Selasa, 21 Juni 2011

Tanyaku™ -ketika pertanyaan menjadi mimpi buruk yang panjang-

Mendadak ada sedikit kisah yang membuatku menggelitik di kala itu, mungkin hingga saat ini, dan aku harap itu hanya sementara karena sedikit terdengar seperti sebuah lelucon bila di katakan . . . .

''Ciee...'' ledekan kecil dari beberapa temanku membuat ku sedikit puas telah memancing mereka yang memang terkadang usil membuat gossip tentangku, termasuk saat ini, saat aku sedang bersama Arya, salah satu teman kuliah kami, aku hanya membantunya untuk mengoleskan minyak angin di leher belakang temanku itu, aku pun tak memberi respon apa apa untuk ledekan kekanakan seperti itu, ''udah mendingan ka nyerinya ?'' tanyaku pada Arya yang tadi sempat merasakan nyeri di bagian belakang kepalanya, ''iya aku rasa cukup, sudah sedikit baikan'' jawabnya sesaat kemudian, dan aku pergi meninggalkannya begitu saja, ya aku rasa itu hanya sebuah pertolongan kecil dariku atas nama persaudaraan yang sudah lama timbul di antara kami, antara kami semua.
Malam pun datang, hujan yang turun mengguyur camp tempat kami bermalam, membuat suasana di daerah perbatasan tempat kami menjadi sukarelawan saat ini sangat dingin, tubuhku menggigil hingga tak dapat tidur dengan nyenyaknya, yah maklum saja meskipun aku suka dengan hal hal yang menantang, atau pun semua tentang petualangan baru, tapi tubuhku beberapa teman sering menggoda bahwa aku adalah orang yang...penyakitan, ya saat ini adalah bukti kecilnya, disaat yang lain sudah tertidur pulas, aku malah masih terjaga dengan mulut yang bergetar dahsyat, membuat bunyi dari benturan gigi atas dan gigi bawah mulutku, Arya masuk ke dalam camp kami, aku tahu hari ini adalah jadwalnya berjaga malam dengan 3 teman kami yang lain, dari sedikit cahaya lampu petromax yang kami gunakan untuk camp malam itu, aku bisa jelas melihat bahwa ia sedang memeriksa keadaan kami, dia sibuk mengingatkan kami satu per satu untuk menggunakan mantel penghangat, hingga ia tiba di dekatku dan mendapatkanku yang sedang menggigil hebat, ''waduh kalian kenapa jadi kayak batu gini ?'' celetuknya bergurau namun tetap berusaha membantu kami menghangatkan tubuh kami saat ini. Begitulah dia, cuek, sedikit kasar mungkin dan sebenarnya dia orang yang bisa diandalkan dan dijadikan teman bertukar pikiran yang baik, dalam hal apapun! setelah ia merasa bahwa keadaan kami semua sudah baik, lalu ia kembali melanjutkan tugasnya untuk berjaga malam, aku yang tak sempat mengucapkan terima kasih karena masih terus kedinginan, segera berusaha untuk kembali tidur, aku rasa jika hanya hal itu, tidak perlu kata terima kasih dalam persaudaraan, hanya perlu mengingat bahwa kita tak sendiri, karena mereka yang selalu ada.
Pagi ini, seharusnya aku sudah menyelesaikan tugasku dengan beberapa teman teman perempuan yang lain, untuk membuat sarapan pagi, tapi mungkin karena hujan semalaman yang baru reda pada subuh harinya, aku sedikit susah untuk menggerakan tubuhku, kerena sisa dingin itu masih menjalar di beberapa bagian tubuhku, ''adek, bangun dek...'' suara Hans membangunkan ku yang kala itu sebenarnya sudah setengah terjaga, ''ah iya ka, makasih ya udah bangunin, masih berasa dingin nih ka'' jawabku padanya, Hans adalah temanku juga, sama seperti Arya dan yang lainnya yang saat ini sedang menjalankan tugas sebagai relawan selama 1 minggu di sebuah perkampungan di daerah yang masih sangat minim fasilitas disini, bahkan listrik pun hanya sesekali saja dalam seminggu dinyalakan di kampung ini, aku bangun dari tempat tidurku, dan aku melangkah keluar camp untuk segera mencari air untuk sedikit menyegarkan wajahku, dan ternyata memang belum banyak dari temanku yang lain, yang sudah bangun saat ini, padahal waktu sudah menunjukan pukul 8 kurang!
Endah memanggilku untuk menemaninya membuat sarapan pagi ini, dan tentu saja dengan senang hati aku akan membantunya membuat sarapan, dan hanya dalam waktu kurang dari 1 jam, sarapan sudah siap untuk kami santap bersama sama, Arya mendekati Endah dan sedikit merengek dengan usilnya untuk segera diberi makan, kami hanya tertawa melihat hal itu, ya itu hal biasa, hanya sedikit guyonan untuk mencairkan suasana di antara kami semua, aku memberikan 1 porsi sarapan pagi ini padanya, harena Endah saat ini masih sedikit sibuk untuk meladeni bayolan teman kami itu, ''gak, aku maunya dari Endah saja!'' ujarnya menolak sarapan yang aku berikan, padahal sarapan itu sama saja dengan sarapan yang lainnya, hanya semangkuk bubur kacang hijau, aku tertawa, bukan hal yang aneh jika Arya bertingkah sedikit nyeleneh seperti ini, ''oke buat ku saja ya ? bolehkan ?'' Hans menyambar sarapan yang ada di tanganku, tanpa perlu aku menjawab, dia sudah langsung melahap sarapan itu.
Hari ke4 kami disini, kami isi dengan penyaluran kesehatan sederhana untuk warga desa disini, semua warga antusias mendengarkan penjelasan Arya dan Hans yang sepertinya sudah hafal diluar kepala apa saja yang harus mereka jelaskan pada warga, aku dan Endah serta teman kami yang lain menyimak dari kejauhan, kami tak ingin mengganggu, lagi pula kami harus memberikan penyuluhan yang lainnya nanti, ''tadi Arya bilang, dia yang akan menemaniku untuk memberi penyuluhan tentang PLTA untuk warga desa'' ujar Endah di sela sela obrolan kami siang ini sembari tetap memasang telinga mendengar penjelasan ke2 teman kami itu, ''loh ? bukannya itu tugas kita berdua nanti sore ?'' tanyaku bingung, ''iya nanti kamu pergi sama Hans untuk berbelanja keperluan dapur saja ya ? kalau gak salah ada warung kecil di ujung jalan ini, lalu kalian tinggal belok saja kearah utara'' jelas Endah lagi, ''oh ya ? Okelah Lea akan pergi dengan ka Hans nanti'' jawabku menyanggupi.
            Pagi ini, memasuki hari ke6 kami menjadi para mahasiswa yang belagak sok pintar berharap bisa sedikit membantu kehidupan warga di desa ini, aku berlari lari kecil di seputar camp, demi menghilangkan rasa dingin dan lelahku karena sedikit kurang istirahat sejak kami berada disini. Tanpa sengaja aku menangkap sosok Arya yang ternyata sudah bangun lebih awal dariku, dan sepertinya dia juga sedang melakukan hal yang sama dengan apa yang aku lakukan saat ini, ya tentu saja berolahraga pagi, ''hai ka ?'' sapaku pada cowok yang lebih sering aku sapa dengan panggilan kakak ini, sama juga seperti Hans dan teman teman ku yang lain, yang juga kakak tingkatku di kampus, ''ngapain disini ?'' tanyanya sedikit dingin, entahlah aku melihat tatapannya sedikit tidak bersahabat pagi ini, tapi aku takkan menggubris hal sepele itu, aku tetap dengan cueknya melanjutkan olahraga ku pagi ini. Siang harinya aku membantu Hans untuk membersihkan sampah sampah di sekitar camp, maklum saja besok sudah akan menjadi hari terakhir kami disini, meskipun cuaca disini membuat kami sedikit tidak betah berlama lama, tapi suasana alam di kampung ini membuat kami sangat nyaman, ''dek, hari ini kegiatan kita apa aja ?'' tanyanya saat ia sedang mencoba menyalakan api untuk membakar sampah, ''ng...kalo gak salah hari ini kita kunjungan ke rumah kepala desa, jaraknya hampir 1 kilometer dari sini ka'' jawabku sembari menghentikan kegiatan ku sejenak, ''oh ya? Endah, Arya, Emely dan yang lainnya ikut juga kan?'' tanyanya lagi, ''iya ka, tentu saja mereka ikut'' jawabku, lalu aku melihat Arya melintas di depan kami, huh! aku benci tatapan matanya akhir akhir ini, terlalu dingin dan tidak bersahabat, aku jadi berfikir apakah aku punya salah padanya???
