Senin, 22 Agustus 2011

Rectangular Love™ 5


Tenang, kita masih ada 1 cara lagi !” ujar Sandy yang malam ini menginap di tempat kost Rio, kebetulan Felix sedang bekerja di mini market yang tidak jauh dari sana, jadi mereka bisa leluasa bercerita, “apa lagi ? sudah jelas dia tidak menyukai istana pasir buatanku, dia juga tidak memiliki alasan apapun tentang kegemarannya dengan ice cream ?” ujar Rio terdengar pasrah, “kelinci !” teriak Sandy tepat di telinga Rio, “hei!! apa kau sudah bosan hidup ?” tanya Rio sedikit marah, “hha, kita bisa menggunakan kelinci bukan ?” tanya Sandy merasa idenya kali ini sangat brilliant, “kau ingin kita melakukan apa lagi ? jangan menyia nyiakan waktu, kalau dia memang bukan kelinci kecil kita bagaimana ?” ucap Rio lagi, “seharusnya, kau sesekali masuk ke dalam rumahnya dan melihat foto itu ! aku yakin dia adalah Ayi” teriak sandy menepuk pundak Rio, “benar juga”,
tentu saja ! seharusnya, sesekali kau beralasan pergi ke toilet dan kau pasti bisa melihat foto itu !
ngomong ngomong, kenapa kau tadi tidak datang ke sekolah ? kita ada tes kesehatan
ya maafkan aku, aku ada urusan kecil. Tentang tes itu, aku juga sudah tahu
bagaimana dengan ide mu tadi tentang kelinci tadi ?
haha, tenang, aku sudah memikirkannya !” jawab Sandy tertawa jahil, sepertinya dia sudah memiliki rencana tersendiri tentang binatang kecil itu, dan Rio hanya berharap semoga ide Sandy kali ini masuk akal dan sedikit lebih ampuh.
\
Wah sepertinya aku hampir terlambat berangkat kesekolah” gerutu Airin pada dirinya sendiri saat akan menutup pintu rumahnya sebelum berangkat kesekolah pagi ini, bahkan dia belum sempat membuat sarapan, “ah, kotak apa ini ?” langkah Airin terhenti saat melihat kotak berukuran sedang yang tergeletak di teras rumahnya pagi ini, “wah, lapin –kelinci ? lucu sekali” ujar Airin saat melihat ternyata isi kotak tersebut adalah sepasang kelinci kecil berwarna putih, “kalian kenapa bisa ada disini ? siapa yang membawa kalian kesini ?” Airin bertanya pada sepasang kelinci kecil itu, sepertinya Airin sangat menyukai keduanya, tapi tiba tiba dia teringat bahwa dia sudah terlambat pergi kesekolah, jadi dia segera meletakkan kedua kelinci itu begitu saja di dalam kotaknya, dan bergegas berangkat kesekolah menggunakan sebuah taksi.
\
Selama jam pelajaran di sekolah, pikiran Airin selalu tertuju pada 2 kelinci yang ada di rumahnya, dia penasaran siapa yang mengirimkannya dan sebenarnya sudah lama dia berusaha untuk tidak memiliki kelinci lagi seperti dulu, saat dia masih suka memelihara kelinci, tapi itu dulu saat dia belum berhasil melupakan bayang bayang masa kecilnya.
Airin melangkah dengan malas menuju kantin, Miya dan Yui yang sudah berkali kali berusaha mencuri perhatian Airin dengan berbagai lelucon mereka tetap saja tidak berhasil, “benar bukan ! ide ku pasti berhasil, kau lihat sendiri tadi, dia sangat menyukai kelinci itu !” suara Sandy dengan penuh semangat terdengar saat ketiganya melintas di depan ruang laboratorium, tentu saja Airin refleks menghentikan langkahnya dan berbalik mendatangi Sandy yang ternyata sedang bersama Rio, “jadi kalian yang membawa kelinci itu ?” tanya Airin dengan tatapan tidak bersahabat, dan senyuman di bibir Sandy tiba tiba menghilang mendengar kalimat Airin barusan, “kau ? ah, itu adalah idenya, aku tidak tahu apa apa” ucap rio sambil mengarahkan telunjuknya pada Sandy dan mencoba beralibi, sepertinya dia tahu kalau Airin sedikit emosi, “iya, bukankah kau menyukainya ?” jawab Sandy masih berusaha tersenyum, “pulang sekolah nanti, silahkan ambil kembali kelinci itu!” ucap Airin sedikit membentak dan melangkah pergi meninggalkan Rio dan Sandy yang masih menatapnya dengan bingung.
