Senin, 22 Agustus 2011

Rectangular Love™ 3


Sudah 10 jam berlalu, Sandy yang sudah sadarkan diri sejak beberapa jam yang lalu, ternyata hanya mengalami luka ringan di lengan kirinya, meskipun lengannya itu harus di perban selama beberapa hari. Saat ini Airin terbaring lemah di hadapannya, kaki kiri Airin mengalami patah tulang ringan dan harus di gips dan dia juga mengalami benturan yang cukup keras di kepalanya, jujur Sandy sangat kesal dengan keadaan seperti ini, karena dia merasa gagal melindungi Airin, dia juga menyesal karena telah mengajak Airin untuk pulang dengan jalan kaki, “maafkan aku, aku mohon maafkan aku” ujar Sandy berulang kali pada Airin, meskipun dia yakin Airin belum bisa mendengarnya, hanya saja Sandy berjanji pada dirinya sendiri akan merawat Airin hingga benar benar pulih dari sakitnya.
\
Hari ini, adalah upacara di hari pertama semester baru, liburan 2 minggu yang tidak terlalu singkat, membuat Airin sedikit kesulitan untuk bangun di pagi hari, “Yui, apakah Airin sudah datang ? aku belum melihatnya sama sekali, padahal sebentar lagi upacara akan segera dimulai ?” tanya Miya pada Yui yang sepertinya memang datang lebih awal darinya, “mungkin dia memang belum datang, Boby juga baru saja menanyakan hal yang sama padaku” jawab Yui sembari menebarkan pandangannya ke seisi aula sekolah, “Yui, apakah itu Airin ?” Miya terpaku pada satu sisi aula sekolahnya, dia mengarahkan telunjuknya untuk memberi tahu Yui, dalam hati dia berharap bahwa penglihatannya salah, tapi beberapa detik kemudian mereka berlari dengan cepat menuju tempat Airin berdiri, “Airin ! ada apa denganmu ? tu vas bien –kau baik baik saja ?” tanya Yui yang langsung berusaha membantu Airin berjalan, bahkan mereka tidak menghiraukan keberadaan Sandy disana, “Airin kau kenapa ? ada apa denganmu ? kenapa bisa seperti ini ?” Miya melontarkan pertanyaan bertubi tubi pada Airin, tapi Airin hanya diam, “sebaiknya kalian jangan membuatnya bingung” ucap Sandy menengahi ketiganya, “kau, apakah kau yang menyebabkan Airin menjadi seperti ini ?” ujar Yui menghardik Sandy, “oui –iya, hm… aku yang menyebabkan dia jadi seperti ini” jawab Sandy tegas penuh sesal, “bukan! aku baik baik saja, kalian tidak usah khawatir” Airin akhirnya mau bersuara kali ini, “Airin, untuk apa kau membelanya ?” tanya Miya dengan tatapan khawatir, “selama sisa liburan, dia yang merawatku di rumah sakit, tolong jangan salahkan dia” ucap Airin lagi, dan dengan susah payah dia berjalan menggunakan tongkat pergi meninggalkan ketinganya, Airin tidak ingin teman temannya jadi bermasalah hanya karenanya, lagi pula dia sedang ingin menyendiri saat ini.
\
Saat sedang menggambar di kursi taman belakang sekolah, Keyra tiba tiba datang dan menendang tongkat milik Airin yang ia sandarkan di kursi taman di sebelahnya, karena tongkat itu terjatuh agak jauh dari tempat duduknya, tentu saja dia tidak bisa melakukan apapun, sedangkan Keyra hanya tersenyum menang dan merampas buku gambar milik Airin, “hey gadis cacat, untuk apa kau pergi kesekolah ? kabur dari upacara dan kau malah duduk disini melakukan hal bodoh dengan menggambar ?” ujar Keyra sambil membolak balik kertas gambar milik Airin, “apa mau mu ?” tanya Airin mulai kesal, “aku ? aku tidak ingin apa pun dari mu, aku hanya ingin kau menjauhi Sandy” ucap Keyra dengan nada mengancam, “apa maksudmu ? apa kau lupa, kau pernah meminta hal yang sama pada ku tentang Rio, kenapa sekarang Sandy ?” tanya Airin lagi,
hm, iya kau benar, ternyata kau memiliki ingatan yang cukup baik, kau tahu aku memang menginginkan Rio sejak lama, tapi aku juga menyukai Sandy, minimal jika aku tidak mendapatkan Rio, aku bisa mendapatkan Sandy
apa ? kau licik sekali !
