Senin, 22 Agustus 2011

Rectangular Love™ 6


Upacara perpisahan siswa kelas 3 berlangsung hangat dan akrab, setelah itu upacara pun berubah menjadi pesta perpisahan yang penuh haru dan suka cita, dari salah satu sudut aula, Airin berdiri bersandar di dinding kaca gedung tersebut, memandang kearah jam 1, dimana Rio dan Sandy sedang berkumpul bersama teman teman sekelas mereka, tentu saja ada Keyra dan juga Felix disana, meskipun sudah sejak beberapa bulan trakhir ini mereka sering bersama, tetap saja Airin masih belum siap jika harus berpisah lagi dengan keduanya, “Airin, kau kenapa ?” Boby tiba tiba mendatanginya sembari membawakan minuman dalam kemasan untuknya, “aku baik baik saja Boby” jawab Airin tidak merubah arah pandangannya sama sekali, “tidak mungkin baik baik saja, sedangkan wajah mu terlihat murung seperti itu ?” sahut Yui menyikut lengan Airin, “iya, akhir akhir ini kau sering melamun Airin, kami jadi khawatir” kali ini Miya menambahkan, “kalian jangan berlebihan, aku baik baik saja” ucap Airin akhirnya membagikan pandangannya pada ketiga teman sekelasnya itu, “kau tahu, bukan hanya dirimu yang tidak ingin berpisah dengan mereka, jadi jangan membebani dirimu sendiri, berbagilah pada kami” bisik Yui sambil melirik Miya, “yah, meskipun aku pernah bertengkar dengan mereka, tapi aku juga merasa mereka terlau cepat pergi dari sekolah ini” ucap Boby tanpa ditanya, “benarkah itu ?” tanya Miya tak percaya pada kalimat pada Boby, “merci mon ami –terima kasih kawan” ujar Airin merangkul Miya dan Yui, mereka tersenyum bersama, Boby pun ikut tersenyum bersama mereka, ‘maaf yah, aku hampir saja melupakan kalian’ ucap Airin berbisik di dalam benaknya, dia lupa bahwa selama ini sebenarnya teman temannya selalu ada untuknya, jadi seharusnya dia juga memikirkan perasaan mereka.
\
Siang ini, akan di adakan acara makan siang bersama di rumah keluarga Sandy, kedua orang tua Sandy sengaja mengadakannya untuk mengundang kedua orang tua Rio yang sedang berada di Prancis juga kedua orang tua Airin, “hey Airin, kau membiarkan rambutmu terurai begitu saja ?” panggil Sandy yang melihat kedatangan Airin dan kedua orang tuanya. Sebelum pergi kerumah Sandy tadi, ibunya Airin memang meminta Airin untuk melepaskan ikat rambutnya, dan hanya menggunakan pita kecil untuk menghiasi rambut pirangnya yang lebih terlihat coklat tua dan lebat itu, “jangan berkomentar, aku tidak minta komentarmu” jawab Airin meruncingkan matanya, “hey, kau terlihat cantik !” ucap Rio yang baru menampakan batang hidungnya dari dalam rumah Sandy, “kenapa kau semakin terlihat seperti gadis bangsawan Eropa saja ?” tanya Rio lagi, sebenarnya dia lebih berniat untuk menjahili Airin dari pada memujinya, “sudah sudah, kau membuat wajahnya memerah!” kali ini Sandy menambahkan kalimat Rio, yang berhasil membuat Airin melotot geram, “kalian ini ! berhenti menggodaku !” kali ini Airin menghentakkan kakinya dan bergegas melangkah masuk kerumah, “hey, tunggu ! biarkan para orang tua kita berbicara bersama, kita di luar saja” tahan Sandy menangkap pergelangan tangan Airin, “tapi kau memang terlihat berbeda hari ini” ucap Sandy kali ini dengan tatap nakal kearah Airin, “apa mau mu !?” tanya Airin membalas tatapan Sandy dan melotot dengan kesal, “kau ini, kami sudah lama tidak menjahilimu, berapa lama Rio ?” ujar Sandy lagi lagi bersuara, “10 tahun ! hha …” Rio menjawab tanda setuju dengan kalimat Sandy sebelumnya, “kami akan segera pergi dari sini, apakah kau tidak ingin mengucapkan kata kata perpisahan untuk ku dan Rio ?” tanya Sandy sembari meminta Airin untuk duduk di kursi tamannya, bersebelahan dengan tempat duduk Rio, “bukankah kalian yang ingin pergi ? kenapa harus aku yang sibuk mengucapkannya ?” ujar Airin dingin, sebenarnya sikap sinisnya kali ini lebih untuk menutupi kesedihannya, karena dia masih belum siap berpisah dengan keduanya, “ayolah, aku tahu kau berpura pura dingin pada kami agar kami tidak mengenali kalau kau sedang bersedih dan takut berpisah dari kami” lagi lagi Sandy menggoda Airin dengan kalimatnya, “sudah