Selasa, 23 Agustus 2011

Rectangular Love™ 4


Salut Airin, comment ca va –hai Airin, apa kabar ?” tanya Rio saat mendatangi Airin yang sedang duduk di taman berlakang sekolah, “salut rio ! ca va, et toi –hai Rio ! baik, bagaimana dengan mu ?” jawab Airin dengan nada datar, sepertinya Rio masih bisa melihat tak ada semangat di wajah Airin hari ini, “bagaimana keadaan kakimu ?” tanya Rio lagi, dengan apa yang dia lihat kemarin sore, rasanya sangat bodoh jika dia bertanya seperti itu,
kakiku ? baik, aku berharap beberapa hari lagi, aku tidak perlu menggunakan tongkat bodoh ini untuk pergi ke sekolah
oh ya ? baguslah” jawab Rio lega, “apakah kau mendatangiku hanya untuk menanyakan hal itu ?” Airin tiba tiba bertanya dan memandang Rio dengan penuh curiga, “oh, ng…aku” Rio menjawab dengan sedikit terbata, sambil berfikir apa yang harus dia katakan, “aku kesini hanya ingin memastikan bahwa keadaan mu baik baik saja” jawab Rio akhirnya, meski pun dengan nada kaku yang membuat Airin tidak yakin dengan jawaban itu, “sebaiknya, jika ada yang ingin kau katakan, katakan saja, setidaknya kita kan teman ?” ujar Airin sambil tersenyum tipis, “ah kau ini, aku hanya ingin mengobrol dengan mu, boleh kan ?
tentu saja boleh, tapi ingat, 1 pertanyaan 10 euro, bagaimana ?
hmm,, d’accord –setuju !” jawab Ro menyetujui, dan akhirnya mereka tertawa bersama, ‘wah senang sekali bisa melihatmu tertawa, aku tak percaya, kau memang gadis yang berbeda, kemarin aku melihatmu menangis penuh putus asa, dan hari ini, kau tertawa seolah semua masalah mu sudah terselesaikan’ ucap Rio dalam benaknya.
Di sudut lain, dari lantai 2 sekolah, Sandy melihat keduanya dengan senyum tipis yang seolah tertahan, melihat sahabat masa kecilnya yang kini ternyata sedang menemani Airin dan berhasil membuat Airin tertawa, sahabat kecil yang sudah lama terpisah, dan sejujurnya dia benci jika harus bersaing dengan sahabatnya sendiri, “kalian terlihat sangat bahagia !” ucap Sandy akhirnya.
\
Sandy, bisakah kau membantuku ?” seseorang datang menepuk pundak Sandy, membuyarkan lamunan Sandy tentang Airin dan Rio yang masih terlihat tertawa bersama, “Keyra ? ada apa ?” tanya Sandy yang sebenarnya tidak ingin peduli, “maukah kau membantuku mencari buku di perpustakaan ?” tanya Keyra dengan senyuman yang dibuat buat, “bukankah kita punya tugas yang sama ?” lanjut Keyra dengan gaya centilnya, “maaf, aku ….” belum sempat Sandy menjawab, dia melihat Rio berjalan menaiki tangga, membantu Airin yang masih berjalan dengan tongkatnya, “hm, baiklah aku akan membantu mu” jawab Sandy yang tiba tiba berubah pikiran, Keyra tersenyum senang dan langsung mengaitkan lengannya pada Sandy, dan mereka pergi bersama menuju perpustakaan, ‘bukankah itu Sandy ?’ tanya Airin dalam hati, meskipun sedikit tidak yakin dengan penglihatannya, “bukankah, yang barusan itu Sandy ? sedang apa dia bersama Keyra ?” kali ini Rio bertanya pada Airin, “apa ? mana ? aku tidak lihat” jawab Airin berbohong, dan mereka melanjutkan perjalanan.
