Minggu, 21 Agustus 2011

Rectangular Love™ 2


Keesokan paginya, sekolah benar benar terasa ramai, mungkin karena hari ini waktunya pembagian hasil ujian semester, semua siswa kompak menggunakan seragam khas dari kelas masing masing, tak lupa dengan jas sekolah yang membuat mereka tetap terlihat seragam, “kalian tahu ? ada siswa baru di kelas 3b, sepertinya dia akan sekolah disini mulai semester depan” beberapa siswi bergosip di sela sela barisan siswa sebelum upacara pembagian hasil semester dimulai, ‘huh apa lagi ini ? kenapa mereka tidak bisa berhenti bergosip ?’ ujar Airin dalam hati, dia malas mendengar celotehan seperti itu, karena merasa malas lalu dia mengambil posisi duduk tanpa memperdulikan sekitarnya, “ruuruu ? gantungan apa ini ? jelek sekali ?” Rio memungut sebuah mainan handphone yang tergeletak persis di dekat dia berdiri, “hei, apakah ada yang merasa memiliki gantungan ponsel ini ?” teriaknya pada teman teman disekitarnya, Airin refleks berdiri dari duduknya, meskipun dia sudah tidak begitu tertarik lagi dengan Rio, tapi tetap saja suara kakak kelasnya itu sedikit membuat dia penasaran, “heh! kembalikan, itu punya ku” seseorang menembus kerumunan dan mengambil barang itu dari tangan Rio, “kau siapa ?” tanya Rio padanya, karena Rio yakin dia tidak pernah melihat orang ini sebelumnya di sekolah, “kenalkan, aku Sandy, murid baru pindahan dari Spanyol” ujarnya dengan tegas, sejujurnya Rio tidak merasa kaget dengan pernyataan Sandy barusan, karena dia dulu juga pernah bersekolah disana, “aku Rio, senang berkenalan dengan mu, tapi aku tidak yakin bahwa gantungan aneh itu milik seorang anak laki laki ?” jawab Rio tak mau kalah, “hm, kenapa ? ada yang salah ?” ujar Sandy lagi, “kau ? kenapa kau bisa ada disini ?” Airin tiba tiba muncul dan merampas gantungan kunci itu dari tangan Sandy, karena sebenarnya gantungan itu miliknya, “hallo manis kita bertemu lagi !” sapa Sandy yang tiba tiba memeluk Airin, “hei apa apaan kau ini ? kau lupa kalau kau sedang berada di sekolah ?” bentak Rio sembari menarik Airin dari pelukan Sandy, “hei kau siapa ? kau pacarnya ? ah tidak mungkin seorang pacar tidak tahu dengan barang milik pacarnya sendiri ?” tanya Sandy dengan nada mengejek, “Rio, lepaskan tanganku !” perintah Airin pada Rio, “maaf, aku hanya…” “kau bukan siapa siapaku, jadi kau tidak berhak mengaturku!” bentak Airin kesal pada Rio, lalu dia berlari keluar sekolah, dia juga sudah tidak peduli dengan pembagian hasil semesterannya.