Endah berlari kecil menyusul langkahku yang berjalan beberapa langkah lebih awal di depannya, kami memang hanya bisa mengandalkan kedua kaki kami menuju rumah kepala desa, karena disini sangat minim transportasi, bahkan bisa dibilang belum ada angkutan umum sama sekali, ''kenapa ?'' tanyaku padanya karena dia terlihat seperti tergesa gesa menysul langkahku, tapi belum sempat dia menjawab, Arya sudah berada disebelahnya, Arya sepertinya juga menyusul langkahku, tapi lebih tepatnya langkah kaki Endah, ''hey Endah!'' sapa Arya tanpa memperdulikanku, tapi ini bukan saatnya menjadi sensi tanpa alasan, mungkin saja Arya memang sedang ingin membicarakan sesuatu pada Endah, sampai sampai dia tidak menyadari kehadiranku disini, ''Alea!'' suara dari belakang membuatku refleks berhenti, ternyata itu adalah suara Hans, dia memberikan kode agar aku menunggunya, karena dia sudah tertinggal cukup jauh dari rombongan kami, tentu saja aku menyanggupinya alhasil kami berjalan beriringan, tidak jauh di belakang Arya dan Endah.
Sepulangnya kami dari rumah kepala desa, aku tak sengaja terpeleset dan hampir saja aku masuk ke jurang yang dalamnya di penuhi pinus pinus tua, Arya refleks menarik tanganku, karena kebetulan dia berjalan persis di belakangku, aku tahu meskipun beberapa hari ini dia mendadak dingin padaku, tapi dia bukanlah tipe orang seperti itu, buktinya dia tetap menolongku, “Alea, kamu baik baik aja ?” tanya Hans dan Emely bersamaan, mereka terlihat khawatir dengan keadaanku, jujur aku masih sedikit kaget, Arya melepaskan genggaman tangannya dari tanganku, tanpa banyak kata dia berjalan begitu saja, Hans membantuku untuk melanjutkan perjalanan hingga kami tiba di camp dan mereka memintaku untuk beristirahat.
Malam ini adalah malam terakhir kami semua disini, besok pagi kami sudah harus bersiap untuk kembali ke kota dan segera menyelesaikan laporan kegiatan kami kepada pihak kampus. Pukul 22.30 biasanya aku sudah tertidur pulas saat ini, tapi entahlah aku masih belum bisa memejamkan mataku karena aku teringat sikap Arya padaku akhir akhir ini, jadi aku memutuskan keluar camp mungkin saja udara malam ini bisa sedikit menenangkan pikiranku, sudah dua malam terakhir ini, udara disini terasa hangat, mungkin kami mulai bisa terbiasa, “sedang apa kau disana ? ini sudah malam, masuk sana !” Arya. aku tak tahu ternyata dia yang malam ini sedang berjaga, dia membentakku tanpa melihat kearahku, dia masih menatap lurus pada api unggun yang memang biasa kami gunakan untuk menghangatkan udara disini ketika malam, “hm, itu ka, Lea gak bisa tidur” jawabku jujur dan sedikit kaku, “yasudah kalau begitu kau saja yang berjaga, aku ngantuk!” lagi lagi suara ketusnya itu membuatku jengkel, aku tak tahu kenapa ada manusia seperti itu di dunia ini ?? manusia yang bisa mendadak berubah 180 derajat dalam waktu singkat ! aku tak langsung menjawab perkataanya, aku tahu dia tidak serius berkata seperti itu, itu bukan Arya yang aku kenal ! “ka, Lea boleh tanya ?” ujarku memberanikan diri, tapi dia hanya diam, “apa Lea pernah bikin kakak kesel ?” tanya ku lagi, “aku ngantuk, kalau kau butuh teman mengobrol, nanti aku bangunkan Hans untuk menemanimu !” jawabnya, dan dia pergi ke dalam camp, dan benar benar membiarkan aku sendiri.
Pagi ini, aku masih terjaga di luar camp, tak ada sedikitpun rasa kantuk yang menghantuiku, mungkin aku memang butuh istirahat tetapi aku lebih membutuhkan jawaban atas sikap dinginnya itu saat ini! Emely mendatangiku dan dia memarahiku habis habisan ketika dia tahu bahwa semalaman aku tidak berada di dalam camp, tapi justru sendiri di luar dan hanya dipayungi langit penuh bintang serta api unggun yang hangat, “apa kau sudah gila ? apa yang kau lakukan ? kemana pikiranmu ? masa anak cewek begadang di luar tenda ? gak ngeri ?” cercah Emely padaku yang kala itu masih menatap lurus keangkasa, “aku baik baik saja” jawabku singkat tanpa menatapnya, lalu dia pergi meninggalkanku setelah puas menasehatiku yang tetap diam, untuk segera membantu teman kami yang lain membuat sarapan. Candra salah satu senior kami yang juga ikut dalam rombongan kami, mendatangiku dengan seorang temannya yang bernama Petra, mereka berdua hanyalah pengawal kami para adik tingkat mereka, Petra yang sedang memegang gitar langsung bersandar membelakangiku dan memainkan gitarnya, entahlah aku yakin dia adalah teman yang baik. aku menyukainya, dia orang yang menyenangkan, untuk seseorang yang baru pertama kali aku kenal sejak kami disini, Candra bernyanyi mengikuti petikan gitar Petra seolah tak ada aku disana, mungkin mereka ingin sedikit menghibur ku, “lupakanlah saja diriku bila itu bisa membuatmu, kembali bersinar dan berpijar seperti dulu kala, caci maki saja diriku bila itu bisa membuatmu kembali bersinar dan berpijar seperti dulu kala . . .” ujar Candra menyanyikan salah satu lagu dari band kesanyanganku, ya kebetulan kami menyukai band yang 1 itu, “kenapa Lea ?” Petra bertanya padaku sesaat setelah lagu itu berakhir, “huhff, gak apa apa kok ka” jawabku berusaha menutupi, “aduh aduh, adek kita satu ini, mana mungkin gak ada apa apa tapi mukanya nunjukin kalo ada apa apa ?” Candra kali ini ikut berkometar, “wah, kalian terlalu berlebihan nih ka, Alea gak apa apa kok” jawabku lagi, “Hans mana ? biasanya kalau gak bareng Arya, kamu bakal bareng Hans kan ?” Petra bertanya sambil memainkan beberapa kunci gitar, “ng,,,,ka Hans lagi bantuin Emely tuh, bareng yang lain juga, kalau ka Arya, Lea belum liat” jawabku setengah hati, entahlah aku masih belum bisa terima jika ada seseorang yang bersikap mendadak dingin kepadaku, “Lea, mau ikut denganku ?” Petra kali ini berusaha mengalihkan topik obrolan kami, “kemana ?” tanyaku datar, “kemana aja, kita keliling desa ?” ujarnya menawarkan kepadaku, kalau saja mood ku sedang baik, aku pasti akan dengan senang hati menerima ajakan itu, “kakak pergi bareng ka Candra aja deh, Lea masih pengen disini” jawabku tak ingin mengecewakannya, “o, tidak bisa! kalau kamu gak ikut, yah kita tetap disini aja deh nemenin kamu ?” ujar Candra lagi, dan kami hanya diam, menatap langit yang membiru dan sedikit kemerahan terkena sinar matahari yang baru saja akan terbit.
Kami mengemasi barang barang kami masing masing, Arya dan Hans yang juga sedang berada di dalam camp, yang biasanya selalu berbicara bersama dengan bayolan khas mereka, terlihat saling diam. Aku memperhatikan Endah dan Emely, sepertinya suhu di ruangan ini memang sedang tidak baik, tapi entahlah semoga ini hanya perasaanku, tapi jujur aku rindu dengan keakraban dan kekompakan kami, seperti saat hari hari pertama kami disini, dan selama kami di karantina sebelum menjadi 1 tim seperti saat ini.
Aku akui, selama 1 minggu di camp, aku memang akrab hampir dengan semuanya, termasuk dengan Arya, Hans, Endah, Emely, juga Candra dan Petra, seperti saat ini, sebelum angkutan khusus yang akan membawa kami pulang datang menjemput, kami menghabiskan waktu bersama sama hingga lewat tengah hari, dengan tertawa dan bernyanyi bersama, aku memang sedang tak ingin mendekati yang lainnya, dari pada aku merasa gak enak hati berada di tengah mereka, dan hari ini pun belum ada tanda tanda bahwa Arya akan kembali bersikap baik padaku.
Pukul 01.10 dini hari, kami tiba di kampus, perjalanan yang panjang dan melelahkan memang, dan aku segera kembali masuk ke dalam kamar asramaku, tentu saja bersama Emely yang juga teman sekamarku, berbeda dengan Endah dan yang lainnya, yang memang kakak tingkat kami, dan sebelum tidur pun aku masih bingung kenapa sikap mereka tiba tiba berubah ? apakah aku punya salah ? jika aku ingat kembali, rasanya sangat asing bagiku melihat Arya saat ini, dan Hans yang juga sedikit berubah hari ini, tapi pikiran itu segera aku lenyapkan, dengan mengingat canda tawa khas Petra dan Candra yang menghiburku seharian ini.
                                         