\
Hari ini, Miya dan Yui sudah berencana ingin mengantarkan Airin pulang, jadi keduanya langsung mendatangi tempat duduk Airin setelah bel tanda berakhirnya pelajaran untuk hari ini berbunyi, “Ayi ? bolehkah kami ikut pulang bersamamu ?” tanya Yui pada Airin yang masih menyalin sisa catatan yang ada di papan tulis, “kalian mau apa ?” tanya Airin tanpa mengalihkan pandangannya dari buku catatannya, “tidak, kami hanya ingin main, bolehkan ?” “hei, Airin !” belum sempat Airin menjawab permintaan Miya, seseorang berteriak dan masuk ke kelas mereka, “ayo aku antar kau pulang ?” tanyanya mengabaikan Yui dan Miya yang menatapnya dengan tatapan penuh pertanyaan, “baiklah, ayo!” jawab Airin dan langsung merapikan buku bukunya, “aku pulang duluan yah, au revoir –sampai jumpa …” jawab Airin sembari berjalan keluar kelas, beriringan dengan Rio, meninggalkan kedua sahabatnya yang masih bingung dengan keduanya.
\
Bagaimana kalau kita mampir sebentar untuk membeli ice cream ?” tanya Rio saat keduanya sedang dalam perjalanan di dalam mobil miliknya, “boleh, kau masih memiliki hutang 90 euro padaku” jawab Airin sambil bergurau, “kau ini, baiklah, aku akan mentraktirmu ice cream” jawab Rio putus asa sambil mengeluarkan senyuman khasnya, sedangkan Airin hanya tersenyum senang, keduanya nampak sangat akur seharian ini, sepertinya mereka juga sedang tidak ingin bertengkar seperti halnya kebiasaan mereka dulu jika bertemu di sekolah.
\
Sepertinya, kau sangat bahagia hari ini ?” ujar Sandy yang entah sejak kapan sudah berdiri bersandar di depan pintu kamar Rio, “sejak kapan kau berdiri disana ?” tanya Rio sambil mendelik, “lagu yang bagus, sepertinya aku pernah mendengar lagu itu” ucap Sandy berjalan mendekat kearah Rio yang sedang duduk di teras kamarnya, “hei kau belum menjawab pertanyaanku” ujar Rio lagi, “itu tidak penting, aku rasa pertanyaanku sebelumnya lebih penting dari pertanyaanmu
pertanyaan apa ?
sepertinya hari ini kau semakin akrab dengannya ? bahkan aku mendengar, kalian pulang bersama ?
apakah kau sedang membicarakan Airin ?
hha, kau ini sangat mudah untuk di pancing agar berbicara, padahal aku tidak menyebutkan namanya sama sekali
kenapa kau tertawa ? seharusnya kau berhati hati, karena kami berdua jauh lebih akrab sekarang
ya, aku tahu, seharusnya memang begitu, tapi aku juga baru saja menyusul langkahmu, baru saja aku datang kerumahnya, dan aku jadi semakin tahu lebih banyak tentangnya
apa maksudmu ?
kau pasti akan kaget mendengar kalimat ku selanjutnya
apa ?
sabar, apakah kau sudah siap ?
hm, iya aku siap!
aku belum yakin dengan ini, tapi aku merasa bahwa dia adalah kelinci kecil
apa !? kau bercanda !
ya, aku harap aku salah, setidaknya sebelum aku melihat foto keluarga yang ada di ruang tengah rumahnya tadi
apa yang kau lihat ?
seorang gadis kecil yang sedang tersenyum ceria duduk di sebelah istana pasir, sambil memeluk boneka tangan berbentuk kelinci
kau, jangan bergurau ! itu sama sekali tidak lucu
bagaimana kalau dia memang si kelinci kecil kita dulu ?
aku tidak tahu” ucap Rio pasrah, dia hanya merasa belum siap jika kenyataanya memang benar seperti apa yang Sandy katakan barusan.
\
Siang tadi, tak lama setelah Rio mengantarkan Airin ke rumahnya, Sandy pun datang mengunjungi Airin, dan dia baru tahu ternyata sudah berapa hari ini Airin hanya tinggal sendiri di rumah, karena kedua orang tuanya ada keperluan di luar kota, dari sorot mata Airin, Sandy bisa melihat berkas kegembiraan yang tergambar jelas disana, entahlah itu karena kedatangan Sandy, atau karena kebersamaanya bersama Rio seharian ini, “Airin, foto foto di rumah mu sepertinya cukup banyak” ucap Sandy memutar matanya ke seluruh ruangan, saat mereka sedang duduk minum teh bersama di ruang keluarga rumah Airin, “et cette jolie fille –dan gadis cantik ini ?” tanya Sandy ketika matanya tertuju pada gambar seorang gadis kecil berusia sekitar 5 atau 6 tahun yang sedang duduk di kolam pasir, “itu adalah foto ku” jawab Airin tanpa memandang gambar yang di maksud sandy, “benarkah ? aku seperti pernah melihat wajah yang sama dengan yang di foto ini” ujar Sandy terlebih pada dirinya sendiri, “apa ? barusan kau bilang apa ?” tanya Airin merasa kurang jelas, “ah tidak, lupakan saja” elak Sandy tidak yakin dengan keraguan yang tiba tiba menggeliat di dalam benaknya.