Disini kau rupanya ? excuses-moi –aku minta maaf, tadi aku hanya ingin membantumu, ini…” ujar Sandy yang tiba tiba datang dan memberikan selembar foto pada Airin, “itu adalah fotoku dengan sahabat masa kacilku, dulu kami sering bermain bersama, tapi suatu hari kami berpisah karena sesuatu, sejak saat itu aku berusaha untuk mencarinya, aku hanya ingin meminta maaf padanya, karena bagiku dia adalah sahabat terbaikku, dulu kami memiliki seorang teman, gadis kecil yang ceria yang selalu membuat kami tertawa, sejak gadis kecil itu pergi kami hanya bermain berdua tanpa dia, jujur hal itu sangat membosankan dan kami kesepian tanpannya…” Sandy tiba tiba bercerita panjang pada Airin, Airin merasa tidak mengerti kenapa Sandy menceritakan hal ini padanya, dengan memandangi sebuah foto yang tadi diberikan Sandy, Airin mencoba untuk tetap mendengarkan, “sebenarnya itu hanya masalah kecil, aku tidak sengaja menghancurkan istana pasir miliknya, tapi aku tidak menyangka dia akan semarah itu padaku, huh dasar rubah kecil !” “apa ? istana pasir ? rubah kecil ?” Airin tiba tiba terbelalak mendengar kalimat terakhir yang baru saja di ucapkan oleh Sandy, “iya, kau tahu ? aku biasa memanggilnya rubah kecil, dan dia memanggilku dengan nama” “rusa ?” potong Airin lagi, sesungguhnya dia sudah tidak begitu memperhatikan cerita Sandy lagi, “tepat! bagaimana kau bisa mengetahuinya ?” tanya Sandy sedikitpun tak curiga, “dan kau tahu ? rubah kecil itu adalah murid laki laki tadi, haha sepertinya dia cemburu saat aku memelukmu ?” lanjut Sandy lagi, dan begitu dia melihat kesebelahnya, ternyata kursi yang tadinya di duduki Airin sudah kosong, entah sejak kapan dia menghilang, ‘huh memang gadis yang aneh ? sepertinya dia juga tidak mendengar kalimat ku barusan ? baguslah’ ujar Sandy dalam hati sambil tersenyum.
\
Cinta ? siapa yang bisa menebak kapan datangnya cinta ? siapa yang bisa menebak dimana dia akan muncul dan pada siapa ? bahkan terkadang saling benci adalah awal dari datangnya cinta, dari sebuah pertemanan yang tanpa disengaja pun, bisa ada cinta disana, tapi yang kadang menjadi pertanyaan, mengapa tidak semua cinta yang bersambut ? keadaan justru kadang berbalik ketika salah satu dari mereka yang jatuh cinta telah menyerah untuk menunggu ?
Wah foto ini ?” Rio yang sore itu sedang merapikan meja belajarnya menemukan selembar foto yang sepertinya sudah sedikit lusuh, dia menghentikan sejenak kegiatannya dan duduk di pinggir jendela kamarnya, “cette photo est tres vielle –foto ini sudah lama sekali ? syukurlah masih ada, aku pikir sudah hilang” ujarnya lagi, “kelinci kecil, dimana kau saat ini ? aku merindukanmu, kau tahu ? sudah lama aku berpisah dengan rusa kecil itu, dia membuatku kesal di pertemuan kami yang terakhir saat itu, sebenarnya aku juga merindukannya, hanya saja aku sudah tidak satu sekolah lagi dengannya, akankah suatu hari kita bisa kembali bersama sama lagi ? banyak hal yang sudah lama ingin aku ceritakan pada kalian” Rio lanjut berceloteh dengan foto yang tergambar 3 orang anak berseragam sekolah sedang memegang sebuah balon besar bersama, “hei aku punya mainan baru saat ini, sejak aku pindah sekolah ke sini, sepertinya istana pasir menjadi hal yang sedikit membosankan ? ada seorang siswa perempuan yang selalu mengikutiku, hanya saja sejak aku menolak coklat yang dia buat khusus untukku, dia berhenti mendekatiku, huh rasanya aku mulai kesepian tanpa gangguan darinya jika di sekolah ? hei, kenapa kalian tertawa ? apakah aku terlihat seperti orang bodoh ? hm, di kelasku ada siswa baru, kalian tahu ? hari pertama dia muncul disekolah, dia sudah bersikap seenaknya saja ! aku tidak suka dengan kehadirannya, sepertinya dia akan menjadi sainganku nanti” Rio bercerita panjang dengan foto itu, setelah puas curhat dengan gambar masa kecilnya, dia kembali melanjutkan kegiatan sebelumnya.
\
Sandy berjalan di sepanjang trotoar menuju rumahnya, dia tidak sengaja melihat sebuah istana pasir kecil di taman belakang perumahan tempat dia tinggal, ‘istana pasir ? jika ada kelinci ku disini, dia pasti akan langsung tersenyum melihatnya, apa lagi jika rubah kecil itu sengaja membuatkan untuknya’ ucap sandy dalam hati, “ibu aku pulang” ucapnya saat dia masuk rumah, namun ternyata rumahnya dalam keadaan kosong, tidak ada seorang pun disana, “huh aku benci jika setiap hari seperti ini, seharusnya aku pindah kesini bukan saat liburan sekolah, jadi aku bisa langsung mendapatkan teman dan tidak malas malasan di rumah seperti ini” gerutu Sandy pada dirinya sendiri, “hm kenapa tiba tiba aku teringat Airin ? kalau saja rusa kecil itu ingat dengan ku, aku pasti sudah meminta pertolongan padanya untuk mendekati Airin” celoteh Sandy lagi.
