Senin, 26 Agustus 2013

mid night story


Disaat malam telah datang, tinggalah aku yang masih sendiri mematung dan mulai menyadari betapa menyedihkannya kehidupanku selama ini, kembali menyadari betapa kesepiannya aku, dan bagaimana selama ini aku sebenarnya selalu berjuang seorang diri, beruasa kuat, sabar, dan selalu berusaha terlihat gembira, meskipun sebenarnya aku bukanlah dari semua itu, aku adalah si cengeng yang sudah terlanjur lupa bagaimana caranya agar aku menangis, meskipun aku sangat ingin, karena aku tak punya cukup air mata lagi untuk menangis. aku adalah si penakut, yang sekarang justru lupa bagaimana caranya untuk takut karena saat ini aku sangat merindukan keberanian ku itu, aku adalah si pecundang, yang tidak pernah bisa menerima kekalahanku, selagi ada dari mereka yang lebih lemah dari ku, masih mampu melalui itu semua dengan baik, dan aku adalah si kesepian, Karena pada kenyataannya, kesepianku itulah yang menjadi temanku selama ini. Aku lelah terus terkurung di dalam diriku yang lain, aku lelah terus berjalan di jalan yang penuh dengan rambu lalu lintas namun tanpa penerangan yang jelas. Aku lelah bertahan seakan aku adalah seorang bintang yang harus terus terlihat baik, padahal sebenarnya aku sangatlah rapuh dan membutuhkan pertolongan. Tapi, inilah duniaku. Yang aku temukan hanya perhatian palsu, pertemanan palsu, dan semua kepalsuan. Yang sebenarnya hanya untuk saling memanfaatkan, saling menjatuhkan, dan akhirnya saling melupakan. Tuhan, tolong dengarkan inginku kali ini saja, tolong hapus pagi ku, pagi dimana aku harus segera bersiap memasang topeng palsuku, dan bertemu dengan banyak kepalsuan di hari hari ku, dengan mereka, dengan banyak hal, dan dengan semua cerita palsu itu. Tolong bawa pergi malam malamku, malam malam yang membuatku menyadari kesepian didalam diriku dan merenungi semuanya tanpa bisa menangis. Dan biarkanlah mereka bahagia dengan semua apapun yang terjadi padaku, biarkan mereka tertawa di atas dukaku, tapi jangan Engkau biarkan mereka saling membenci satu sama lain. Cukup aku yang selalu di jelekkan, cukup aku yang selalu dikucilkan, cukup aku yang selalu terkekang, cukup aku yang selalu gila dengan kesendirianku, dan aku harap takkan pernah ada seorangpun lagi di dunia ini yang seperti aku, cukup aku Ya Allah, bukan yang lain. Karena rasa itu begitu sangat tidak membuatku nyaman, aku tak ingin ada seoranglain pun yang pernah merasakannya juga.

