Minggu, 21 Agustus 2011

Rectangular Love™ 1


Hey vous –kau ! bukankah hari ini adalah jadwalmu memasak untuk makan siang di sekolah ?
ah tentu saja ! hampir aku lupa, baiklah aku akan mengajak teman temanku untuk segera ke dapur sekolah !
baguslah, aku harap kau tidak akan membuat kekacauan dengan masakanmu siang ini
huh! apa maksudmu berkata seperti itu ? kau meragukan masakanku ?
hm, kita lihat saja nanti
kau menantangku?
pas –tidak, aku hanya sedikit pesimis, sudah ya aku kembali ke kelas dulu” ujarnya sambil tersenyum sinis, “apa maksudnya berkata seperti itu pada ku ? memangnya aku ada salah apa dengannya ?” Airin lalu pergi meninggalkan koridor, meskipun sedikit kesal dengan kata kata Keyra barusan, tapi dia harus segera melupakannya, karena dia dan teman temannya hari ini mendapatkan jadwal memasak untuk makan siang nanti.
\
Sudah masuk waktunya makan siang dan tentu saja murid murid sekolah Un Lycee, telah mengantri untuk mendapatkan makan siang mereka, dan Airin bersama teman temannya yang bertugas membagikan makanan untuk murid murid seluruh sekolah siang ini, “hei apa kalian sudah tahu ? hari ini yang mendapat giliran memasak adalah siswa kelas 2F” seseorang berbisik pada teman temannya yang lain saat dia sedang mengantri, “oh ya ? kelas 2F itu, oh iya aku ingat!” ujar temannya yang lain menyahut, “pourquoi –kenapa ? kalau kalian tidak suka dengan masakan kami, sebaiknya kalian tidak usah mengantri!” Boby, salah satu murid dari kelas 2F tiba tiba angkat bicara, “hah, kau rupanya ? sedang apa kau disini ?” Airin tiba tiba muncul dari balik meja makan yang ada di belakang Boby, “kau ?” ujar salah satu dari mereka terkejut, “oui ­­–iya, ini aku! Kenapa ?” lagi lagi Airin bersuara dengan nada menantang, “hah…kalau aku tahu dari tadi kau yang memasak, lebih baik aku tidak usah makan!
baiklah pergi sana! aku sumpahi kau akan kelaparan sepanjang jam pelajaran !” umpat Airin, “hah, terserah apa katamu!” lalu murid laki laki itu pergi dan meninggalkan kantin dengan gaya angkuhnya.
\

Huhff, aku lelah sekali hari ini” Airin mengeluh dan langsung melempar tubuhnya di atas kasur empuknya, “Airin kau sudah pulang nak ? ayo sini ibu sudah membuatkan makanan kesukaanmu ?” teriak ibu dari lantai bawah rumahnya, “la mere –ibu, aku tidak lapar nanti saja, aku mau mandi dulu” teriak Airin lagi dengan malas, dia merasa tulang tulangnya saat ini sudah remuk karena terlalu lelah.
\
Pagi ini, Airin menggayuh sepedanya dengan penuh semangat, menuju toko bunga tempat dia bekerja di akhir pekan, “aku datang! selamat pagi bibi” sapa Airin dengan penuh ceria pada pemilik toko bunga itu, “pagi Airin, apakah kau ingat sekarang hari apa ?” ujar wanita paru baya itu bertanya pada Airin, “ah, bibi ini hari samedi –sabtu kan ? tentu saja aku ingat” jawab Airin bangga, “dasar kau ini belum berubah juga, aku tahu ini hari sabtu, apa kau tahu hari ini tanggal berapa ?” ujar wanita itu lagi, “bibi, kenapa hari ini kau banyak tanya seperti ini ? tentu saja hari ini tanggal…” Airin menggantungkan kalimatnya dan diam diam melirik kalender yang terpasang di meja kasir, “oh iya bi! hari ini tanggal 3 ! iya aku pintar kan bi ?” jawab Airin cepat, “bodoh! kau ini lemot sekali? hari ini tanggal trios-aout –3 agustus , itu berarti adalah hari persahabatan sedunia! kau tahu itu ?
oh, hari persahabatan ya bi ? ng,, tentu saja aku tahu, aku hanya sengaja tidak mengatakannya tadi
dasar bodoh! baiklah, hari ini kau harus membagikan bunga kepada semua orang!
siap laksanakan bi!” jawab Airin sambil bergaya hormat dengan menggunakan tangan kirinya, setelah sepedanya penuh dengan lebih dari 100 tangkai bunga, dia lalu menggayuh sepedanya keliling jalanan utama
L'Hexagone untuk membagikannya kepada semua orang secara gratis.