\
Sore ini Rio sedang duduk dengan wajah bingung di teras belakang rumah Sandy, sebenarnya Sandy tidak kalah bingung darinya, karena mereka merasa bersalah pada Airin, sembari memainkan 2 kelinci kecil yang tadi baru saja mereka ambil kembali dari rumah Airin, mereka jadi seperti kehabisan ide untuk rencana mereka berikutnya, “astaga ! aku lupa !” tiba tiba Sandy berbicara sambil menepuk jidatnya sendiri, “kau kenapa ?” tanya Rio dengan malas, “aku ada urusan sebentar, kau tunggu disini saja aku akan segera kembali” ujar Sandy terburu buru dan pergi meninggalkan Rio sendirian dirumahnya, “aneh sekali ?” ujar Rio penasaran.
Alih alih menghilangkan kejenuhannya, Rio melangkahkan kakinya menuju ruang tengah rumah Sandy, dia menemukan sebuah album foto bersampul darkblue yang tergeletak di atas meja, sesekali dia juga tersenyum melihat foto foto yang ada di album tersebut, ‘ruuruu ? apa ini, sepertinya aku pernah melihat tulisan ini sebelumnya ?’ Rio bertanya dalam hatinya saat melihat sebuah gambaran tangan yang bertuliskan tulisan tersebut, ‘ah aku ingat ! gantungan ponsel itu ….’ Pikiran Rio melayang jauh pada kejadian beberapa waktu yang lalu, saat dia menemukan gantungan ponsel milik, “AIRIN !” ucap Rio yang sebenarnya lebih terdengar seperti teriakan mengejutkan saat menemukan kata kunci di dalam ingatannya, dia langsung mengambil ponsel dari saku jas sekolahnya dan mencari nama Sandy dari daftar nomor telpon di ponselnya, satu kali tak ada jawaban dari Sandy, dua kali masih sama, hingga sudah kesepuluh kalinya dia menghubungi, akhirnya terdengar suara dari seberang sana, “hallo ?” ujar suara itu menjawab panggilan Rio, “kenapa kau tidak menjawab telpon ku dari tadi !?” ujar Rio memburu suaranya, dia sudah tidak sabar ingin menceritakan sesuatu pada Sandy, “maaf ini aku, dokter yang biasa menangani Sandy, apakah kau keluarganya ?” ujar suara itu selanjutnya, Rio kaget dia baru sadar bahwa itu memang bukan suara Sandy, tapi “dokter !? apa maksudnya ? dimana dia saat ini, apakah dia sakit ?” Rio tiba tiba merubah nada suaranya, dia masih belum yakin dengan apa yang dia dengar, “baiklah aku akan segera kesana” ucap Rio menutup sambungan telponnya.
Kurang dari 15 menit, Rio sudah tiba di rumah sakit, dia sengaja mengemudikan kendaraannya dengan cepat agar bisa segera mengetahui apa yang terjadi pada Sandy, “dokter, aku tadi yang menelpon, dimana Sandy sekarang ? aku temannya” tanya Rio tergesa gesa, “hm, apakah benar dia teman mu ?” tanya dokter itu sembari berjalan beriringan dengan Rio, “benar dokter, kami sudah berteman sejak kami masih bersekolah di Spanyol lebih dari 10 tahun yang lalu, ada apa ini sebenarnya dok ?” jawab Rio sambil bertanya untuk kesekian kalinya, “silakan masuk, aku mohon biarkan dia istirahat” ujar dokter itu ketika mereka tiba di depan sebuah kamar rawat inap pasien, Rio terpaku sejenak saat melihat sahabatnya yang terbaring lemah tak sadarkan diri dan banyak selang infus serta alat medis di sekitarnya, “sudah berapa kali aku bicara padanya agar dia segera memberitahukan penyakitnya ini pada orang tuanya, tapi sepertinya sampai sekarang dia belum menyampaikannya” ujar dokter itu memulai penjelasanya, “apa maksudnya dokter ? dia sakit apa ?” ujar Rio terus memburu informasi dari dokter itu, “kanker otak stadium lanjut, tapi dia tidak pernah menuruti saranku untuk terapi, mungkin dia berfikir kesempatan untuk sembuh dari sakitnya itu sangat kecil
sejak kapan dia seperti ini dok ?