\
Hari ini, Yui dan Miya berniat untuk main ke rumah Airin, libur sekolah memang hanya 2 minggu, tapi baru 3 hari saja mereka tidak bertemu itu sudah membuat keduanya rindu pada sahabat mereka itu, dan juga hasil ujian semester Airin masih ada di tangan mereka, itu karena Airin pergi menghilang begitu saja hari itu, “ibu, apa kabar ?” sapa Miya saat memasuki pekarangan rumah Airin, ternyata sore itu ibunya sedang berkebun di taman kecil di depan rumahnya, “kami ingin bertemu dengan Airin, sekalian mengantarkan hasil ujian semesternya, apakah dia ada di rumah ?” tanya Yui selanjutnya, “oh kalian ternyata, kenapa sudah lama tidak muncul ? Airin sedang tidak ada di rumah, kalian tunggu saja disini, dia hanya pergi dengan Rio kalau tidak salah mereka ingin membeli buku” jawab ibu Airin sembari terus melanjutkan aktifitasnya, “apa ? pergi dengan Rio ? ke toko buku ?” tanya Yui dan Miya kaget bersamaan, “bukankah itu tandanya mereka sedang pergi berdua saja ? ada hubungan apa sebenarnya mereka ?” bisik Miya pada Yui, “kenapa ? apa ada yang salah, mereka hanya berteman, ibu rasa itu wajar saja” lanjut ibunya Airin lagi, “baiklah bu, kalau begitu kami akan kembali lagi besok, sampaikan saja salam kami pada Airin” ujar Miya pamit, “sampai jumpa bu” lanjut Yui kemudian, dan mereka bergegas pulang, “apa kau tidak curiga Miya ?” tanya Yui sambil mendelik, “iya aku jadi curiga dengan mereka berdua” jawab Miya setuju,
tapi bukankah di sekolah mereka sering bertengkar ?
iya, aku tahu itu
dan bukankah Airin tidak mengejar Rio lagi ? c’est bizarre ca –aneh sekali
aku juga berfikir seperti itu
lalu, kenapa mereka bisa pergi bersama ?
aku tidak tahu…” ujar Miya tidak mengerti, “hei bukankah kalian temannya Airin ?” ujar Sandy yang tiba tiba muncul di depan keduanya, “kau ? iya kami teman Airin, kau siapa ?” tanya Miya sedikit curiga, “hha, ternyata benar, aku pernah melihat kalian berjalan bersama waktu itu, kenalkan nama ku Sandy, baiklah apakah kalian juga kenal dengan Jery ?” ujar Sandy memperkenalkan diri pada keduanya, “Jery ? siapa Jery ? kami tidak pernah tahu kalau Airin punya teman bernama Jery ?” tanya Yui pada Sandy, “aduh kalian ini, Jery itu, murid laki laki yang waktu itu menemukan gantungan ponsel milik Airin” ujar Sandy lagi, “hha, kau ini! namanya Rio, bukan Jery, kau pasti salah orang” kali ini Miya tertawa mendengar kalimat Sandy barusan, “hm, iya aku baru ingat kalau dia mempunyai nama depan Rio” ujar Sandy mengingat ingat, “siapa kau sebenarnya ? kemarin seenaknya saja memeluk teman kami di depan banyak orang ?” tanya Miya pada Sandy, “aku ? aku murid baru di kelas 3b, aku adalah siswa pindahan dari Spanyol” jawab Sandy dengan nada datar, sepertinya dia tidak terlalu tertarik menyebutkan kata ‘Spanyol’, “dari Spanyol ? yang benar saja ? Airin juga pernah tinggal disana, apa kalian dulu pernah berteman ?” kali ini Yui bertanya dengan nada curiga, “benarkah ? Airin juga dari Spanyol ? wah sepertinya kami benar benar berjodoh” ujar Sandy menerawang ke angkasa, “huh, kau sepertinya salah, saat ini Airin justru sedang pergi bersama Rio, sepertinya kau kalah selangkah dengannya” ujar Maya lagi, “apa !? tidak mungkin, Jery maksudku Rio, tidak akan punya nyali mengajak anak perempuan pergi bersama” lagi lagi Sandy berargumen dengan kalimatnya sendiri, “ya kalau tidak percaya tanya saja langsung pada mereka jika kalian bertemu nanti” lanjut Yui lagi, “oke aku akan mencari tahu, terima kasih ya informasinya ?” ujar Sandy lagi bersemangat, dan pergi meninggalkan Yui dan Miya.
