Selasa, 23 Agustus 2011

Rectangular Love™ 4


Salut Airin, comment ca va –hai Airin, apa kabar ?” tanya Rio saat mendatangi Airin yang sedang duduk di taman berlakang sekolah, “salut rio ! ca va, et toi –hai Rio ! baik, bagaimana dengan mu ?” jawab Airin dengan nada datar, sepertinya Rio masih bisa melihat tak ada semangat di wajah Airin hari ini, “bagaimana keadaan kakimu ?” tanya Rio lagi, dengan apa yang dia lihat kemarin sore, rasanya sangat bodoh jika dia bertanya seperti itu,
kakiku ? baik, aku berharap beberapa hari lagi, aku tidak perlu menggunakan tongkat bodoh ini untuk pergi ke sekolah
oh ya ? baguslah” jawab Rio lega, “apakah kau mendatangiku hanya untuk menanyakan hal itu ?” Airin tiba tiba bertanya dan memandang Rio dengan penuh curiga, “oh, ng…aku” Rio menjawab dengan sedikit terbata, sambil berfikir apa yang harus dia katakan, “aku kesini hanya ingin memastikan bahwa keadaan mu baik baik saja” jawab Rio akhirnya, meski pun dengan nada kaku yang membuat Airin tidak yakin dengan jawaban itu, “sebaiknya, jika ada yang ingin kau katakan, katakan saja, setidaknya kita kan teman ?” ujar Airin sambil tersenyum tipis, “ah kau ini, aku hanya ingin mengobrol dengan mu, boleh kan ?
tentu saja boleh, tapi ingat, 1 pertanyaan 10 euro, bagaimana ?
hmm,, d’accord –setuju !” jawab Ro menyetujui, dan akhirnya mereka tertawa bersama, ‘wah senang sekali bisa melihatmu tertawa, aku tak percaya, kau memang gadis yang berbeda, kemarin aku melihatmu menangis penuh putus asa, dan hari ini, kau tertawa seolah semua masalah mu sudah terselesaikan’ ucap Rio dalam benaknya.
Di sudut lain, dari lantai 2 sekolah, Sandy melihat keduanya dengan senyum tipis yang seolah tertahan, melihat sahabat masa kecilnya yang kini ternyata sedang menemani Airin dan berhasil membuat Airin tertawa, sahabat kecil yang sudah lama terpisah, dan sejujurnya dia benci jika harus bersaing dengan sahabatnya sendiri, “kalian terlihat sangat bahagia !” ucap Sandy akhirnya.
\
Sandy, bisakah kau membantuku ?” seseorang datang menepuk pundak Sandy, membuyarkan lamunan Sandy tentang Airin dan Rio yang masih terlihat tertawa bersama, “Keyra ? ada apa ?” tanya Sandy yang sebenarnya tidak ingin peduli, “maukah kau membantuku mencari buku di perpustakaan ?” tanya Keyra dengan senyuman yang dibuat buat, “bukankah kita punya tugas yang sama ?” lanjut Keyra dengan gaya centilnya, “maaf, aku ….” belum sempat Sandy menjawab, dia melihat Rio berjalan menaiki tangga, membantu Airin yang masih berjalan dengan tongkatnya, “hm, baiklah aku akan membantu mu” jawab Sandy yang tiba tiba berubah pikiran, Keyra tersenyum senang dan langsung mengaitkan lengannya pada Sandy, dan mereka pergi bersama menuju perpustakaan, ‘bukankah itu Sandy ?’ tanya Airin dalam hati, meskipun sedikit tidak yakin dengan penglihatannya, “bukankah, yang barusan itu Sandy ? sedang apa dia bersama Keyra ?” kali ini Rio bertanya pada Airin, “apa ? mana ? aku tidak lihat” jawab Airin berbohong, dan mereka melanjutkan perjalanan.
\
Hari ini, Miya dan Yui sudah berencana ingin mengantarkan Airin pulang, jadi keduanya langsung mendatangi tempat duduk Airin setelah bel tanda berakhirnya pelajaran untuk hari ini berbunyi, “Ayi ? bolehkah kami ikut pulang bersamamu ?” tanya Yui pada Airin yang masih menyalin sisa catatan yang ada di papan tulis, “kalian mau apa ?” tanya Airin tanpa mengalihkan pandangannya dari buku catatannya, “tidak, kami hanya ingin main, bolehkan ?” “hei, Airin !” belum sempat Airin menjawab permintaan Miya, seseorang berteriak dan masuk ke kelas mereka, “ayo aku antar kau pulang ?” tanyanya mengabaikan Yui dan Miya yang menatapnya dengan tatapan penuh pertanyaan, “baiklah, ayo!” jawab Airin dan langsung merapikan buku bukunya, “aku pulang duluan yah, au revoir –sampai jumpa …” jawab Airin sembari berjalan keluar kelas, beriringan dengan Rio, meninggalkan kedua sahabatnya yang masih bingung dengan keduanya.
\
Bagaimana kalau kita mampir sebentar untuk membeli ice cream ?” tanya Rio saat keduanya sedang dalam perjalanan di dalam mobil miliknya, “boleh, kau masih memiliki hutang 90 euro padaku” jawab Airin sambil bergurau, “kau ini, baiklah, aku akan mentraktirmu ice cream” jawab Rio putus asa sambil mengeluarkan senyuman khasnya, sedangkan Airin hanya tersenyum senang, keduanya nampak sangat akur seharian ini, sepertinya mereka juga sedang tidak ingin bertengkar seperti halnya kebiasaan mereka dulu jika bertemu di sekolah.
\
Sepertinya, kau sangat bahagia hari ini ?” ujar Sandy yang entah sejak kapan sudah berdiri bersandar di depan pintu kamar Rio, “sejak kapan kau berdiri disana ?” tanya Rio sambil mendelik, “lagu yang bagus, sepertinya aku pernah mendengar lagu itu” ucap Sandy berjalan mendekat kearah Rio yang sedang duduk di teras kamarnya, “hei kau belum menjawab pertanyaanku” ujar Rio lagi, “itu tidak penting, aku rasa pertanyaanku sebelumnya lebih penting dari pertanyaanmu
pertanyaan apa ?
sepertinya hari ini kau semakin akrab dengannya ? bahkan aku mendengar, kalian pulang bersama ?
apakah kau sedang membicarakan Airin ?
hha, kau ini sangat mudah untuk di pancing agar berbicara, padahal aku tidak menyebutkan namanya sama sekali
kenapa kau tertawa ? seharusnya kau berhati hati, karena kami berdua jauh lebih akrab sekarang
ya, aku tahu, seharusnya memang begitu, tapi aku juga baru saja menyusul langkahmu, baru saja aku datang kerumahnya, dan aku jadi semakin tahu lebih banyak tentangnya
apa maksudmu ?
kau pasti akan kaget mendengar kalimat ku selanjutnya
apa ?
sabar, apakah kau sudah siap ?
hm, iya aku siap!
aku belum yakin dengan ini, tapi aku merasa bahwa dia adalah kelinci kecil
apa !? kau bercanda !
ya, aku harap aku salah, setidaknya sebelum aku melihat foto keluarga yang ada di ruang tengah rumahnya tadi
apa yang kau lihat ?
seorang gadis kecil yang sedang tersenyum ceria duduk di sebelah istana pasir, sambil memeluk boneka tangan berbentuk kelinci
kau, jangan bergurau ! itu sama sekali tidak lucu
bagaimana kalau dia memang si kelinci kecil kita dulu ?
aku tidak tahu” ucap Rio pasrah, dia hanya merasa belum siap jika kenyataanya memang benar seperti apa yang Sandy katakan barusan.
\
Siang tadi, tak lama setelah Rio mengantarkan Airin ke rumahnya, Sandy pun datang mengunjungi Airin, dan dia baru tahu ternyata sudah berapa hari ini Airin hanya tinggal sendiri di rumah, karena kedua orang tuanya ada keperluan di luar kota, dari sorot mata Airin, Sandy bisa melihat berkas kegembiraan yang tergambar jelas disana, entahlah itu karena kedatangan Sandy, atau karena kebersamaanya bersama Rio seharian ini, “Airin, foto foto di rumah mu sepertinya cukup banyak” ucap Sandy memutar matanya ke seluruh ruangan, saat mereka sedang duduk minum teh bersama di ruang keluarga rumah Airin, “et cette jolie fille –dan gadis cantik ini ?” tanya Sandy ketika matanya tertuju pada gambar seorang gadis kecil berusia sekitar 5 atau 6 tahun yang sedang duduk di kolam pasir, “itu adalah foto ku” jawab Airin tanpa memandang gambar yang di maksud sandy, “benarkah ? aku seperti pernah melihat wajah yang sama dengan yang di foto ini” ujar Sandy terlebih pada dirinya sendiri, “apa ? barusan kau bilang apa ?” tanya Airin merasa kurang jelas, “ah tidak, lupakan saja” elak Sandy tidak yakin dengan keraguan yang tiba tiba menggeliat di dalam benaknya.
\
Pagi ini adalah waktunya untuk semua siswa kelas 3 mengikuti tes psikologi untuk seleksi kelas menuju perguruan tinggi, jadi dari hasil tes ini para siswa akan mengikuti kelas yang jadwalnya akan lebih terfokus pada perguruan tinggi yang akan mereka tuju nanti.
Rio, apa kabar ?” Keyra mendatangi Rio yang sedang terlihat serius mengisi formulir perguruan tinggi, sepertinya dia sudah memiliki pilihan akan kemana dia nanti setelah lulus sekolah, “baik” jawab Rio tetap terfokus pada formulirnya, “kau sudah tahu akan kemana ?” tanya Keyra lagi, masih berusaha mencuri perhatian Rio,
ya
jawabanmu singkat sekali dari tadi ?
ada apa ?
tidak, aku hanya ingin tahu, apakah kau akan mengambil jurusan kedokteran ?
bukan
lalu ?
aku akan mengambil jurusan…
jurusan apa ? ayo katakan
itu bukan urusan mu
hah !? kau ini
aku hanya takut kau akan mengikutiku mengambil jurusan yang sama
apa !? aku tidak salah dengar ?
tidak
baiklah, aku akan mencari Sandy kalau begitu !” jawab Airin sambil berlalu, dan Rio hanya tersenyum, karena ternyata tebakannya tepat tentang pertanyaan Keyra.
\
Meskipun belum masuk waktu istirahat, tapi Rio merasa sangat bosan dengan keadaan kelas yang terasa terlalu ramai hari ini, ini karena semua siswa sibuk berdiskusi tentang universitas masing masing. Rio berdiri memandang lapangan basket dari jendela besar yang tidak jauh dari pintu kelasnya, berharap ada sesuatu yang membuat otaknya sedikit lebih fresh saat ini, ‘ah itu dia !’ ucapnya dalam hati, ternyata murid kelas 2f saat ini sedang mengikuti pelajaran olah raga, meskipun tadi sempat tersenyum karena berhasil menemukan keberadaan Airin, tapi tiba tiba dia menghapus senyumannya itu, matanya dapat menangkap jelas bahwa Airin sedang duduk di pojok lapangan basket dan hanya bisa memandang teman temannya yang sedang bermain basket bersama, ‘sepertinya kau sangat tersiksa dengan tongkat itu’ bisik Rio pada dirinya sendiri, lalu pikiran Rio melayang pada cerita Sandy sore kemarin, tentang Airin yang Sandy bilang adalah Ayi, kelinci kecil yang dulu hilang meninggalkan Rio dan Sandy saat mereka berusia 7 tahun, ‘apa kabar kau saat ini ? apakah yang di katakan Alex itu benar tentang mu Ayi ? apakah rusa kecil itu benar benar berhasil menemukan mu ? dan apakah kelinci kecil itu memang kau Airin ?’ seribu pertanyaan muncul di benak Rio, Alex atau yang kini biasa di panggil dengan nama Sandy, memang tidak main main dengan niatnya untuk mencari Ayi, teman masa kecil mereka, tapi meskipun Rio tahu kalau temannya itu tinggal di Prancis, tetap saja Rio belum bisa yakin 100% bahwa Airin itu Ayi, bahwa Airin itu adalah kelinci kecil mereka, yang selama ini mereka cari.