beberapa bulan yang lalu, saat dia mengalami kecelakaan mobil, aku mengetahuinya dari diagnosa dokter yang menanganinya, tapi dia bilang dia sudah mengidap penyakit itu sejak 2 tahun yang lalu
lalu, bukankah saat itu yang menabraknya adalah ibunya sendiri ? bagaimana mungkin ibunya tidak mengetahui ?
entahlah, mungkin karena kondisi ibunya masih mabuk, maka dari itu dokter belum sempat memberitahu kan hal ini
dokter, saat ini ayahnya sedang bekerja, dan sangat jarang pulang kerumah, sedangkan ibunya, entahlah aku tidak tahu pasti. Jadi aku mohon kau lakukan yang terbaik untuk menyelamatkan temanku, aku mohon
pasti, kami akan melakukan semampu kami, baiklah aku permisi” jawab sang dokter menepuk pundak Rio, dan pergi meninggalkannya yang masih berdiri dan belum percaya dengan apa yang dia lihat dan dia dengarkan barusan.
\
Pagi ini, Rio buru buru melajukan mobilnya dari rumah sakit menuju rumah Airin, setelah semalaman dia menemani Sandy yang masih belum sadarkan diri, dia teringat sesuatu yang kemarin sore ingin dia sampaikan pada Sandy, sesampainya di depan rumah Airin, ternyata rumahnya sudah dalam keadaan kosong, Rio yakin saat ini Airin sudah tiba di sekolah, lalu dia melanjutkan perjalanan menuju sekolah mereka.
Airin !!” Rio berteriak ketika melihat Airin akan melangkah masuk kedalam gerbang sekolah, “ayo ikut aku sekarang !” perintah Rio menarik tangan Airin sedikit kasar, “hei, kau ini ! bisa tidak jangan kasar seperti itu padanya ?” bentak Boby yang ternyata sedang berjalan bersama Airin, “aku tidak punya banyak waktu, ayo Airin !” ujar Rio lagi, kini dia menarik tangan Airin sedikit lebih kuat, “lepaskan ! ada apa ? mana seragam sekolahmu ? kau ingin mengajakku bolos sekolah ?” tanya Airin tidak suka di perlakukan seperti itu, “nanti aku jelaskan, ayo masuk!” ajak Rio lagi dan kali ini dia memapah Airin masuk ke mobilnya, dan meletakan tongkat milik Airin di kursi penumpang bagian belakang.
Maafkan aku, aku yakin kau masih kesal denganku dan juga Sandy, tapi saat ini keadaannya tidak memungkinkan untuk membahas masalah itu” ujar Rio saat mereka sudah dalam perjalanan, “apa mau mu ?” tanya Airin dingin, “itu ! gantungan itu, aku melihat tulisan yang sama dengan gantungan ponsel mu itu” ucap Rio sambil melirik mainan ponsel Airin, “apa maksudmu ?” tanya Airin lagi,
aku Jery, kau ingat ? teman masa kecilmu yang dulu selalu membuatkan istana pasir untukmu, kau ingat aku bukan ? kau biasa memanggilku rubah kecil, kau ingat ?
hah, bicara apa kau ini ? aku tidak mengerti!
jujur saja ! kau Ayi bukan ? kelinci kecil yang dulu pergi menghilang begitu saja 10 tahun yang lalu
j’ai longtemps essaye de t’oublier –sudah lama aku berusaha melupakan kalian
kenapa !? kau tahu, Sandy ! maksudku Alex, yang pertama kali mengenali siapa dirimu. Por que no nos recono cen –kenapa kau tidak mengenali kami ?” kali ini Rio memasukan bahasa Spanyol dalam kalimatnya,
te odio –aku benci kalian” jawab Airin juga dengan bahasa Spanyolnya,
apa salah kami padamu ? kau benci pada Rio dan juga Sandy atau pada Alex dan Jery ?
pourquio cherchez-vous –kenapa kalian mencariku ?
kenapa katamu !?
oui –iya, quest-ce que vous attendez de quehu’un comme moi –apa yang kalian harapkan dari seseorang sepertiku ?” tanya Airin lagi, masih berusaha tidak memperlihatkan wajah dukanya pada Rio, dia juga berusaha tidak terlihat kaget dengan kenyataan yang kini ada di depannya, mereka masih terus berdebat mulut, terkadang menggunakan bahasa Spanyol, terkadang Prancis, sepertinya Rio memang masih ingin memancing untuk Airin berbahasa Spanyol, setidaknya jika Airin bisa menjawab kalimatnya dengan benar, itu akan membuat dia semakin yakin dengan perkiraannya.