\
membosankan
apanya yang membosankan ?
kau, setahuku kau adalah gadis yang lumayan cerewet, kenapa hari ini kau diam saja ?
oh itu ?
hei, apakah kau tidak bisa memberi respon yang sedikit panjang ?
oooooooooooooh, begitu ?
hah, sudahlah lupakan ! intinya aku tetap harus berterima kasih padamu karena kau sudah menemaniku ke toko buku hari ini
iya, sama sama
baiklah, aku traktir kau ice cream ya ?
ice cream ? wah aku mau !
huh kau ini, dari tadi seperti tidak ada semangat sama sekali, kenapa begitu mendengar kata ice cream kau langsung berubah 180 derajat ?
hhi, aku sangat suka ice cream
jangan bilang kau suka rasa vanilla ?
hm ? tentu saja ! aku suka sekali ice cream vanilla
heh, kau membuatku teringat dengan seseorang
oh ya ? yang jelas aku yang lebih dulu suka dengan ice cream vanilla dari siapa pun di dunia ini !
sudah sudah, kau jadi semakin mirip dengannya jika terus bicara seperti itu” ucap Rio meminta Airin diam dan mereka menuju sebuah toko ice cream sepulangnya mereka dari toko buku, dan menghabiskan ice cream bersama sembari menelusuri trotoar menuju rumah mereka, Rio sengaja mengantarkan Airin hingga tiba di rumah, sebagai ungkapan terima kasihnya.
\
Bagi Rio masa liburan sekolah tidak lebih dari masa yang paling membosankan, jadi pagi ini dia berniat untuk mendatangi rumah pamannya, dia ingin mengunjungi danau tempat favoritnya jika sedang memiliki waktu luang, tapi kali ini selain membawa gitar, dia juga menyelipkan selembar foto ke dalam buku catatan musiknya, ‘aku akan membawa kalian ke sebuah tempat yang sangat aku sukai’ ucapnya pada foto itu, apa lagi kalau bukan fotonya dengan 2 sahabat masa kecilnya dulu.
Ditempat berbeda, Airin saat ini sedang berdesak desakan dengan penumpang kereta  lainnya, dia memang sudah berjanji ingin mengunjungi nenek minggu ini, sebenarnya dia ingin mengajak Miya dan Yui ikut dengannya, sayang mereka sudah memiliki rencana akhir pekan masing masing. Di tempat yang sama yang tidak jauh dari tempat Airin berdiri saat ini, Sandy sedang berdiri di salah satu sudut kereta, dia diam diam mengikuti Airin sejak Airin berangkat dari rumahnya.
Grand-mere –nenek, ini cucu mu datang” teriak kakek dari depan rumah saat melihat Airin datang, “kakek apa kabar ?” tanya Airin sambil memeluk kakeknya, “kakek baik, hanya saja, sepeda kakek yang biasa kau pinjam sedang ada di bengkel, jadi kau tidak bisa menggunakannya” jawab kakek pada Airin, kakeknya tahu betul Airin pasti akan menggunakan sepedanya jika dia sedang berkunjung kesana, “benarkah ? wah sayang sekali” jawab Airin sedikit kecewa, tapi dia berusaha menutupi kekecewaannya itu di balik senyumannya, dan langsung mencari nenek yang sepertinya sedang berada di dapur, tak lama kemudian terdengar suara teriakan kakek dari depan rumah, “Ayi, kau membawa seorang teman rupanya ?” ujar kakek berteriak kecil meminta Airin mendatanginya, “oui –apa ? ami –teman ? aku…” belum sempat Airin menyelesaikan kalimatnya, Sandy sudah berdiri di depannya bersama kakek, “kau ini, kenapa tidak bilang ? sepertinya teman mu ini bisa menemani kakek bermain catur” ujar kakek lagi, “hm, iya kek” jawab Airin singkat dan sedikit ragu, lalu dia meninggalkan mereka berdua yang mulai serius bermain catur di taman depan rumah.