sudah, lihat wajahnya sepertinya sudah panas seperti lobster panggang, sepertinya dia akan meledak” kali ini Rio berkata seolah membela Airin, “sudah, kau sama saja sepertinya” jawab Airin mengerti alibi Rio, “ngomong ngomong, kembalikan kamus ku ! kalian sendiri yang bilang telah mencurinya dariku” kali ini Sandy berbicara pada keduanya, dan Rio hanya bertukar pandangan dengan Airin, “hha …kau sudah dipastikan lulus kuliah disana, untuk apa membawa kamus itu lagi ? bukankah kau bisa langsung belajar dengan teman temanmu disana oppa ?” kali ini Airin tertawa karena berhasil menemukan kata yang pas untuk membalikan keadaan, “betul, kau sudah tidak membutuhkannya hyeong” kali ini Rio lagi lagi menimpali, “kau ini, sebenarnya kau berpihak pada siapa ?” tanya Sandy memasang wajah kesal, “kau mau kamus mu oppa ? ini aku berikan, tapi kau harus mengambilnya sendiri” ucap Airin melayang layangkan kamus saku milik Sandy di udara, dan meletakannya di sela ranting pohon di dekatnya, “baiklah ! aku akan mengambilnya!” kali ini Sandy berkata dengan serius, keduanya hanya terpaku dengan wajah tercengang melihat Sandy yang dengan mudah beranjak dari kursi rodanya dan berjalan menuju pohon dan menggapai kamus yang cukup tinggi diatasnya, “oppa …! kau menipu ku dan sengaja memintaku mendorong kursi rodamu !? awas kau ya !” teriak Airin pada Sandy yang langsung pergi menyelamatkan diri, “aku memang sudah bisa berjalan berapa hari ini, kalian saja yang aku kerjai ! hha ….” tawa Sandy puas melihat wajah keduanya yang terlihat bodoh, “kau ini, baru pulih saja sudah sombong, bagaimana kalau kau sudah pergi ke Seoul nanti ? hha….” tawa Rio menyusul mendengar pernyataan Sandy, dan Airin pun ikut tertawa, mereka bertiga tertawa di bawah langit yang siang itu terasa begitu indah, “kalau begitu, kapan kita bisa pergi ke danau bersama ?” kali ini Airin bertanya tentang rencana mereka mengunjungi danau, yang biasa dia kunjungi jika berkunjung ke tempat nenek, tempat mereka tidak sengaja berjumpa saat itu, “bagaimana kalau tahun depan saja ? saat kelulusan mu” ujar Rio tampak serius, “apa !? tahun depan !?” tanya Airin kaget, “hei, suara mu itu jelak sekali, jangan berteriak seperti itu” ujar Rio protes, “baiklah bagaimana kalau besok ?” usul Sandy menengahi, “setuju!” ucap keduanya kompak, dan tak lama kemudian, orang tua mereka memanggil mereka untuk segera masuk kedalam rumah, lalu mereka berjalan bersama.
\
Kini, aku benar benar merasa beruntung, bisa kembali bersama di tengah tengah 2 sahabat masa kecilku, aku tak pernah mengira kalau mereka juga merindukanku selama ini, meskipun kami saat ini jelas berbeda dan akan kembali terpisah, tapi kami akan terus menjaga persahabatan ini.
Sandy kau yang sabar ya, meskipun semangat didalam dirimu begitu besar, tapi siapa yang menyangka bahwa sebenarnya kau setiap saat bertarung melawan penyakit yang ada didalam dirimu, aku menyayangimu ! entah mengapa kaulah yang memang selalu melindungi dan mengangguku dari dulu ! itu khas dari dirimu Alex, rusa kecil yang dulunya gendut seperti anak rusa yang selalu kelaparan, tak pernah ku bayangkan kau akan tumbuh tinggi dan tampan, juga dewasa seperti saat ini.
Rio aku bersyukur dulu kau pernah menolak coklat dari ku, aku jadi sedikit lebih tahu sifat burukmu itu, playboy dan selalu tebar pesona, mungkin kau begitu karena memang ingin menunjukan pada semua murid perempuan bahwa kau adalah siswa yang paling cerdas dan mandiri ? tapi itu tidak masalah, ternyata setelah perasaan aneh itu lenyap, aku bisa mengenalmu dari sisi lainnya, mengenalmu sebagai Jery, rubah kecil yang dulu selalu menghiburku dengan istana pasir buatan mu di saat aku sedang bersedih, atau sedang di ganggu oleh Alex ! aku bangga memiliki sahabat seperti kalian, aku berjanji kelak aku akan mengunjungi kalian, ke Seoul dan Spanyol ! karena ada yang bilang padaku, kita semua sudah dewasa saat ini, jadi jarak dan waktu tidak akan berpengaruh pada persahabatan kita, jal isseoyo –selamat tinggal, tto mannayo –sampai jumpa lagi.
\
the
©end