          Waktu berlalu, kisah yang menggelikan itu kini menjadi tanda tanya besar di pikirku, aku memang selalu dekat dengan semuanya, juga keduanya, namun aku tak pernah mendapatkan sikap aneh mereka seperti belakangan ini, lalu siapa yang bisa menjawab pertanyaanku ? apakah aku memang bersalah ? atau aku hanya terlalu sensitif dengan sikap dingin mereka ? atau, ada hal lain yang tak pernah bisa aku tahu jawabnya ? adakah yang bisa membantu aku ?

_________________________________________________________ Flashback

Arya – Alea
            Hari pertama training, seminggu sebelum keberangkatan mereka ke desa untuk menjadi relawan dan pemberi penyuluhan kepada masyarakat desa.
            Arya menghentikan motornya tepat di depan asrama mahasiswi angkatan 09, sore ini dia berniat untuk mengajak Endah berdiskusi tentang salah satu teori yang akan mereka bagikan untuk masyarakat desa nantinya, sembari bersandar di samping motornya, Arya memainkan tombol tombol hapenya untuk mengirimkan sebuah pesan singkat pada Endah, tapi belum sempat ia mengirimkannya, dia tidak sengaja melihat Alea yang ternyata baru saja keluar dari asrama mahasiswi angkatan 09, padahal Alea sendiri adalah angkatan 10, “kakak ? ngapain disini ?” tegur Alea yang menyadari keberadaan Arya disana, “ah Lea ? aku lagi nungguin Endah, kamu liat dia ?” jawab Arya ramah seperti biasanya, “oh, ka Endah ? aku tadi juga kesini nyariin dia, tapi kepala asrama bilang, kalau ka Endah lagi keluar kampus bareng temen temennya ka
oh ya ? kalau gitu, kamu bisa bantu aku ?
bantu apa ka ?
kamu punya data tentang desa yang mau kita kunjungi minggu depan ? aku butuh sedikit tambahan informasi
oh, tentu ka, kakak mau pinjem ?
wah, baguslah gimana kalau kita diskusiin hal ini bareng ? nanti sore jam 5 di taman asrama ya ?” ujar Arya lagi pada Alea, “oke ka, nanti aku kesana bareng Emely juga” jawab Alea menerima tawaran Arya, untuk berdiskusi bersama sore ini.
            Alea memang salah satu dari 11 mahasiswa se-angkatannya yang mendapatkan beasiswa di kampusnya, selain karena prestasinya di bidang akademik, dia juga memiliki prestasi seperti dalam bidang public speaking dan dia juga suka sekali bila di ajak berdebat, masalah politik terhangat di Negara ini, adalah salah satu bahasan yang paling dia sukai, jadi meskipun dia adalah anak fakultas seni dan sastra bahasa, namun dia sangat menyukai bila berteman dengan mahasiswa hukum internasional seperti Arya, yang memang juga pintar dalam hal itu, meskipun Alea sering di buat tidak mengerti oleh bahasanya yang terlalu tinggi, tapi Alea berusaha mencuri ilmu dari temannya itu, yang berada 2 angkatan diatasnya, Arya pun sebenarnya sangat suka bila ada teman yang bisa di ajak berdebat, dari hal yang paling serius sampai yang gak penting sama sekali, kini selalu menjadi bahan perdebatan mereka, dan jika sudah berdebat, pasti mereka lupa dengan sekitarnya, itulah Alea dan Arya jika sedang akur, tapi jika sedang renggang atau Alea sedikit malas untuk bertemu dan mulai membuat jarak, pasti Arya akan mulai mengirimkan sms sms aneh, sebagai basa basi untuk memulai perdebatan mereka, lagi.

Hans – Alea
            Berbeda dengan Arya yang beda fakultas dengannya, dan baru berkenalan ketika mereka di tunjuk sebagai 1 tim untuk berkunjung ke desa terpencil, Hans adalah teman 1 fakultas Alea, tapi bedanya, Hans adalah angkatan 08, sama seperti Arya. Bagi mereka, bukan masalah yang sulit untuk bertemu dan saling bertukar pikiran tentang tugas kali ini, karena Emely, Hans serta Alea dan juga Endah, memang sering bertemu di koridor fakultas untuk berdiskusi, yah ke3 angkatan yang berbeda itu, tidak terlalu sulit mencairkan suasana diantara mereka, hanya tinggal menyesuaikan waktu untuk bertemu, dan jika sudah berkumpul, mereka pasti akan menghabiskan waktu luang mereka hingga berjam jam lamanya, “maaf aku terlambat” ujar Hans yang baru datang saat Alea bersama Endah dan Emely sedang asik berdiskusi, “gak apa apa kok ka, ayo duduk sini, kita lagi bahas tentang konsep untuk di desa nanti” ujar Emely mengawali, “oke, langsung aja ya ? disana nanti kita bener bener jauh dari kota, bahkan dari informasi yang Alea dapet, di desa itu belum ada listrik, makanya kita bakalan sedikit bermasalah dengan penerangan di malam hari, dan juga di desa itu kita akan menggunakan tenda barak, kita gak akan menumpang di rumah salah satu warga, karena selama ini memang seperti itu keadaannya, setiap mahasiswa yang ke desa, pasti selalu membuat tenda sendiri” ujar Endah panjang, dan diskusi terus berlanjut, hingga membicarakan tentang konsumsi, obat obatan, alat penerangan, tenda, matras dan lain sebagainya untuk mereka disana selama 1minggu nanti, sembari sedikit bercanda gurau dan menikmati beberapa cemilan yang sengaja mereka bawa untuk mencairkan suasana. Hingga sore tiba, dan mereka memutuskan untuk kembali ke asrama masing masing, “Lea ? Emely mana ?” tanya Hans saat berjalan beriringan keluar fakultas, “oh Emely lagi nemenin ka Endah keruangan ketua prodi ka” jawab Alea, “dek, katanya nanti bakal ada 2 senior dari angkatan 07 yang jadi pemandu kegiatan kita ? kamu tahu itu ?” tanya Hans lagi,
iya ka, Lea tahu kok, kalau gak salah namanya ka Candra dan ka Petra, mereka dari fakultas Ekonomi ka, kebetulan Lea juga sudah kenal dengan ka Candra, tapi kalau dengan ka Petra, Lea belum tahu orangnya ka
oh iya, Candra ya ? aku juga kenal dia, kebetulan dia salah satu aktifis kampus katanya, dan mungkin Petra juga
iya ka, semoga kita semua bisa kerja sama ya ka, disana nanti
oh iya dong! Pasti dan harus itu!” ujar Hans sedikit memainkan nada suaranya, dan Alea hanya tertawa kecil melihat tingkah kakak tingkatnya itu.

Endah – Alya
            Sejak hari pertama pengumuman tentang tugas penyuluhan ke desa 1bulan lalu, Alea sudah mengenal baik siapa itu Endah, karena dia sudah beberapa kali bertemu dengan Endah di perpustakaan dan kantin fakultas, bahkan tak jarang Alea meminjam buku atau materi kuliah pada Endah, “ka, kenalin ini Emely, dia temen sekamarku di asrama” ujar Alea suatu sore saat bertemu dengan Endah di koridor fakultas, “hai Emely . . . ” sapa Endah, kemudian mereka berkenalan, dan saling berjabat tangan “wah kalau begitu, kita bakal jadi 1tim kan ? kira kira, siapa lagi yah yang akan masuk dalam tim kita ? denger denger masih ada mahasiswa yang lainnya ?” ujar Endah bersemangat, “iya ka, setahuku, masih ada 4orang lagi, tapi Lea belum tahu pasti, dan Lea juga gak tahu, mereka cewek atau cowok” jawab Alea tak kala semangatnya, “semoga cowok yah ka, cowok cowok ganteng lebih bagus! jadi bisa lebih semangat lagi” ujar Emely frontal, hahaha, dasar!” kali ini Alea dan Endah sukses tertawa lebar karena ucapan Emely barusan. Dan sejak saat itu, dimana pun dan kapan pun, mereka selalu saja menyempatkan waktu untuk berdiskusi, terutama agar hubungan mereka semakin akrab dan gak kaku lagi nantinya.

Candra – Alea
            Hubungan kedua mahasiswa yang berbeda angkatan dan fakultas ini sebenarnya di awali ketika Candra menjadi salah satu panitia ospek ketika Alea akan memulai kuliahnya disini. Tepat 1tahun yang lalu, saat itu, Alea terlambat datang dan tentu saja Candra menghukumnya, “lo tahu gak sih ini jam berapa ? lo pikir lo siapa bisa dateng seenak jidat hah ?” ujar Candra menghardik Lea kala itu, “maaf ka, aku terlambat karena kena macet di jalan tadi” jawab Alea beralasan, padahal sebenarnya dia juga kesiangan bangun tadi pagi, dan saat ospek, mereka memang belum masuk asrama, “ah alasan ! kalau begitu, lo bakal gua hukum ! gua kasih lo waktu 10 menit tuntuk ngumpulin 25jenis tanaman yang berbeda, yang ada di taman belakang kampus !” bentak Candra lagi, dan tanpa pembelaan, Alea menuruti perintah seniornya itu. Sore harinya, semua kegiatan ospek sudah selesai untuk hari itu, dan sudah 1jam Alea menunggu jemputan, tapi tetap saja jemputannya belum datang, padahal kampus sudah mulai sepi dan langit perlahan redup, karena para mahasiswa pun belum mulai kembali ke asrama, ‘tin tin’ suara kelekson motor berbunyi dari arah belakang Alea, “lagi apa disini ?” tanya seseorang dari atas motornya, Alea tak merasa mengenal orang tersebut, jadi dia sedikit ragu untuk menjawab, “hei, kenalin nama ku Candra, kalau gak salah, kamu yang terlambat datang ospek tadi pagi kan ?” ujar pengendara motor itu lagi, sembari membuka helmnya dan mengulurkan tangannya untuk berkenalan, “Alea ka” jawab Lea singkat, “oh, Alea ? nama yang bagus, lagi apa disini ?” tanya Candra lagi, berusaha mencairkan suasana, dia yakin, mahasiswi baru yang sekarang ada dihadapannya ini pasti masih takut atau ragu untuk di ajak ngobrol, “tenang, ini kan sudah bukan jam ospek ? jadi gak ada yang perlu ditakutin” lanjutnya lagi,
iya ka, Lea lagi nungguin jemputan, tapi sampe sekarang belum keliatan juga
jemputan ? kamu pulang kemana ? mau aku anter ?
ah, gak usah ka, rumahku jauh, di selter32 ka
oh ya ? wah, rumahku lebih jauh lagi dek, kakak di selter25, gimana mau di anterin gak ?” lagi lagi Candra menawarkan bantuan pada Alea, “tenang, aman kok, kakak gak bakal macem macem” lanjutnya lagi meyakinkan, dan memberikan helm pada Alea. Sejak saat itu, mereka berteman baik, bahkan Alea pun tak sungkan untuk meminta pertolongan pada Candra, Alea menganggap Candra sudah seperti kakaknya sendiri, maklum saja Alea adalah anak satu satunya dirumah, dan sejak saat itu juga mereka bersahabat dan selalu berbagi cerita bersama.