\
Sandy melambaikan tangannya pada Airin yang terlihat sedang berjalan bersama dengan kedua sahabatnya, siapa lagi kalau bukan Miya dan Yui, “hai, maukah kau ikut dengan ku sepulang sekolah nanti ?” tanya Sandy sumringah, “kemana ?” tanya Airin ingin tahu, “aku ingin mengajakmu ke suatu tempat” bisik Sandy di telinga Airin.
Saat ini, mereka sedang berada di dalam mobil milik Sandy, Sandy sangat senang karena Airin mau menerima ajakannya. Sandy menghentikan laju mobilnya di pinggir sebuah taman yang jaraknya tidak begitu jauh dari rumah mereka, “untuk apa kita kesini ?” tanya Airin bingung, Sandy hanya diam dan tersenyum, membantu Airin untuk berjalan masuk ke taman itu, “sudah lama aku tidak membawamu untuk berlatih bukan ? aku yakin kau sangat ingin segera berpisah dari tongkat itu” ucap Sandy sambil tersenyum tulus, lalu dia meletakan tongkat Airin begitu saja, dan mengenggam kedua tangan Airin, bak seorang anak balita yang baru akan berlatih berjalan, dia membantu Airin yang sesekali meringis menahan rasa nyeri di kakinya, “bagus ! kau sudah semakin lancar, apakah kau juga sering berlatih sendiri di rumah ?” tanya sandy senang melihat kemajuan gerakan kaki Airin yang perlahan stabil, “benarkah ? tidak, aku tidak akan berani melakukannya sendiri” jawab Airin sedikit berbohong,
jika kita melakukannya setiap hari setelah pulang sekolah, pasti kakimu akan cepat pulih
iya, aku harap begitu
ngomong ngomong, hari ini siswa kelas 3 mengikuti tes psikologi menjelang ujian kelulusan
apa ?” tanya Airin saat mendengar perkataan Sandy barusan, dan wajah keduanya terlihat mulai serius, “qu’est-ce que tu feras après –apa yang akan kau lakukan setelah ini ?” tanya Airin ingin tahu lebih jelas tentang kalimat Sandy barusan, “continuer a l’universite –melanjutkan ke universitas
benarkah ?
ya, aku ingin kuliah di Seoul
kau serius ?” tanya Airin menyembunyikan rasa kekecewaannya, “sini, kita istirahat dulu ya” Sandy mengajak Airin duduk di salah 1 kursi taman, “kuliah disana adalah cita terbesarku” lanjut Sandy lagi,
oh, begitu…” terdengar nada kekecewaan dari suara Airin, tapi Sandy tidak menyadarinya sedikit pun, “ternyata di Prancis selama sisa kelas 3 ku, terasa sangat singkat ! itu semua berkat dirimu” ujar Sandy tanpa ditanya, dia menatap langit yang berwarna biru tanpa awan dengan gembira, sedangkan Airin hanya menunduk lesu mendengarnya, “oh iya ! ada yang ingin aku tunjukan padamu, ayo ikut aku” tarik Sandy selanjutnya, Airin yang semula ingin menggapai tongkatnya, terpaksa mengurungkan niatnya, karena Sandy sudah lebih dulu menggapai kedua tangganya, “ini dia ! bagus bukan ? aku yang membuatnya” sebuah istana pasir berdiri sedikit tersapu angin di atas sebuah kolam pasir yang ada di taman itu, istana pasir yang sepertinya memang karya Sandy sendiri, “apa ini !?” tanya Airin mencoba biasa, sejujurnya dia kaget melihat hal ini, melihat istana pasir itu membuat bayangan kedua sahabat masa kecilnya seolah kembali mengisi seluruh volume di otaknya, dia teringat saat dulu dia sering bermain bersama kedua teman masa kecilnya, “aku membuatkannya untuk mu sebelum pergi ke sekolah, wah sepertinya sedikit berantakan tersapu angin ?” jawab Sandy bangga, sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali, “kau kenapa ? bukankah kau suka istana pasir ?” tanya Sandy saat melihat wajah Airin yang tiba tiba tidak bersemangat, “bisakah kita pergi dari sini ? kau tahu, aku sangat benci istana pasir !” ucap Airin mengagetkan Sandy.
Rio yang sedari tadi diam diam melihat keakraban kedua teman sekolahnya itu, merasa penasaran, kenapa tiba tiba wajah Airin berubah seakan penuh duka saat melihat istana pasir itu, ‘betul apa yang aku duga, dia bukan Ayi!’ ucapnya mengambil kesimpulan, lalu setelah puas karena berhasil mengetahui jawaban dari rasa penasarannya, Rio pergi begitu saja meninggalkan keduanya yang masih berdiri di sana, memandang istana pasir yang sebetulnya Rio yang membuatnya atas permintaan Sandy, karena Sandy berfikir bahwa hal itu bisa sedikit membuktikan apakah Airin adalah kelinci kecil mereka atau bukan.
\
Sandy duduk sendiri di teras rumahnya, semua pukirannya bercampur aduk, tentang Airin, tentang kedua sahabat masa kecilnya, juga tentang sekolahnya, tiba tiba dia merasakan sakit yang amat sangat di bagian belakang kepalanya, tak ada seorang pun dirumahnya saat ini, ayahnya yang seorang pilot memang sangat jarang pulang kerumah, sedangkan ibunya, terlalu sibuk dengan urusan butiknya, dan hobinya yang selalu minum bersama teman temannya yang kebanyakan laki laki, “kenapa lagi ini ? kenapa sakitnya harus muncul pada saat saat seperti ini ?” Sandy menggerutu sambil menahan sakit di kepalanya, dia berusaha berjalan menuju kamarnya, menggapai meja kecil di sebelah tempat tidurnya dan mengambil sebuah obat, setelah itu dia langsung menelan obatnya bakhan lebih dari 3 butir sekaligus, setelah itu, dia berusaha merebahkan dirinya di atas tempat tidurnya, tak lama kemudian dia tertidur, dan sejenak terbebas dari rasa sakitnya itu.
\
Felix, apakah kau melihat Sandy ? aku seharian ini belum melihatnya” ujar Keyra pada Felix yang saat itu sedang menunggu giliran untuk cek kesehatan, yang di ikuti seluruh siswa kelas 3 hari ini, tes ini masih ada hubungannya dengan persiapan mereka menuju universitas, “aku tidak tahu” jawab Felix sambil menggidikan bahu, Keyra tampak berfikir sejenak, lalu dia teringat pada Rio, dan segera mencari keberadaan teman sekelasnya itu.
Itu dia !” ucap Keyra saat berhasil menemukan keberadaan Rio yang ternyata sedang berada di ruang loker, “kemarin aku tidak melihatmu, kau kemana saja ?” tanya Airin pada Rio, menyadari ternyata Rio tidak sedang sendirian disana, Keyra menunda langkahnya dan bersembunyi di balik pintu loker miliknya, “kenapa ? apakah kau mencariku ? kau merindukanku ?” tanya Rio dengan tatapan jahilnya, Airin tertawa kecil dan berusaha untuk tidak menatap mata Rio, “aku bertanya serius, aku dengar siswa kelas 3 sudah mulai mempersiapkan diri untuk masuk universitas ?” tanya Airin lagi,
iya, hari ini saja, kami ada tes kesehatan, tes lanjutan dari tes psikologi kemarin
benarkah ? lalu, kenapa kau disini sekarang ?
aku hanya ingin bertemu denganmu sebentar, apa itu tidak boleh ?
untuk apa menemui ku ?
ini…” Rio memberikan 2 lembar kertas yang bertulisakan ‘ice cream 50%’,
ini, voucher makan ice cream ?
ya, tentu saja, kau suka kan ?
ini untukku ? terima kasih” ucap Airin gembira, “baiklah, pulang sekolah nanti kita pergi bersama” ucap Rio lagi, “baiklah!” jawab Airin senang, “apa apaan ini ? bukankah mereka dulu selalu bermasalah ? ada hubungan apa di antara mereka ?” gerutu Keyra yang masih menguping obrolan keduanya dengan kesal.
\
Airin, sepertinya akhir akhir ini kau terlihat sangat dekat dengan mereka ?” Miya bertanya di sela jam pelajaran pada Airin, saat ini mereka sedang mengerjakan tugas bersama, tentu saja dengan Yui dan juga Boby, mendengar pertanyaan Miya barusan, Boby dan Yui langsung memasang telinga mereka, “mereka siapa ?” tanya Airin tetap melanjutkan tugasnya, “siapa lagi kalau bukan 2 murid 3b itu ? apa harus aku sebutkan nama keduanya ?” ucap Miya lagi, “je ne sais pas, je viens de sentir a l’aise avex eux –entahlah aku hanya merasa nyaman bersama mereka” jawab Airin datar, sepertinya dia memang sedang tidak ingin membicarakan hal itu saat ini, mungkin karena tugas kali ini juga berkaitan dengan penentuan kelas pada tahun ajaran baru nanti, dan Airin sangat berharap bisa masuk kelas unggulan, meskipun hal itu sedikit mustahil, ketiganya diam mendengar jawaban Airin, mungkin sebenarnya mereka belum puas dengan jawaban yang keluar dari mulut teman mereka itu, “ne vous inquetez pas, vous aves encore mon meilleur ami –jangan khawatir, kalian masih teman terbaikku” lanjut Airin lagi, mungkin dia sedikit menyadari apa yang teman temannya pikirkan, “hm, meilleurs amis pour toujours –sahabat selamanya !” tambah Airin lagi dengan nada tegas, kali ini dia mengangkat kepalanya dan tersenyum berusaha meyakinkan ketiganya, “d’accord –baiklah” ujar Miya mewakili yang lainnya, sepertinya mereka sudah puas dengan jawaban Airin.
\
Jalanan mulai terasa sepi sore ini, hening yang terasa selama di perjalanan, membuat keduanya tidak merasa nyaman, saat ini Rio dan Airin sedang dalam perjalanan menuju sebuah caffe yang khusus menjual ice cream, sesuai janji Rio tadi sewaktu bertemu di ruang loker, dia akan mentraktir Airin ice cream sepulang sekolah.