\
Kenapa kau bisa berada disini ?” tanya Airin saat mereka sedang berjalan bersama pada sore harinya, “pourquoi –kenapa ? aku hanya iseng mengukutimu, dan ternyata kau pergi sendirian sampai sejauh ini” jawab Sandy dengan santainya, “lalu, sekarang kita akan kemana ? jauh sekali sudah 10 menit berjalan masih belum sampai juga” lanjut Sandy lagi, “sabar, lagi pula aku tidak memintamu untuk mengikutiku” jawab Airin sambil menatap lurus kedepan, “kau belum menjawab pertanyaanku” tanya Sandy lagi, “kita akan ke danau, biasanya aku menggunakan sepeda kesana, tapi karena sepeda kakek sedang di perbaiki, terpaksa jalan kaki” jawab Airin akhirnya, “danau ? waah, aku jadi tidak sabar
itu adalah tempat favoritku, meski pun baru beberapa kali aku kesana
oh ya ? apakah ada sesuatu di danau itu ?
pas –tidak, danau itu hanya sedikit berbeda dengan danau yang lainnya, airnya biru seperti air laut dan juga di danau itu, kita bisa melihat sunrise atau pun sunset
benarkah ? jadi sore ini, kita akan melihat sunset bersama ?
tidak, aku tidak bilang begitu” jawab Airin lagi.
Setibanya mereka di danau, Airin langsung duduk di salah satu bibir danau, rasanya sudah lama sekali dia tidak merasakan aroma khas dari danau ini, danau yang biru kehijauan dan di kelilingi hutan pinus yang bersih dan indah, “Airin ? Ayi ?” panggil Sandy berkali kali, dia merasa jenuh sudah hampir setengah jam mereka disana dan hanya saling diam saja, itu karena Airin asik sendiri dengan alat gambarnya, “hey, itu panggilan ku saat aku masih kecil, aku tidak suka di panggil dengan nama itu, kau membuat ku teringat dengan teman masa kecilku” jawab Airin tetap fokus dengan gambarannya, “kenapa ? bukankah itu panggilan yang bagus ? kakek mu tadi juga memanggilmu dengan nama itu ?” tanya Sandy bingung, “yang jelas aku tidak suka kau memanggilku dengan panggilan itu
baiklah, tapi aku merasa sangat akrab dengan sapaan itu ? a y i, Ayi
kau ini, bisakah kau diam sedikit ?
baiklah” jawab Sandy menyerah dan dia memutuskan untuk memasang earphone nya, memutar sebuah lagu masa kecilnya yang hingga saat ini masih dia sukai dan memandang sebuah foto di ponselnya, ‘Ayi ? kau kah kelinci kecil ku ? aku ingat kau sering di panggil Ayi dulu, apa kabar dirimu ?’ ucap Sandy dalam hatinya sembari tersenyum, senyuman yang sangat manis memang, senyuman untuk seorang sahabat yang sudah lama tidak dia temui.