Petra – Alea
            Pagi itu, mereka sudah bersiap untuk memulai perjalanana menuju desa, semuanya sudah siap dan hanya tinggal menunggu kendaraan yang akan membawa mereka datang menjemput, Alea sengaja memilih tempat duduk di kursi yang posisinya sedikit lebih depan, karena dia sangat suka menikmati perjalanan darat. Petra yang kala itu hanya mengenal Candra dan Arya dalam rombongan itu, langsung menyapa Alea, Endah serta Emely yang sedang asik mendengarkan musik bersama, “hai, aku Petra, kamu Endah ?” tanya Petra pada Alea, “hai ka, aku Alea, kalo ka Endah yang ini, dan ini Emely” jawab Alea ramah dan memperkenalkan temannya yang lain, “oh, maaf aku salah” ucap Petra merasa gak enak, “gak apa apa kok ka” ucap Emely selanjutnya, dan begitu kendaraan yang mereka tumpangi mulai berjalan, semuanya justru semakin seru berbincang hingga larut malam, dan saat yang lainnya mulai tertidur, Alea justru asik sendiri menikmati perjalanan malam mereka, “loh, kamu gak tidur ?” tanya Petra dari tempat duduknya, saat menyadari Alea masih terjaga, “ah, gak ka, Lea lebih suka menikmati pemandangan sepanjang perjalanan” jawab Lea sambil terus memandang jendela di sisi kanannya, “wah, gak mabuk Lea ?” tanya Petra lagi,
tentu aja nggak ka, Lea sudah biasa kok
oh ya ? suka traveling juga ?
iya ka, aku suka banget jalan jalan
bagus deh, sebelumnya kamu udah pernah ke desa yang mau kita kunjungi ini ?
sudah ka, tapi aku gak sampe sejauh tempat tujuan kita sekarang, itu juga hanya 1kali aku kesana
tapi itu sudah lumayanlah, jadi gak begitu kaget nantinya
iya ka” jawab Lea lagi, dan obrolan pun terus berlanjut, hingga mereka sudah hampir tiba di pemberhentian.

Sementara itu . . . .
            Di suatu sore, Alea pernah terjebak hujan saat baru akan kembali ke asramanya, dan dia memutuskan untuk berteduh sejenak di salah satu pos satpam kampus, dia lupa kalau akhir akhir ini hujan sering turun di sore hari, pos satpam itu memang sedikit luas untuk berteduh, meskipun hanya di bagian luarnya saja, Alea berusaha melindungi beberapa kertas yang tadi baru saja dia print berisi informasi tentang desa yang nantinya akan dia kunjungi itu, di dekapnya erat bahan bahan materi itu agar tidak terkena hujan, sembari menahan dingin yang mulai menjalari tubuhnya saat itu, dan tentu saja dia juga harus sedikit sempit sempitan dengan mahasiswa yang lain, yang juga berteduh disana. Arya dan Hans yang kala itu sedikit berlari menuju pos satpam terdekat, ternyata bertemu dengan Alea disana, meskipun hujannya perlahan deras, tetapi mereka tidak memperdulikannya, sudah beberapa kali mereka bertemu saat diskusi tim sebelumnya, jadi mereka sudah tidak canggung lagi, “apa itu dek ?” tanya Hans saat mereka berteduh bersama, Hans dan Arya sengaja berdiri tepat di sisi kiri dan kanan Alea, “ah ini cuma sedikit informasi tentang desa yang nanti akan kita kunjungi ka” jawab Alea lancar, “awas ntar basah Lea ?” kali ini Arya mengingatkan, “iya ka, makanya Lea neduh dulu, dari pada kertasnya jadi basah semua ?” jawab Lea Lagi, “ehm, sini masukin map kaak aja dek ? biar gak basah ?” ujar Hans menawarkan, “ng, gimana kalau aku aja yang pegang ? kebetulan aku bawa tas yang kedap air ?” ujar Arya sebelum Alea sempat menjawab tawaran dari Hans, Karena bingung, Alea hanya tersenyum, di ulurkannya salah satu tangannya pada rintik hujan, “ng, kayaknya hujannya udah mulai reda ka, jadi Lea bawa sendiri aja yah kertasnya, gak apa apa kok ka” jawab Lea menolak dengan halus, dari pada nanti dia bersikap gak adil pada 2 sekawan itu, “oh ya ? oke deh” ujar Hans pasrah, Arya pun hanya tersenyum mendengarnya.

the end

Sabtu, 11 Juni 2011

Sedikit Bercerita

Kalian tahu kawan? Begitu banyak cerita yang sebenarnya tersimpan di balik kerasnya perjalanan untuk menentang waktu ambisi dan kemauan yang ada di LPM UMP itu . . . .

Disana ada cerita tentang persahabatan, perkelahian, hingga cinta yang lebih tepatnya, yang terjadi hanyalah sebuah kasih yang tak sampai. . . .

Ada kalanya kejenuhan hadir dan memaksa kita untuk sejenak berlari dari lingkungan LPM

Ada kalanya rindu dengan aroma khas perdebatan otak dan kekuasan

ada saatnya dimana kita putus asa kawan, dan tak tahu bagaimana meneruskan semua ini

hidup adalah pilihan

dan bukan hanya aku dan kita yang terjebak untuk memilih berada di tengah tengah para kuli tinta ini, yang lebih sering di anak tirikan dan lebih sering di anggap nihil, padahal kita ada

namun, pilihan juga yang berlahan mengajarkan kita tentang tanggung jawab!
Bahwa pilihan itu harus kita pertanggungg jawabkan, dan kita buktikan bahwa kaum yang mereka anggap tak berguna itu, adalah mereka yang selalu mengusahakan perubahan bersama dengan otaknya dan dengan senjata andalannya . . . .

Kita cukup diam namun berfikir, kita memang diam, namun mendengarkan & kita memang hanya bisa diam namun kita bergerak untuk perubahan yang lebih baik lagi!

Kita diam, tapi kita selalu bersuara dengan tulisan kita! !!


#030891

Published with Blogger-droid v1.6.9

^^primadona & primadoni

Hi,how are you?

suatu hari ada seorang gadis cantik yang bernama Dona, hari itu adalah hari pertamanya menjadi seorang siswi sma. Di hari pertama masa orientasi siswa (ospek) dia bertemu dengan seorang senior, mereka bertemu karena dia datang terlambat, dan seniornya itu bertugas sebagai pemberi hukuman bagi siswa baru yang terlambat datang.
Dona sudah bersiap mengambil kuda kuda untuk membersihkan bola basket yang tertumpuk di keranjang yang ada di sisi lapangan basket dan senior itu mengawasinya, "ni senior tega banget sih? Masa pagi pagi aku udah di hukum bersihin bola basket ja?" ujar Dona menggerutu, sembari meneruskan hukumannya.

Setelah menyelesaikan hukumannya itu, Dona segera bergabung dengan teman temannya sesama murid baru, "kamu kenal dengan senior itu?"seseorang tiba tiba menembakan pertanyaan aneh pada Dona, "aku? Tentu aja nggak" jawabku tanpa bergeming, "katanya nih, dia itu senior paling o-ke di sekolah kita" lanjut anak itu lagi tanpa ditanya, "terus? Hubungannya dengan ku?" tanyaku belum mengerti, "kamu cocok tuh sama dia. . . ." ujar anak itu lagi, "tapi kamu punya banyak saingan tuh, termasuk aku" lagi lagi anak itu berkata tanpa di perintah, "kenalin, aku Dira, Andira tepatnya! Aku siswi berprestasi sejak SD dan sampai saat ini aku masih terus mendapatkan beasiswa dari pemerintah, hm aku rasa aku lebih cocok dengan dia dari pada kamu" ujar cewek yang katanya punya nama Dira ini, "ooh, jadi ngomong panjang lebar dari tadi itu ya maksud kamu? Kenalin, namaku Dona, Primadona. Aku siswa lulusan internasional school, SD ku cuma 5 tahun dan SMP 2 tahun aja! Tentang senior itu, ugh! It's not my business. . . ." jawab Dona gak mau kalah.

Waktu berlalu, minggu berganti bulan, akhirnya tiba juga test kelas akselerasi untuk para murid baru, karna tak ingin hasil testnya mengecewakan, lalu Dona memutuskan untuk belajar di perpustakaan saat jam istirahat berlangsung, "2 mei itu. . . ."
"hari pendidikan" seseorang menjawab pertanyaan yang sebenarnya Dona berikan hanya untuk dirinya sendiri, tapi karena dia tidak ingin ambil pusing jadi dia mengabaikan suara itu, yang sepertinya berasal dari siswa laki laki yang duduk di bilik persis di depannya, "jumlah minggu dalam 1 tahun . . . ." lanjut Dona, "52 minggu" ujar suara itu lagi, tapi lagi lagi Dona tak menggubrisnya sama sekali, "salah satu lagu populer yang di ciptakan oleh Pak SBY. . . ."
"kawan" lagi lagi suara itu menjawab, lalu soal berikutnya, "siapakah seseorang yang sedari tadi mengganggu saya?" ujar Dona sengaja membuat pertanyaan aneh, lalu suara itu tak menjawab, dan beberapa menit kemudian, "saya" jawab orang itu, meskipun sedikit merasa terganggu, tapi Dona berusaha sabar, dan memilih untuk pergi dari sana, "hey, tunggu. . . ." seseorang menahan langkahnya, dan Dona pun berbalik, "kamu Dona kan ? Kamu masih ingat dengan aku ?" cowok itu menyapa Dona yang lagi gak mood untuk ngobrol, apa lagi dengan orang yang gak dia kenal, "siapa ya?" jawab Dona setengah niat, "kenalin aku Prima, aku anak akselerasi juga kok, aku harap suatu hari kamu bisa gabung di kelompok akselerasi ku juga ya?" ujar cowok itu lancar, "oh, Prima. Nice to meet you" ucap Dona sedikit cuek.

Sejak saat itu mereka jadi sering bertemu, meskipun hanya karena tak sengaja bertemu di perpustakaan atau lokasi lain di sekolah mereka, hingga suatu hari, "eh Dona! Semalem aku udah nyatain cinta ku ke Doni! Jadi mulai sekarang, meskipun kamu sudah berhasil ikut kelas akselerasi bareng dia, aku harap kamu gak deketin dia lagi! Oke. . . ?" cerocos Dira pagi itu saat mereka bertemu di ruang loker, "Doni? Perasaan aku gak kenal sama yang namanya Doni deh? Lagi pula, cowok yang mau sama aku itu ngantri banget kali Ra ? Ngapain aku ngerebut gebetan kamu? Ngomong ngomong. . . .emang cinta kamu di terima oleh dia?" jawab Dona sambil tersenyum menang, dengan kalimatnya barusan dan langsung pergi meninggalkan ruang loker.

