Minggu, 12 Januari 2014

[untitle]

Selamat datang musim hujan, malam ini untuk pertama kalinya hujan turun di tahun ini, sayangnya aku hanya bisa mendengar rintiknya tanpa bisa memandangi keluar jendela dan melihat mereka membasahi setiap jengkal sudut kota dengan kesejukan mereka, sudah empat bulan berlalu sejak kejadian di hari terakhir ujian tengah semester yang membuatku terkurung lama diruangan ini, karena kejadian hari itu aku terancam kehilangan sebelah kakiku . . . .

“bukankah sudah aku katakan bahwa sebaiknya kau tidak perlu melakukan hal itu untuknya, kau tidak perlu membantunya menyelesaikan tugas ataupun hukuman yang dia dapatkan dari wali kelas kita !” Dee, teman sekelasku menyambutku pagi ini dengan amarahnya ketika ia tahu lagi lagi aku membantu seorang teman yang menurutnya tidak seharusnya aku membantunya, “kau tahu, jika kau ingin membuatnya terbebas dari masalah, seharusnya kau membuatnya sadar dan berhenti membuat masalah di sekolah, bukan dengan cara membantunya menyelesaikan hukuman” lanjut Dee lagi, baiklah saat itu aku seharusnya tahu bahwa aku salah, tapi mulutku dan diriku justru semakin membuat Dee kecewa, karena setelah ia menyelesaikan semua kalimatnya barusan, aku justru membentaknya dan berlari begitu saja, jujur aku sangat kesal dengan kata katanya, karena aku pikir dia tidak perlu sebegitu marahnya padaku. Jam ujian berakhir siang ini, itu berarti liburan sudah didepan mata, aku melangkahkan kaki dengan santai dan gembira karena bayangan tentang kenangan libur musim panas tahun lalu seolah terus berputar dan membuatku ingin mengulanginya kembali, “ingat, sebelum pulang pastikan bahwa kau sudah menyelesaikan tugasmu membersihkan ruang olahraga !” suara wali kelas menghentikan langkahku saat aku melewati ruang guru, aku mundur beberapa langkah dan memutuskan untuk sedikit menguping pembicaraan mereka, “baik bu” sahut seorang siswa didalam, aku tak bisa melihat wajahnya karena ia berdiri membelakangi dari tempatku berdiri, aku hanya melihat dia terus menundukan kepalanya dalam saat mendengar semua pesan dari wali kelas kami, lalu pintu ruang guru terbuka, dan murid itupun muncul dari balik pintu, “Junior !” ucapku terkejut, bukan karena aku ketahuan sedang menguping olehnya, tapi karena aku terkejut bahwa yang sedang berbicara dengan wali kelas kami adalah dia, dia murid laki laki yang membuat Dee emosi setengah mati padaku karena aku selalu menolongnya, ya murid laki laki ini orangnya, “kau sedang apa, pulanglah bukankah tidak ada lagi jadwal ujian setelah ini ?” Tanya Junior menebarkan pandangannya kepenjuru koridor sekolah dan meninggalkanku yang hanya bisa memandangi punggungya, “tunggu !”.
Langit sore itu masih sangat cerah di musim panas kali ini, padahal ini sudah hampir waktunya makan malam, tetapi cahaya mentari yang dengan malas untuk bersembunyi masih terasa menelusuk masuk melalui cela kaca ruang olahraga, aku dan Junior masih berada disini dan entah sampai kapan kami bisa menyelesaikan tugas membersihkan ruangan ini, “kau, pulanglah bukankah kau sudah berjanji hanya akan menemaniku satu jam saja ? dan ini, sudah hampir tiga jam kau disini, jujur saja aku tidak terlalu membutuhkan pertolonganmu” ucap Junior akhirnya bersuara lagi dari seberang ruangan saat ia membersihkan tempat duduk disana, “ah itu, aku…oh iya aku lupa untuk mengunci jendela !” ucapku segera bergegas menuju jendela, “bukankah aku sudah mengatakan kau tidak perlu membersihkannya ? jendela itu sangat tinggi…”
‘brrukk’