‘Sedang apa mereka disini ? berduaan di pinggir danau favoritku sore sore begini, apa yang mereka lakukan ? huh aku benci pemandangan ini, meskipun mereka tidak terlihat akrab, tapi tetap saja !’ Rio menggerutu dari balik pohon besar tempat dia biasa bersandar, ‘huh, andai saja kalian ada disini saat ini, aku ingin tertawa bersama seperti dulu, meskipun di tempat yang berbeda’ ujar Rio lagi masih menerawang jauh dengan memori masa kecilnya, lalu dia memutuskan untuk segera pulang ke rumah pamannya, dia malas jika harus melihat keduanya sedang bersama, “hey kau disini juga rupanya ?” Sandy menepuk pundak Rio dari belakang, sontak Rio terkejut dan menghentikan langkahnya, “kau ? ah aku hanya kebetulan lewat, aku harus segera pergi” jawab Rio dan menepis tangan Sandy dari pundaknya dan pergi berlalu, tiba tiba Airin melihat ada selembar kertas yang terjatuh dari dalam buku musik Rio, dan dia memungutnya, “apa ini ?” tanya Airin, tapi belum sempat dia melihatnya, kertas itu sudah di rampas oleh Sandy, ‘foto ini !?’ Sandy kaget dalam hati saat melihat foto itu, tanpa memperdulikan Airin, dia langsung menyusul Rio, “hey ! Rubah kecil ! kau ini belum berubah ya ? masih saja ceroboh, menjatuhkan barang milikmu seenaknya ?” Rio berhenti ketika mendengar teriakan itu, Airin hanya melihat mereka dari kejauhan, dia juga merasa tidak terlalu tertarik untuk tahu, karena dia masih ingin fokus pada gambarannya, “kau ? siapa kau sebenarnya ?” tanya Rio berbalik, “aku ? silakan kau tebak sendiri !” teriak Sandy lagi, Rio berjalan mendekat, di perhatikannya wajah Sandy lekat lekat, ‘apa dia rusa kecil ? tidak mungkin, rusa kecil adalah murid laki laki gendut yang cengeng dan nakal, bukan! tidak mungkin itu dia’ pikiran Rio memberontak tak karuan, dia masih sedikit tidak bisa mempercayai seseorang yang saat ini berdiri di hadapannya, “kau kenapa ? kau kaget melihat penampilanku saat ini ?” tanya Sandy lagi, “apa yang membawamu kesini ? kau pasti melakukan diet super ketat untuk menjadi kurus seperti ini bukan ?” tanya Rio pada Sandy,
sejak umur 11 tahun, aku rutin mengikuti pelatihan kapoera, aku rasa karena hal itu aku bisa seperti ini, aku sengaja mencarimu sampai sejauh ini hanya ingin meminta maaf padamu
apa !? jadi kau benar benar…
ya, aku Alex, Alexsander, Sandy adalah nama kecilku di rumah, rusa kecil yang merobohkan istana pasirmu saat kita berusia 10 tahun
bagaimana kau bisa tahu bahwa aku disini ?
hm, bukan hal yang sulit untukku mencari tahu keberadaan mu. Sepertinya kau tidak merasa bahagia dengan kehadiranku ?
hah kau ini, kalau begitu, kembalikan foto itu !
hm, aku tidak akan mengembalikannya, sebelum kau memberi tahuku keberadaan kelinci kecil !
heh kau ! huh, ternyata kau tidak tahu ?
tidak tahu apa ?
dia tinggal di kota yang sama dengan kita, maka dari itu aku pindah ke kota ini
benarkah ? lalu, dimana dia saat ini ?
aku belum tahu
kau berbohong ?
tidak, tentu saja tidak
baiklah, apakah kita bisa mencarinya bersama sama ?” tanya Sandy pada Rio, “ya tentu saja” jawab Rio, dan akhirnya dia memperlihatkan senyumannya, lalu mereka berjabat tangan, Sandy pun mengembalikan foto itu, sedangkan Airin tetap tidak mengetahui apapun, dia terus tenggelam dengan apa yang dia gambar, ‘wah akhirnya aku bisa menggambar kita bertiga duduk di tepi danau ini’ ujarnya sedang di dalam hati, dan sore itu pun perlahan gelap.
\
Sudah 3 hari Airin menginap di rumah Nenek, begitu juga dengan Sandy yang sepertinya sudah sangat akrab dengan kakek, beberapa kali dia sudah bisa mengalahkan permainan catur kakek, sebenarnya Airin masih ingin berlama lama disini, tapi dia juga tidak ingin meninggalkan ibunya lebih lama lagi, maklum ayah Airin yang bertugas di luar negri sangat jarang pulang kerumah, biasanya ayahnya hanya pulang dalam waktu 1 atau 2 bulan sekali, “nenek, Airin pamit pulang dulu ya ?” ucap Airin sembari memeluk neneknya, “heh kau belum mau pulang ?” kali ini pertanyaan Airin tertuju pada Sandy yang terlihat santai santai saja, “ah bagaimana ya, aku masih betah disini, tapi aku tidak tega melihatmu pulang sendiri, jadi ayo kita pulang bersama. Kakek, lain waktu aku boleh kesini lagi kan ?” jawab Sandy sembari ikut pamit, dan keduanya kembali ke kota bersama.