Masa SMA mungkin memang tidak termasuk masa anak anak lagi, tapi mulai beranjak remaja atau yang biasa di sebut a-b-g dan biasanya masa paling produktif untuk mengarang gossip standar anak sekolahan (??). Seperti saat ini, disekolah sedang heboh gossip kalo si ketua osis yang lagi deket sama anak akselerasi malah jadian sama anak kelas X.b dan seperti biasa gossip seperti itu gak akan pernah jadi pikiran seorang Dona, alias Primadona, "hey. . ." sapa Prima saat masuk kelas dan melewati tempat duduk Dona, belum sempat Dona menjawab lalu seorang cewek dengan gaya centilnya, yang Dona tau dia adalah anak ekskul drama dan yang jelas dia anak kelas XI, masuk dan sedikit memasang tingkah manja di depan Prima, "Doni! Kamu jelasin dong sama aku kalau gossip yang beredar itu gak bener?" ujar cewek itu sedikit memaksa dan merengek, 'doni . . . ? Jangan jangan yang di maksud Dira itu . . . .' ujar Dona sedikit kaget di dalam hati, lalu Prima menarik cewek itu kedepan kelas, "kalian semua denger ya! Saya, ketua osis SMA Angkasa, yang sering kalian panggil Doni padahal nama depan saya adalah Prima, menegaskan pada kalian, kalo saya gak ada hubungan apa apa dengan siapapun di sekolah kita ini! Kecuali dengan Prima yang lain, ya yang saya sukai itu Dona bukan Dira! Meskipun saya belum pernah bicara tentang hal ini dengan Dona, tapi saya hanya butuh kalian tahu, kalau saya gak akan pacaran dengan yang lain selain Dona! Suatu saat nanti . . . ." Prima berbicara panjang di depan kelasnya seakan dia sedang melakukan konfirmasi besar besaran, meskipun dia tahu akan banyak yang kecewa dan terkejut dengan pernyataannya barusan, tapi Prima berharap, semoga orang yang dia kagumi selama ini tetap mau menjadi temannya, meskipun Dona mungkin tidak akan menerima cintanya.

Ternyata hanya butuh 2 tahun untuk Dona menyelesaikan studinya sebagai pelajar berseragam abu abu, dan hanya 2 tahun juga waktu untuk mereka, Doni dan Dona menjalin persahabatan sejak Doni ehm, Prima maksudnya, menyatakan cintanya di depan kelas saat itu, karena saat ini mereka telah menjadi sepasang kekasih yang sama sama melanjutkan pendidikan di perguruan negri terkenal yang ada di Itali, dan kini bukan hanya otak yang cerdas, atau penampilan mereka yang sama sama menarik lawan jenis, tapi juga semangat mereka yang juga sama dalam menjalani cinta yang juga mereka ini dengan bersama sama mengejar cita cita.
Published with Blogger-droid v1.6.9

Selasa, 07 Juni 2011

semakin sendiri

Dulu, aku pernah bertemu seseorang kami berteman baik bahkan kami sempat bertukar barang barang koleksi yang kami punya, sungguh perkenalan yang singkat dan tidak butuh waktu lama untuk saling terbuka satu sama lain, hingga suatu hari ada sesuatu yang membuka mataku.
Dia perlahan menggerogoti barang barangku, dengan mudahnya dia mencari muka di depan teman teman hingga keluargaku, hingga akhirnya kami bertengkar hebat!
Dan sejak saat itu aku menganggapnya seorang penjilat . . .

Lalu, waktu berjalan dan membuatku kembali bertemu dengan seseorang yang lain, aku mengenalnya beberapa waktu yang lalu dan ternyata kami di pertemukan kembali.
Dia teman yang baik, bahkan sedikit banyak kesamaan kami dalam hal musik, menulis, bahkan hal hal tentang korea, serta. . . Cwok!
Okelah bukan hal aneh lagi bagiku jika mengalah pada temanku tentang cwok, aku merelakannya, bahkan aku mendukung hubungan mereka, hingga waktu itu datang.
Dunia seolah terasa sangat sempit, entahlah aku seolah selalu bertemu dengan temanku ini, dan disinilah dia selalu berkoar-koar menceritakan semuanya, entahlah itu imajinasinya atau memang nyata, dan dia mendapatkan hati cwok itu.
Dalam hitungan minggu aku tahu hal lain lagi tentangnya, dia bukan hanya seorang pembual tapi juga seorang bermuka banyak!
Dia berhasil mendekati dan mencuri perhatian orang orang terdekatku, yang dia lakukan bisa di bilang 11:12 dengan yang dilakukan PENJILAT itu.
Kini, yang aku fikirkan, bagaimana caranya aku terbebas darinya. . . .

························

mungkin kalian berfikir aku adalah orang paling jahat saat ini, karena dengan seenaknya menuliskan hal hal buruk tentang ke-2 PENJILAT yang aku temui, padahal belum tentu benar adanya? ??

Baiklah, aku tidak akan memaksa kalian untuk percaya, aku hanya ingin kalian tahu::
bahwa aku sangat tidak menyukai orang orang yang merampas mereka dan semua yang berharga di kehidupanku, apalagi dengan cara dan niat yang buruk!
Apalagi untuk disakiti & menjadi korban mereka yang berikutnya . . . . !!



ini aku, diriku ya masih terbaring lemah dan sepenuhnya sadar, akan sifat burukmu!
semoga kalian segera menjadi seseorang yang lebih baik lagi . . .
Published with Blogger-droid v1.6.9