\
Ayo turun, aku akan mengambilkan tongkat mu” ajak Rio saat mereka tiba di parkiran rumah sakit, “aku tidak terlalu membutuhkannya lagi, untuk apa kita kesini ?” jawab Airin masih dengan nada tak bersahabat, “benarkah ? kakimu sudah pulih ?” tanya Rio tidak percaya, “sedikit lebih baik, aku yakin aku tidak memerlukannya lagi” jawab Airin tegas, “baiklah, ayo ikuti aku” jawab Rio tanpa sadar menggenggam tangan Airin, “lepaskan, aku bisa jalan sendiri” ujar Airin melepaskan pegangan Rio, “baiklah” jawab Rio akhirnya.
Rio membawa Airin masuk ke sebuah kamar pasien, di benaknya semua pikiran buruk bergemuruh tak tentu arah, dia tidak tahu apa yang akan di perlihatkan Rio padanya setelah ini, “kau lihat ?” tanya Rio saat mereka sudah berdiri di sebelah ranjang tempat Sandy terbaring tak sadarkan diri, air mata Airin tiba tiba menetes tanpa dia sadari, tak ada satu kalimat pun yang bisa dia ucapkan, meskipun sebenarnya ada seribu pertanyaan yang mengganjal di dasar hatinya, Rio menyandarkan kepala Airin di pundaknya, membiarkan Airin menangis dalam diam, setidaknya dia tidak membiarkan Airin menangis sendirian seperti beberapa waktu yang lalu, saat dia melihat Airin menangis penuh putus asa, “tak ada satu orang pun yang tahu jika dia mengidap sebuah penyakit, dia juga tidak pernah menceritakan apapun pada ku, aku membawamu kesini hanya karena aku tahu, bahwa selama ini dia mencarimu” cerita Rio berusaha menjelaskan semuanya pada Airin, “kau tahu ? aku yang membuatkan istana pasir sore itu, dia bilang kalau aku yang membuatkannya untukmu mungkin kau akan suka, sama seperti saat kita kecil dulu, meskipun rencananya tidak berjalan dengan baik, rencananya yang lain adalah mengetahui alasan kenapa kau begitu menyukai ice cream, yang ternyata lagi lagi gagal untuk kami dapatkan jawaban yang sesuai harapan kami, terakhir kelinci, dia sangat optimis dengan rencananya kali ini, meskipun akhirnya kau memang menyukainya, tapi kau memaksa kami untuk mengambilnya kembali bukan ?” Rio memberi jeda panjang pada ceritanya, sembari berharap bahwa Airin tidak menangis lagi, “satu satunya hal yang tidak berubah darimu adalah ice cream, kau pernah bilang bahwa kau adalah orang pertama di dunia ini yang menyukai ice cream vanilla bukan ? seharusnya sejak awal aku menyadarinya, dan ruuruu adalah nama kelinci kesayangan mu yang hilang karena kecerobohan kami, benar bukan ? lagi lagi aku melewatkan petunjuk itu, petunjuk bahwa kau lah kelinci kecil kami. Airin, aku mohon jangan menangis lagi” ucap Rio memohon sembari menghapus air mata Airin, tapi Airin masih belum bisa menghentikan tangisnya, air matanya seolah memang sudah lama tertahan di ujung matanya, jika dia ingat kenangan masa kecilnya, “kau tahu ? aku sengaja bersekolah kesini, tinggal jauh dari orang tua ku, sebenarnya hanya untuk mencarimu, tapi bodohnya aku yang sangat tidak mengenalimu” ujar Rio lirih, “maafkan aku, aku yang salah, aku pergi begitu saja meninggalkan kalian, sejujurnya aku sangat kesepian tanpa kalian, aku bersusah payah menghapus semua banyangan tentang kalian dan berusaha memulai hidupku yang baru, aku berhenti memelihara kelinci, aku melupakan istana pasir itu, aku juga berusaha melupakan alasan kenapa ice cream vanilla adalah favoritku, menurutku itu semua tidak penting, aku juga tanpa sengaja menghilangkan satu satunya foto kenangan masa kecil kita dulu, meskipun akhirnya aku sangat merindukan foto itu” Airin bercerita dengan nada suara penuh penyesalan, dia kini duduk di kursi yang persis berada di sebelah ranjang Sandy, “ini….” Airin memberikan kertas gambarnya pada