Sepertinya kalian sangat cepat akrab ?” tanya Airin saat mereka sedang dalam perjalanan di dalam kereta, “apa ? oh, iya kakek orangnya sangat baik, wajar jika aku cepat akrab dengan beliau” jawab Sandy sambil tersenyum, “hei, kalau hal itu aku sudah tahu, maksud ku kau dengan Rio, kalian cepat sekali akrabnya ?
oh, Rio ? hha, tidak aku rasa itu hal yang wajar, bukankah kami adalah teman 1 kelas ? dan kebetulan selama di tempat kakek, aku sering bertemu dengannya di danau
aneh, aku tahu siapa dia, dia bukan tipe orang yang mudah akrab begitu saja, jangan jangan…
hei, kau memikirkan apa ? jangan berfikir yang buruk dulu, aku yakin dia tidak seperti itu
sudahlah, aku tidak peduli
hei…
apa ?
itu, kau selalu membawa kertas gambarmu kemana pun, bolehkah aku melihatnya ? aku jadi penasaran
tidak, kau tidak boleh melihatnya, jangan mengalihkan pembicaraan
dasar pelit
terserah kau mau bilang apa” jawab Airin lagi, dan keduanya pun saling diam, dan beberapa menit kemudian mereka tiba di stasiun.
 Saat ini, Airin dan Sandy sedang berjalan di pinggir trotoar pertokoan tengah kota, sebenarnya mereka bisa saja menggunakan taksi untuk sampai ke rumah, tapi karena masih bisa di jangkau dengan berjalan kaki, jadi keduanya memutuskan untuk berjalan kaki, lagi pula Sandy bilang dia tahu jalan kecil untuk mempersingkat waktu mereka tiba di rumah, karena memang rumah keduanya hanya berbeda beberapa blok saja, “maafkan aku yang selalu bersikap buruk kepadamu selama ini, aku baru menyadari bahwa kau telah banyak memberi warna di hidupku…” Airin bernyanyi kecil disepanjang jalan, meskipun Sandy sedang mendengarkan earphone dari ponselnya, tetap saja dia bisa mendengar nyanyian Airin, “kau sedang menyanyikan lagu apa ?” tanya Sandy penasaran, “hah ? tidak bukan, aku hanya iseng saja” jawab Airin menutupi gugupnya, entahlah dia merasa ingin mendengarkan lagu itu sekali lagi, “hei kau bohong” ujar Sandy dengan tatapan jahilnya, “tidak, hey singkirkan tanganmu dari hidungku!” jawab Airin lagi sambil menepis tangan Sandy, karena pria itu baru saja mencubit hidungnya, keduanya menelusuri trotoar sambil tertawa bersama, Sandy memang sepertinya memiliki banyak gurauan untuk membuat Airin tertawa hari ini, Airin juga sangat menikmati hal itu, sudah lama juga dia tidak tertawa lepas seperti ini.
Ditengah perjalanan, ada sebuah mobil dengan kecepatan tinggi mendekat kearah mereka, tapi keduanya belum menyadarinya, saat Airin menghentikan langkahnya untuk memperbaiki tali sepatunya, Sandy menyadari bahwa mobil tersebut akan mengarah pada mereka, dan dengan cepat Sandy berusaha menyelamatkan Airin, belum sempat Sandy menyelamatkan Airin, keduanya justru terpental cukup jauh dari tempat mereka berdiri sebelumnya, Sandy melihat begitu banyak darah yang keluar dari kepala Airin, dan semuanya menjadi gelap, meskipun Sandy sempat melihat siapa pengemudi mobil tersebut, tapi tidak lama kemudian, keduanya jatuh pingsan.

to be continue . . .