Senin, 06 Juni 2011

Cintaku, Cintanya untuk CintaNya


Pagi itu udara di kotaku sangat dingin, membuat beberapa orang memilih untuk berdiam diri di balik selimutnya, mencari kehangatan dan sedikit menunda aktifitasannya hari ini, aku terbangun setelah ibu beberapa kali menggedur pintu kamarku untuk segera bangun dan melakukan kewajibanku sebagai seorang muslim, jam dinding tua yang bergantung di salah satu sisi tembok kamarku menunjukan pukul 5.07 aku tahu bahwa lagi lagi aku terlambat untuk melaksanakan shalat subuh, aku bangun dengan malas dan bersegera mandi, mengambil air wudhu dan melakukan shalat 2 rakaat.
Tepat pukul 7 pagi aku bersiap untuk mengganti pakaian ku dengan pakaian kuliahku, aku ingat hari ini ada kuliah pagi, tepat pukul 8 itu sudah waktu paling terlambat untukku segera melangkah menuju kampusku, meskipun hujan aku tetap berniat pergi, tapi entahlah rasanya ada sesuatu yang menggeliat di dalam dadaku, aku mendadak malas setengah mati untuk beranjak meninggalkan rumah, aku merasa akan ada sesuatu yang buruk menimpaku, ‘. . .naudzubillah’ ujarku membatin saat pikiran itu melintas dikepalaku, dengan bissmillah aku melangkah pergi keluar rumah menelusuri lorong kecil di tempat tinggalku menuju jalan utama untuk menanti angkutan umum yang akan segera membawaku menuju kampus.
Aku memandangi jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kiriku, pukul 7.45 syukurlah sepertinya aku bisa sedikit bersantai, jika jalanan tidak macet, insyaallah dalam 30 menit aku sudah tiba di kelasku, namun ternyata dugaanku hanya sementara, aku baru bisa mendapatkan kendaraan umum yang selanjutnya untuk melanjutkan perjalananku, dengan cukup lama, aku harus menunggu 10 menit lebih di halte tempat ku transit, pukul 8.12 aku baru sedikit bernafas lega karena telah mendapatkan angkutan umum yang aku tunggu dari tadi, aku yakin 15 menit saja aku sudah tiba di kampus, meskipun dengan hati yang berdebar, karena perasaanku masih belum membaik sedari tadi, terlebih lagi, aku takut tiba di kelas dan ternyata pelajaran telah di mulai, ya kuliah ku hari ini di mulai pukul 8.30 pagi.
Seorang seniman jalanan menghibur kami para penumpang bus yang rata rata berisi para mahasiswa yang sepertinya berkuliah di kampus kampus yang berada tak jauh dari kampusku, “….tak ada yang abadi tak ada yang abadi…” seniman itu mengakhiri lagunya, sepertinya aku mengenal lagu itu namun sudahlah, setelah memberikan selembar uang ribuan aku kembali fokus pada pikiranku dan do’a do’a yang sedari tadi menemani perjalananku, agar hati ini sedikit tenang, mungkin saja dosenku sedikit terlambat datang karena hujan masih membasahi kota.
Seturunnya aku dari bus, aku yakin jika aku sudah sangat terlambat saat ini, belum lagi aku harus menyeberangi jalan yang ramai dan juga melanjutkan perjalananku menuju fakultasku, yang kurang lebih berjarak 250 meter dari gerbang utama kampusku, lagi lagi perasaan takut itu menghantui, dengan alasan mempersingkat waktu, aku putuskan untuk menyeberangi jalan tanpa menaiki jembatan pernyeberangan, aku beranikan diri untuk menyeberangi jalan bersama para mahasiswa lainnya yang juga sepertinya bandel sepertiku saat ini, karena tidak memanfaatkan fasilitas yang ada, sebelum menyeberang, aku melihat seorang kakek tua di seberang jalan, kakek itu seolah menunggu seseorang yang berada di seberang jalan, tepat dimana aku berdiri saat ini, dan ternyata benar ada seorang nenek tua yang hendak menyeberang jalan, payung yang melindungi kerudungku yang sedikit kebasahan terkena hujan segera aku gunakan untuk memanyungi si nenek dan segera menuntunnya menyeberangi jalan, dan kami menyeberang bersama.
Jalanan yang terlalu padat dan rintik hujan yang semakin menjadi membuatku terfokus pada sang nenek agar beliau tidak kehujanan dan segera bisa menyeberangi jalan, dan aku tak tahu ternyata ada sebuah bus kota dengan laju yang cukup kencang mengarah kearah kami berdua, aku terkejut dan yang ada dipikirku, bagaimana kami dapat menyeberang dengan selamat ? Lalu, seseorang mendorong kami kesisi jalan, aku kaget dan sempat membantu sang nenek untuk berdiri dan memberikan payungku kepadanya, untungnya nenek itu baik baik saja, meskipun aku yakin saat ini ada darah segar yang membasahi pelipis ku, dan dengan cepat aku mencari seseorang yang menolong kami tadi, betapa terkejutnya aku, pria itu terbaring merintih di bawah gerimis hujan yang kini perlahan mereda, aku segera berlari kearahnya, aku mengenalinya sangat mengenalinya, dia memegangi tangan kirinya yang sepertinya mengalami luka parah karena menolongku dan nenek tadi, aku juga melihat darah segar mengalir dari kepalanya, bagian belakang tepatnya, tanpa memperdulikan apapun, dan mendadak lupa bahwa dia bukanlah muhrimku, aku menopang kepalanya di atas kakiku, ingin sekali aku berteriak meminta tolong, namun keadaan kampus kala itu sepi, sepertinya semuanya sedang berlindung dari hujan, tanpa sadar air mataku mengalir membasahi kedua pipiku dengan deras dan aku menangis dalam diam, dia yang saat ini ada dipangkuanku, dia yang baru saja menyelamatkan nyawaku, adalah pria yang selama ini mengisi rongga kosong di dadaku, dimimpiku, di do’aku sejak aku mengenalnya beberapa tahun lalu. Aku tak tahu apakah dia mengetahui hal itu, dengan terbata dia sempat menghapus air mataku dengan sisa tenaganya, “kau tahu ? demi Allah, aku mencintaimu . . . .” ucapnya saat itu sambil terbata dan menahan sakit, ‘ya Allah, akupun mencintainya namun hamba mohon jangan biarkan hamba melihatnya merintih penuh luka seperti ini di hadapan hamba’ doaku dalam hati kala itu, aku bingung saat sirine ambulan mulai terdengar, aku melihat butiran air mata menggenangi matanya, aku lupa akan sakit yang aku rasakan, yang aku fikirkan hanya dia, aku ingin dia selamat, “insyaallah, aku akan menemui mu lagi nanti . . . .” ucapnya lagi sebelum petugas ambulan membawanya, “….lailahaillah!” lanjutnya, dan saat itu saat terakhir aku mendengar suaranya, terakhir aku memandangnya dengan jarak terdekat, dan saat itu juga aku kehilangan dia yang aku cintai yang belum sempat aku sampaikan apa yang aku rasakan juga padanya.
Dia kini telah pergi untuk selamanya, jujur aku sangat merasa bersalah, karena diriku, dia kini pergi, dan karena aku juga yang membuat perpisahan kami begitu memilukan, sebelum ia dimakamkan, dengan sisa tenaga dan keberanianku, aku meminta maaf kepada kedua orang tuanya, karena aku yang menyebabkan dia meninggal dunia. Namun tak pernah aku kira sebelumnya, aku menyangka cacian penuh amarah yang akan ku terima namun sebaliknya, ibunya memelukku dengan erat, memelukku yang saat itu masih berjalan menggunakan tongkat untuk menjaga keseimbangan tubuhku, beliau berterima kasih kepadaku, aku tak mengerti namun aku membalas pelukan itu dengan air mata yang membasahi pipiku saat itu, membuat rasa hangat menjalar diseluruh tubuhku, yang saat itu langit pun pasih ikut mangis sedih.
“Yaa Allah, Yaa Malik, Yaa Rahim, Yaa Salam, Yaa Aziz, ini hambaMu yang penuh dengan dosa dan berlumur penyesalan dan kata maaf untukMu berdoa di sepertiga malamMu saat ini, berharap menjadi salah satu pengisi surgaMu kelak, tertunduk di hadapanMu kini, memohon maaf, meminta kepadaMu agar kau jaga dia disisiMu kini, dan semoga kau terangkan jalannya menuju kehidupannya yang abadi saat ini, hamba mencintainya dengan segenap hati hamba, namun hamba lebih mencintaiMu Yaa Razzaq dengan seluruh hidup dan mati hamba, hamba mohon dengarlah doa hamba kali ini Yaa Adil, amin ya Allah” aku menangis dalam diam, masih tergambar jelas didalam memori otakku kejadian pagi itu, yang membuatku semakin dekat dengan penciptaku, yang membuatku semakin sulit melupakan dia hingga saat ini, saat aku hampir menggunakan seragam kebesaranku, sebagai tanda aku telah resmi mejadi seorang sarjana.


Kamis, 02 Juni 2011

Bakpao ( kakak )