kau baru tahu ya kalau aku orang yang licik ?
kembalikan buku gambarku !!
ini, aku kembalikan !” ujar Keyra melempar buku gambar Airin tepat mengenai kaki Airin, “hentikan !” Rio yang tidak sengaja melihat mereka ditaman tiba tiba datang dan membantu Airin mendapatkan tongkatnya kembali, dengan menahan sakit sambil sedikit meringis, Airin berusaha berdiri dia ingin segera pergi dari sana, “hey, tunggu!” Rio menyusul langkah Airin dan membantunya berjalan masuk ke gedung sekolah, meninggalkan Keyra yang masih kesal melihat sikap Rio yang tidak menghiraukan dirinya sama sekali.
\
 Apa yang terjadi padanya ? kenapa kau tidak menceritakan hal ini pada ku ?” tanya Rio saat istirahat makan siang pada Sandy, “dia siapa ? siapa yang kau maksud ?” tanya Sandy tidak mengerti, “hff! dia…” ujar Rio memberikan kode dan melirik kearah Airin yang saat ini sedang duduk bersama dengan Boby, Yui serta Miya di salah satu sudut kantin sekolah, “itu…” jawab Sandy memulai ceritanya, dan menghentikan makan siangnya untuk sementara, “aku yang menyebabkannya jadi seperti itu, sepulangnya kami dari rumah kakek, ibuku dalam kondisi mabuk, mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi dan menabrak kami yang sedang berada di pinggir jalan, aku sudah berusaha untuk menyelamatkannya, tapi aku gagal, dan sejak itu aku yang merawatnya selama di rumah sakit, aku sudah berjanji pada diriku sendiri, akan merawatnya hingga dia benar benar pulih” cerita Sandy panjang, raut wajahnya tampak tidak bersemangat mengingat kejadian yang menimpa mereka saat itu, “apa maksudmu ! apakah dia tahu bahwa yang menabrak kalian adalah mobil ibumu !? kau benar benar ceroboh, menjaganya saja tidak bisa !” Rio berkata dengan nada emosi, lalu pergi meninggalkan Sandy, tak lama kemudian Sandy pun pergi meninggalkan makan siangnya, dia sudah merasa tak berselera lagi melanjutkan makan siangnya, ‘aku tahu aku salah, ya aku memang pantas di salahkan’ ucap Sandy berulang kali di dalam hatinya.