beberapa hari kemudian, aku membuka mataku dan menyadari diriku yang terbaring seorang diri didalam sebuah kamar, yang aku tahu ini sebuah rumah sakit, aku merasakan pegal disekujur tubuhku, kaki dan tanganku terasa kaku dan kepalaku sedikit pusing, aku tidak tahu sudah berapa lama aku terbaring disana, bahkan aku tidak ingat kenapa aku bisa disini, tenggorokanku terasa tercekat dan kering, ingin rasanya menggerakan tubuhku setidaknya untuk mengambil segelas air tapi itu terasa sangat sulit, lalu aku mendengar seseorang masuk dan pintu kamarpun berdenyit pelan, yang aku tahu sepertinya dia sangat hati hati agar aku tidak terbangun karena bunyi daun pintu yang ia buka, “apa kabar ? apakah kau masih belum sadar juga hari ini ?” ujarnya bahkan sebelum ia melangkah lebih dekat kearahku, dan aku putuskan untuk menutup mataku dan berpura pura tertidur, “aku minta maaf, ayolah kau harus segera bangun, musim panas hanya tinggal beberapa hari lagi !” ujarnya yang sepertinya saat ini sudah berdiri sangat dekat denganku, “kau harus menikmati sisa musim panas yang sangat berharga ! dan, agar aku bisa benar benar menyampaikan permintaan maafku padamu” suaranya tampak lirih dan penuh harap, meskipun akhirnya aku sudah bisa menebak siapa pemilik suara itu, akhirnya aku putuskan perlahan membuka mataku, aku lagi lagi hanya bisa melihat punggungnya, ia berdiri sedikit jauh sehingga aku masih sulit untuk melihatnya, leherku masih terasa cukup kaku untuk bergerak, “hari ini aku datang untuk mengganti bunga dikamarmu, aku juga sudah meminta ijin pada orangtuamu untuk datang kapanpun aku ingin melihatmu” lagi lagi ia berbicara dengan nada suara yang sebelumnya tidak pernah aku dengar dari mulutnya, “Junior, kau kah itu ?” tanyaku perlahan, mendengar suaraku dia segera berbalik dan dengan cepat menghampiriku yang masih berbaring, “air, aku butuh air” ujarku tak ingin menunggunya berbicara terlebih dahulu, setelah dia memberikanku minum dan membantuku menegakkan sandaran tempat tidurku, dia langsung duduk di sisi tempat tidurku tanpa kata tetapi terus memandangiku dengan seribu hal yang aku tak bisa mengerti dengan hanya melihat kedalam matanya, “aku, kenapa aku ada disini ?” tanyaku langsung padanya, aku putuskan untuk mengesampingkan sederetan kalimat yang ia katakan sejak ia datang tadi, “kau terjatuh saat menaiki tangga kayu ketika kau ingin mengunci jendela diruang olahraga, dan kaupun juga sempat tertimpa tangga…maaf” jawabnya dengan tanpa menatapku sama sekali, aku seperti pernah melihat kejadian itu, dimana dia berbicara sambil tertunduk dalam, “aku terjatuh ?” tanyaku tak mengerti, “ya, aku minta maaf karena hal ini terjadi karena aku yang membuatmu melakukannya”
“hm, benarkah ?”
“hm, apakah kaki dan tanganmu tidak terasa sakit ? aku dengar ….”
“kenapa ?” aku bingung dengan pertanyaannya dan menurutku dia menyembunyikan sesuatu yang sulit untuk ia katakan, lalu aku putuskan untuk menggerakan kaki dan tanganku, yang benar saja, aku baru sadar bahwa kaki kiriku terbalut perban dan terasa sulit untuk kugerakan, sedangkan tangan kiriku aku tidak mengerti bagaimana harus kujelaskan, aku tak bisa merasakan apapun saat ini, “aku minta maaf…”

itulah kata kata yang aku dengar dari mulutnya setiap kali ia datang menjengukku, tapi hal itu hanya bertahan hingga beberapa minggu setelah aku sadar, selebihnya ia hanya mengatakan bahwa aku tak sadarkan diri hingga lebih dari tiga hari karena kepalaku sedikit mengalami benturan ketika terjatuh, darinya pula aku tahu bahwa kaki dan tanganku baru saja di operasi karena hal yang sama, tapi aku tidak menyangka hal itu akan membuatku terkurung disini lebih lama, terutama sejak ia tak pernah lagi datang berkunjung, tidak lagi membantuku dan mendorong kursi rodaku untuk berkeliling ditaman rumah sakit, ataupun hanya untuk mengganti bunga dikamarku, yang aku dengar kedua orangtuaku tak ingin aku berteman dengannya, dan Dee juga sering menceritakan padaku hal hal tentang Junior agar aku tidak terlalu akrab atau jaga jarak dengannya, jujur saja aku tidak mengerti kenapa mereka semua bersikap seperti itu, karena sepertinya semua hal yang mereka katakan justru sangat berlawanan dari Junior yang kukenal.