Bagaimana, kau suka ?” tanya Rio saat mereka sedang menikmati ice cream yang baru saja mereka pesan, Airin menjawabnya dengan ganggukan pasti, “iya aku sangat suka” jawab Airin sembari terus menikmati ice cream yang ada di genggamannya, “pourquoi, amez-vous de la crème glacee –kenapa, kau sangat menyukai ice cream ?” tanya Rio ingin tahu, “honnetes –jujur, aku sendiri tidak tahu” jawab Airin sedikit berbisik,
Airin ?
ya, ada apa ?
benarkah kau pernah bersekolah di Spanyol ?” Airin menghentikan sejenak kegiatannya, memberi jeda panjang setelah mendengarkan pertanyaan Rio barusan, dan akhirnya dia hanya mengangguk ragu, “si quires que te cuente un poco acerca de su infansia en Espania –apakah kau mau bercerita sedikit tentang masa kecilmu di Spanyol ?” tanya Rio dengan menggunakan bahasa Spanyol, Airin menggidikan bahunya, bukan karena dia tidak mengerti dengan pertanyaan Rio, dia hanya sedang berusaha untuk bersikap tenang dengan perasaannya, “kenapa kau tiba tiba bertanya tentang Spanyol ?” tanya Airin tidak langsung menjawab pertanyaan Rio,
aku hanya ingin tahu, boleh kan ?
semua ingatan ku tentang Spanyol, sudah lama aku hapus dari memori otakku
Rio menunduk lesu mendengarkan jawaban Airin, “kecuali…” lanjut Airin menggantungkan kalimatnya, sebenarnya Rio menunggu dengan sangat tidak sabar tapi dia berusaha untuk tenang, “de vieux amis –teman lama” ujar Airin menyelesaikan kalimatnya, “teman lama ? maksudmu ?” tanya Rio penasaran, “dulu aku sempat bersekolah disana, tentu saja aku memiliki teman bukan ?” ucap Airin lagi, kali ini suaranya terdengar kembali ceria, “oh iya, tentu saja! Hha…” jawab Rio berusaha tertawa, dia baru sadar bahwa pertanyaannya memang terdengar sedikit aneh, ‘sepertinya dia memang bukan kelinci kecil kami’ ucap Rio dalam hati di sela tawanya, ternyata taktiknya untuk memancing agar Airin bercerita tentang masa kecilnya, sudah cukup untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa Airin, bukanlah Ayi, kelinci kecil mereka, yang menyukai istana pasir dan memiliki alasan khas tentang kegemarannya dengan ice cream.

to be continue . . .

Senin, 22 Agustus 2011

Rectangular Love™ 6


Upacara perpisahan siswa kelas 3 berlangsung hangat dan akrab, setelah itu upacara pun berubah menjadi pesta perpisahan yang penuh haru dan suka cita, dari salah satu sudut aula, Airin berdiri bersandar di dinding kaca gedung tersebut, memandang kearah jam 1, dimana Rio dan Sandy sedang berkumpul bersama teman teman sekelas mereka, tentu saja ada Keyra dan juga Felix disana, meskipun sudah sejak beberapa bulan trakhir ini mereka sering bersama, tetap saja Airin masih belum siap jika harus berpisah lagi dengan keduanya, “Airin, kau kenapa ?” Boby tiba tiba mendatanginya sembari membawakan minuman dalam kemasan untuknya, “aku baik baik saja Boby” jawab Airin tidak merubah arah pandangannya sama sekali, “tidak mungkin baik baik saja, sedangkan wajah mu terlihat murung seperti itu ?” sahut Yui menyikut lengan Airin, “iya, akhir akhir ini kau sering melamun Airin, kami jadi khawatir” kali ini Miya menambahkan, “kalian jangan berlebihan, aku baik baik saja” ucap Airin akhirnya membagikan pandangannya pada ketiga teman sekelasnya itu, “kau tahu, bukan hanya dirimu yang tidak ingin berpisah dengan mereka, jadi jangan membebani dirimu sendiri, berbagilah pada kami” bisik Yui sambil melirik Miya, “yah, meskipun aku pernah bertengkar dengan mereka, tapi aku juga merasa mereka terlau cepat pergi dari sekolah ini” ucap Boby tanpa ditanya, “benarkah itu ?” tanya Miya tak percaya pada kalimat pada Boby, “merci mon ami –terima kasih kawan” ujar Airin merangkul Miya dan Yui, mereka tersenyum bersama, Boby pun ikut tersenyum bersama mereka, ‘maaf yah, aku hampir saja melupakan kalian’ ucap Airin berbisik di dalam benaknya, dia lupa bahwa selama ini sebenarnya teman temannya selalu ada untuknya, jadi seharusnya dia juga memikirkan perasaan mereka.
\
Siang ini, akan di adakan acara makan siang bersama di rumah keluarga Sandy, kedua orang tua Sandy sengaja mengadakannya untuk mengundang kedua orang tua Rio yang sedang berada di Prancis juga kedua orang tua Airin, “hey Airin, kau membiarkan rambutmu terurai begitu saja ?” panggil Sandy yang melihat kedatangan Airin dan kedua orang tuanya. Sebelum pergi kerumah Sandy tadi, ibunya Airin memang meminta Airin untuk melepaskan ikat rambutnya, dan hanya menggunakan pita kecil untuk menghiasi rambut pirangnya yang lebih terlihat coklat tua dan lebat itu, “jangan berkomentar, aku tidak minta komentarmu” jawab Airin meruncingkan matanya, “hey, kau terlihat cantik !” ucap Rio yang baru menampakan batang hidungnya dari dalam rumah Sandy, “kenapa kau semakin terlihat seperti gadis bangsawan Eropa saja ?” tanya Rio lagi, sebenarnya dia lebih berniat untuk menjahili Airin dari pada memujinya, “sudah sudah, kau membuat wajahnya memerah!” kali ini Sandy menambahkan kalimat Rio, yang berhasil membuat Airin melotot geram, “kalian ini ! berhenti menggodaku !” kali ini Airin menghentakkan kakinya dan bergegas melangkah masuk kerumah, “hey, tunggu ! biarkan para orang tua kita berbicara bersama, kita di luar saja” tahan Sandy menangkap pergelangan tangan Airin, “tapi kau memang terlihat berbeda hari ini” ucap Sandy kali ini dengan tatap nakal kearah Airin, “apa mau mu !?” tanya Airin membalas tatapan Sandy dan melotot dengan kesal, “kau ini, kami sudah lama tidak menjahilimu, berapa lama Rio ?” ujar Sandy lagi lagi bersuara, “10 tahun ! hha …” Rio menjawab tanda setuju dengan kalimat Sandy sebelumnya, “kami akan segera pergi dari sini, apakah kau tidak ingin mengucapkan kata kata perpisahan untuk ku dan Rio ?” tanya Sandy sembari meminta Airin untuk duduk di kursi tamannya, bersebelahan dengan tempat duduk Rio, “bukankah kalian yang ingin pergi ? kenapa harus aku yang sibuk mengucapkannya ?” ujar Airin dingin, sebenarnya sikap sinisnya kali ini lebih untuk menutupi kesedihannya, karena dia masih belum siap berpisah dengan keduanya, “ayolah, aku tahu kau berpura pura dingin pada kami agar kami tidak mengenali kalau kau sedang bersedih dan takut berpisah dari kami” lagi lagi Sandy menggoda Airin dengan kalimatnya, “sudah sudah, lihat wajahnya sepertinya sudah panas seperti lobster panggang, sepertinya dia akan meledak” kali ini Rio berkata seolah membela Airin, “sudah, kau sama saja sepertinya” jawab Airin mengerti alibi Rio, “ngomong ngomong, kembalikan kamus ku ! kalian sendiri yang bilang telah mencurinya dariku” kali ini Sandy berbicara pada keduanya, dan Rio hanya bertukar pandangan dengan Airin, “hha …kau sudah dipastikan lulus kuliah disana, untuk apa membawa kamus itu lagi ? bukankah kau bisa langsung belajar dengan teman temanmu disana oppa ?” kali ini Airin tertawa karena berhasil menemukan kata yang pas untuk membalikan keadaan, “betul, kau sudah tidak membutuhkannya hyeong” kali ini Rio lagi lagi menimpali, “kau ini, sebenarnya kau berpihak pada siapa ?” tanya Sandy memasang wajah kesal, “kau mau kamus mu oppa ? ini aku berikan, tapi kau harus mengambilnya sendiri” ucap Airin melayang layangkan kamus saku milik Sandy di udara, dan meletakannya di sela ranting pohon di dekatnya, “baiklah ! aku akan mengambilnya!” kali ini Sandy berkata dengan serius, keduanya hanya terpaku dengan wajah tercengang melihat Sandy yang dengan mudah beranjak dari kursi rodanya dan berjalan menuju pohon dan menggapai kamus yang cukup tinggi diatasnya, “oppa …! kau menipu ku dan sengaja memintaku mendorong kursi rodamu !? awas kau ya !” teriak Airin pada Sandy yang langsung pergi menyelamatkan diri, “aku memang sudah bisa berjalan berapa hari ini, kalian saja yang aku kerjai ! hha ….” tawa Sandy puas melihat wajah keduanya yang terlihat bodoh, “kau ini, baru pulih saja sudah sombong, bagaimana kalau kau sudah pergi ke Seoul nanti ? hha….” tawa Rio menyusul mendengar pernyataan Sandy, dan Airin pun ikut tertawa, mereka bertiga tertawa di bawah langit yang siang itu terasa begitu indah, “kalau begitu, kapan kita bisa pergi ke danau bersama ?” kali ini Airin bertanya tentang rencana mereka mengunjungi danau, yang biasa dia kunjungi jika berkunjung ke tempat nenek, tempat mereka tidak sengaja berjumpa saat itu, “bagaimana kalau tahun depan saja ? saat kelulusan mu” ujar Rio tampak serius, “apa !? tahun depan !?” tanya Airin kaget, “hei, suara mu itu jelak sekali, jangan berteriak seperti itu” ujar Rio protes, “baiklah bagaimana kalau besok ?” usul Sandy menengahi, “setuju!” ucap keduanya kompak, dan tak lama kemudian, orang tua mereka memanggil mereka untuk segera masuk kedalam rumah, lalu mereka berjalan bersama.
\
Kini, aku benar benar merasa beruntung, bisa kembali bersama di tengah tengah 2 sahabat masa kecilku, aku tak pernah mengira kalau mereka juga merindukanku selama ini, meskipun kami saat ini jelas berbeda dan akan kembali terpisah, tapi kami akan terus menjaga persahabatan ini.
Sandy kau yang sabar ya, meskipun semangat didalam dirimu begitu besar, tapi siapa yang menyangka bahwa sebenarnya kau setiap saat bertarung melawan penyakit yang ada didalam dirimu, aku menyayangimu ! entah mengapa kaulah yang memang selalu melindungi dan mengangguku dari dulu ! itu khas dari dirimu Alex, rusa kecil yang dulunya gendut seperti anak rusa yang selalu kelaparan, tak pernah ku bayangkan kau akan tumbuh tinggi dan tampan, juga dewasa seperti saat ini.
Rio aku bersyukur dulu kau pernah menolak coklat dari ku, aku jadi sedikit lebih tahu sifat burukmu itu, playboy dan selalu tebar pesona, mungkin kau begitu karena memang ingin menunjukan pada semua murid perempuan bahwa kau adalah siswa yang paling cerdas dan mandiri ? tapi itu tidak masalah, ternyata setelah perasaan aneh itu lenyap, aku bisa mengenalmu dari sisi lainnya, mengenalmu sebagai Jery, rubah kecil yang dulu selalu menghiburku dengan istana pasir buatan mu di saat aku sedang bersedih, atau sedang di ganggu oleh Alex ! aku bangga memiliki sahabat seperti kalian, aku berjanji kelak aku akan mengunjungi kalian, ke Seoul dan Spanyol ! karena ada yang bilang padaku, kita semua sudah dewasa saat ini, jadi jarak dan waktu tidak akan berpengaruh pada persahabatan kita, jal isseoyo –selamat tinggal, tto mannayo –sampai jumpa lagi.