\
Bel pulang sekolah baru saja berbunyi, Sandy bergegas menuju kelas Airin, sesuai janjinya, dia yang akan mengantar jemput Airin mulai saat ini, hingga Airin benar benar pulih dari sakitnya, “mau kemana kau ?” tanya Rio dengan tatapan benci pada Sandy, “hey ada apa denganmu ? kau masih kesal denganku ? aku ingin mengantarkan Airin pulang, bukankah aku sudah mengatakannya padamu ?” jawab Sandy berusaha melewati Rio yang sengaja menghadang jalannya menuju kelas Airin, “kau tidak becus menjaganya, lebih baik dia pulang bersamaku” jawab Rio masih dengan tatapan dinginnya, “permisi, aku mau lewat” Airin tiba tiba muncul dari bibir pintu kelasnya, “sini, aku bantu, aku akan mengantarkanmu sampai kerumah” ujar Rio menawarkan bantuannya pada Airin, “tidak usah terima kasih, aku bisa pulang sendiri” jawab Airin menolak, “kau ini, aku yang akan mengantarnya sampai ke rumah kau pulang saja” kali ini Sandy ikut bereaksi untuk membantu Airin, “hey bukankah kalian siswa kelas 3 ? sedang apa disini, ayo Airin aku antar kau pulang” Boby menerobos keduanya dan membawa Airin pergi dari sana, Airin sebenarnya tidak ingin merepotkan siapa pun, dia hanya diam saja saat berjalan bersama Boby menuju gerbang sekolah, “aku bisa pulang sendiri, kau pulang saja duluan, rumah kita berlawanan arah bukan ? aku tidak ingin menyusahkanmu” ucap Airin saat mereka tiba di gerbang sekolah, “tidak, aku akan mengantarkanmu hingga kau tiba di rumah” jawab Boby menolak, “aku bilang aku bisa pulang sendiri ! sebaiknya kau tidak usah memperlakukan ku seperti ini” kali ini Airin bicara sedikit berteriak, dia benci jika orang orang mengasihaninya, “huhff, baiklah tapi aku akan memanggilkan taksi untukmu
tidak, tidak perlu aku bisa berjalan kaki
tidak mungkin, kau saja masih menggunakan tongkat untuk berjalan, aku tidak akan tega membiarkanmu pulang sendiri dengan berjalan kaki
aku mohon, tinggalkan aku, aku akan baik baik saja!” kali ini Airin lagi lagi berteriak pada Boby, “baiklah, kau hati hati ya di jalan” ujar Boby menyerah dan berbalik arah, sedangkan Airin melanjutkan perjalannya menuju rumah. Baru beberapa langkah berjalan, Boby membalikkan badannya, dan diam diam dia membuntuti Airin hingga Airin sampai di rumahnya, begitu juga dengan Rio dan Sandy, yang menggunakan kendaraan mereka masing masing, hanya saja ketiganya tidak ada yang saling mengetahui.
\
Sore ini, sama seperti yang sudah dilakukan Sandy sejak hampir 1 minggu sisa liburan sekolah kemarin, menemani Airin untuk berjalan jalan sore hari demi kesembuhan kakinya, dia sengaja membawa kendaraan miliknya kali ini, padahal biasanya dia hanya membawanya saat pergi ke sekolah, saat Sandy tiba di depan gerbang rumah Airin, ternyata Airin sedang duduk di kursi taman rumahnya bersama seorang laki laki yang diperkirakan Sandy adalah ayah Airin, karena  menurut Sandy usia laki laki itu tidak berbeda jauh dengan usia ayahnya, “selamat sore” sapa Sandy saat memasuki pekarangan rumah Airin, “wah sore, apakah dia temanmu Airin ?” ujar pria berusia 40 tahunan itu bertanya sembari bertukar pandangan pada Airin dan Sandy, “ah iya ayah, kenalkan namanya Sandy, dia murid baru di sekolahku, dia bilang dia pindahan dari Spanyol ayah” jawab Airin, entahlah sepertinya Airin kurang tertarik dengan tempat asal Sandy tersebut, “wah, benarkah ? ayo silakan duduk, dong tu est Espagnole –jadi kau orang Spanyol ? , maaf Airin sudah sejak lama tidak menyukai tempat itu, jadi maaf  ya kalau dia sedikit kasar kepadamu ?” ucap ayah Airin lagi, yang sepertinya melihat tatapan sedikit kurang bersahabat dari sudut mata Airin pada Sandy, “tidak apa paman, aku sudah biasa menghadapinya” jawab Sandy sambil tersenyum tak kalah ramah dengan ayah Airin, “kau ada perlu apa datang kerumahku ?” tanya Airin berikutnya, “aku sedang tidak ingin keluar rumah” lanjut Airin sebelum Sandy sempat menjawab, sebenarnya Airin tahu Sandy pasti akan mengajaknya ke taman sore ini untuk berlatih seperti biasa, demi kesembuhan kaki Airin juga, tapi kejadian di sekolah hari ini, membuat dia sedikit merasa harus menjaga jarak dengan Sandy, “sudah sudah, bagaimana kalau kau temani ayah mengobrol sebentar ? Ayi tolong kau buatkan minuman untuk kami berdua ya ?” potong ayah melerai keduanya, dengan sedikit terpaksa akhirnya Airin melaksanakan perintah ayahnya itu, “kau dari Spanyol nak ? apa pekerjaan orangtua mu ?” ucap ayah Airin membuaka obrolan mereka lebih dulu,
iya paman, ayah ku bekerja sebagai seorang pilot maskapai penerbangan Air France, sedangkan ibuku, dia seorang designer tapi namanya tidak begitu terkenal disini
wah, sepertinya kau anak yang beruntung ? lalu sudah berapa lama kalian pindah kesini ?