Rio, kertas gambar yang selalu menemaninya kapan pun dan dimana pun, tanpa ada yang tahu “ini…kau yang menggambar ini semua ?” Rio terlihat kaget dan takjub melihat semua gambar gambar itu, halaman demi halaman di lihatnya, hampir semua halaman di buku itu berisi gambar 3 anak kecil sedang bermain bersama, “dan ini …. ? bukankah ini di danau ?” Rio menunjuk sebuah gambar 3 sahabat yang sedang duduk bersama di tepi danau yang sangat di kenalnya, Airin tersenyum kecil mendengar kalimat itu, “ternyata kita sudah pernah pergi ke tempat itu bersama, hanya saja kita belum saling menyadari siapa saja kita yang sebenarnya” ucap Airin datar, tiba tiba Sandy menggerakan jarinya pelan, Airin yang memang sedang menggenggam jemari Sandy, merasa kaget bercampur bahagia karena akhirnya Sandy sadarkan diri, “Sandy, kau sudah sadar ?” tanya Airin buru buru, dia tidak sabar mendengar jawaban Sandy, “dimana aku saat ini ?” tanya Sandy terbata bata, matanya tampak menerawang, penglihatannya masih belum sempurna, dia merasakan kepalanya sangat sakit, hanya saja dia merasa seolah mendengar suara Airin, suara yang sangat di kenalnya, “Sandy ! aku akan memanggil dokter, Airin kau temani dia” ucap Rio sigap.
Il va bien, au moins il a passé avec succès la période critique –dia baik baik saja, setidaknya dia sudah berhasil melewati masa kritisnya” ujar dokter setelah memeriksa keadaan Sandy, lalu dia pergi meninggalkan mereka, “hallo kelinci kecil, kau sudah tumbuh menjadi gadis yang dewasa ya sekarang ?” ucap Sandy yang mulai merasa stabil, Airin menyembunyikan dukanya di balik senyumannya, dia berusaha tidak menunjukan kesedihannya pada kedua sahabatnya, terutama pada Sandy, “aku baik baik saja” ucap Sandy lagi, seolah mengerti arti tatapan Airin, tiba tiba seorang wanita yang usianya tidak berbeda jauh dengan ibu Airin, memasuki kamar pasien tempat mereka berada, bersama seorang pria yang bebadan tegap menggunakan jas hitam, wanita itu langsung mendatangi Sandy dan memeluknya, “ibu, aku bukan anak kecil lagi, jangan peluk aku seperti ini” ujar Sandy berusaha tersenyum di pelukan ibunya, “kenapa bisa seperti ini ?” tanya laki laki dewasa itu dengan tatapan teduhnya, “ayah, aku baik baik saja, percayalah” ucap Sandy lagi, berusaha meyakinkan kedua orang tuanya, “caramba, verdad –astaga, apakah itu mereka ?” kali ini perhatian ibunya Sandy tertuju pada Airin dan Rio, yang sedari tadi hanya memandangi mereka, “apa kabar…” ucap Rio dan Airin bersamaan  memberikan salam pada keduanya, “kalian, Ayi dan Jery bukan ? ah rasanya sangat mustahil bisa melihat kalian disini” ujar wanita itu lagi, masih dengan bahasa Spanyolnya, dan keduanya hanya tersenyum, “disini mereka lebih sering di panggil Rio dan Airin ibu” ujar Sandy meluruskan pernyataan ibunya, “lihat, ibu masih belum bisa percaya kalau ini mereka, mereka sudah tumbuh besar sepertimu Alex” ungkap ibunya Sandy lagi, “ibu, cukup biarkan mereka duduk dengan tenang disana, seharusnya ibu memberikan selamat padaku karena berhasil menemukan mereka kembali” ucap Sandy lagi, kali ini Airin dan Rio saling bertukar pandang dan tertawa kecil, “kami senang bibi masih mengingat kami” ucap Rio ramah, dia berusaha sejenak melupakan dukanya atas keadaan Sandy, “apakah benar kalian saat ini bersekolah di tempat yang sama ?” tanya ayah Sandy kali ini, “iya paman, betul sekali” jawab Airin masih terlihat kaku, setelah beberapa lama mereka disana, Rio memutuskan untuk mengajak Airin pulang, mereka tidak ingin menganggu kebersamaan keluarga itu terlalu lama, jadi setelah pamit, Rio segera mengantarkan Airin kembali kerumahnya.