\
Pagi ini adalah waktunya untuk semua siswa kelas 3 mengikuti tes psikologi untuk seleksi kelas menuju perguruan tinggi, jadi dari hasil tes ini para siswa akan mengikuti kelas yang jadwalnya akan lebih terfokus pada perguruan tinggi yang akan mereka tuju nanti.
Rio, apa kabar ?” Keyra mendatangi Rio yang sedang terlihat serius mengisi formulir perguruan tinggi, sepertinya dia sudah memiliki pilihan akan kemana dia nanti setelah lulus sekolah, “baik” jawab Rio tetap terfokus pada formulirnya, “kau sudah tahu akan kemana ?” tanya Keyra lagi, masih berusaha mencuri perhatian Rio,
ya
jawabanmu singkat sekali dari tadi ?
ada apa ?
tidak, aku hanya ingin tahu, apakah kau akan mengambil jurusan kedokteran ?
bukan
lalu ?
aku akan mengambil jurusan…
jurusan apa ? ayo katakan
itu bukan urusan mu
hah !? kau ini
aku hanya takut kau akan mengikutiku mengambil jurusan yang sama
apa !? aku tidak salah dengar ?
tidak
baiklah, aku akan mencari Sandy kalau begitu !” jawab Airin sambil berlalu, dan Rio hanya tersenyum, karena ternyata tebakannya tepat tentang pertanyaan Keyra.
\
Meskipun belum masuk waktu istirahat, tapi Rio merasa sangat bosan dengan keadaan kelas yang terasa terlalu ramai hari ini, ini karena semua siswa sibuk berdiskusi tentang universitas masing masing. Rio berdiri memandang lapangan basket dari jendela besar yang tidak jauh dari pintu kelasnya, berharap ada sesuatu yang membuat otaknya sedikit lebih fresh saat ini, ‘ah itu dia !’ ucapnya dalam hati, ternyata murid kelas 2f saat ini sedang mengikuti pelajaran olah raga, meskipun tadi sempat tersenyum karena berhasil menemukan keberadaan Airin, tapi tiba tiba dia menghapus senyumannya itu, matanya dapat menangkap jelas bahwa Airin sedang duduk di pojok lapangan basket dan hanya bisa memandang teman temannya yang sedang bermain basket bersama, ‘sepertinya kau sangat tersiksa dengan tongkat itu’ bisik Rio pada dirinya sendiri, lalu pikiran Rio melayang pada cerita Sandy sore kemarin, tentang Airin yang Sandy bilang adalah Ayi, kelinci kecil yang dulu hilang meninggalkan Rio dan Sandy saat mereka berusia 7 tahun, ‘apa kabar kau saat ini ? apakah yang di katakan Alex itu benar tentang mu Ayi ? apakah rusa kecil itu benar benar berhasil menemukan mu ? dan apakah kelinci kecil itu memang kau Airin ?’ seribu pertanyaan muncul di benak Rio, Alex atau yang kini biasa di panggil dengan nama Sandy, memang tidak main main dengan niatnya untuk mencari Ayi, teman masa kecil mereka, tapi meskipun Rio tahu kalau temannya itu tinggal di Prancis, tetap saja Rio belum bisa yakin 100% bahwa Airin itu Ayi, bahwa Airin itu adalah kelinci kecil mereka, yang selama ini mereka cari.