\
the
©end

Rectangular Love™ 5


Tenang, kita masih ada 1 cara lagi !” ujar Sandy yang malam ini menginap di tempat kost Rio, kebetulan Felix sedang bekerja di mini market yang tidak jauh dari sana, jadi mereka bisa leluasa bercerita, “apa lagi ? sudah jelas dia tidak menyukai istana pasir buatanku, dia juga tidak memiliki alasan apapun tentang kegemarannya dengan ice cream ?” ujar Rio terdengar pasrah, “kelinci !” teriak Sandy tepat di telinga Rio, “hei!! apa kau sudah bosan hidup ?” tanya Rio sedikit marah, “hha, kita bisa menggunakan kelinci bukan ?” tanya Sandy merasa idenya kali ini sangat brilliant, “kau ingin kita melakukan apa lagi ? jangan menyia nyiakan waktu, kalau dia memang bukan kelinci kecil kita bagaimana ?” ucap Rio lagi, “seharusnya, kau sesekali masuk ke dalam rumahnya dan melihat foto itu ! aku yakin dia adalah Ayi” teriak sandy menepuk pundak Rio, “benar juga”,
tentu saja ! seharusnya, sesekali kau beralasan pergi ke toilet dan kau pasti bisa melihat foto itu !
ngomong ngomong, kenapa kau tadi tidak datang ke sekolah ? kita ada tes kesehatan
ya maafkan aku, aku ada urusan kecil. Tentang tes itu, aku juga sudah tahu
bagaimana dengan ide mu tadi tentang kelinci tadi ?
haha, tenang, aku sudah memikirkannya !” jawab Sandy tertawa jahil, sepertinya dia sudah memiliki rencana tersendiri tentang binatang kecil itu, dan Rio hanya berharap semoga ide Sandy kali ini masuk akal dan sedikit lebih ampuh.
\
Wah sepertinya aku hampir terlambat berangkat kesekolah” gerutu Airin pada dirinya sendiri saat akan menutup pintu rumahnya sebelum berangkat kesekolah pagi ini, bahkan dia belum sempat membuat sarapan, “ah, kotak apa ini ?” langkah Airin terhenti saat melihat kotak berukuran sedang yang tergeletak di teras rumahnya pagi ini, “wah, lapin –kelinci ? lucu sekali” ujar Airin saat melihat ternyata isi kotak tersebut adalah sepasang kelinci kecil berwarna putih, “kalian kenapa bisa ada disini ? siapa yang membawa kalian kesini ?” Airin bertanya pada sepasang kelinci kecil itu, sepertinya Airin sangat menyukai keduanya, tapi tiba tiba dia teringat bahwa dia sudah terlambat pergi kesekolah, jadi dia segera meletakkan kedua kelinci itu begitu saja di dalam kotaknya, dan bergegas berangkat kesekolah menggunakan sebuah taksi.
\
Selama jam pelajaran di sekolah, pikiran Airin selalu tertuju pada 2 kelinci yang ada di rumahnya, dia penasaran siapa yang mengirimkannya dan sebenarnya sudah lama dia berusaha untuk tidak memiliki kelinci lagi seperti dulu, saat dia masih suka memelihara kelinci, tapi itu dulu saat dia belum berhasil melupakan bayang bayang masa kecilnya.
Airin melangkah dengan malas menuju kantin, Miya dan Yui yang sudah berkali kali berusaha mencuri perhatian Airin dengan berbagai lelucon mereka tetap saja tidak berhasil, “benar bukan ! ide ku pasti berhasil, kau lihat sendiri tadi, dia sangat menyukai kelinci itu !” suara Sandy dengan penuh semangat terdengar saat ketiganya melintas di depan ruang laboratorium, tentu saja Airin refleks menghentikan langkahnya dan berbalik mendatangi Sandy yang ternyata sedang bersama Rio, “jadi kalian yang membawa kelinci itu ?” tanya Airin dengan tatapan tidak bersahabat, dan senyuman di bibir Sandy tiba tiba menghilang mendengar kalimat Airin barusan, “kau ? ah, itu adalah idenya, aku tidak tahu apa apa” ucap rio sambil mengarahkan telunjuknya pada Sandy dan mencoba beralibi, sepertinya dia tahu kalau Airin sedikit emosi, “iya, bukankah kau menyukainya ?” jawab Sandy masih berusaha tersenyum, “pulang sekolah nanti, silahkan ambil kembali kelinci itu!” ucap Airin sedikit membentak dan melangkah pergi meninggalkan Rio dan Sandy yang masih menatapnya dengan bingung.
\
Sore ini Rio sedang duduk dengan wajah bingung di teras belakang rumah Sandy, sebenarnya Sandy tidak kalah bingung darinya, karena mereka merasa bersalah pada Airin, sembari memainkan 2 kelinci kecil yang tadi baru saja mereka ambil kembali dari rumah Airin, mereka jadi seperti kehabisan ide untuk rencana mereka berikutnya, “astaga ! aku lupa !” tiba tiba Sandy berbicara sambil menepuk jidatnya sendiri, “kau kenapa ?” tanya Rio dengan malas, “aku ada urusan sebentar, kau tunggu disini saja aku akan segera kembali” ujar Sandy terburu buru dan pergi meninggalkan Rio sendirian dirumahnya, “aneh sekali ?” ujar Rio penasaran.
Alih alih menghilangkan kejenuhannya, Rio melangkahkan kakinya menuju ruang tengah rumah Sandy, dia menemukan sebuah album foto bersampul darkblue yang tergeletak di atas meja, sesekali dia juga tersenyum melihat foto foto yang ada di album tersebut, ‘ruuruu ? apa ini, sepertinya aku pernah melihat tulisan ini sebelumnya ?’ Rio bertanya dalam hatinya saat melihat sebuah gambaran tangan yang bertuliskan tulisan tersebut, ‘ah aku ingat ! gantungan ponsel itu ….’ Pikiran Rio melayang jauh pada kejadian beberapa waktu yang lalu, saat dia menemukan gantungan ponsel milik, “AIRIN !” ucap Rio yang sebenarnya lebih terdengar seperti teriakan mengejutkan saat menemukan kata kunci di dalam ingatannya, dia langsung mengambil ponsel dari saku jas sekolahnya dan mencari nama Sandy dari daftar nomor telpon di ponselnya, satu kali tak ada jawaban dari Sandy, dua kali masih sama, hingga sudah kesepuluh kalinya dia menghubungi, akhirnya terdengar suara dari seberang sana, “hallo ?” ujar suara itu menjawab panggilan Rio, “kenapa kau tidak menjawab telpon ku dari tadi !?” ujar Rio memburu suaranya, dia sudah tidak sabar ingin menceritakan sesuatu pada Sandy, “maaf ini aku, dokter yang biasa menangani Sandy, apakah kau keluarganya ?” ujar suara itu selanjutnya, Rio kaget dia baru sadar bahwa itu memang bukan suara Sandy, tapi “dokter !? apa maksudnya ? dimana dia saat ini, apakah dia sakit ?” Rio tiba tiba merubah nada suaranya, dia masih belum yakin dengan apa yang dia dengar, “baiklah aku akan segera kesana” ucap Rio menutup sambungan telponnya.
Kurang dari 15 menit, Rio sudah tiba di rumah sakit, dia sengaja mengemudikan kendaraannya dengan cepat agar bisa segera mengetahui apa yang terjadi pada Sandy, “dokter, aku tadi yang menelpon, dimana Sandy sekarang ? aku temannya” tanya Rio tergesa gesa, “hm, apakah benar dia teman mu ?” tanya dokter itu sembari berjalan beriringan dengan Rio, “benar dokter, kami sudah berteman sejak kami masih bersekolah di Spanyol lebih dari 10 tahun yang lalu, ada apa ini sebenarnya dok ?” jawab Rio sambil bertanya untuk kesekian kalinya, “silakan masuk, aku mohon biarkan dia istirahat” ujar dokter itu ketika mereka tiba di depan sebuah kamar rawat inap pasien, Rio terpaku sejenak saat melihat sahabatnya yang terbaring lemah tak sadarkan diri dan banyak selang infus serta alat medis di sekitarnya, “sudah berapa kali aku bicara padanya agar dia segera memberitahukan penyakitnya ini pada orang tuanya, tapi sepertinya sampai sekarang dia belum menyampaikannya” ujar dokter itu memulai penjelasanya, “apa maksudnya dokter ? dia sakit apa ?” ujar Rio terus memburu informasi dari dokter itu, “kanker otak stadium lanjut, tapi dia tidak pernah menuruti saranku untuk terapi, mungkin dia berfikir kesempatan untuk sembuh dari sakitnya itu sangat kecil
sejak kapan dia seperti ini dok ?
beberapa bulan yang lalu, saat dia mengalami kecelakaan mobil, aku mengetahuinya dari diagnosa dokter yang menanganinya, tapi dia bilang dia sudah mengidap penyakit itu sejak 2 tahun yang lalu
lalu, bukankah saat itu yang menabraknya adalah ibunya sendiri ? bagaimana mungkin ibunya tidak mengetahui ?
entahlah, mungkin karena kondisi ibunya masih mabuk, maka dari itu dokter belum sempat memberitahu kan hal ini
dokter, saat ini ayahnya sedang bekerja, dan sangat jarang pulang kerumah, sedangkan ibunya, entahlah aku tidak tahu pasti. Jadi aku mohon kau lakukan yang terbaik untuk menyelamatkan temanku, aku mohon
pasti, kami akan melakukan semampu kami, baiklah aku permisi” jawab sang dokter menepuk pundak Rio, dan pergi meninggalkannya yang masih berdiri dan belum percaya dengan apa yang dia lihat dan dia dengarkan barusan.
\
Pagi ini, Rio buru buru melajukan mobilnya dari rumah sakit menuju rumah Airin, setelah semalaman dia menemani Sandy yang masih belum sadarkan diri, dia teringat sesuatu yang kemarin sore ingin dia sampaikan pada Sandy, sesampainya di depan rumah Airin, ternyata rumahnya sudah dalam keadaan kosong, Rio yakin saat ini Airin sudah tiba di sekolah, lalu dia melanjutkan perjalanan menuju sekolah mereka.
Airin !!” Rio berteriak ketika melihat Airin akan melangkah masuk kedalam gerbang sekolah, “ayo ikut aku sekarang !” perintah Rio menarik tangan Airin sedikit kasar, “hei, kau ini ! bisa tidak jangan kasar seperti itu padanya ?” bentak Boby yang ternyata sedang berjalan bersama Airin, “aku tidak punya banyak waktu, ayo Airin !” ujar Rio lagi, kini dia menarik tangan Airin sedikit lebih kuat, “lepaskan ! ada apa ? mana seragam sekolahmu ? kau ingin mengajakku bolos sekolah ?” tanya Airin tidak suka di perlakukan seperti itu, “nanti aku jelaskan, ayo masuk!” ajak Rio lagi dan kali ini dia memapah Airin masuk ke mobilnya, dan meletakan tongkat milik Airin di kursi penumpang bagian belakang.
