencoba tersenyum. Tak terasa malam semakin larut, obrolan kami tentang Unno juga berlahan berakhir, malam itu setelah aku mengirimkan email melalui ponselku pada keluargaku dirumah dan mengatakan kepada mereka bahwa aku baik baik saja disini, akupun berusaha menutup mataku dengan tak lupa berdoa dan juga berharap semoga besok aku bisa segera bertemu dengannya.

Pukul 9 pagi, aku kembali melewati jalanan berbukit ini, entah sudah untuk keberapa kalinya, dan tentu saja masih dengan menarik koper serta menggendong ransel milikku, “baiklah kau bisa menunggu disini, jangan lupa kau harus menaiki bis dengan kode S, dan turun pada pemberhentian terakhir” pesan Rei sekali lagi padaku agar aku tidak salah menaiki bis. Setelah bersalaman dia lalu memelukku sebagai tanda perpisahan, setelah itu ia pun langsung menyeberangi jalanan menuju tempatnya bekerja, “terima kasih Rei, aku tidak akan pernah melupakan kebaikanmu !” teriakku sembari melambaikan tangan padanya yang perlahan menjauh, ‘huhfft …’ ku tarik nafas panjang dan meniupnya dengan berat, kupersiapkan diriku lagi untuk melanjutkan perjalananku hari ini seorang diri lagi seperti semula, ditempat yang benar benar asing seperti ini.

Sekitar setengah jam kemudian, akhirnya bis yang kutunggu datang dan berhenti tepat didepanku, setelah sedikit kesulitan mengangkat koperku ke atas bis, akhirnya aku bisa duduk dengan nyaman disalah satu kursi dengan posisi yang persis berada disisi jendela, tempat yang pas untukku agar dapat melihat lihat pemandangan diluar selama perjalanan. Aku kembali memandangi fotoku dan Unno, Tuhan apakah dia juga merindukanku saat ini ? dan lagi lagi perhatianku tertuju pada amplop coklat muda yang berisi surat yang aku tuliskan untuknya, tak pernah aku duga sebelumnya bahwa surat yang sudah aku kirimkan ini akan kembali lagi ketanganku. Sengaja aku tidak membukanya sama sekali, aku masih berharap untuk bisa memberikan surat ini padanya dan membiarkan dia membaca sendiri surat ini. Selama 2 jam diperjalan, dengan perasaan yang campur aduk dan berbagai macam pikiran dibenakku, tentu bukanlah perjalanan yang singkat untukku lalui pagi ini, meski mataku sesekali terasa berat dan hampir saja aku tertidur karena bosan, tapi rasanya aku tak punya keberanian untuk sejenak saja menutup mataku selama perjalanan, ‘Unno, tunggulah kita akan bertemu sebentar lagi …’ bisikku dalam hati dan lagi lagi tersenyum memandangi foto kami.


Akhirnya, bis yang membawaku sampai di pemberhentian terakhir, berdasarkan informasi yang ku dapat dari seorang petugas informasi disana, dari terminal ini aku cukup melanjutkan perjalan dengan menaiki kereta cepat jalur G dan keluar dapi exit selatan setelah 2 kali pemberhentian. Entah kenapa, langkah kakiku mulai terasa ringan saat ini, bayangan tentang aku akan segera bertemu dengannya benar benar membuatku bersemangat dan tidak lagi aku merasa ragu untuk melangkah. Setelah berhasil membeli tiket dari sebuah mesin otomatis, aku mengikuti petunjuk arah menuju kereta bawah tanah di jalur G. seperti yang sudah direncanakan, aku turun pada pemberhentian kedua dan segera menuju ke exit selatan, tak lupa aku kembali memastikan pada bagian informasi apakah lokasi ini sudah benar sesuai alamat yang aku tuju. Syukurlah, petugas tersebut mengatakan padaku bahwa aku sudah berada ditempat yang banr, aku cukup berjalan sekitar 500 meter dari exit selatan tersebut hingga aku menemukan sebuah persimpangan, lalu persis disebelah kanan persimpangan itulah bangunan yang aku cari berdiri. Wah, andai saja aku mengetahui hal ini jauh lebih awal, mungkin sejak kemarin aku sudah bisa bertemu dengannya....


. . . . [tbc]