\
Sandy melambaikan tangannya pada Airin yang terlihat sedang berjalan bersama dengan kedua sahabatnya, siapa lagi kalau bukan Miya dan Yui, “hai, maukah kau ikut dengan ku sepulang sekolah nanti ?” tanya Sandy sumringah, “kemana ?” tanya Airin ingin tahu, “aku ingin mengajakmu ke suatu tempat” bisik Sandy di telinga Airin.
Saat ini, mereka sedang berada di dalam mobil milik Sandy, Sandy sangat senang karena Airin mau menerima ajakannya. Sandy menghentikan laju mobilnya di pinggir sebuah taman yang jaraknya tidak begitu jauh dari rumah mereka, “untuk apa kita kesini ?” tanya Airin bingung, Sandy hanya diam dan tersenyum, membantu Airin untuk berjalan masuk ke taman itu, “sudah lama aku tidak membawamu untuk berlatih bukan ? aku yakin kau sangat ingin segera berpisah dari tongkat itu” ucap Sandy sambil tersenyum tulus, lalu dia meletakan tongkat Airin begitu saja, dan mengenggam kedua tangan Airin, bak seorang anak balita yang baru akan berlatih berjalan, dia membantu Airin yang sesekali meringis menahan rasa nyeri di kakinya, “bagus ! kau sudah semakin lancar, apakah kau juga sering berlatih sendiri di rumah ?” tanya sandy senang melihat kemajuan gerakan kaki Airin yang perlahan stabil, “benarkah ? tidak, aku tidak akan berani melakukannya sendiri” jawab Airin sedikit berbohong,
jika kita melakukannya setiap hari setelah pulang sekolah, pasti kakimu akan cepat pulih
iya, aku harap begitu
ngomong ngomong, hari ini siswa kelas 3 mengikuti tes psikologi menjelang ujian kelulusan
apa ?” tanya Airin saat mendengar perkataan Sandy barusan, dan wajah keduanya terlihat mulai serius, “qu’est-ce que tu feras après –apa yang akan kau lakukan setelah ini ?” tanya Airin ingin tahu lebih jelas tentang kalimat Sandy barusan, “continuer a l’universite –melanjutkan ke universitas
benarkah ?
ya, aku ingin kuliah di Seoul
kau serius ?” tanya Airin menyembunyikan rasa kekecewaannya, “sini, kita istirahat dulu ya” Sandy mengajak Airin duduk di salah 1 kursi taman, “kuliah disana adalah cita terbesarku” lanjut Sandy lagi,
oh, begitu…” terdengar nada kekecewaan dari suara Airin, tapi Sandy tidak menyadarinya sedikit pun, “ternyata di Prancis selama sisa kelas 3 ku, terasa sangat singkat ! itu semua berkat dirimu” ujar Sandy tanpa ditanya, dia menatap langit yang berwarna biru tanpa awan dengan gembira, sedangkan Airin hanya menunduk lesu mendengarnya, “oh iya ! ada yang ingin aku tunjukan padamu, ayo ikut aku” tarik Sandy selanjutnya, Airin yang semula ingin menggapai tongkatnya, terpaksa mengurungkan niatnya, karena Sandy sudah lebih dulu menggapai kedua tangganya, “ini dia ! bagus bukan ? aku yang membuatnya” sebuah istana pasir berdiri sedikit tersapu angin di atas sebuah kolam pasir yang ada di taman itu, istana pasir yang sepertinya memang karya Sandy sendiri, “apa ini !?” tanya Airin mencoba biasa, sejujurnya dia kaget melihat hal ini, melihat istana pasir itu membuat bayangan kedua sahabat masa kecilnya seolah kembali mengisi seluruh volume di otaknya, dia teringat saat dulu dia sering bermain bersama kedua teman masa kecilnya, “aku membuatkannya untuk mu sebelum pergi ke sekolah, wah sepertinya sedikit berantakan tersapu angin ?” jawab Sandy bangga, sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali, “kau kenapa ? bukankah kau suka istana pasir ?” tanya Sandy saat melihat wajah Airin yang tiba tiba tidak bersemangat, “bisakah kita pergi dari sini ? kau tahu, aku sangat benci istana pasir !” ucap Airin mengagetkan Sandy.