Maafkan aku, aku yakin kau masih kesal denganku dan juga Sandy, tapi saat ini keadaannya tidak memungkinkan untuk membahas masalah itu” ujar Rio saat mereka sudah dalam perjalanan, “apa mau mu ?” tanya Airin dingin, “itu ! gantungan itu, aku melihat tulisan yang sama dengan gantungan ponsel mu itu” ucap Rio sambil melirik mainan ponsel Airin, “apa maksudmu ?” tanya Airin lagi,
aku Jery, kau ingat ? teman masa kecilmu yang dulu selalu membuatkan istana pasir untukmu, kau ingat aku bukan ? kau biasa memanggilku rubah kecil, kau ingat ?
hah, bicara apa kau ini ? aku tidak mengerti!
jujur saja ! kau Ayi bukan ? kelinci kecil yang dulu pergi menghilang begitu saja 10 tahun yang lalu
j’ai longtemps essaye de t’oublier –sudah lama aku berusaha melupakan kalian
kenapa !? kau tahu, Sandy ! maksudku Alex, yang pertama kali mengenali siapa dirimu. Por que no nos recono cen –kenapa kau tidak mengenali kami ?” kali ini Rio memasukan bahasa Spanyol dalam kalimatnya,
te odio –aku benci kalian” jawab Airin juga dengan bahasa Spanyolnya,
apa salah kami padamu ? kau benci pada Rio dan juga Sandy atau pada Alex dan Jery ?
pourquio cherchez-vous –kenapa kalian mencariku ?
kenapa katamu !?
oui –iya, quest-ce que vous attendez de quehu’un comme moi –apa yang kalian harapkan dari seseorang sepertiku ?” tanya Airin lagi, masih berusaha tidak memperlihatkan wajah dukanya pada Rio, dia juga berusaha tidak terlihat kaget dengan kenyataan yang kini ada di depannya, mereka masih terus berdebat mulut, terkadang menggunakan bahasa Spanyol, terkadang Prancis, sepertinya Rio memang masih ingin memancing untuk Airin berbahasa Spanyol, setidaknya jika Airin bisa menjawab kalimatnya dengan benar, itu akan membuat dia semakin yakin dengan perkiraannya.
\
Ayo turun, aku akan mengambilkan tongkat mu” ajak Rio saat mereka tiba di parkiran rumah sakit, “aku tidak terlalu membutuhkannya lagi, untuk apa kita kesini ?” jawab Airin masih dengan nada tak bersahabat, “benarkah ? kakimu sudah pulih ?” tanya Rio tidak percaya, “sedikit lebih baik, aku yakin aku tidak memerlukannya lagi” jawab Airin tegas, “baiklah, ayo ikuti aku” jawab Rio tanpa sadar menggenggam tangan Airin, “lepaskan, aku bisa jalan sendiri” ujar Airin melepaskan pegangan Rio, “baiklah” jawab Rio akhirnya.
Rio membawa Airin masuk ke sebuah kamar pasien, di benaknya semua pikiran buruk bergemuruh tak tentu arah, dia tidak tahu apa yang akan di perlihatkan Rio padanya setelah ini, “kau lihat ?” tanya Rio saat mereka sudah berdiri di sebelah ranjang tempat Sandy terbaring tak sadarkan diri, air mata Airin tiba tiba menetes tanpa dia sadari, tak ada satu kalimat pun yang bisa dia ucapkan, meskipun sebenarnya ada seribu pertanyaan yang mengganjal di dasar hatinya, Rio menyandarkan kepala Airin di pundaknya, membiarkan Airin menangis dalam diam, setidaknya dia tidak membiarkan Airin menangis sendirian seperti beberapa waktu yang lalu, saat dia melihat Airin menangis penuh putus asa, “tak ada satu orang pun yang tahu jika dia mengidap sebuah penyakit, dia juga tidak pernah menceritakan apapun pada ku, aku membawamu kesini hanya karena aku tahu, bahwa selama ini dia mencarimu” cerita Rio berusaha menjelaskan semuanya pada Airin, “kau tahu ? aku yang membuatkan istana pasir sore itu, dia bilang kalau aku yang membuatkannya untukmu mungkin kau akan suka, sama seperti saat kita kecil dulu, meskipun rencananya tidak berjalan dengan baik, rencananya yang lain adalah mengetahui alasan kenapa kau begitu menyukai ice cream, yang ternyata lagi lagi gagal untuk kami dapatkan jawaban yang sesuai harapan kami, terakhir kelinci, dia sangat optimis dengan rencananya kali ini, meskipun akhirnya kau memang menyukainya, tapi kau memaksa kami untuk mengambilnya kembali bukan ?” Rio memberi jeda panjang pada ceritanya, sembari berharap bahwa Airin tidak menangis lagi, “satu satunya hal yang tidak berubah darimu adalah ice cream, kau pernah bilang bahwa kau adalah orang pertama di dunia ini yang menyukai ice cream vanilla bukan ? seharusnya sejak awal aku menyadarinya, dan ruuruu adalah nama kelinci kesayangan mu yang hilang karena kecerobohan kami, benar bukan ? lagi lagi aku melewatkan petunjuk itu, petunjuk bahwa kau lah kelinci kecil kami. Airin, aku mohon jangan menangis lagi” ucap Rio memohon sembari menghapus air mata Airin, tapi Airin masih belum bisa menghentikan tangisnya, air matanya seolah memang sudah lama tertahan di ujung matanya, jika dia ingat kenangan masa kecilnya, “kau tahu ? aku sengaja bersekolah kesini, tinggal jauh dari orang tua ku, sebenarnya hanya untuk mencarimu, tapi bodohnya aku yang sangat tidak mengenalimu” ujar Rio lirih, “maafkan aku, aku yang salah, aku pergi begitu saja meninggalkan kalian, sejujurnya aku sangat kesepian tanpa kalian, aku bersusah payah menghapus semua banyangan tentang kalian dan berusaha memulai hidupku yang baru, aku berhenti memelihara kelinci, aku melupakan istana pasir itu, aku juga berusaha melupakan alasan kenapa ice cream vanilla adalah favoritku, menurutku itu semua tidak penting, aku juga tanpa sengaja menghilangkan satu satunya foto kenangan masa kecil kita dulu, meskipun akhirnya aku sangat merindukan foto itu” Airin bercerita dengan nada suara penuh penyesalan, dia kini duduk di kursi yang persis berada di sebelah ranjang Sandy, “ini….” Airin memberikan kertas gambarnya pada Rio, kertas gambar yang selalu menemaninya kapan pun dan dimana pun, tanpa ada yang tahu “ini…kau yang menggambar ini semua ?” Rio terlihat kaget dan takjub melihat semua gambar gambar itu, halaman demi halaman di lihatnya, hampir semua halaman di buku itu berisi gambar 3 anak kecil sedang bermain bersama, “dan ini …. ? bukankah ini di danau ?” Rio menunjuk sebuah gambar 3 sahabat yang sedang duduk bersama di tepi danau yang sangat di kenalnya, Airin tersenyum kecil mendengar kalimat itu, “ternyata kita sudah pernah pergi ke tempat itu bersama, hanya saja kita belum saling menyadari siapa saja kita yang sebenarnya” ucap Airin datar, tiba tiba Sandy menggerakan jarinya pelan, Airin yang memang sedang menggenggam jemari Sandy, merasa kaget bercampur bahagia karena akhirnya Sandy sadarkan diri, “Sandy, kau sudah sadar ?” tanya Airin buru buru, dia tidak sabar mendengar jawaban Sandy, “dimana aku saat ini ?” tanya Sandy terbata bata, matanya tampak menerawang, penglihatannya masih belum sempurna, dia merasakan kepalanya sangat sakit, hanya saja dia merasa seolah mendengar suara Airin, suara yang sangat di kenalnya, “Sandy ! aku akan memanggil dokter, Airin kau temani dia” ucap Rio sigap.
Il va bien, au moins il a passé avec succès la période critique –dia baik baik saja, setidaknya dia sudah berhasil melewati masa kritisnya” ujar dokter setelah memeriksa keadaan Sandy, lalu dia pergi meninggalkan mereka, “hallo kelinci kecil, kau sudah tumbuh menjadi gadis yang dewasa ya sekarang ?” ucap Sandy yang mulai merasa stabil, Airin menyembunyikan dukanya di balik senyumannya, dia berusaha tidak menunjukan kesedihannya pada kedua sahabatnya, terutama pada Sandy, “aku baik baik saja” ucap Sandy lagi, seolah mengerti arti tatapan Airin, tiba tiba seorang wanita yang usianya tidak berbeda jauh dengan ibu Airin, memasuki kamar pasien tempat mereka berada, bersama seorang pria yang bebadan tegap menggunakan jas hitam, wanita itu langsung mendatangi Sandy dan memeluknya, “ibu, aku bukan anak kecil lagi, jangan peluk aku seperti ini” ujar Sandy berusaha tersenyum di pelukan ibunya, “kenapa bisa seperti ini ?” tanya laki laki dewasa itu dengan tatapan teduhnya, “ayah, aku baik baik saja, percayalah” ucap Sandy lagi, berusaha meyakinkan kedua orang tuanya, “caramba, verdad –astaga, apakah itu mereka ?” kali ini perhatian ibunya Sandy tertuju pada Airin dan Rio, yang sedari tadi hanya memandangi mereka, “apa kabar…” ucap Rio dan Airin bersamaan  memberikan salam pada keduanya, “kalian, Ayi dan Jery bukan ? ah rasanya sangat mustahil bisa melihat kalian disini” ujar wanita itu lagi, masih dengan bahasa Spanyolnya, dan keduanya hanya tersenyum, “disini mereka lebih sering di panggil Rio dan Airin ibu” ujar Sandy meluruskan pernyataan ibunya, “lihat, ibu masih belum bisa percaya kalau ini mereka, mereka sudah tumbuh besar sepertimu Alex” ungkap ibunya Sandy lagi, “ibu, cukup biarkan mereka duduk dengan tenang disana, seharusnya ibu memberikan selamat padaku karena berhasil menemukan mereka kembali” ucap Sandy lagi, kali ini Airin dan Rio saling bertukar pandang dan tertawa kecil, “kami senang bibi masih mengingat kami” ucap Rio ramah, dia berusaha sejenak melupakan dukanya atas keadaan Sandy, “apakah benar kalian saat ini bersekolah di tempat yang sama ?” tanya ayah Sandy kali ini, “iya paman, betul sekali” jawab Airin masih terlihat kaku, setelah beberapa lama mereka disana, Rio memutuskan untuk mengajak Airin pulang, mereka tidak ingin menganggu kebersamaan keluarga itu terlalu lama, jadi setelah pamit, Rio segera mengantarkan Airin kembali kerumahnya.