baru saja paman, sebelum liburan sekolah beberapa bulan yang lalu, ibuku merasa kalau Paris tempat yang paling tepat untuk melanjutkan kariernya, maka dari itu kami pindah kesini, kalau ayah dia hanya pulang kerumah sesekali saja
oh ya ? hm, kau membuatku ingat dengan tetangga dekat kami saat kami tinggal disana hampir 10 tahun yang lalu, entah apa kabar mereka saat ini
jadi, benar bahwa Airin pernah tinggal di Spanyol ?
tentu saja, dia lahir di kota itu dan saat dia berusia 7 tahun kami pindah kesini, karena kakek dan nenek Airin yang memintanya, ya tapi karena alasan pekerjaan, kami memutuskan untuk tinggal di kota saja” ujar ayah Airin dengan pandangan menerawang, tepat sebelum Airin datang dengan 2 gelas jus strawberry untuk mereka.
\
 Hei kau, berhenti! aku ada perlu denganmu” seseorang menahan langkah Rio saat ia akan masuk ke gerbang sekolah, “kau berbicara denganku ?” tanya Rio dengan gayanya seperti biasa, “siapa lagi kalau bukan kau ?” Boby berjalan mendekat pada Rio yang sepertinya tidak tertarik sama sekali meladeni junior seperti Boby, apa lagi Boby adalah siswa dari kelas 2f, kelas yang standar nilainya paling rendah di sekolah Un Lycee, “katakan padaku, siapa yang telah membuat kaki Airin terluka !?” tanya Boby sambil mencengkram kerah seragam sekolah Rio, “hei lepaskan ! aku yang menyebabkan dia seperti itu, kau seharusnya mendatangiku, bukan dia !” Sandy yang baru saja datang dan melihat kejadian itu langsung angkat bicara, “oh ternyata siswa baru ini ? Airin punya salah apa padamu sehingga kau membuat dia jadi seperti itu ?” terlihat amarah dari tatapan Boby, tapi Sandy hanya menanggapinya dengan santai, “aku tidak sengaja melakukannya” jawab Sandy tanpa menatap lawan bicaranya, baik Rio ataupun Boby, “kau ini ! sepertinya kau tidak merasa bersalah telah membuatnya jadi seperti itu” ujar Boby lagi, sedangkan Rio hanya diam melihat keduanya, dia bingung harus mengatakan apa, Rio tahu siapa Boby, dia adalah teman sekelas Airin yang sudah lama menyukai Airin, tapi Boby tidak pernah berusaha menyampaikannya pada Airin, jika dia ada di posisi Boby saat ini, mungkin hal yang sama juga akan dilakukan Rio sejak dia mengetahui siapa yang membuat Airin menjadi seperti itu saat ini, “tidak mungkin aku sengaja melakukannya, lagi pula aku yang merawatnya sejak dia di rumah sakit, hingga saat ini, aku akan terus menjaganya hingga kakinya benar benar sembuh” ujar Sandy membela diri, “sebaiknya kau tidak melakukan apa apa lagi pada Airin, aku takut kau akan membawa kesialan padanya” ujar Boby lagi, mendengar kalimat itu, Rio tiba tiba saja melayangkan 1 pukulan pada Boby, dan tepat mengenai hidung Boby yang langsung jatuh tersungkur dan terlihat darah segar mengalir dari hidungnya, “sebaiknya kau befikir terlebih dahulu sebelum berbicara seperti itu pada temanku ! ingat itu !” ujar Rio selanjutnya dan pergi begitu saja, Sandy pun ikut pergi dari sana saat lengannya di tarik paksa oleh Rio.