\
Selamat hari persahabatan …
selamat hari persahabatan …
selamat hari persahabatan …” ujar Airin berulang ulang setiap akan memberikan setangkai bunga pada siapapun yang dia temui, meskipun matahari kala itu mulai terasa terik, tapi dia tetap semangat membagikan bunga bunga itu, “selamat hari persahabatan … ah kau?” ujar Airin kaget melihat seseorang yang ada di depannya, “tu fais quoi –kau sedang apa ? membagikan bunga mawar berwarna pastel ini dengan semua orang dan mengucapkan kalimat bodoh itu ? apakah kau tidak memiliki pekerjaan lain ?” ujar anak laki laki itu pada Airin, dia bahkan tidak menyambut bunga yang sudah di sodorkan Airin padanya, “huh! Kau ini, apa salah ku padamu ? kenapa kau selalu ketus seperti itu padaku !” Airin yang merasa kesal langsung mencaci laki laki itu dan pergi meninggalkannya begitu saja, tentu saja Airin tetap memberikan 1 tangkai mawar berwarna pastel itu pada laki laki tersebut, tapi dengan cara melemparkannya.
\
 Quoi –apa ? lagi lagi dia menganggumu ?” Miya dan Yui kompak berkomentar setelah Airin menceritakan kejadian siang tadi pada keduanya saat mereka berkumpul di kamar Airin sore itu, “aku tidak tahu, kenapa dia begitu membenciku ? kemarin dia menghina masakan kita, dan hari ini dia menghina pekerjaanku ?” Airin berkata dengan nada putus asa sambil menenggelamkan kepalanya di bantal, “kau sabar ya, aku yakin suatu hari dia akan kena batunya!” ujar Miya menghibur dengan nada penuh dendam pada musuh temannya itu.
\
 Rio…kau mau kan membantuku ? aku tidak bisa menyelesaikan soal yang di berikan guru kita tadi, kau mau mengajariku ?” Keyra mendatangi meja teman sekelasnya dengan gaya centil dan merayu Rio, “pardon –maaf aku tidak ada waktu, aku sedang sibuk!” lalu Rio pergi begitu saja keluar kelas dengan gaya angkuhnya, “Rio ! kau menyebalkan sekali!” ujar Keyra gemas.
\
 Heh, cowok angkuh !” teriak Airin yang tidak sengaja berpapasan pada Rio saat dia sedang berjalan keluar perpustakaan, mendengar suara teriakan, Rio menoleh ke kiri dan kanan seolah mencari seseorang, “kau berbicara dengan ku?” jawab murid laki laki itu, “siapa lagi kalau bukan kau !?” ujar Airin menjawab dengan nada tinggi, “bila kau ada perlu denganku lain kali saja, aku sibuk” ujar anak laki laki itu lagi, ‘hah ? apa yang dia katakan barusan ? dia pikir dia siapa bicara seperti itu denganku ?’ ujar Airin dalam hati, dia sangat kesal melihat tingkah Rio, “kau barusan bilang apa ? kau tidak suka dengan ku hah !?” ujar Rio lagi, seolah dia bisa mendengar apa yang sedang di katakan Airin di dalam hatinya, dan melangkah memasuki perpustakaan, “hei, tunggu! terima kasih ya” lanjut laki laki itu lagi, “merci –terima kasih ? untuk apa ?” tanya Airin tidak mengerti, lalu Rio hanya tersenyum manis dan masuk kedalam perpustakaan, “apa maksud mu mengucapkan terima kasih padaku ? kau tahu, kau berhutang maaf denganku, bukannya terima kasih! Huh” ujar Airin menggerutu.