\
Rio menghentikan laju mobilnya tepat di depan rumah Airin, sepanjang perjalanan mereka hanya saling diam, bergelut dengan pikiran masing masing, “terima kasih kau sudah mau mengantarkan ku” ucap Airin datar, saat Rio membukakan pintu mobilnya untuk Airin, “sama sama. oh iya Airin ?” jawab Rio sembari bertanya karena teringat sesuatu, “kenapa rumah mu terlihat sepi akhir akhir ini ?” lanjut Rio lagi, “ayo masuk dulu, aku akan membuatkan minum untukmu” ujar Airin menunda jawabannya, Rio menyetujui dan duduk di teras depan rumah Airin sembari menunggu Airin mengambilkan minum untuknya, “ini, silahkan. ayah dan ibu sebenarnya sedang berada di Spanyol, adik perempuan ayahku akan melangsungkan pesta pernikahan, awalnya keduanya mengajakku untuk ikut dengan mereka, tapi aku menolaknya dengan alasan tidak ingin bolos sekolah” cerita Airin menjawab pertanyaan Rio tadi, “lalu sampai kapan mereka disana ? kau hanya sendiri saja di rumah ?” tanya Rio sembari menyeruput minumannya, dan Airin menggidikan bahunya tanda tak tahu, “ya sudah, kau jangan bersedih lagi, sepintar apapun kau menyembunyikan kesedihanmu, itu masih akan terlihat di mataku” ucap Rio tanpa melihat langsung kearah Airin, Airin mengangkat wajahnya, dia tahu bahwa yang Rio katakan tentanggnya itu benar, “aku hanya…” “kau hanya merasa kaget bahwa 2 orang kakak kelas mu yang menyebalkan itu ternyata adalah kami bukan ? terlebih lagi, kenyataanya satu di antara kami sedang bertarung melawan penyakitnya saat ini” potong Rio sebelum Airin menyelesaikan kalimatnya, dan lagi lagi Airin menunduk menyembunyikan dukanya,
bagaimana mungkin aku tidak mengenali kalian sama sekali, sedangkan kalian mengenaliku dengan baik ?
apa !?
aku hanya berfikir, kalau pun saat ini kita bertiga kembali bersama, namun waktu akan tetap berjalan, dan dalam hitungan bulan saja, kita lagi lagi akan terpisah, lalu untuk apa kita di pertemukan seperti ini jika akhirnya akan terpisah kembali ?
bagaimana kau bisa berfikir seperti itu ?
tentu saja aku memikirkannya! Sandy bilang, dia akan melanjutkan sekolahnya ke universitas di Seoul
benarkah ?
iya, dia sendiri yang mengatakannya pada ku
oh begitu ya ? apakah kau juga tidak menyukai Seoul ?
apa ?
jawab dulu pertanyaanku
tidak, aku suka Seoul
kalau begitu, kau seharusnya tidak mencemaskannya
kenapa ?
karena jika kau mau, kau bisa mengunjunginya, betul bukan ?
hm, mungkin…
sedangkan aku akan kembali ke kota yang kau tidak sukai itu, kota yang sangat indah menurutku
hmm….
jadi kemungkinan kau akan mengunjungi ku, sangat mustahil bukan ?
apa !?
rasanya tidak adil kalau kau membenci kota itu, hanya karena alasan kenanganmu terlalu indah selama kau disana
itu, kau sungguh sungguh akan kembali ke Spanyol ?
tentu saja, kedua orangtua ku ada disana” Airin menunduk lesu mendengarkan pernyataan Rio barusan, rasanya semakin sia sia pertemuan mereka bertiga saat ini, pertemuan yang ada di depan pintu perpisahan, “seharusnya, jika kalian memang menemuiku hanya untuk meninggalkanku, untuk apa kalian datang ?” tanya Airin dengan suara yang sedikit bergetar, “kalian ingin balas dendam padaku ? seperti dulu saat aku meninggalkan kalian ?” lanjut Airin lagi, “tidak, bukan begitu! Setidaknya kita semua sudah dewasa saat ini, jadi jarak dan waktu tak akan mempengaruhi persahabatan kita” jawab Rio berusaha mengembalikan emosi Airin agar kembali tenang, “baiklah, berikan aku waktu untuk bersiap menerima kepergian kalian!” ucap Airin terdengar penuh kekecewaan, “Airin, aku yakin kelak kau bisa menerima keadaan ini, baiklah sudah malam aku harus segera pulang, kau jaga diri baik baik ya ? bonne nuit –selamat malam” ujar Rio, dia beranjak dari duduknya, mengelus kepala Airin dengan lembut dan sejenak tersenyum padanya, lalu pergi meninggalkan Airin sendiri disana, “udaranya cukup dingin ! kau harus segera masuk !” teriak Rio yang sudah berada dalam mobilnya sembari melambaikan tangan, sedangkan Airin masih diam seribu bahasa dan perlahan masuk kedalam rumahnya.
\
Musim sudah berlalu, tibalah hari ini para siswa kelas 3 melaksanakan acara perpisahan pada malam pergantian musim dingin, Airin berjalan dengan tatapan kosong, sembari mendorong sebuah kursi roda yang di duduki oleh Sandy, sedangkan Rio berjalan di sampingnya, Sandy dan Rio yang masih belum menggunakan jas musim dingin mereka, mengibaskan jas keduanya di depan wajah Airin, lalu Rio tiba tiba memakaikan jas sekolahnya di punggung Airin, “hey kelinci kecil, kami akan segera menjadi seorang mahasiswa, seharusnya kau senang!” ucap Rio saat Airin mulai bereaksi dan sadar dari lamunannya, “kalian ini, sepanjang perjalan kalian sudah puas menjahiliku, masih ingin mengerjaiku lagi ?” ucap Airin menutupi wajah dukanya, sedangkan Sandy hanya tertawa kecil melihat keduanya, “heh, kelinci kecil, kau lupa kalau kami lebih tua 1 tahun darimu ? seharusnya kau memanggil kami dengan panggilan frère aine –kakak !” kali ini Sandy ikut menjahili Airin yang mulai terlihat kesal karena mereka selalu menjahilinya, “apa !? kakak ? kalian itu seharunya aku panggil dengan sebutan grand-pere –kakek, itu baru tepat !” jawab Airin sembari menjauh saat melihat Sandy dan Rio akan melempari Airin dengan jas sekolah mereka, “bukankah kau akan kuliah di Seoul ? seharusnya aku memanggilmu hyeong –kakak laki laki (untuk laki laki), benar bukan ?” ujar Rio kali ini, “iya sepertinya memang begitu, tapi tunggu ! bukankah usia kita sama ?” kali ini Sandy sedikit protes, “tidak oppa –kakak laki laki (untuk perempuan), usia Rio jauh lebih muda dari mu beberapa bulan” kali ini Airin ikut menyambung percakapan keduanya, “kalian tahu dari mana sebutan itu ?” tanya Sandy masih dengan wajah tidak terima, “hha, bukankah kamus bahasa Korea mu hilang seminggu yang lalu hyeong ?” jawab Rio dengan tatapan nakal, “iya oppa, seharusnya kau lebih berhati hati pada kami” kali ini Airin kembali menyahuti, “kalian ini ! awas ya !” kali ini Sandy memasang ekspresi geramnya dan bersiap mengejar keduanya, namun keduanya sudah terlanjur lari meninggalkannya, “hei ! kalian lupa kalau aku menggunakan kursi roda ? kenapa kalian meninggalkanku ? hei tunggu !” teriak Sandy pada keduanya, sedangkan Rio dan Airin hanya pura pura tidak mendengar, “annyeonghaseyo oppa –selamat pagi kakak ?” sapa Yui dan Miya yang tiba tiba sudah ada dibelakangnya, “perlu bantuan oppa ?” kali ini Miya menggerling nakal, “kalian ini, apakah kalian juga belajar bahasa Korea ?” tanya Sandy heran, “hha, kau ini lucu sekali, kami hanya sering menemani Rio dan Airin belajar bersama, itu saja” ucap Yui berbisik, “apa !? jadi selama ini mereka belajar bersama ? dengan kamus ku ?” tanya Sandy lagi, dan keduanya hanya mangangguk mengiyakan, lalu mereka membantu Sandy untuk segera menyusul Airin dan Rio yang sudah lebih dulu masuk ke aula sekolah.

to be continue . . .

Rectangular Love™ 3


Sudah 10 jam berlalu, Sandy yang sudah sadarkan diri sejak beberapa jam yang lalu, ternyata hanya mengalami luka ringan di lengan kirinya, meskipun lengannya itu harus di perban selama beberapa hari. Saat ini Airin terbaring lemah di hadapannya, kaki kiri Airin mengalami patah tulang ringan dan harus di gips dan dia juga mengalami benturan yang cukup keras di kepalanya, jujur Sandy sangat kesal dengan keadaan seperti ini, karena dia merasa gagal melindungi Airin, dia juga menyesal karena telah mengajak Airin untuk pulang dengan jalan kaki, “maafkan aku, aku mohon maafkan aku” ujar Sandy berulang kali pada Airin, meskipun dia yakin Airin belum bisa mendengarnya, hanya saja Sandy berjanji pada dirinya sendiri akan merawat Airin hingga benar benar pulih dari sakitnya.
\
Hari ini, adalah upacara di hari pertama semester baru, liburan 2 minggu yang tidak terlalu singkat, membuat Airin sedikit kesulitan untuk bangun di pagi hari, “Yui, apakah Airin sudah datang ? aku belum melihatnya sama sekali, padahal sebentar lagi upacara akan segera dimulai ?” tanya Miya pada Yui yang sepertinya memang datang lebih awal darinya, “mungkin dia memang belum datang, Boby juga baru saja menanyakan hal yang sama padaku” jawab Yui sembari menebarkan pandangannya ke seisi aula sekolah, “Yui, apakah itu Airin ?” Miya terpaku pada satu sisi aula sekolahnya, dia mengarahkan telunjuknya untuk memberi tahu Yui, dalam hati dia berharap bahwa penglihatannya salah, tapi beberapa detik kemudian mereka berlari dengan cepat menuju tempat Airin berdiri, “Airin ! ada apa denganmu ? tu vas bien –kau baik baik saja ?” tanya Yui yang langsung berusaha membantu Airin berjalan, bahkan mereka tidak menghiraukan keberadaan Sandy disana, “Airin kau kenapa ? ada apa denganmu ? kenapa bisa seperti ini ?” Miya melontarkan pertanyaan bertubi tubi pada Airin, tapi Airin hanya diam, “sebaiknya kalian jangan membuatnya bingung” ucap Sandy menengahi ketiganya, “kau, apakah kau yang menyebabkan Airin menjadi seperti ini ?” ujar Yui menghardik Sandy, “oui –iya, hm… aku yang menyebabkan dia jadi seperti ini” jawab Sandy tegas penuh sesal, “bukan! aku baik baik saja, kalian tidak usah khawatir” Airin akhirnya mau bersuara kali ini, “Airin, untuk apa kau membelanya ?” tanya Miya dengan tatapan khawatir, “selama sisa liburan, dia yang merawatku di rumah sakit, tolong jangan salahkan dia” ucap Airin lagi, dan dengan susah payah dia berjalan menggunakan tongkat pergi meninggalkan ketinganya, Airin tidak ingin teman temannya jadi bermasalah hanya karenanya, lagi pula dia sedang ingin menyendiri saat ini.
\
Saat sedang menggambar di kursi taman belakang sekolah, Keyra tiba tiba datang dan menendang tongkat milik Airin yang ia sandarkan di kursi taman di sebelahnya, karena tongkat itu terjatuh agak jauh dari tempat duduknya, tentu saja dia tidak bisa melakukan apapun, sedangkan Keyra hanya tersenyum menang dan merampas buku gambar milik Airin, “hey gadis cacat, untuk apa kau pergi kesekolah ? kabur dari upacara dan kau malah duduk disini melakukan hal bodoh dengan menggambar ?” ujar Keyra sambil membolak balik kertas gambar milik Airin, “apa mau mu ?” tanya Airin mulai kesal, “aku ? aku tidak ingin apa pun dari mu, aku hanya ingin kau menjauhi Sandy” ucap Keyra dengan nada mengancam, “apa maksudmu ? apa kau lupa, kau pernah meminta hal yang sama pada ku tentang Rio, kenapa sekarang Sandy ?” tanya Airin lagi,
hm, iya kau benar, ternyata kau memiliki ingatan yang cukup baik, kau tahu aku memang menginginkan Rio sejak lama, tapi aku juga menyukai Sandy, minimal jika aku tidak mendapatkan Rio, aku bisa mendapatkan Sandy
apa ? kau licik sekali !
kau baru tahu ya kalau aku orang yang licik ?
kembalikan buku gambarku !!
ini, aku kembalikan !” ujar Keyra melempar buku gambar Airin tepat mengenai kaki Airin, “hentikan !” Rio yang tidak sengaja melihat mereka ditaman tiba tiba datang dan membantu Airin mendapatkan tongkatnya kembali, dengan menahan sakit sambil sedikit meringis, Airin berusaha berdiri dia ingin segera pergi dari sana, “hey, tunggu!” Rio menyusul langkah Airin dan membantunya berjalan masuk ke gedung sekolah, meninggalkan Keyra yang masih kesal melihat sikap Rio yang tidak menghiraukan dirinya sama sekali.