\
Selama jam istirahat sekolah, Airin memutuskan tetap berada didalam kelasnya, sedangkan Miya dan Yui menemaninya sembari berbagi cerita tentang kegiatan mereka selama mereka libur sekolah, “kau tahu ? kami beberapa kali mendatangi rumahmu, tapi kau selalu tidak ada di rumah ? ponselmu juga sering tidak aktif  ?” gerutu Yui sambil memonyongkan bibirnya, sedangkan Airin hanya tersenyum singkat mendengarnya, “iya, salah satunya ibumu bilang, kau sedang ke toko buku dengannya, dengan Rio! Benarkah itu ?” kali ini Miya menimpali dengan sedikit berbisik, dan Airin hanya mengangguk lesu, “ini untuk kalian, kenapa kalian tetap berada dikelas ?” Boby tiba tiba datang dan membawakan cemilan untuk ketiganya, ada sedikit memar di wajahnya, karena pukulan Rio tadi pagi, “merci –terima kasih” ujar Yui dan Miya bersemangat, sedangkan Airin hanya diam tidak memberi respon, “aku rindu Spanyol….” ucap Airin tiba tiba, suaranya nyaris tidak terdengar, tapi Miya dan Yui yakin betul bahwa Airin baru saja menyebutkan kata ‘Spanyol’ tadi, “hei kau kenapa ?” tanya Boby dengan pandangan khawatir pada Airin, “sudah jangan ganggu dia” Miya meminta pada Boby untuk tidak mengusik Airin saat ini, Boby hanya bisa menuruti permintaan teman sekelasnya itu, dan duduk di kursi belajarnya sembari sesekali memperhatikan Airin yang terlihat sedang tidak baik saat ini, “Airin, kau kenapa ?” tanya Yui sesaat setelah Boby menjauh dari ketiganya, “kemarin Sandy datang dan bercerita panjang lebar dengan ayah tentang Spanyol, jujur aku merindukan suasana disana, tapi aku juga benci dengan kenangan selama aku disana” ucap Airin sembari memandang lurus keangkasa melalui jendela kelas mereka yang memang terletak dilantai 4 gedung utama sekolah, “sudah lama kami tidak mendengarkan kau bercerita tentang kota itu ? apakah ada seseorang yang kau rindukan disana saat ini ?” tanya Miya penasaran, Airin mengangguk pelan, dia sendiri tidak yakin apakan teman temannya masih berada di kota itu saat ini, “seingat ku, beberapa tahun yang lalu kau memperlihatkan foto mu dengan teman teman masa kecilmu disana ? apakah mereka yang kau rindukan ?” tanya Yui mengingat ingat, “iya sepertinya memang mereka yang aku rindukan, tapi …” Airin menggantungkan kalimatnya, dan menukar pandangannya pada kedua sahabatnya, “….tapi aku sudah lama kehilangan foto itu, itu semua karena kecerobohanku !” ucap Airin sedikit tertahan, seolah nafasnya tercekat mengatakan hal itu, sedangkan Yui dan Miya tidak tahu harus melakukan apa untuk menolong Airin saat ini.