\
Rio menghentikan laju mobilnya tepat di depan rumah Airin, sepanjang perjalanan mereka hanya saling diam, bergelut dengan pikiran masing masing, “terima kasih kau sudah mau mengantarkan ku” ucap Airin datar, saat Rio membukakan pintu mobilnya untuk Airin, “sama sama. oh iya Airin ?” jawab Rio sembari bertanya karena teringat sesuatu, “kenapa rumah mu terlihat sepi akhir akhir ini ?” lanjut Rio lagi, “ayo masuk dulu, aku akan membuatkan minum untukmu” ujar Airin menunda jawabannya, Rio menyetujui dan duduk di teras depan rumah Airin sembari menunggu Airin mengambilkan minum untuknya, “ini, silahkan. ayah dan ibu sebenarnya sedang berada di Spanyol, adik perempuan ayahku akan melangsungkan pesta pernikahan, awalnya keduanya mengajakku untuk ikut dengan mereka, tapi aku menolaknya dengan alasan tidak ingin bolos sekolah” cerita Airin menjawab pertanyaan Rio tadi, “lalu sampai kapan mereka disana ? kau hanya sendiri saja di rumah ?” tanya Rio sembari menyeruput minumannya, dan Airin menggidikan bahunya tanda tak tahu, “ya sudah, kau jangan bersedih lagi, sepintar apapun kau menyembunyikan kesedihanmu, itu masih akan terlihat di mataku” ucap Rio tanpa melihat langsung kearah Airin, Airin mengangkat wajahnya, dia tahu bahwa yang Rio katakan tentanggnya itu benar, “aku hanya…” “kau hanya merasa kaget bahwa 2 orang kakak kelas mu yang menyebalkan itu ternyata adalah kami bukan ? terlebih lagi, kenyataanya satu di antara kami sedang bertarung melawan penyakitnya saat ini” potong Rio sebelum Airin menyelesaikan kalimatnya, dan lagi lagi Airin menunduk menyembunyikan dukanya,
bagaimana mungkin aku tidak mengenali kalian sama sekali, sedangkan kalian mengenaliku dengan baik ?
apa !?
aku hanya berfikir, kalau pun saat ini kita bertiga kembali bersama, namun waktu akan tetap berjalan, dan dalam hitungan bulan saja, kita lagi lagi akan terpisah, lalu untuk apa kita di pertemukan seperti ini jika akhirnya akan terpisah kembali ?
bagaimana kau bisa berfikir seperti itu ?
tentu saja aku memikirkannya! Sandy bilang, dia akan melanjutkan sekolahnya ke universitas di Seoul
benarkah ?
iya, dia sendiri yang mengatakannya pada ku
oh begitu ya ? apakah kau juga tidak menyukai Seoul ?
apa ?
jawab dulu pertanyaanku
tidak, aku suka Seoul
kalau begitu, kau seharusnya tidak mencemaskannya
kenapa ?
karena jika kau mau, kau bisa mengunjunginya, betul bukan ?
hm, mungkin…
sedangkan aku akan kembali ke kota yang kau tidak sukai itu, kota yang sangat indah menurutku
hmm….
jadi kemungkinan kau akan mengunjungi ku, sangat mustahil bukan ?
apa !?
rasanya tidak adil kalau kau membenci kota itu, hanya karena alasan kenanganmu terlalu indah selama kau disana
itu, kau sungguh sungguh akan kembali ke Spanyol ?