Malam ini, aku tidak tahu sudah malam keberapa sejak aku mengalami kesulitan tidur, yang pastinya kali ini bukan karena aku bosan terlalu lama disini, tapi karena aku terlalu bahagia sebab besok aku akan keluar dari tempat ini, dokter sudah memberitahukan bahwa keadaan kaki dan tanganku sudah sepenuhnya pulih, bahkan aku boleh saja berlari larian jika aku mau, dan jika aku masih ingin lebih lama lagi dirumah sakit, “Ly ! wah aku pikir kau sudah tertidur, bagaimana apakah kau sudah siap untuk mengucapkan selamat tinggal pada musim panas ?” Dee akhirnya muncul mengalihkan lamunan panjangku tentang hujan malam ini, “aku tahu kau pasti membenci musim hujan, tapi kali ini kau harus menyukainya, karena saat musim hujan datang kau akhirnya bisa keluar dari rumah sakit, apakah kau tidak merindukan seragam sekolahmu ?” Dee menyibakkan tirai tipis yang menutupi jendela kamarku lalu membiarkan aku menatap semua rintik hujannya diluar sana, “ya, aku harap aku bisa segera kembali kesekolah” jawabku lirih, “Junior, apakah dia tahu bahwa besok aku akan kembali kesekolah ?” tanyaku sedikit ragu, “hm, tentang itu...” Dee sedikit berfikir dan mengetukan jemari didagunya, “sejak awal bulan lalu, dia sudah tidak sekolah disekolah kita lagi” tiba tiba suara gemuruh menggelegar dari arah luar jendela kamarku bersamaan dengan sederetan kalimat yang baru saja aku dengar, rasanya sulit untukku percaya, ada apa ? apakah itu artinya kami tidak akan bisa bertemu lagi, dan sepertinya aku akan kehilangan seorang teman seperti dirinya, aku harap semua itu tidak benar.

Hari hari ku kembali kesekolah terasa sangat tidak menyenangkan, banyak hal yang tidak aku ketahui dan akhirnya menganggu pikiranku, tentang siapa yang mencelakaiku, tentang apa yang membuatku harus dirawat selama itu dirunah sakit, dan tentang hal hal lainnya yang hampir semuanya memojokkan Junior, untung saja kali ini sedang musim hujan, setidaknya suara gaung keributan dan hal hal yang berhembus disekolah bisa aku lupakan ketika mendengar rintik hujan yang berlomba mencuri perhatianku dan memenuhi indera pendengaranku.

Dua bulan berlalu, hujan pun tak turun sederas ketika awal musim hujan tiba, aku membuka mantel hujanku dan duduk disebuah halte untuk menunggu bis yang akan membawaku pulang kerumah, aku berharap sebelum hujan kembali turun aku bisa segera mendapatkan bis karena aku lupa membawa payung hari ini, tak lama kemudian tiba tiba seseorang datang dan berdiri dihadapanku, dia menjulurkan sebuah payung berwarna orange muda padaku, lalu akupun berdiri dari duduk dan menggapai payung itu, “lama tidak bertemu, Ly” ujarnya tersenyum, dari rambut lebat dan garis wajahnya tentu saja aku sangat mengenali orang ini, dia tersenyum senang karena aku menerima payung yang ia berikan, lalu dia membuka payung miliknya, “maukah kau pulang bersamaku ?” tanyanya kemudian, tanpa ragu akupun membuka payung itu dan menyusul langkahnya, kami berjalan beriringan menyusuri trotoar siang itu, dibawah rintik hujan dipertengahan musim yang justru terasa menghangatkan, siang itu hujan turun nyaris tanpa suara, tanpa bunyi gemuruh ataupun tiupan angin, siang itu, hujan hanya turun agar aku bisa berpayung bersama dengannya, dengan temanku, Junior. Dan lagi lagi kami bercerita tentang banyak hal, bukan tentang Junior yang terkenal dengan masalahnya disekolah, bukan tentang seorang siswa perempuan bernama Ly yang menjadi korban, tapi tentang musim panas yang saat itu terasa sangat singkat untuk kami, yang membuat kami harus berpisah, lalu tiba tiba saja di pertemuan kami berikutnya, musim hujanlah yang menyapa kami, aku merasa empat bulan tak ada artinya aku tak perlu menyesali semua kejadian itu, bahkan mungkin aku harus sedikit merasa bersyukur, karena empat bulan dirumah sakit membuatku bisa berfikir, bahwa tidak semua orang buruk itu buruk, tidak semua yang orang pikirkan tentang seseorang itu benar, dan tidak ada salahnya membantu dengan cara yang salah, setidaknya aku tidak benar benar membuat kesalahan, aku hanya ingin membantu sebagai seorang teman. Junior aku tak ingin tahu kemana saja kau selama ini, karena menurutku yang terpenting saat ini, bukan karena musim panas ataupun musim hujan, bukan karena aku cidera ataupun karena kau merasa bersalah, hanya saja aku berfikir, sesuatu terkadang memang harus terjadi agar kita bisa merasakan makna yang tersimpan didalamnya, aku harap kita akan menjadi teman dimusim musim berikutnya …. [LJ]







#030891