\
 Apa yang terjadi padanya ? kenapa kau tidak menceritakan hal ini pada ku ?” tanya Rio saat istirahat makan siang pada Sandy, “dia siapa ? siapa yang kau maksud ?” tanya Sandy tidak mengerti, “hff! dia…” ujar Rio memberikan kode dan melirik kearah Airin yang saat ini sedang duduk bersama dengan Boby, Yui serta Miya di salah satu sudut kantin sekolah, “itu…” jawab Sandy memulai ceritanya, dan menghentikan makan siangnya untuk sementara, “aku yang menyebabkannya jadi seperti itu, sepulangnya kami dari rumah kakek, ibuku dalam kondisi mabuk, mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi dan menabrak kami yang sedang berada di pinggir jalan, aku sudah berusaha untuk menyelamatkannya, tapi aku gagal, dan sejak itu aku yang merawatnya selama di rumah sakit, aku sudah berjanji pada diriku sendiri, akan merawatnya hingga dia benar benar pulih” cerita Sandy panjang, raut wajahnya tampak tidak bersemangat mengingat kejadian yang menimpa mereka saat itu, “apa maksudmu ! apakah dia tahu bahwa yang menabrak kalian adalah mobil ibumu !? kau benar benar ceroboh, menjaganya saja tidak bisa !” Rio berkata dengan nada emosi, lalu pergi meninggalkan Sandy, tak lama kemudian Sandy pun pergi meninggalkan makan siangnya, dia sudah merasa tak berselera lagi melanjutkan makan siangnya, ‘aku tahu aku salah, ya aku memang pantas di salahkan’ ucap Sandy berulang kali di dalam hatinya.
\
Bel pulang sekolah baru saja berbunyi, Sandy bergegas menuju kelas Airin, sesuai janjinya, dia yang akan mengantar jemput Airin mulai saat ini, hingga Airin benar benar pulih dari sakitnya, “mau kemana kau ?” tanya Rio dengan tatapan benci pada Sandy, “hey ada apa denganmu ? kau masih kesal denganku ? aku ingin mengantarkan Airin pulang, bukankah aku sudah mengatakannya padamu ?” jawab Sandy berusaha melewati Rio yang sengaja menghadang jalannya menuju kelas Airin, “kau tidak becus menjaganya, lebih baik dia pulang bersamaku” jawab Rio masih dengan tatapan dinginnya, “permisi, aku mau lewat” Airin tiba tiba muncul dari bibir pintu kelasnya, “sini, aku bantu, aku akan mengantarkanmu sampai kerumah” ujar Rio menawarkan bantuannya pada Airin, “tidak usah terima kasih, aku bisa pulang sendiri” jawab Airin menolak, “kau ini, aku yang akan mengantarnya sampai ke rumah kau pulang saja” kali ini Sandy ikut bereaksi untuk membantu Airin, “hey bukankah kalian siswa kelas 3 ? sedang apa disini, ayo Airin aku antar kau pulang” Boby menerobos keduanya dan membawa Airin pergi dari sana, Airin sebenarnya tidak ingin merepotkan siapa pun, dia hanya diam saja saat berjalan bersama Boby menuju gerbang sekolah, “aku bisa pulang sendiri, kau pulang saja duluan, rumah kita berlawanan arah bukan ? aku tidak ingin menyusahkanmu” ucap Airin saat mereka tiba di gerbang sekolah, “tidak, aku akan mengantarkanmu hingga kau tiba di rumah” jawab Boby menolak, “aku bilang aku bisa pulang sendiri ! sebaiknya kau tidak usah memperlakukan ku seperti ini” kali ini Airin bicara sedikit berteriak, dia benci jika orang orang mengasihaninya, “huhff, baiklah tapi aku akan memanggilkan taksi untukmu
tidak, tidak perlu aku bisa berjalan kaki
tidak mungkin, kau saja masih menggunakan tongkat untuk berjalan, aku tidak akan tega membiarkanmu pulang sendiri dengan berjalan kaki
aku mohon, tinggalkan aku, aku akan baik baik saja!” kali ini Airin lagi lagi berteriak pada Boby, “baiklah, kau hati hati ya di jalan” ujar Boby menyerah dan berbalik arah, sedangkan Airin melanjutkan perjalannya menuju rumah. Baru beberapa langkah berjalan, Boby membalikkan badannya, dan diam diam dia membuntuti Airin hingga Airin sampai di rumahnya, begitu juga dengan Rio dan Sandy, yang menggunakan kendaraan mereka masing masing, hanya saja ketiganya tidak ada yang saling mengetahui.
\
Sore ini, sama seperti yang sudah dilakukan Sandy sejak hampir 1 minggu sisa liburan sekolah kemarin, menemani Airin untuk berjalan jalan sore hari demi kesembuhan kakinya, dia sengaja membawa kendaraan miliknya kali ini, padahal biasanya dia hanya membawanya saat pergi ke sekolah, saat Sandy tiba di depan gerbang rumah Airin, ternyata Airin sedang duduk di kursi taman rumahnya bersama seorang laki laki yang diperkirakan Sandy adalah ayah Airin, karena  menurut Sandy usia laki laki itu tidak berbeda jauh dengan usia ayahnya, “selamat sore” sapa Sandy saat memasuki pekarangan rumah Airin, “wah sore, apakah dia temanmu Airin ?” ujar pria berusia 40 tahunan itu bertanya sembari bertukar pandangan pada Airin dan Sandy, “ah iya ayah, kenalkan namanya Sandy, dia murid baru di sekolahku, dia bilang dia pindahan dari Spanyol ayah” jawab Airin, entahlah sepertinya Airin kurang tertarik dengan tempat asal Sandy tersebut, “wah, benarkah ? ayo silakan duduk, dong tu est Espagnole –jadi kau orang Spanyol ? , maaf Airin sudah sejak lama tidak menyukai tempat itu, jadi maaf  ya kalau dia sedikit kasar kepadamu ?” ucap ayah Airin lagi, yang sepertinya melihat tatapan sedikit kurang bersahabat dari sudut mata Airin pada Sandy, “tidak apa paman, aku sudah biasa menghadapinya” jawab Sandy sambil tersenyum tak kalah ramah dengan ayah Airin, “kau ada perlu apa datang kerumahku ?” tanya Airin berikutnya, “aku sedang tidak ingin keluar rumah” lanjut Airin sebelum Sandy sempat menjawab, sebenarnya Airin tahu Sandy pasti akan mengajaknya ke taman sore ini untuk berlatih seperti biasa, demi kesembuhan kaki Airin juga, tapi kejadian di sekolah hari ini, membuat dia sedikit merasa harus menjaga jarak dengan Sandy, “sudah sudah, bagaimana kalau kau temani ayah mengobrol sebentar ? Ayi tolong kau buatkan minuman untuk kami berdua ya ?” potong ayah melerai keduanya, dengan sedikit terpaksa akhirnya Airin melaksanakan perintah ayahnya itu, “kau dari Spanyol nak ? apa pekerjaan orangtua mu ?” ucap ayah Airin membuaka obrolan mereka lebih dulu,
iya paman, ayah ku bekerja sebagai seorang pilot maskapai penerbangan Air France, sedangkan ibuku, dia seorang designer tapi namanya tidak begitu terkenal disini
wah, sepertinya kau anak yang beruntung ? lalu sudah berapa lama kalian pindah kesini ?
baru saja paman, sebelum liburan sekolah beberapa bulan yang lalu, ibuku merasa kalau Paris tempat yang paling tepat untuk melanjutkan kariernya, maka dari itu kami pindah kesini, kalau ayah dia hanya pulang kerumah sesekali saja
oh ya ? hm, kau membuatku ingat dengan tetangga dekat kami saat kami tinggal disana hampir 10 tahun yang lalu, entah apa kabar mereka saat ini
jadi, benar bahwa Airin pernah tinggal di Spanyol ?
tentu saja, dia lahir di kota itu dan saat dia berusia 7 tahun kami pindah kesini, karena kakek dan nenek Airin yang memintanya, ya tapi karena alasan pekerjaan, kami memutuskan untuk tinggal di kota saja” ujar ayah Airin dengan pandangan menerawang, tepat sebelum Airin datang dengan 2 gelas jus strawberry untuk mereka.
\
 Hei kau, berhenti! aku ada perlu denganmu” seseorang menahan langkah Rio saat ia akan masuk ke gerbang sekolah, “kau berbicara denganku ?” tanya Rio dengan gayanya seperti biasa, “siapa lagi kalau bukan kau ?” Boby berjalan mendekat pada Rio yang sepertinya tidak tertarik sama sekali meladeni junior seperti Boby, apa lagi Boby adalah siswa dari kelas 2f, kelas yang standar nilainya paling rendah di sekolah Un Lycee, “katakan padaku, siapa yang telah membuat kaki Airin terluka !?” tanya Boby sambil mencengkram kerah seragam sekolah Rio, “hei lepaskan ! aku yang menyebabkan dia seperti itu, kau seharusnya mendatangiku, bukan dia !” Sandy yang baru saja datang dan melihat kejadian itu langsung angkat bicara, “oh ternyata siswa baru ini ? Airin punya salah apa padamu sehingga kau membuat dia jadi seperti itu ?” terlihat amarah dari tatapan Boby, tapi Sandy hanya menanggapinya dengan santai, “aku tidak sengaja melakukannya” jawab Sandy tanpa menatap lawan bicaranya, baik Rio ataupun Boby, “kau ini ! sepertinya kau tidak merasa bersalah telah membuatnya jadi seperti itu” ujar Boby lagi, sedangkan Rio hanya diam melihat keduanya, dia bingung harus mengatakan apa, Rio tahu siapa Boby, dia adalah teman sekelas Airin yang sudah lama menyukai Airin, tapi Boby tidak pernah berusaha menyampaikannya pada Airin, jika dia ada di posisi Boby saat ini, mungkin hal yang sama juga akan dilakukan Rio sejak dia mengetahui siapa yang membuat Airin menjadi seperti itu saat ini, “tidak mungkin aku sengaja melakukannya, lagi pula aku yang merawatnya sejak dia di rumah sakit, hingga saat ini, aku akan terus menjaganya hingga kakinya benar benar sembuh” ujar Sandy membela diri, “sebaiknya kau tidak melakukan apa apa lagi pada Airin, aku takut kau akan membawa kesialan padanya” ujar Boby lagi, mendengar kalimat itu, Rio tiba tiba saja melayangkan 1 pukulan pada Boby, dan tepat mengenai hidung Boby yang langsung jatuh tersungkur dan terlihat darah segar mengalir dari hidungnya, “sebaiknya kau befikir terlebih dahulu sebelum berbicara seperti itu pada temanku ! ingat itu !” ujar Rio selanjutnya dan pergi begitu saja, Sandy pun ikut pergi dari sana saat lengannya di tarik paksa oleh Rio.