\
 Suatu kali kutemukan bunga di tepi jalan siapa yang menanamnya tak seorang pun mengira…” ujar Rio memetik gitar di teras depan tempat kost nya, “bagus sekali! kau bernyanyi seolah kau adalah super star yang sedang mengibur di atas panggung besar! Hha…” ujar Felix, teman sekelas yang juga housemate Rio, “kau ini!” ujar Rio memberikan komentar singkat, “kau sedang jatuh cinta ya ?” tanya Felix padanya,
quoi –apa ? jatuh cinta? ah aku geli sekali mendengarnya!
ayolah, bukankah anak kelas 2F itu ? yang biasanya selalu mencari masalah denganmu itu yang sedang kau fikirkan ? est-ce que tu l’aimes bien –apakah kau mencintainya ?
apa kau bilang !? sudah aku mau tidur, aku masuk duluan” ujar Rio langsung masuk ke kamarnya, dan Felix hanya geleng geleng kepala melihat sikap temannya itu.
\
 Rio!” teriakan keras dari 2 siswi wanita dengan suara cemprengnya, membuat Rio mendadak menghentikan langkahnya dan berbalik menuju sumber suara, “pourquoi –kenapa ?” jawab Rio dingin, “karena kau telah menghina teman kami, dia jadi sangat sedih dan hari ini dia akan mengundurkan diri dari tempat dia bekerja! seharusnya kau itu menggunakan otakmu terlebih dahulu sebelum berkata sesuatu pada orang lain
iya benar! seharusnya kau bisa bersikap sedikit lebih dewasa, jangan seperti anak kecil dan seperti seorang laki laki pengecut yang bisanya hanya cari masalah dengan Airin!” ujar Miya dan Yui bergantian menghardik Rio, “oh, ternyata itu maksud kalian memanggilku?” jawab Rio datar, “oui –iya ! dan satu lagi, jangan pernah kau menganggu Airin lagi! dia itu teman baik kami!” lanjut Miya lagi, “hah, apa kalian sudah selesai berbicara ?” tanya Rio tak tertarik meladeni kedua juniornya itu, “oui –ya !” jawab Yui kesal, “d’accord –baiklah  ! aku duluan” jawab Rio berbalik dan pergi begitu saja, sembari merapikan kera kemeja sekolahnya dengan gayanya yang menurut Yui dan Miya sangat angkuh itu.
Aku bersumpah, andai saja membunuh seseorang itu tidak akan berdosa, dia orang yang akan aku bunuh pertama kali!” ujar Yui emosi, di sela sela ia bercerita pada Airin tentang pertemuan dia dan Miya dengan Rio barusan, “kalian ini, sedang apa ?” Boby tiba tiba datang dan bertanya dengan mereka, “kau ? huh bisa tidak kau tidak ikut campur urusan kami ?” ujar Miya mewakili kedua temannya, “aku ? aku hanya bertanya, apakah itu salah ? hei hei kalian tahu, murid laki laki yang katanya paling populer di sekolah kita ? Rio ! aku dengar dia hari ini lagi lagi menolak pernyataan cinta dari seorang murid perempuan di sekolah kita ! huh, sombong sekali sikapnya, kenapa orang seperti dia begitu banyak yang mengaguminya ?” Boby bercerita panjang tanpa diminta, sedangkan Airin, Yui dan Miya yang sudah tahu lebih awal, hanya diam mendengarkan cerita teman sekelas mereka itu, “hei Airin, bukankah kau juga pernah di tolak olehnya ?” kali ini Boby tiba tiba menembak dengan pertanyaan yang mengagetkan mereka, “aku ?” tanya Airin sembari menunjuk wajahnya sendiri, “sudahlah Boby, kau pergi sana, jangan mengganggu dia, sana pergi” potong Yui meminta Boby untuk menjauh, sebelum Airin kembali teringat peristiwa memalukan waktu itu.
\
Liburan menjelang ujian akhir semester, biasanya di manfaatkan Airin untuk pergi mengunjungi rumah nenek yang berada cukup jauh dari rumahnya, jika menggunakan kendaraan umum saja bisa memakan waktu hingga 4 jam, makanya dia hanya mengunjungi nenek jika memang memiliki waktu luang, seperti libur 1 minggu kali ini. Sebenarnya ada untungnya juga dia mengundurkan diri dari pekerjaan akhir pekannya, kalau saja dia masih bekerja disana, mungkin kali ini dia tidak akan sempat untuk mengunjungi nenek dan menginap beberapa hari disana.
Suasana di rumah nenek sangat membuat Airin betah, terutama ada sepetak kecil kebun strawberry yang nenek tanam sendiri, namun tiba tiba dia teringat bahwa beberapa bulan yang lalu dia tidak sengaja bermain sepeda terlalu jauh, dan akhirnya dia menemukan sebuah danau, tapi sayang, saat itu dia harus segera pulang, jadi dia tidak bisa berlama lama menikmati duduk di pinggir danau itu, alhasil kali ini Airin segera meminjam sepeda milik kakek lalu pamit dengan nenek untuk bemain sebentar.
