Kamis, 26 Agustus 2010

Kado Ulbul 3rd Month #ACBR @aciear Version




Sebagai kado ulbul @allchatboxrise yang ke-3. semoga persahabatan kita dan mereka terjalin dengan baik :)

Terimakasih untuk semua pemilik foto dan video yang ada disini, keren semua!! makanya.. saya colong ya! :p









sedikit perubahan pada video koko Alvin :)

Rabu, 25 Agustus 2010

(✿◠‿◠) 3month #ACBR (◕‿◕✿)


@allchatboxrise ( #ACBR ) hari ini persaudaraan kita sudah memasuki umur 3 bulan, dan gak sedikit cerita yang sudah kita buat selama ini, baik saat bersama sama ataupun saat kita sedang terpisah sejenak.


#ACBR aku akui kini kalian bagaikan obat yang harus aku konsumsi setiap hari, karena jika tanpa kalian sehari saja, aku nyaris tak bisa melakukan apapun, untuk merefleksikan rinduku dengan prince, maaf yah kalau aku mulai terkesan berlebihan.
#ACBR aku mungkin memang termasuk yang paling jarang bercerita banyak hal dengan kalian, mungkin itu karena aku jarang mengikuti TL terhangat di @allchatboxrise : ) maklum, aku lebih sering berdiam di page mention dibandingkan berjalan jalan melihat TL : )
#ACBR kalian tau ? beberapa waktu yang lalu, aku habiskan waktuku selama 3 hari berturut turut hanya untuk mendengarkan full mp3 prince d ning.com , padahal aku juga punya mp3 dia di folder harta karun ku, tapi entah kenapa aku rindu suara dan suasana khas jika aku berkunjung d fansite itu, disana aku juga membaca harta karun #Rise yang bertumpuk, baik dari #Rise dalam & luar negri, ternyata waktu 3hari itu belum cukup untukku melepas rindu dengan fansite kita yg katanya sudah tinggal menghitung hari itu, aku rindu saat chatbox di penuhi para #Rise yang saling berkenalan, saling bertukar informasi tentang prince, dan ada juga yang datang ke chatbox hanya ingin ‘menodong’ nomor hape prince, yang sebenarnya memang tidak pernah di ijinkan membicarakan hal itu di chatbox.
Oh iya ! aku juga sempat berkenalan dengan #Rise dari 2 negara tetangga kita di fansite baru #Rise , mereka sangat senang bisa berbaur dengan #Rise di Indonesia, dan mereka juga sempat bercerita, kalau #Rise di Negara mereka juga gak kalah banyak dengan yang ada di Indonesia, intinya semuanya aku lakukan hanya untuk 1 hal, yaitu agar aku kembali merasakan kehadiran prince seperti beberapa bulan lalu, saat dia dan teman temannya masih sering menghiasi layar kaca, ya meskipun aku sedikit merasa kecewa karena #Fs kita sangat sepi sejak 1 bulan ini, baik yang lama apalagi yang baru
*makanya aku sempat berniat mengajak kita semua untuk meramaikan chatbox yang sepertinya kehilangan nyawanya itu*
dan aku harap ini bukanlah sebuah pertanda bahwa #Rise telah bosan menunggu dan mendukung prince.
Jujur, hingga saat ini aku tak pernah sedetik pun merasa bosan menjadi #Rise, meskipun terkadang aku jenuh, atau mungkin putus asa untuk menyapa acc itu, meskipun aku sering kali melanglang buana ke #Fs yang lain, karena bagiku lebih nyaman berada di rumah sendiri dari pada di rumah orang lain, meskipun aku juga banyak mendapatkan teman di #Fs yang lainnya.
Oke, sebenarnya aku gak ingin cengeng”an disini, aku juga gak mau curcol banyak di moment kali ini, tapi 1 yang aku baru tau *mungkin baru sadar tepatnya*, ternyata bukan hanya @allchatboxrise yang kangen dengan “malaikat pencabut nyawa”, bukan hanya #Rise yang rindu dengan Mario Stevano Aditya Haling, tapi juga para admin, yang hingga kini baru 2admin yang berbicara secara gamblang tapi tidak secara langsung ditujukan untuk prince, kalau mereka kangen dengan bocah ajaib ini, padahal yang selama ini #Rise tau, admin biasanya adalah orang terdekat dari sekian banyak penggemarnya, padahal biasanya admin-lah yang tidak pernah lostcontact dengan si dd, kenapa aku bisa bilang begitu ? karena beberapa hari yang lalu, aku tidak sengaja berbicara langsung melalui chatboxe dengan salah 1admin, dan kebetulan saat itu aku juga membaca twitt dia yg kurang lebih berisi
masa gue kangen lo, huhu salah kayanya rasa ini’
dan gak tau kenapa aku jadi punya keberanian untuk menebak siapa orang di balik nama “ADMINISTRATOR” itu, ternyata benar dia orangnya, lalu setelah aku berhasil menebak namanya, aku lalu bertanya
‘lagi kangen dengan dia ?’
tapi mungkin karena terlalu gengsi, dia tidak menjawab privatchat ku itu, lalu aku tanya lagi
‘sudah baca blog yg dedicate itu ?’
dan si admin jawab
‘gw udah sejak lama baca itu’
hm, dengan jawaban itu, aku lalu menghubungi salah 1sahabatku, ya mungkin kalian bisa menebak siapa, dan di waktu yang bersamaan, aku juga menuliskan kalimat singkat d twitter ku
‘: ) ada yg kgn dd tp gk mw ngaku, kykny gengsi : ) #ABAIKAN’
dan juga
‘di dunia ini tidak ada satu org pun yg melarang untk merindukan seseorang, yg ada hanya larangan untk membenci & memutuskan persaudaraan :D
dan yang terakhir aku menulis
‘da yg lagi mellow cz kgn dgn dd n pelariannya ke …’
ya, semua twitt itu aku tulis sebenarnya untuk sedikit menyindir si admin, meskipun aku yakin dia tidak akan baca twitt ku itu, tentu aja! dia bukanlah salah 1followers ku : ) aku heran kita yang sangat minim untuk bisa berkomunikasi dengan prince, selalu berusaha dengan blak-blakan bicara kangen, rindu, sayang, dan apalah itu melalui acc twitter bergambar kartun itu, sedangkan dia ? padahal aku yakin dia bisa berbicara langsung dengan dd seara pribadi, tapi kenapa justru gengsi ? dan menyiksa diri sendiri ? ingin rasanya aku membantunya saat itu tapi, siapa aku ? aku bukanlah siapa siapa yang berhak ikut campur sejauh itu.
Well, aku nyaris lupa untuk menyampaikan sesuatu : )