\
Selama jam istirahat sekolah, Airin memutuskan tetap berada didalam kelasnya, sedangkan Miya dan Yui menemaninya sembari berbagi cerita tentang kegiatan mereka selama mereka libur sekolah, “kau tahu ? kami beberapa kali mendatangi rumahmu, tapi kau selalu tidak ada di rumah ? ponselmu juga sering tidak aktif  ?” gerutu Yui sambil memonyongkan bibirnya, sedangkan Airin hanya tersenyum singkat mendengarnya, “iya, salah satunya ibumu bilang, kau sedang ke toko buku dengannya, dengan Rio! Benarkah itu ?” kali ini Miya menimpali dengan sedikit berbisik, dan Airin hanya mengangguk lesu, “ini untuk kalian, kenapa kalian tetap berada dikelas ?” Boby tiba tiba datang dan membawakan cemilan untuk ketiganya, ada sedikit memar di wajahnya, karena pukulan Rio tadi pagi, “merci –terima kasih” ujar Yui dan Miya bersemangat, sedangkan Airin hanya diam tidak memberi respon, “aku rindu Spanyol….” ucap Airin tiba tiba, suaranya nyaris tidak terdengar, tapi Miya dan Yui yakin betul bahwa Airin baru saja menyebutkan kata ‘Spanyol’ tadi, “hei kau kenapa ?” tanya Boby dengan pandangan khawatir pada Airin, “sudah jangan ganggu dia” Miya meminta pada Boby untuk tidak mengusik Airin saat ini, Boby hanya bisa menuruti permintaan teman sekelasnya itu, dan duduk di kursi belajarnya sembari sesekali memperhatikan Airin yang terlihat sedang tidak baik saat ini, “Airin, kau kenapa ?” tanya Yui sesaat setelah Boby menjauh dari ketiganya, “kemarin Sandy datang dan bercerita panjang lebar dengan ayah tentang Spanyol, jujur aku merindukan suasana disana, tapi aku juga benci dengan kenangan selama aku disana” ucap Airin sembari memandang lurus keangkasa melalui jendela kelas mereka yang memang terletak dilantai 4 gedung utama sekolah, “sudah lama kami tidak mendengarkan kau bercerita tentang kota itu ? apakah ada seseorang yang kau rindukan disana saat ini ?” tanya Miya penasaran, Airin mengangguk pelan, dia sendiri tidak yakin apakan teman temannya masih berada di kota itu saat ini, “seingat ku, beberapa tahun yang lalu kau memperlihatkan foto mu dengan teman teman masa kecilmu disana ? apakah mereka yang kau rindukan ?” tanya Yui mengingat ingat, “iya sepertinya memang mereka yang aku rindukan, tapi …” Airin menggantungkan kalimatnya, dan menukar pandangannya pada kedua sahabatnya, “….tapi aku sudah lama kehilangan foto itu, itu semua karena kecerobohanku !” ucap Airin sedikit tertahan, seolah nafasnya tercekat mengatakan hal itu, sedangkan Yui dan Miya tidak tahu harus melakukan apa untuk menolong Airin saat ini.
\
Lapangan tenis terlihat ramai saat bel pulang sekolah, sepertinya akan ada sesuatu disana, karena penasaran, Yui dan Miya segera mengajak Airin turun menuju lapangan tenis  yang berada di belakang gedung sekolah, “tidak aku tidak ingin kesana, kalian saja aku ingin segera pulang kerumah” tolak Airin pada keduanya, karena mereka tidak tega meninggalkan Airin sendiri, akhirnya keduanya membatalkan niat mereka sebelumnya, “ayo kita lihat, mereka bilang kak Sandy dan kak Rio yang akan bertanding, dengar dengar mereka melakukan taruhan !” ucap beberapa murid perempuan dengan gaya centilnya yang saat itu melewati Yui, Miya serta Airin pada temannya, mendengar hal itu, Airin jadi penasaran, tapi karena keadaan dirinya sedang tidak memungkinkan, dia memutuskan untuk melihat keduanya dari lantai atas yang memang langsung mengarah pada lapangan tenis.
Sementara di tengah lapangan tenis, Rio saling beradu pandang dengan Sandy, seolah mereka bukanlah sepasang sahabat lama yang sempat terpisah sekian tahun, melainkan seperti dua orang yang menyimpan niat jahat didalam diri masing masing, “kau yakin ingin melawanku ? sudah menyerah saja !” ucap Rio menanyakan hal yang sama untuk kesekian kalinya pada Sandy, Rio yang memang sudah menjadi atlit tenis sejak 3 tahun yang lalu merasa, dia yakin akan menang melawan Sandy, hanya saja dia tidak terlalu menginginkan kemenangannya pada taruhan mereka sore ini. Tadi saat jam istirahat makan siang, Sandy secara terang terangan menantang dirinya untuk bertanding tenis, dan siapa pun yang menang, dia yang akan mengantarkan Airin pulang sekolah setiap harinya, meskipun Rio tidak mengerti apa maksud temannya itu, tapi Rio yakin bahwa sahabat masa kecilnya itu menyimpan ketertarikan yang sama seperti dirinya pada Airin.
Tidak, aku bukanlah tipe orang yang akan menyerah sebelum berperang” jawab Sandy dengan yakin, sementara Rio hanya menjawabnya dengan senyuman yang terasa sangat menjengkelkan bagi Sandy saat itu, dan keduanya pun memulai permainan mereka.
Airin masih memandangi keduanya dalam diam, sementara Yui dan Miya sibuk bersorak mendukung Rio dan Sandy secara bergantian, seolah kedua kakak kelas mereka itu akan mendengarkan teriakan mereka dari gedung lantai 3 sekolah mereka ini, “ayo kita pulang!” ucap Airin secara tiba tiba, mendengar hal itu, Miya dan Yui tiba tiba mengecilkan suara mereka, sepertinya mereka masih sangat ingin menikmati pertandingan itu sampai selesai, tapi sama seperti alasan mereka sebelumnya, mereka tidak tega membiarkan Airin pulang sendirian.
\
Aku sudah bilang dari awal bahwa aku pasti menang, kenapa kau masih saja keras kepala seperti dulu ? hha ….” ucap Rio sambil tertawa puas pada Sandy, setelah memenangkan pertandingan tadi, mereka duduk bersama di pinggir lapangan tenis, wajah Sandy terlihat sangat lelah setelah berusaha mati matian mengejar skor Rio, tapi usahanya sangat sia sia kali ini, “jadi, kau yang akan mengantarnya pulang sekolah setiap hari ?” ucap Sandy berikutnya, terdengar nada pasrah dalam suara nafasnya yang masih memburu, “kau ini! kau mengenalku sudah berapa lama ?
maksudmu ?
aku tidak akan membiarkan dia menjadi bahan taruhanmu !
baiklah dengan kata lain, kau membiarkan aku yang mengantar jemput Airin ?
tidak! aku yang akan menjaganya agar dia tidak selamanya menjadi mainan mu
heh kau! apa maksudmu ?
aku harap ini untuk yang pertama dan terakhir kalinya kau menjadikan Airin sebagai bahan taruhan!” ucap Rio dengan nada suara sedikit meninggi dan pergi meninggalkan Sandy yang sedikit merasa kesal padanya.
©
Sepuluh tahun yang lalu, Airin kecil menangis memberontak tidak ingin pindah sekolah, dia tidak ingin berpisah dengan teman temannya, Airin yang saat itu masih berusia 7 tahun, hanya bisa menangis dan berteriak menolak, tapi tetap saja, ayah dan ibunya membawanya terbang jauh dari Spanyol ke Prancis, kota yang asing baginya kala itu, tak ada teman baikknya, tidak ada taman bermain di belakang sekolah dan sejak saat itu, Airin yang dulunya selalu ceria, senyumnya jadi sangat jarang terlihat, temannya hanya selembar fotonya dan boneka tangan kecil yang berbentuk kelinci, foto 3 anak berusia 6 tahun yang saat itu sedang bermain sepeda bersama di taman belakang sekolah. Hari berganti minggu, bulan dan tahun, berbagai musim berganti membuat Airin perlahan terbiasa dengan keadaan di kota itu, menara cantik yang menjulang tinggi di pusat kota dan taman rindang yang berada di bukit kecil yang sering dia lalui jika pulang sekolah, dan disinilah Airin kini di kota ini.
Suatu hari karena kecerobohannya, tepat pada ulang tahunnya yang ke 10, dia menghilangkan foto sahabat masa kecilnya, sejak saat itu, dia berusaha untuk belajar menggambar, agar bisa tetap mengingat gambar kenangan masa kecilnya itu, hingga saat ini, hanya gambar pertamanya yang bisa membuat dia tetap ingat dengan 2 sahabat masa kecilnya, sahabat yang terus dia rindukan hingga saat ini, dan mungkin sampai kapan pun, dan hanya dia yang tahu.
©
Sore ini Airin berusaha untuk berlatih melangkahkan kakinya tanpa di topang oleh tongkat yang sudah hampir 2 minggu ini membantunya berjalan, ayah dan ibu yang sedang pergi, sejak 3 hari kemarin membuat rumah terasa semakin sepi, “aw, aku bisa ! aku yakin aku bisa !” ucap Airin sambil meringis, kakinya masih cukup terasa ngilu jika dipaksakan untuk berjalan tanpa penopang sama sekali, tak terasa air mata mengalir dari sudut matanya, dia menangis kesakitan sambil terduduk dan memeluk sebelah lututnya, kesal, amarah dan kesedihan semuanya bercampur menjadi 1, dia sudah lelah jika harus terus berjalan menggunakan tongkat kesekolah, dia ingin segera bisa menggunakan sepedanya lagi, selanjutnya entah sudah kali keberapa, dia mencoba berdiri, mencoba bangkit dari duduknya, dan dari keterpurukannya, dan terjatuh lagi.
Rio berdiri terdiam mematung, tangannya mengepal seakan ada kekesalan yang mendalam di dadanya, hatinya sakit dan seakan ikut tersiksa melihat pemandangan yang dari tadi membuat dia ragu untuk melangkah, ya Rio sedang berada persis di depan pintu masuk rumah Airin, awalnya Rio ingin menekan bel, namun dia tidak sengaja melihat Airin dari cela kaca di depan pintu, Airin yang dulu dia tahu adalah gadis yang sangat kuat, kini sedang merintih kesakitan dan terlihat putus asa karena sudah berkali kali mencoba untuk berdiri dan berjalan tanpa tongkatnya, ‘kau kenapa !? bisakah kau tidak membuatku khawatir ….’ ujar Rio dalam hati, ingin rasanya dia membantu, bahkan jika memang mungkin, dia mau bertukar posisi dengan Airin saat ini, dalam diam Rio melihat Ririn yang sudah sangat putus asa dan tenggelam dalam tangisnya, Rio tidak ingin menganggunya saat ini, meskipun dia sangat ingin meminjamkan pundaknya untuk Airin, namun Rio ragu jika kedatangannya bisa membantu, maka Rio memutuskan untuk pulang dengan perasaan kesal, sedih dan semuanya yang bercampur aduk di benaknya serta merasa bodoh, karena tidak bisa melakukan apapun untuk membantu Airin.

to be continue . . . .