Setelah menggayuh sepedanya kurang lebih 15 menit, akhirnya Airin sampai juga di danau yang baru kedua kalinya dia datangi, Airin ingin duduk di tepi danau, di atas rumput yang hijau sembari mendengarkan musik dari handphonenya, tapi belum sempat dia menyalakan lagu yang ia dengarkan, tiba tiba dia mendengar seseorang sedang bernyanyi menggunakan gitarnya, tapi Airin sama sekali tidak melihat seorang pun disana kecuali dirinya, “suatu kali kutemukan bunga di tepi jalan siapa yang menanamnya tak seorang pun mengira…” ujar suara itu bernyanyi, karena penasaran, Airin beranjak dari duduknya dan mencari sumber suara itu, ‘suara yang lembut, aku jadi penasaran ?’ ujar Airin sembari terus melangkah mengikuti instingnya, “vous –kau !?” Airin tidak bisa menahan rasa kagetnya saat dia melihat seseorang yang sedang duduk bersandar di bawah pohon besar di tepi danau, “kau ? hei, apa kau mengikutiku lagi ? aku pikir kau sudah jenuh mengikutiku akhir akhir ini ?” Rio berdiri dari duduknya dan lagi lagi mereka berdebat mulut, “apa kau bilang ? memangnya aku kurang kerjaan mengikutimu ? huh, kau terlalu percaya diri !
iya, tentu saja, aku tahu kau tidak bekerja lagi sebagai tukang bunga kan ?
kau ini ! dengarkan aku, aku hanya tidak sengaja melihatmu disini, itu saja !
oh ya ? aku tidak percaya
terserah apa katamu, aku pergi saja !
hei, tunggu !” teriak Rio menahan Airin yang pergi dengan wajah kesalnya, “apa lagi ?
kau, kau belum menjawab pertanyaanku sedang apa kau disini ?
itu bukan urusanmu!” jawab Airin lalu menaiki sepedanya dan bergegas kembali kerumah nenek.
\
Hari kedua di rumah nenek. Karena nanti sore dia sudah harus kembali ke rumahnya, maka waktu yang ada, dimanfaatkan Airin untuk keluar pagi pagi sekali, dia berharap bisa melihat sunrise di danau, sesampainya di danau, lampu yang menerangi di sekitar danau masih menyala, meskipun dia merasa terlalu awal datang ke danau untuk melihat matahari terbit, tetapi dia tetap akan menunggu hingga matahari benar benar muncul, sembari menunggu, Airin yang memang sengaja membawa alat tulis, mendapatkan ide untuk menggambar, ya Airin memang sangat berbakat menggambar, bahkan dia sempat mengikuti kontes menggambar manga beberapa tahun yang lalu.
Sedangkan di tempat yang sama, di pinggir danau pagi itu, ada seseorang yang duduk bersandar di pohon yang sama dengan Airin, namun mereka saling membelakangi dan tidak menyadari kehadiran yang lainnya, Rio berdiri dari duduknya dia merasa ada orang lain disana, padahal sudah hampir setengah jam dia duduk sendiri bersandar di batang pohon rindang itu, Rio tersenyum ketika mendapati seseorang yang sepertinya sedang sangat serius menggambar hingga tak menyadari kehadiran dirinya disana, sebelumnya Rio tak pernah menyadari bahwa gadis yang selama ini menjadi lawannya dan selalu saja mereka ribut untuk alasan yang selalu kekanak kanakan ternyata, ‘manis juga’ ucapnya dalam hati, Rio tidak bisa menghentikan senyuman di bibirnya, cahaya sunrise pagi ini dan warna air danau yang hijau tenang, kontras sekali saat ini di mata Rio, “aargh!!” Airin berteriak kaget saat menyadari ada seseorang berdiri di dekatnya, Rio kaget bukan main, tapi dia sudah terlanjur tertangkap basah oleh Airin, “kau lagi ? hei apa kau tidak tahu bahwa suara mu itu sangat jelek! untuk apa kau berteriak seperti itu ?” ujar Rio lancar dan tentu saja wajahnya kembali dingin, “apa ? seharusnya aku yang bertanya kepadamu, sedang apa kau disini ? jangan jangan, kau mengikutiku ?” ujar Airin tak kalah kesal,
aku mengikutimu ? tentu saja tidak !