Dari hijaunya daun bisa aku rasakan betapa sejuknya pagi ini
dan dari semilir angin bisa aku bayangkan betapa damainya kehidupan ini
ingin aku bisa ikut bernyanyi dengan angsa angsa yang berlarian mengitari hamparan sawah
dan menikmati betapa luar biasanya kuasa dari sang illahi
***
“Tasya ? bangun Sya ?” suara itu menyadarkan ku, dan berhasil mengakhiri mimpi itu, “ayo dong hari ini kamu sudah bukan anak sekolahan lagi ! kakak gak mau terlambat cuma gara gara kamu !” sergah kakak ku yang sepertinya sudah bersiap untuk memasuki hari pertama di semester barunya, tapi bagiku hari ini hari pertama ku menjadi seorang mahasiswa, tanpa banyak menjawab aku segera bangun dan beranjak ke kamar mandi.
Diperjalanan gak banyak kata yang keluar dari mulut kakak ku itu, dia adalah satu satunya saudara yang aku punya meskipun kami bukanlah dari satu ayah, namun dia tetap menjadi kakak yang paling aku sayangi, ya ibuku menikah lagi setelah kehilangan ayahnya, dan setelah ibu menikah dengan ayahku lahirlah aku, “kamu kenapa ?” tanyanya yang sepertinya merasa tidak nyaman dengan tatapanku, “ah nggak kak, makasih ya kak udah ngajakin tasya bareng ke kampus hari ini ?” jawab ku dengan tatapan teduh kearahnya, dan berharap ia akan melontarkan senyuman padaku, setidaknya untuk pertama kalinya dan untuk menyambut hari pertamaku sebagai mahasiswa, “oh itu, iya sama sama” jawabnya singkat dan masih memandang lurus ke depan dan konsentrasi dari balik kemudi mobil, dan ternyata senyum itu masih belum bisa aku miliki.
Setibanya di kampus dia segera mengantarkan ku menuju fakultas seni dan budaya yang berada tidak jauh dari fakultas hukum tempat dia kuliah, aku sengaja memilih kampus yang sama dengannya agar aku bisa dekat dengannya, mungkin tidak saat ini namun aku harap kelak aku bisa perlahan memenangkan hatinya, “ini fakultas kamu, dan fakultas kakak disana” ujarnya saat kami tiba di depan pintu utama fakultasku, sembari mengarahkan telunjuknya kearah sebuah gedung yang tak kalah megahnya berdiri di seberang fakultasku, “iya ka, sekali lagi terima kasih ka” jawabku tentu saja dengan senyuman yang paling tulus, aku tau meskipun dia tidak pernah memperlihatkan senyumannya untuk ku, tapi di balik sikap kaku nya, dia adalah kakak yang baik hati, “oke selamat belajar” ujarnya lalu pergi meninggalkanku mematung dan membiarkan aku menikmati memandangi punggunggnya yang tegap.
***
Hari hari Ospek yang sudah seminggu berakhir, membuat aku tidak terlalu merasa kesulitan di hari pertama ku ini, karena aku sudah memiliki beberapa teman baru disini, “hey kamu kenal dengan kak Aldo ?” Sinta salah satu teman baru ku yang memang aku kenal sejak Ospek kemarin tiba tiba bertanya padaku tantang kakak ku itu, “ka Aldo ? kenapa?” jawabku cepat, aku gak kepikiran teman baru ku ini mengenal kakak ku? “kamu tahu gak sih ? dia itu cowok yang paling banyak fans nya di kampus kita, apa lagi cewek cewek fakultas hukum !” ujar Sinta menggebu, “kamu harus hati hati loh kalau deket dengan dia, apalagi kita kan masih baru banget disini ? bisa bisa kita di gencet oleh para senior !” lanjutnya lagi, entah kenapa aku merasa kalimatnya itu justru menjadi seperti saran yang harus aku turuti, padahal dia kan kakak ku ? “kamu tahu dari mana ? ka Aldo yang bilang ?” tanyaku lugu, gak ngerti apa maksud teman baruku ini, “udah deh, pokoknya lebih baik kamu gak usah deket deket dia lagi, dari pada jadi bulan bulanan para senior senior centil ?” ujar Sinta lagi.
Di sela jadwal pergantian mata kuliah, aku mengayunkan langkah kakiku menuju kantin kampus, sekalian untuk belajar terbiasa dengan suasana disini, sepanjang koridor aku merasa semua orang melihatku dengan tatapan aneh dan …. “ehm !” langkahku terhenti, “kakak ?” tanyaku pelan, “ngapain disini ?” ucapnya lagi, “aku kak?” tanyaku polos, tapi dari matanya aku rasa dia bukan sedang berbicara dengan ku, sebelum sempat aku menoleh kebelakang, dia langsung menarik tanganku dan kini aku berdiri tepat disampingnya, “kalo kalian ganggu dia lagi, kalian semua bakal tahu akibatnya !” kali ini ka Aldo berbicara dengan sedikit berteriak, aku gak nyangka ternyata dia sedang membelaku saat ini, aku pun baru tahu ternyata dari tadi aku sedang diikuti oleh beberapa senior, benar kata Sinta.
***
Sore ini aku berniat untuk bersepeda keliling komplek dan berharap nanti aku bisa bertemu dengan penjual bakpao, aku ingin membelikannya untuk kakak, sebagai ucapan terima kasih karena sudah menolongku tadi, “ma, Tasya keluar sebentar ya ?” teriakku mencari mama untuk pamit terlebih dahulu, “mama lagi gak ada, lagi pergi tuh sama papa kamu” ucap ka Aldo dari depan tivi, huhff, apa maksudnya dengan kalimat barusan ? “oh kalo gitu aku pamit sebentar yah kak” lanjutku yang akhirnya pamit dengan ka Aldo, tapi kayaknya dia gak denger kata kataku barusan, okelah aku akan tetap pergi.
Sudah hampir satu jam aku berkeliling dan tak satupun penjual bakpao aku temui, padahal aku ingin sekali membelikannya untuk kakak. Dering ponsel ku berbunyi dan dari layarnya aku tau bahwa yang menghubungiku adalah papa, “halo pa ?” jawabku dengan segera, “Tasya, kamu malam ini makan malam berdua aja ya dengan ka Aldo ? mama dengan papa masih ada urusan” ucap papa dari seberang sana, “oh, gitu ya pa ? iya pa gak-papa” jawabku sedikit kecewa, karena sebenarnya kami tidak pernah melewatkan waktu makan malam tanpa seisi rumah ikut berkumpul, karena tak kunjung menemukan apa yang aku cari akhirnya aku memutuskan untuk pulang.
***
Langkah tertatih menanti duka yang ingin ku akhiri
Senyum tertimbun dalam kebencian yang membukit
Seakan senja takkan lagi mengharap bintang bintang
Dan rerumputan menolak untuk berayun ….
“POKOKNYA BESOK ALDO GAK MAU LAGI JADI SUPIR PRIBADINYA MA !” aku tersentak, jarum jam di kamarku menunjukan pukul sebelas malam lebih tiga puluh empat menit, mungkin mama baru saja pulang, dan ka Aldo langsung menyerbu mama dengan emosinya, oh Tuhan apa salah ku? Sehingga dia begitu membenci ku ? aku melangkah keluar kamar, kaget! ternyata papa ada di depan pintu kamar ku dan dia langsung memelukku, aku tahu papa pasti khawatir aku mendengar keributan itu, “pa, mulai besok Tasya bawa mobil sendiri aja ya pa, Tasya gak apa apa kok pa?” ujarku berbisik dan mencoba meyakinkan papa, bersekolah di luar negri selama 3 tahun, tidak terlalu membuat ingatanku kabur tentang jalanan di kota ku, apa lagi kalau hanya sekedar menuju kampus ku, “kamu masih inget dengan jalan jalan disini ? keputusan papa untuk menyekolahkan kamu diluar negri salah satunya agar kelak Aldo merasa bahwa dia membutuhkan kamu, tapi ternyata salah, Aldo sepertinya masih belum bisa menerima kita disini” ucap papa dengan tatapan khawatir, aku ngerti meskipun hanya terpaut dua tahun usianya dengan ku tapi dia tidak terlalu menyukaiku, juga papa ku entah kenapa padahal saat itu dia seharusnya belum mengerti siapa ayahnya sebenarnya, tapi ka Aldo kecil memang sangat pintar, bahkan dia tahu betul siapa ayah kandungnya.
***
Tak terasa sudah satu bulan aku kuliah disini dan ini adalah hari kesekian dimana aku memutuskan untuk membawa mobil sendiri, “Sya! Tasya, tunggu” Reno memanggilku sambil sedikit berlari menyusul langkahku menuju kelas kami, lalu dia memberikan sesuatu untukku, “ini ada titipan” ujarnya tanpa perlu aku tanya, “untukku ?” Reno mengangguk pasti dan segera memasuki kelas, “dari Aldo anak fakultas hukum” bisiknya saat berjalan mendahuluiku, apa ? aku gak salah denger ? aku membuka kotak hitam kecil itu, disana ada dua lembar kertas yang dilipat kecil, aku membuka kertas pertama yang berwarna biru –happy birthday Sya, semoga kelak menjadi seorang wanita dewasa yang bisa jadi kebanggaan mama, juga papa mu dan ayah ku- hanya itu yang tertulis, singkat dan sangat sederhana tapi aku tak pernah menyangka setelah 18tahun aku tak pernah sekalipun mendapatkan ucapan selamat darinya, sampai hari ini,,,lalu aku malanjutkan membuka kertas yang kedua yang berwarna hijau, disana ada tertulis seruan bahwa nanti malam jam 7 aku harus segera menemuinya di sebuah mall dan hanya sendirian, aku bingung kenapa dia tidak mengatakan semua ini secara langsung ? “Tasya ? mau sampai kapan kamu berdiri disana ?” tanya seorang dosen yang mendatangiku, dan aku segera masuk kelas karena dosen itu akan segera memulai perlajaran.
***
Mata kuliah terakhir sudah selesai tapi aku masih belum beranjak meninggalkan kampus, aku melirik jam tangan ku yang mulai akan menunjukan tepat jam empat sore, aku duduk di salah satu kursi panjang yang terletak di dekat parkiran mobil, dari sini aku bisa melihat mobil kak Aldo dengan jelas, dan entah kenapa aku menyukai pemandangan ini.
Setiap detik yang berlalu terasa bagaikan dentuman ombak yang menghantam karang
saat hati membutuhkan siraman hujan sang elang justru membuatnya semakin menggebu
apa ini rasa akan hausnya tawa dan canda atau kah hanya pikiran egois ku yang berharap semuanya akan menjadi sempurnya
***
Aku melajukan mobilku tanpa jelas arah dan tujuan entahlah aku malas untuk pulang kerumah, aku bingung dan aku sangat tidak siap jika nanti aku harus menemui kakak ku, padahal aku selalu menanti kejadian ini, ‘huh! lampu merahnya lama banget’ ujar ku mendesah kesal, sampai akhirnya aku menghentikan laju mobilku di depan sebuah sekolah, taman kanak kanak tepatnya, aku melangkah masuk karena sekolah itu kini dalam keadaan kosong, kegiatan sekolah sudah selesai dari siang tadi, pikiranku langsung melayang bersama semua kenangan disini, aku teringat sewaktu itu, ka Aldo membantuku menganyunkan ayunan untukku, tapi saat ia sadar bahwa papa sedang tersenyum melihat kearah kami, dia langsung mendorongku dari ayunan itu, aku ingat saat itu aku bukannya menangis tapi aku justru tertawa karena terjatuh dari ayunan, dan hal itu sangat membuat dia kesal, lalu pandangan ku berputar kearah sebuah pondok kecil mirip rumah batu, aku mencoba masuk kedalamnya dengan sedikit merunduk dan aku meraba dinding bagian dalam rumah itu, ya! ada, ternyata tulisan itu masih ada, sewaktu itu aku sedang memegang pensil baru ku yang dibelikan oleh mama, dan kakak langsung merampasnya dari ku dan menuliskan sesuatu di dinding ini, ‘bodoh’ tulisan itu yang ia tulis disana, aku masih bisa membacanya dengan baik, meskipun sudah sedikit pudar dan tertimpa dengan tulisan yang lain, ponsel ku berbunyi dan aku segera menjawab panggilan telpon itu, “Tasya sayang, kamu kenapa belum pulang nak ?” terdengar pertanyaan yang penuh ke khawatiran dari mama di seberang sana, “iya ma Tasya sebentar lagi pulang kok ma” jawabku cepat dan langsung kembali ke mobil.