tentu saja, kedua orangtua ku ada disana” Airin menunduk lesu mendengarkan pernyataan Rio barusan, rasanya semakin sia sia pertemuan mereka bertiga saat ini, pertemuan yang ada di depan pintu perpisahan, “seharusnya, jika kalian memang menemuiku hanya untuk meninggalkanku, untuk apa kalian datang ?” tanya Airin dengan suara yang sedikit bergetar, “kalian ingin balas dendam padaku ? seperti dulu saat aku meninggalkan kalian ?” lanjut Airin lagi, “tidak, bukan begitu! Setidaknya kita semua sudah dewasa saat ini, jadi jarak dan waktu tak akan mempengaruhi persahabatan kita” jawab Rio berusaha mengembalikan emosi Airin agar kembali tenang, “baiklah, berikan aku waktu untuk bersiap menerima kepergian kalian!” ucap Airin terdengar penuh kekecewaan, “Airin, aku yakin kelak kau bisa menerima keadaan ini, baiklah sudah malam aku harus segera pulang, kau jaga diri baik baik ya ? bonne nuit –selamat malam” ujar Rio, dia beranjak dari duduknya, mengelus kepala Airin dengan lembut dan sejenak tersenyum padanya, lalu pergi meninggalkan Airin sendiri disana, “udaranya cukup dingin ! kau harus segera masuk !” teriak Rio yang sudah berada dalam mobilnya sembari melambaikan tangan, sedangkan Airin masih diam seribu bahasa dan perlahan masuk kedalam rumahnya.
\
Musim sudah berlalu, tibalah hari ini para siswa kelas 3 melaksanakan acara perpisahan pada malam pergantian musim dingin, Airin berjalan dengan tatapan kosong, sembari mendorong sebuah kursi roda yang di duduki oleh Sandy, sedangkan Rio berjalan di sampingnya, Sandy dan Rio yang masih belum menggunakan jas musim dingin mereka, mengibaskan jas keduanya di depan wajah Airin, lalu Rio tiba tiba memakaikan jas sekolahnya di punggung Airin, “hey kelinci kecil, kami akan segera menjadi seorang mahasiswa, seharusnya kau senang!” ucap Rio saat Airin mulai bereaksi dan sadar dari lamunannya, “kalian ini, sepanjang perjalan kalian sudah puas menjahiliku, masih ingin mengerjaiku lagi ?” ucap Airin menutupi wajah dukanya, sedangkan Sandy hanya tertawa kecil melihat keduanya, “heh, kelinci kecil, kau lupa kalau kami lebih tua 1 tahun darimu ? seharusnya kau memanggil kami dengan panggilan frère aine –kakak !” kali ini Sandy ikut menjahili Airin yang mulai terlihat kesal karena mereka selalu menjahilinya, “apa !? kakak ? kalian itu seharunya aku panggil dengan sebutan grand-pere –kakek, itu baru tepat !” jawab Airin sembari menjauh saat melihat Sandy dan Rio akan melempari Airin dengan jas sekolah mereka, “bukankah kau akan kuliah di Seoul ? seharusnya aku memanggilmu hyeong –kakak laki laki (untuk laki laki), benar bukan ?” ujar Rio kali ini, “iya sepertinya memang begitu, tapi tunggu ! bukankah usia kita sama ?” kali ini Sandy sedikit protes, “tidak oppa –kakak laki laki (untuk perempuan), usia Rio jauh lebih muda dari mu beberapa bulan” kali ini Airin ikut menyambung percakapan keduanya, “kalian tahu dari mana sebutan itu ?” tanya Sandy masih dengan wajah tidak terima, “hha, bukankah kamus bahasa Korea mu hilang seminggu yang lalu hyeong ?” jawab Rio dengan tatapan nakal, “iya oppa, seharusnya kau lebih berhati hati pada kami” kali ini Airin kembali menyahuti, “kalian ini ! awas ya !” kali ini Sandy memasang ekspresi geramnya dan bersiap mengejar keduanya, namun keduanya sudah terlanjur lari meninggalkannya, “hei ! kalian lupa kalau aku menggunakan kursi roda ? kenapa kalian meninggalkanku ? hei tunggu !” teriak Sandy pada keduanya, sedangkan Rio dan Airin hanya pura pura tidak mendengar, “annyeonghaseyo oppa –selamat pagi kakak ?” sapa Yui dan Miya yang tiba tiba sudah ada dibelakangnya, “perlu bantuan oppa ?” kali ini Miya menggerling nakal, “kalian ini, apakah kalian juga belajar bahasa Korea ?” tanya Sandy heran, “hha, kau ini lucu sekali, kami hanya sering menemani Rio dan Airin belajar bersama, itu saja” ucap Yui berbisik, “apa !? jadi selama ini mereka belajar bersama ? dengan kamus ku ?” tanya Sandy lagi, dan keduanya hanya mangangguk mengiyakan, lalu mereka membantu Sandy untuk segera menyusul Airin dan Rio yang sudah lebih dulu masuk ke aula sekolah.

to be continue . . .