lalu ? sedang apa kau disini ?
bukan urusanmu
oh baiklah aku pergi saja
tunggu, maukah kau lebih lama disini untuk menemaniku ?” tahan Rio sambil menarik tangan Airin, dia tampak berfikir sejenak sebelum mejawab tawaran Rio “baiklah, tapi lepaskan tanganku !” jawab Airin mengiyakan dan mereka duduk bersebelahan, namun Airin tetap tidak ingin terlalu dekat dengan Rio dan tidak berani membuka obrolan duluan, bahkan hingga nyaris 1 jam mereka disana, keduanya hanya diam dan menatap lurus kearah danau, entah apa yang sedang ada di benak mereka, hanya mereka yang tahu.
\
Matahari pagi dan dering alarm membangunkan Airin pagi ini, dia mengusap matanya dengan malas dan kembali menarik selimut hangatnya hingga menutupi kepalanya, tanpa memperdulikan dering alarm yang semakin nyaring, bahkan dia lupa bahwa hari ini adalah hari pertama ujian akhir semester, “reveille-toi, Airin! Tu dois aller a l’universite ce matin –ayo bangun Airin! kau harus berangkat ke sekolah pagi ini” teriak ibu dari lantai bawah.
Pukul 10 pagi, seluruh murid sudah mengumpulkan hasil ujiannya kepada pengawas, setelah mengumpulkan lembar ujiannya, Airin bergegas menuju toilet sekolah, dia berniat untuk mencuci mukanya, karena rasa kantuk masih saja menggerogotinya. Setelah dia keluar dari toilet, dia melihat ada keributan kecil di taman belakang sekolah, kakinya membawanya melangkah kesana, karena dia penasaran dia berusaha agar bisa berdiri di barisan paling depan, “aku tidak menyukaimu, sebaiknya kau menyukai orang lain saja” Rio berkata dengan ketus pada seorang murid perempuan yang sepertinya baru saja menyatakan perasaannya pada Rio, ‘huh sombong sekali dia ?’ Airin mengumpat di dalam hati dan berbalik meninggalkan kerumunan itu, “hei kau! Tunggu!” Rio tiba tiba berteriak, tapi Airin tidak menghentikan langkahnya sedikitpun, karena dia yakin pasti Rio bukan memanggil dirinya, namun ternyata dia salah Rio justru menyusul langkahnya saat itu, “kau, aku sedang berbicara padamu, kenapa kau pergi begitu saja ? aku menunggumu seharian di pinggir danau tapi kau tidak datang juga” barisan kata barusan membuat Airin menghentikan langkahnya dan berbalik, kali ini dia baru yakin bahwa Rio sedang berbicara padanya, “dasar pria aneh, setelah seharian kau memintaku menemanimu duduk di pinggir danau, sekarang kau ingin aku menjawab pertanyaanmu barusan ?” ujar Airin tanpa memperdulikan sekitarnya, sebenarnya dia tidak bermaksud mengucapkan kalimat barusan tapi sepertinya dia memang harus mengucapkannya, tanpa membalas ucapan Airin, Rio berjalan mendekat dan langsung menarik tangan Airin, membawa Airin sambil berlari menuju aula sekolah, “hei kau sudah gila ? lepaskan tanganku dan berhenti menariku !” teriak Airin berulang kali agar Rio mau melepaskan genggaman tanggannya, “huhff, menyenangkan bukan ?” ujar Rio masih dengan nafas yang tersengal sengal, “apanya yang menyenangkan ?
itu tadi, berlari bersama ! aku suka berlari larian
aku tidak mengerti maksudmu, untuk apa kau membawaku kesini ?