Selamat ulang bulan @allchatboxrise, maaf aku gak bisa ngasih apa apa, cz aku lumayan capek nyolong jepret jepretan orang & aku edit : ) karena, aku ngerasa itu bukanlah hak ku seutuhnya.
Okey, selama 3bulan ini, aku yakin sudah banyak cerita tentang kita semua & aku gak mau berbicara lebih panjang lagi kali ini, aku hanya berharap kita semua bisa lebih baik lagi dari saat ini, & 1lagi, selamat hari lahir untuk salah 1sahabat ku, yg akan menapaki usia barunya di tanggal 28agustus ini

daaaan Maaf lahir batin yah, karena kebetulan ULBUL #ACBR kali ini bertepatan dengan bulan suci Ramadhan selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan, karena baik sengaja ataupun tidak, aku pasti pernah berbuat salah dengan kalian : )
Oh iya, titip salam rindu yah untuk dd kita, karena aku sudah kapok menyapanya melalui acc itu, meskipun sesekali masih aku lakukan, oke !

#DTBR

Sabtu, 21 Agustus 2010

Titip Rindu Lewat Doa™ 2


Lampu mulai menyala dan semuanya sepertinya akan segera dimulai, aku tak sabar ingin melihat anak anak kebanggan Indonesia itu segera menguasai panggung kebanggaan di depan sana, layar besar di panggung menunjukan gambar cerita perjuangan finalis yang kini hanya bersisa 2 orang, Rio dan Lintar, melalui video itu, aku pun seolah diajak mengingat masa masa saat pertama kalinya Rara mengajakku nonton di balai desa, lalu … musik pun mengalun!
            “Buka hati mu … bukalah sedikit untukku, sehingga diri ku bisa memilikimu…” apa ? sejak kapan mereka berada di atas panggung sana ? dan sejak kapan kedua finalis itu berdiri di baris terdepan penonton ? aku mulai terhanyut memperhatikan setiap detail detik detik yang tak pernah ku sangka ini, setelah lagu itu, ada sebuah kolaborasi band lokal Indonesia dengan beberapa finalis cowo, dan … astaga ! itu Ozy ! itu dia, dia yang selama ini membuatku bersemangat, meskipun sudah lama aku tidak melihatnya, meskipun akhirnya minggu lalu aku sempat melihatnya di tivi, namun ternyata kali ini aku bisa melihatnya tanpa layar kaca se-inci pun ! ia bernyanyi bersama teman temannya dan membawakan lagu dari band tersebut, aku suka gaya menyanyinya yang natural, dan seakan mengajakku ikut melantunkan lagu itu bersamanya, ya  khas Ozy !
            Berjam jam berlalu, kini aku lagi lagi mendadak menahas nafasku, saat ia lagi lagi bersiap di atas panggung, kini ia dan 11 finalis idola cilik 3 lainnya bernyanyi, ia berdiri di sisi kanan panggung bersama Keke, sama seperti yang lain di posisi mereka masing masing, nada lagu sebuah band remaja yang memang pernah aku dengar waktu itu kini menyertai gerakan koreografi mereka, “dengarkan curhatku, tentang dirinmu betapa anehnya tingkah lakumu …” mereka bernyanyi dengan part mereka masing masing, seperti biasa mereka selalu SEMPURNA ! itu yang membuat aku selalu rindu akan penampilan mereka, lalu setelah lagu itu usai, seolah tanpa jeda keluarlah Lintar dan Rio serta 9 idola cilik lainnya, dari berbagai angkatan, mereka menyanyikan lagu yang, maaf lagi lagi sangat aku suka, entah karena lagunya yang memang indah atau karena mereka yang membawakannya, tapi aku yakin, itu lebih dari kedua alasan tersebut, “bangkitlah indonesia, tunjukan pada dunia, mari majulah indonesiaku …”.