Rio yang sedari tadi diam diam melihat keakraban kedua teman sekolahnya itu, merasa penasaran, kenapa tiba tiba wajah Airin berubah seakan penuh duka saat melihat istana pasir itu, ‘betul apa yang aku duga, dia bukan Ayi!’ ucapnya mengambil kesimpulan, lalu setelah puas karena berhasil mengetahui jawaban dari rasa penasarannya, Rio pergi begitu saja meninggalkan keduanya yang masih berdiri di sana, memandang istana pasir yang sebetulnya Rio yang membuatnya atas permintaan Sandy, karena Sandy berfikir bahwa hal itu bisa sedikit membuktikan apakah Airin adalah kelinci kecil mereka atau bukan.
\
Sandy duduk sendiri di teras rumahnya, semua pukirannya bercampur aduk, tentang Airin, tentang kedua sahabat masa kecilnya, juga tentang sekolahnya, tiba tiba dia merasakan sakit yang amat sangat di bagian belakang kepalanya, tak ada seorang pun dirumahnya saat ini, ayahnya yang seorang pilot memang sangat jarang pulang kerumah, sedangkan ibunya, terlalu sibuk dengan urusan butiknya, dan hobinya yang selalu minum bersama teman temannya yang kebanyakan laki laki, “kenapa lagi ini ? kenapa sakitnya harus muncul pada saat saat seperti ini ?” Sandy menggerutu sambil menahan sakit di kepalanya, dia berusaha berjalan menuju kamarnya, menggapai meja kecil di sebelah tempat tidurnya dan mengambil sebuah obat, setelah itu dia langsung menelan obatnya bakhan lebih dari 3 butir sekaligus, setelah itu, dia berusaha merebahkan dirinya di atas tempat tidurnya, tak lama kemudian dia tertidur, dan sejenak terbebas dari rasa sakitnya itu.
\
Felix, apakah kau melihat Sandy ? aku seharian ini belum melihatnya” ujar Keyra pada Felix yang saat itu sedang menunggu giliran untuk cek kesehatan, yang di ikuti seluruh siswa kelas 3 hari ini, tes ini masih ada hubungannya dengan persiapan mereka menuju universitas, “aku tidak tahu” jawab Felix sambil menggidikan bahu, Keyra tampak berfikir sejenak, lalu dia teringat pada Rio, dan segera mencari keberadaan teman sekelasnya itu.
Itu dia !” ucap Keyra saat berhasil menemukan keberadaan Rio yang ternyata sedang berada di ruang loker, “kemarin aku tidak melihatmu, kau kemana saja ?” tanya Airin pada Rio, menyadari ternyata Rio tidak sedang sendirian disana, Keyra menunda langkahnya dan bersembunyi di balik pintu loker miliknya, “kenapa ? apakah kau mencariku ? kau merindukanku ?” tanya Rio dengan tatapan jahilnya, Airin tertawa kecil dan berusaha untuk tidak menatap mata Rio, “aku bertanya serius, aku dengar siswa kelas 3 sudah mulai mempersiapkan diri untuk masuk universitas ?” tanya Airin lagi,
iya, hari ini saja, kami ada tes kesehatan, tes lanjutan dari tes psikologi kemarin
benarkah ? lalu, kenapa kau disini sekarang ?
aku hanya ingin bertemu denganmu sebentar, apa itu tidak boleh ?
untuk apa menemui ku ?
ini…” Rio memberikan 2 lembar kertas yang bertulisakan ‘ice cream 50%’,
ini, voucher makan ice cream ?
ya, tentu saja, kau suka kan ?
ini untukku ? terima kasih” ucap Airin gembira, “baiklah, pulang sekolah nanti kita pergi bersama” ucap Rio lagi, “baiklah!” jawab Airin senang, “apa apaan ini ? bukankah mereka dulu selalu bermasalah ? ada hubungan apa di antara mereka ?” gerutu Keyra yang masih menguping obrolan keduanya dengan kesal.