\
Lapangan tenis terlihat ramai saat bel pulang sekolah, sepertinya akan ada sesuatu disana, karena penasaran, Yui dan Miya segera mengajak Airin turun menuju lapangan tenis  yang berada di belakang gedung sekolah, “tidak aku tidak ingin kesana, kalian saja aku ingin segera pulang kerumah” tolak Airin pada keduanya, karena mereka tidak tega meninggalkan Airin sendiri, akhirnya keduanya membatalkan niat mereka sebelumnya, “ayo kita lihat, mereka bilang kak Sandy dan kak Rio yang akan bertanding, dengar dengar mereka melakukan taruhan !” ucap beberapa murid perempuan dengan gaya centilnya yang saat itu melewati Yui, Miya serta Airin pada temannya, mendengar hal itu, Airin jadi penasaran, tapi karena keadaan dirinya sedang tidak memungkinkan, dia memutuskan untuk melihat keduanya dari lantai atas yang memang langsung mengarah pada lapangan tenis.
Sementara di tengah lapangan tenis, Rio saling beradu pandang dengan Sandy, seolah mereka bukanlah sepasang sahabat lama yang sempat terpisah sekian tahun, melainkan seperti dua orang yang menyimpan niat jahat didalam diri masing masing, “kau yakin ingin melawanku ? sudah menyerah saja !” ucap Rio menanyakan hal yang sama untuk kesekian kalinya pada Sandy, Rio yang memang sudah menjadi atlit tenis sejak 3 tahun yang lalu merasa, dia yakin akan menang melawan Sandy, hanya saja dia tidak terlalu menginginkan kemenangannya pada taruhan mereka sore ini. Tadi saat jam istirahat makan siang, Sandy secara terang terangan menantang dirinya untuk bertanding tenis, dan siapa pun yang menang, dia yang akan mengantarkan Airin pulang sekolah setiap harinya, meskipun Rio tidak mengerti apa maksud temannya itu, tapi Rio yakin bahwa sahabat masa kecilnya itu menyimpan ketertarikan yang sama seperti dirinya pada Airin.
Tidak, aku bukanlah tipe orang yang akan menyerah sebelum berperang” jawab Sandy dengan yakin, sementara Rio hanya menjawabnya dengan senyuman yang terasa sangat menjengkelkan bagi Sandy saat itu, dan keduanya pun memulai permainan mereka.
Airin masih memandangi keduanya dalam diam, sementara Yui dan Miya sibuk bersorak mendukung Rio dan Sandy secara bergantian, seolah kedua kakak kelas mereka itu akan mendengarkan teriakan mereka dari gedung lantai 3 sekolah mereka ini, “ayo kita pulang!” ucap Airin secara tiba tiba, mendengar hal itu, Miya dan Yui tiba tiba mengecilkan suara mereka, sepertinya mereka masih sangat ingin menikmati pertandingan itu sampai selesai, tapi sama seperti alasan mereka sebelumnya, mereka tidak tega membiarkan Airin pulang sendirian.
\
Aku sudah bilang dari awal bahwa aku pasti menang, kenapa kau masih saja keras kepala seperti dulu ? hha ….” ucap Rio sambil tertawa puas pada Sandy, setelah memenangkan pertandingan tadi, mereka duduk bersama di pinggir lapangan tenis, wajah Sandy terlihat sangat lelah setelah berusaha mati matian mengejar skor Rio, tapi usahanya sangat sia sia kali ini, “jadi, kau yang akan mengantarnya pulang sekolah setiap hari ?” ucap Sandy berikutnya, terdengar nada pasrah dalam suara nafasnya yang masih memburu, “kau ini! kau mengenalku sudah berapa lama ?
maksudmu ?
aku tidak akan membiarkan dia menjadi bahan taruhanmu !
baiklah dengan kata lain, kau membiarkan aku yang mengantar jemput Airin ?
tidak! aku yang akan menjaganya agar dia tidak selamanya menjadi mainan mu
heh kau! apa maksudmu ?
aku harap ini untuk yang pertama dan terakhir kalinya kau menjadikan Airin sebagai bahan taruhan!” ucap Rio dengan nada suara sedikit meninggi dan pergi meninggalkan Sandy yang sedikit merasa kesal padanya.