aku hanya ingin menunjukankan sesuatu padamu” jawab Rio sembari mengeluarkan ponsel dari saku kemeja sekolahnya, “dengar, aku baru saja menciptakan sebuah lagu” ujar Rio lagi, dan memutar rekaman lagu miliknya pada Airin, meskipun sedikit terpaksa, akhirnya Airin mendengarkan lagu itu dalam diam, sebenarnya dia juga merasa penasaran dengan lagu itu, ‘maafkan aku yang selalu bersikap buruk kepadamu selama ini, aku baru menyadari bahwa kau telah banyak memberi warna di hidupku’ terdengar suara Rio diiringi petikan gitar dari rekaman itu, Airin sedikit mendelik, dia merasa tidak mengerti dengan lagu itu, dia bingung harus memberi respon apa ? “lagu apa ini ? buruk sekali !” ujar Airin ketus, “apa ? kau ini, aku kira kau akan memuji hasil karya ku ? aku menciptakan lagu ini untuk seseorang, bagaimana menurutmu ?” ujar Rio tidak terima dengan pendapat Airin, ‘astaga, barusan aku bilang apa ? apa sulitnya mengatakan bahwa lagu itu cukup bagus ?’ah, maaf aku harus segera kembali ke kelas !” ujar Airin tiba tiba dan pergi meninggalkan Rio dari ruangan itu, tapi diam diam Rio hanya tersenyum.
\
Sore ini Airin sengaja mampir untuk duduk sejenak di sebuah kursi taman di pusat kota dari taman yang sedikit membukit ini, bisa terlihat jelas menara yang terkenal di kota ini, apa lagi kalau bukan menara Eiffel, cuaca hari ini cukup sejuk, dia berharap bisa sedikit menenangkan pikirannya setelah beberapa hari terakhir ini berkutat dengan soal soal ujian di sekolah, jemarinya terlihat sangat santai menari di atas kertas, mentransfer apa yang ada di benak Airin dengan tepat dan lagi lagi Airin merasa bahwa menggambar adalah hal yang sangat membuatnya nyaman, saat ini tidak jauh dari tempat Airin duduk, dia melihat 5 sekawan anak anak sekolah yang sepertinya sedang belajar bersama, semuanya terlihat akrab dan ceria, sembari menggambar mereka, pikiran Airin membawanya pada memori masa lalunya, 10 tahun yang lalu saat dia berusia 7 tahun, sedikit mirip keadaannya, dulu dia memiliki 2 orang sahabat laki laki, yang entah sekarang mereka berada dimana, kala itu karena suatu alasan Airin harus pindah sekolah ke kota yang baru, kota yang sangat asing baginya, tapi meskipun mereka sudah terpisah lama, Airin tidak pernah melupakan keduanya, ‘apa kabar kalian saat ini ? aku yakin kalian pasti sudah menjadi siswa populer di sekolah kalian, apakah kalian masih sering bermimpi memiliki istana pasir di tepi pantai ?’ sebaris kalimat melintas dibenak Airin, dia tidak bisa menyembunyikan kerinduannya pada 2 sahabat masa kecilnya itu, “maaf apakah aku bisa duduk disini ?” seseorang datang menyadarkan Airin dari lamunannya, seorang pria berhidung mancung dan berbadan tegap tersenyum manis padanya, membuat sebuah lengkungan diwajahnya memberi kesan bahwa dia pria yang manis dan ramah, “silakan” jawab Airin singkat, dia tidak berani memandangi pria itu lama lama, “ternyata benar, disini tempat yang enak untuk bersantai” ujar pria itu lagi, sepertinya dia berkata pada dirinya sendiri, Airin tersenyum maklum, karena itu juga yang dia rasakan saat pertama kali dia menemukan taman ini, sewaktu dia baru 1 minggu di kota ini, saat dia berniat bermain keluar rumah, ‘rusa dan Rubah kecilku, apa kabar kalian saat ini ?’ bisik Airin dalam hati, “hm, maaf dari tadi aku bicara sendiri, kenalkan namaku Sandy aku baru pindah ke kota ini beberapa hari yang lalu” ujar pria itu mengenalkan diri, “ah, aku Airin” jawab Airin singkat, “hm nama yang bagus” jawab pria itu sambil tersenyum menatap angkasa, “ah kau sedang menggambar ya ?” lanjutnya lagi, “ya, ini …” belum sempat Airin menjawab, pria itu langsung menarik kertas yang ada ditangan Airin, “gambar yang bagus, ah ‘ruuruu’ ? apa ini maksudnya ?” tanya pria itu saat melihat tulisan di ujung kertas gambar Airin, “ah, bukan itu bukan apa apa, maaf aku harus segera pulang” ujar Airin sembari merampas kembali buku gambarnya, dan bergegas pulang dengan menggayuh sepeda kesayangannya, ‘ruuruu ? sepertinya tidak asing ?’ ujar Sandy dalam hati.

to be continue . . .