Sabtu, 03 Agustus 2013

saya; Tsanamilta Amirah


Assalamualaikum kawan, masih ingatkah kalian dengan saya disini ? saya, Tsanamilta Amirah, teman kalian saat kita pertama kali menduduki bangku bangku kecil di TK Aisyah Bustanul Atfal 4 Palembang. Saya Tsanamilta Amirah, teman kalian saat kita baru saja mendapatkan seragam merah putih di SD Muhammadiyah 6 Palembang, dan itu tahun pertama yang ternyata menjadi tahun perpisahan dan mungkin juga perpisahan sementara kita. Saya Tsanamilta Amirah, teman kalian saat saya menjadi siswa baru di tahun kedua di SD Inpres II Makassar, yang lalu menghilang tanpa sempat menyelesaikan tingkat III saya disana, lalu kembali lagi ke kota kelahiran saya, Palembang. Ya, saya Tsanamilta Amirah, yang dulu sempat menghilang, akhirnya kembali lagi ke SD Muhammadiyah 6 Palembang. Kawan, ingatkah kalian semua? Terlalu banyak kenangan yang membuat saya belajar banyak dari kalian, terima kasih dan saya berharap kalian tidak akan melupakan saya hingga saat ini. Dan masih tentang saya Tsanamilta Amirah, selepas menyelesaikan pendidikan dasar saya hingga tingkat VI, lalu saya melanjutkan ke sebuah sekolah menengah yaitu SMPN 45 Palembang, tapi sayang, hal itu hanya bertahan selama satu tahun, karena dua tahun berikutnya saya habiskan di SMPN 9 Palembang, ya lagi lagi, saya Tsanamilta Amirah merasakan bagaimana manis dan pahitnya menjadi siswa baru, alias pindahan. Selesai dari sekolah itu, ternyata saya masih berada di kota yang sama, ya karena akhirnya saya melanjutkan bersekolah di SMA Muhammadiyah 1 Palembang, sekolah yang membuat banyak kenangan dan orang orang disana yang mungkin hingga saat ini masih terasa semua hal yang telah merubah hidupku, tapi lagi lagi, di tahun ketiga, ataupun tingkat akhir, saya kembali pindah ke sebuah sekolah, yaitu di SMA PGRI V Palembang, kenapa ? tentu saja, karena Tuhan masih ingin membuat saya terus belajar. Ya hidup memang keras, tapi sayangnya meskipun begitu, saya masih disini dan menuliskan setiap deret kata ini disini. Well, akhirnya setelah menyelesaikan pendidikan saya di tingkat XII, syukurlah saya lulus dengan predikat juara umum pertama, jangan tertawa karena ini bukan lelucon, aneh memang tapi setidaknya anda semua bisa mengetahui perbandingan kedua sekolah saya sama sekali. Bersamaan dengan menanti detik detik pengumuman kelulusan, tentu saja saya tidak hanya berdiam diri dan berkutat dengan semua kertas tulisan saya ataupun hanya fokus mengikuti bimbingan intensif. Karena saya seorang Tsanamilta Amirah, yang tak ada apa apanya ini, dengan nekatnya memutuskan untuk mendaftarkan diri di sebuah lembaga PUSDIKLAT milik satu satunya televisi nasional kita, alhasil kurang lebih 60 hari, saya menyelesaikannya, menikmati dan merasakan, bahwa inilah mimpi saya, inilah tempat dimana saya seharusnya berada, dan saya yakin, saya bisa terus maju dan berkembang disini. Tapi maaf, itu hanya versi saya, Tuhan dan salah satu kunci penopang hidup saya ternyata berkata lain, Ia dan Beliau, dan mungkin juga mereka, justru merobohkan mimpi si pemimpi ulung ini, membunuh Tsanamilta Amirah yang sejak tingkat IV sekolah dasar sudah sangat ingin bangkit dari segala hal yang membuat dirinya, mimpinya, dan menjalani hidup yang seharusnya. Ya sulit untuk menjelaskan, tapi intinya saya akhirnya terdaftar sebagai mahasiswa di sebuah perguruan tinggi di sumatera selatan, alias lagi lagi di kota Palembang, yaitu Universitas Muhammadiyah, ya akhirnya Tsanamilta Amirah yang baru telah muncul, dia yang tak punya semangat hidup, dia yang lelah untuk bermimpi, dia seperti robot yang tak berdaya, dan saat ini, saya teman kalian, mungkin juga musuh kalian, atau mungkin perusak cerita indah di hidup kalian, hanya ingin mengatakan; Maaf. Terima kasih. Karena sudah mau menjadi sedikit corak pelangi di langit kehidupanku yang selalu mendung. dan maaf, jika saja selama ini yang kalian lihat bukanlah Tsanamilta Amirah yang sebenarnya. Maaf, meskipun hal ini sangat sulit dan terasa sangat membunuhku, tapi aku hanya ingin kalian tahu, saya. Tsanamilta Amirah. Tidak akan pernah melupakan siapapun kalian, bagaimana pun kalian dulu, saat ini, dan kelak. Karena Tuhan pasti selalu punya alasan yang dahsyat kenapa saya, Tsanamilta Amirah, harus mengganggu (ataupun di-) dalam kehidupan anda sekalian. Baiklah mungkin cukup disini, sekian dan terima kasih. Wassallam. #030891