©
Sepuluh tahun yang lalu, Airin kecil menangis memberontak tidak ingin pindah sekolah, dia tidak ingin berpisah dengan teman temannya, Airin yang saat itu masih berusia 7 tahun, hanya bisa menangis dan berteriak menolak, tapi tetap saja, ayah dan ibunya membawanya terbang jauh dari Spanyol ke Prancis, kota yang asing baginya kala itu, tak ada teman baikknya, tidak ada taman bermain di belakang sekolah dan sejak saat itu, Airin yang dulunya selalu ceria, senyumnya jadi sangat jarang terlihat, temannya hanya selembar fotonya dan boneka tangan kecil yang berbentuk kelinci, foto 3 anak berusia 6 tahun yang saat itu sedang bermain sepeda bersama di taman belakang sekolah. Hari berganti minggu, bulan dan tahun, berbagai musim berganti membuat Airin perlahan terbiasa dengan keadaan di kota itu, menara cantik yang menjulang tinggi di pusat kota dan taman rindang yang berada di bukit kecil yang sering dia lalui jika pulang sekolah, dan disinilah Airin kini di kota ini.
Suatu hari karena kecerobohannya, tepat pada ulang tahunnya yang ke 10, dia menghilangkan foto sahabat masa kecilnya, sejak saat itu, dia berusaha untuk belajar menggambar, agar bisa tetap mengingat gambar kenangan masa kecilnya itu, hingga saat ini, hanya gambar pertamanya yang bisa membuat dia tetap ingat dengan 2 sahabat masa kecilnya, sahabat yang terus dia rindukan hingga saat ini, dan mungkin sampai kapan pun, dan hanya dia yang tahu.
©
Sore ini Airin berusaha untuk berlatih melangkahkan kakinya tanpa di topang oleh tongkat yang sudah hampir 2 minggu ini membantunya berjalan, ayah dan ibu yang sedang pergi, sejak 3 hari kemarin membuat rumah terasa semakin sepi, “aw, aku bisa ! aku yakin aku bisa !” ucap Airin sambil meringis, kakinya masih cukup terasa ngilu jika dipaksakan untuk berjalan tanpa penopang sama sekali, tak terasa air mata mengalir dari sudut matanya, dia menangis kesakitan sambil terduduk dan memeluk sebelah lututnya, kesal, amarah dan kesedihan semuanya bercampur menjadi 1, dia sudah lelah jika harus terus berjalan menggunakan tongkat kesekolah, dia ingin segera bisa menggunakan sepedanya lagi, selanjutnya entah sudah kali keberapa, dia mencoba berdiri, mencoba bangkit dari duduknya, dan dari keterpurukannya, dan terjatuh lagi.
Rio berdiri terdiam mematung, tangannya mengepal seakan ada kekesalan yang mendalam di dadanya, hatinya sakit dan seakan ikut tersiksa melihat pemandangan yang dari tadi membuat dia ragu untuk melangkah, ya Rio sedang berada persis di depan pintu masuk rumah Airin, awalnya Rio ingin menekan bel, namun dia tidak sengaja melihat Airin dari cela kaca di depan pintu, Airin yang dulu dia tahu adalah gadis yang sangat kuat, kini sedang merintih kesakitan dan terlihat putus asa karena sudah berkali kali mencoba untuk berdiri dan berjalan tanpa tongkatnya, ‘kau kenapa !? bisakah kau tidak membuatku khawatir ….’ ujar Rio dalam hati, ingin rasanya dia membantu, bahkan jika memang mungkin, dia mau bertukar posisi dengan Airin saat ini, dalam diam Rio melihat Ririn yang sudah sangat putus asa dan tenggelam dalam tangisnya, Rio tidak ingin menganggunya saat ini, meskipun dia sangat ingin meminjamkan pundaknya untuk Airin, namun Rio ragu jika kedatangannya bisa membantu, maka Rio memutuskan untuk pulang dengan perasaan kesal, sedih dan semuanya yang bercampur aduk di benaknya serta merasa bodoh, karena tidak bisa melakukan apapun untuk membantu Airin.

to be continue . . . .