\
Airin, sepertinya akhir akhir ini kau terlihat sangat dekat dengan mereka ?” Miya bertanya di sela jam pelajaran pada Airin, saat ini mereka sedang mengerjakan tugas bersama, tentu saja dengan Yui dan juga Boby, mendengar pertanyaan Miya barusan, Boby dan Yui langsung memasang telinga mereka, “mereka siapa ?” tanya Airin tetap melanjutkan tugasnya, “siapa lagi kalau bukan 2 murid 3b itu ? apa harus aku sebutkan nama keduanya ?” ucap Miya lagi, “je ne sais pas, je viens de sentir a l’aise avex eux –entahlah aku hanya merasa nyaman bersama mereka” jawab Airin datar, sepertinya dia memang sedang tidak ingin membicarakan hal itu saat ini, mungkin karena tugas kali ini juga berkaitan dengan penentuan kelas pada tahun ajaran baru nanti, dan Airin sangat berharap bisa masuk kelas unggulan, meskipun hal itu sedikit mustahil, ketiganya diam mendengar jawaban Airin, mungkin sebenarnya mereka belum puas dengan jawaban yang keluar dari mulut teman mereka itu, “ne vous inquetez pas, vous aves encore mon meilleur ami –jangan khawatir, kalian masih teman terbaikku” lanjut Airin lagi, mungkin dia sedikit menyadari apa yang teman temannya pikirkan, “hm, meilleurs amis pour toujours –sahabat selamanya !” tambah Airin lagi dengan nada tegas, kali ini dia mengangkat kepalanya dan tersenyum berusaha meyakinkan ketiganya, “d’accord –baiklah” ujar Miya mewakili yang lainnya, sepertinya mereka sudah puas dengan jawaban Airin.
\
Jalanan mulai terasa sepi sore ini, hening yang terasa selama di perjalanan, membuat keduanya tidak merasa nyaman, saat ini Rio dan Airin sedang dalam perjalanan menuju sebuah caffe yang khusus menjual ice cream, sesuai janji Rio tadi sewaktu bertemu di ruang loker, dia akan mentraktir Airin ice cream sepulang sekolah.
Bagaimana, kau suka ?” tanya Rio saat mereka sedang menikmati ice cream yang baru saja mereka pesan, Airin menjawabnya dengan ganggukan pasti, “iya aku sangat suka” jawab Airin sembari terus menikmati ice cream yang ada di genggamannya, “pourquoi, amez-vous de la crème glacee –kenapa, kau sangat menyukai ice cream ?” tanya Rio ingin tahu, “honnetes –jujur, aku sendiri tidak tahu” jawab Airin sedikit berbisik,
Airin ?
ya, ada apa ?
benarkah kau pernah bersekolah di Spanyol ?” Airin menghentikan sejenak kegiatannya, memberi jeda panjang setelah mendengarkan pertanyaan Rio barusan, dan akhirnya dia hanya mengangguk ragu, “si quires que te cuente un poco acerca de su infansia en Espania –apakah kau mau bercerita sedikit tentang masa kecilmu di Spanyol ?” tanya Rio dengan menggunakan bahasa Spanyol, Airin menggidikan bahunya, bukan karena dia tidak mengerti dengan pertanyaan Rio, dia hanya sedang berusaha untuk bersikap tenang dengan perasaannya, “kenapa kau tiba tiba bertanya tentang Spanyol ?” tanya Airin tidak langsung menjawab pertanyaan Rio,
aku hanya ingin tahu, boleh kan ?
semua ingatan ku tentang Spanyol, sudah lama aku hapus dari memori otakku
Rio menunduk lesu mendengarkan jawaban Airin, “kecuali…” lanjut Airin menggantungkan kalimatnya, sebenarnya Rio menunggu dengan sangat tidak sabar tapi dia berusaha untuk tenang, “de vieux amis –teman lama” ujar Airin menyelesaikan kalimatnya, “teman lama ? maksudmu ?” tanya Rio penasaran, “dulu aku sempat bersekolah disana, tentu saja aku memiliki teman bukan ?” ucap Airin lagi, kali ini suaranya terdengar kembali ceria, “oh iya, tentu saja! Hha…” jawab Rio berusaha tertawa, dia baru sadar bahwa pertanyaannya memang terdengar sedikit aneh, ‘sepertinya dia memang bukan kelinci kecil kami’ ucap Rio dalam hati di sela tawanya, ternyata taktiknya untuk memancing agar Airin bercerita tentang masa kecilnya, sudah cukup untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa Airin, bukanlah Ayi, kelinci kecil mereka, yang menyukai istana pasir dan memiliki alasan khas tentang kegemarannya dengan ice cream.

to be continue . . .