***
Rinai hujan menjawab tanyaku memberikan cela di asa ku yang penuh dengan ke khawatiran
seolah mendung takkan merganti dengan pelangi yang berwarna warni
aku hanya tahu bahwa hujan ini masih takkan mereda di dasar hatiku
***
Tepat pukul 7 malam, aku tiba di rumah, aku lihat tak ada yang spesial disini, ‘apakah mereka lupa hari ini adalah hari ulang tahunku ?’ kakiku melangkah masuk entah kenapa aku merasa ingin sekali langsung masuk ke halaman belakang rumah, dan ternyata mereka disana, ada mama, papa, dan. . . ka Aldo ? ‘bukankah dia mengajakku untuk bertemu malam ini ?’ lalu kenapa dia ada disini ? “selamat ulang tahun sayang !” ujar papa menyambutku lalu mama langsung memelukku, aku melihat ka Aldo yang masih tetap dengan wajah tanpa ekspresinya memandangku dengan malas, lalu dia memberiku kode untuk segera meniup lilin lilin yang bejajar di atas kue ulang tahun yang dia bawa, setelah itu entah apa yang terjadi itu seolah mimpi! Mimpi yang paling indah, ka Aldo memelukku dengan erat seolah kami sudah lama tidak saling bertemu, aku tak menyangka dia memelukku, aku sangat merindukannya! Malam itu kami lalui dengan canda tawa dan obrolan ringan hanya kami berempat dan di malam itu di usiaku yang ke 18 tahun, itu adalah malam pertama aku melihat senyuman kakak tersayangku.
***
Mentari berdiri menyapa hangat seluruh senyuman yang ada
mataku terbangun tersadar dari semua mimpi buruk dan bayangan hitam masa lalu
dan seolah semua keajaiban sirna oleh cinta dari persaudaraan yang kembali hidup
***
Pagi ini, aku berangkat kuliah dengan semangat dan senyuman, tapi sayang, mobilku hari ini mendadak harus dibawa ke bengkel! Andai saja aku ingat untuk membawanya kebengkel kemarin, mungkin hari ini aku tidak akan terancam terlambat sampai kampus! “kenapa ?” kakak keluar dengan motor besar kesayangannya, sepertinya hari ini dia juga ada kuliah pagi, nalarku berjalan cepat, mungkin aku bisa meminjam mobilnya untuk berangkat kuliah hari ini, tapi tidak sepertinya hal itu tidak akan pernah terjadi, “ya udah lo ambil helm di dalam dan buruan naik kita berangkat kuliah bareng aja hari ini!” perintah kakak membuyarkan lamunku, ‘apa ? aku gak salah dengerkan?’ tanpa memperlambat waktu aku segera bergegas mengambil helm di dalam, dan segera naik di atas motornya, entahlah hingga detik ini aku masih tak menyangka perubahan kakakku ini.
Seluruh mata tertuju pada kami saat ini, wajar saja kakak mengantarkanku tepat di depan gedung fakultasku, sama seperti hari pertama aku berkuliah disini saat itu kakak juga mengantarkan aku tepat didepan gedung ini, aku turun karena tak ingin membuat dia terlambat masuk kelas karena aku, “hey, sini helmnya, biar gw yang bawa!” ujarnya sesaat setelah aku melepaskan helmku, “oh iya ka, makasih ya ka udah anterin Tasya” jawabku lagi, lalu dia tersenyum mendengar kalimatku dan bergegas menuju fakultasnya.
***
Waktu sudah menujukan pukul 3 sore, aku baru saja keluar dari kelas, dan aku melihat kerumunan mahasiswa di dekat parkiran kendaraan di fakultas kakakku, karena penasaran aku segera kesana, tentu saja di temani sengan Sinta, yang akhirnya tahu bahwa aku dan ka Aldo adalah kakak adik, “ada apa ?” tanya Sinta pada salah satu mahasiswa yang juga ikut berkumpul, “ada anak fakultas ekonomi yang nembak anak fakultas hukum!” kami tertawa mendengar jawaban itu, ada ada saja, hanya kejadian itu mereka semua berkumpul, tapi sesaat kami akan meninggalkan kerumunan itu, langkahku terhenti, “gw gak cinta sama lo !” suara itu ? aku mengenalnya! Lalu aku mengajak sinta untuk masuk ke dalam kerumunan itu lagi, hingga akhirnya aku berhasil berdiri dibarisan paling depan, ternyata benar, itu suara ka Aldo! “kenapa sih lo gak mau nerima gw ? apa karena mahasiswa baru itu lo nolak gw?” mereka masih terus beradu mulut, wajar saja mahasiswa ramai berkumpul seperti ini, karena mereka yang terang terangan berteriak seenaknya, dan berhasil menarik perhatian mahasiswa lainnya, “kakak ?” ucapku, entahlah aku keceplosan karena kaget melihat ka Aldo yang ternyata menjadi pusat perhatian disana, tapi ternyata aku salah, cewek itu dengan cepat tangannya menyambar tanganku dan menarikku, “ini nih ! pasti lo nolak gw karena cewek ini kan ?” ujar mahasiswi itu menghardik kakakku, ka Aldo yang dari tadi hanya duduk santai di atas motornya langsung refleks turun dan melepaskan tanganku yang dicengkram kuat oleh cewek itu, “kalo lo gak tau apa apa, sebaiknya lo tutup mulut lo!” ujar ka Aldo membelaku untuk yang kedua kalinya, “udah kamu pulang sana, jangan ikut campur!” ka Aldo memaksaku pulang, meskipun dia berkata seperti itu, aku tahu kalau dia tidak bermaksud membentakku, aku lari dan pergi menjauh dari mereka, Sinta mengejarku dan akhirnya kami memutuskan untuk segera mencari taksi dan pulang kerumah.
Baru setengah perjalanan, aku teringat sesuatu, aku ingin sekali membelikan makanan favorit kakak, karena waktu itu aku belum berhasil membelikan makanan itu untuknya, aku turun dari taksiku, sinta yang memang masih bersamaku sengaja aku minta untuk menunggu di dalam taksi, aku melihat penjual bakpao di seberang jalan, jadi aku putuskan untuk menyebrangi jalan itu, lalu aku melihat sebuah mobil melaju cepat kearahku, aku tak punya waktu untuk menghindar karena aku berada persis ditengah jalan, dan seseorang tiba tiba menarikku, kepalaku terbentur dan rasanya kakiku sangat sakit saat itu, lalu. . . . semuanya gelap.
***
Tuhan inikah jawaban dari semua misteriMu
tentang sebuah kehidupan yang diawali dengan senyuman
dan tentang pertemuan yang di akhiri dengan semua penyesalan
***
Aku membuka mataku perlahan, aku melihat papa ada didekatku, aku melihat butiran airmata yang membendung di ujung matanya, “papa. . .” ujarku pelan, papa tersenyum, dan memelukku, “papa kenapa nangis ? Tasya ada dimana pa ?” tanyaku lagi, entahlah mataku masih sedikit rabun untuk melihat dengan jelas dimana aku berada saat ini, kepalaku masih terasa sakit, dan. . . “pa, kaki Tasya kenapa pa ? kenapa gak bisa di gerakin ?” papa menangis mendengar pertanyaanku, lalu mama datang dan segera memelukku, ternyata tangisan mama tak kalah hebatnya dari papa, sejak saat itu aku menjalani hariku di rumah sakit, hingga dokter mengijinkanku untuk pulang.
Pagi ini langit terasa sangat mendung, 2 minggu sudah berlalu sejak kejadian itu, aku sangat merindukan teman teman kuliahku, dan yang paling aku rindukan adalah kakakku, selama aku dirawat dia tidak pernah datang menjengukku, mama dan papa selalu bilang bahwa kakak sedang sibuk dengan kuliahnya dan juga kakak harus menjaga rumah, maka dari itu dia tak pernah sempat datang menjengukku, padahal dalam kondisiku saat ini, aku sangat membutuhkan dia.
Dokter bilang bahwa kakiku harus diaputasi karena kacelakaan itu, sedih rasanya dan seolah masa depanku sudah pasti suram karena aku tak lagi sempurna, kini aku harus menggunakan kursi roda disepanjang sisa usiaku, namun jika aku ingat kembali senyuman kakak, aku merasa bahwa aku bisa melalui semuanya, mobil membawa kami kesebuah pemakaman, aku tak tahu kenapa mama dan papa mengajakku kesini, dengan susah payah papa membantuku untuk turun dari mobil dan duduk di kursi rodaku lagi, mama menggenggam tanganku tengan erat, aku melihat wajah mama penuh dengan kabut kesedihan, papa membantuku mendorong kursi roda, namun tetap saja tak satupun dari mereka memberi ku penjelasan untuk apa kami kesini.
Langkah kaki mama terhenti di depan sebuah gundukan tanah yang masih terkesan baru, aku yakin kuburan itu masih belum lama, papa menghentikan kursi rodaku, dan mama lansung menangis sambil memelukku, sekarang aku mengerti apa yang terjadi! Aku bisa membaca dengan baik nama yang tertulis di papan nisan itu, RIYALDO ! itu nama kakakku! Aku menangis sejadinya didalam pelukan mama dan papa, aku merasakan jiwaku hancur kala itu, seakan seluruh dunia ini tiba tiba berteriak menyiksaku, aku hampir gila melihat kenyataan ini, bahkan hingga aku tiba dikamarku aku masih belum bisa menghentikan tangisku, hanya kesepian yang mengisi hati, jiwa dan pikiranku saat ini, aku masih belum bisa mempercayai bahwa ka aldo kakakku satu satunnya yang selama ini paling aku sayangi, kini telah pergi untuk selamanya, dia telah pergi bahkan tanpa aku tahu kapan dan apa penyebabnya, dia pergi disaat aku sedang sangat membutuhkan senyumannya dan sifatnya yang selalu menjadi pahlawan untukku, aku sayang kakak, tapi kenapa kakak harus pergi secepat ini ? aku menangis disepanjang malam, aku sudah lupa dan sama sekali tidak memperdulikan sakit ditubuhku, hingga pagi menjelang aku tertidur dalam dukaku yang dalam.
***
Oh mentari jika memang hatiku harus terbakar oleh panasnya dukamu aku rela
aku mohon katakan pada bintang bintang untuk mengembalikan sang purnama didalam hidupku
untuk mengembalikan semua senyuman itu yang hanya sekilas mengisi hariku
karena kini sang purnama telah pergi tanpa sedikitpun meninggalkan pesan pada embun pagi
untukku yang selalu menyayanginya . . . .
***
Kini 1 tahun telah berlalu, aku bukan lagi seorang Tasya yang ceria seperti dulu, dan bukan lagi Tasya yang selalu bersemangat di setiap paginya jika ingin berangkat kuliah, aku hanya gadis cacat yang hidup di atas kursi rodaku, aku juga sudah lama tidak kuliah karena keadaan ku saat ini, keseharianku hanya berisi dengan ditemani kanvas dan warna warni cat yang aku goreskan dengan kuas putih untuk menemani waktuku yang masih selalu berselimut duka, aku selalu beharap cat cat yang aku goreskan disini, semoga bisa membuat hatiku sedikit berwarna tanpa kehadiran kakak, aku masih tak pecaya bahwa akulah penyebab kematian kakak, bahwa kakaklah yang menolongku saat itu, dan akulah yang membuatnya terluka parah hingga tak bisa lagi diselamatkan, jika aku bisa menukar hidupku untuk kakak, aku ingin sekali kakak kembali hidup dan biarkan aku yang mati, semua rasa sedih, rasa bersalah dan sayang bercampur dihatiku, meskipun hal itu sudah terjadi 1 tahun lamanya.
Aku tahu, kakak begitu menyayangiku, maka dari itu besok tepat 1 tahun kepergiannya, aku ingin mengadakan pameran lukisan yang aku peruntukan hanya untuk kakak, semua lukisan yang aku buat selama 1 tahun ini, hanya berisi tentangnya, tentang kakakku, tentang pahlawanku, tentang saudara yang paling aku sayangi, dan semoga kakak bisa tersenyum dan aku harap kakak bahagia disana . . . .
***
Dari hijaunya daun bisa aku rasakan betapa sejuknya pagi ini
dan dari semilir angin bisa aku bayangkan betapa damainya kehidupan ini
ingin aku bisa ikut bernyanyi dengan angsa angsa yang berlarian mengitari hamparan sawah
dan menikmati betapa luar biasanya kuasa dari sang ilahi . . . .