            Kini, setelah lagu cublak cublak suweng, paris berantai, Indonesia pusaka, serta laskar pelangi, dan harmoni cintanya Gita Gutawa, aku ingin tertawa karena penampilan kali ini, siapa lagi kalu bukan Uncle Joe dan Om Dave ! mereka bernyanyi seolah panggung megah itu adalah milik mereka, sangat menghibur! karena aku belum pernah sama sekali melihat mereka bernyanyi di pentas ini.
            Jeda acara kali ini terasa panjang, aku melihat beberapa kru mengantarkan sebuah piano putih nan cantik ke sisi kiri panggung, dan di atas piano itu di letakan sebungkus bunya yang indah, seolah menambah cantiknya piano itu, dan sepertinya aku mulai tau bahwa acara akan segera dimulai, setelah Ify, dan Rio menaiki panggung untuk bersiap, lagu apa ini ? aku begitu asing mendengarnya, meskipun seolah sempat terpikirkan bahwa aku pernah mendengar lagu ini sebelumnya, “berjanjilah wahai sahabatku bila kau tinggalkan aku tetaplah tersenyum…” WOW ! lagu yang indah … aku menajamkan pendengaranku demi menghayati lagu ini, lagu tentang persahabatan, yang sepertinya di tujukan untuk seorang sahabat yang akan pergi jauh, “wahai sahabatku … rindukan dirimu, terima kasih” ujar Rio yang kini aku sadari, wajar jika ia masih bertahan di pentas ini hingga saat ini, dan maaf Ozy, sepertinya sahabatmu 1 ini, juga selalu dan telah mencuri perhatianku, mungkin jika dulu aku masih terus menonton acara ini setelah kau tinggal kelas, aku akan mendukung temanmu ini, hahaha! aku menghayal ! kenapa aku harus menghayal dan selalu menghayal untuk bisa berbincang dengan kalian ? namun aku nikmati hayalan ku ini.
            Setelah penampilan sebuah band yang terdiri dari anak anak idola cilik 1 sampai 3, lagi lagi Ozy bernyanyi ! ya Allah, kapan aku bisa berhenti untuk lebih tenang lagi setiap melihat aksi panggungnya ? kini ia dan ke 5 finalis idola cilik 3 yang cowo cowo, termasuk Rio ! dan Lintar, bernyanyi dengan sebuah lagu baru yang lagi lagi aku menyukai lagi itu, dan setelah bermacam macam artis pengisi acara itu bernyanyi, aku kini baru sadar bahwa acara ini akan segera usai, kini Rio dan Lintar sedang menyanyikan lagu mengejar matahari, setelah itu digantikan oleh Om Duta, Ka Uci, Ka Winda serta Ka Oni, yang juga kali ini bernyanyi bersama dengan membawakan lagu yang berjudul untukmu, dengan sangat cantik, lalu lampu kembali gelap, aku berfikir sepertinya ini jeda terakhir acara hari ini.
            Aku memanfaatkan waktu tersebut untuk sejenak ke toilet, aku beranikan langkahku meski ragu karena takut melewati 1 penampilan pun, aku melewati mushala dan ternyata disana aku melihat seorang gadis cantik yang sepertinya aku kenal, namun aku mengabaikannya karena aku harus segera ke toilet karena takut acara akan segera dimulai, beberapa menit kemudian, lagi lagi aku bertemu dengan gadis cantik itu, dan entah kenapa aku mendadak memiliki keberanian untuk menyapanya, “Acha ? kamu Acha kan ?” pertanyaan itu yang terlontar dari mulutku yang sedari tadi beku karena rasa takjub melihat penampilan para calon bintang masa depan di atas panggung sana, “iya, maaf kamu siapa ?” jawab gadis itu ramah, “aku ziah, wah kamu ternyata lebih cantik dari yang aku liat waktu itu, aku suka banget waktu liat kamu nyanyi bareng ozy, nyopon, yosia, dan …” “dea ?” Acha membantuku mengingat nama teman temannya sewaktu dia bernyanyi di menuju pentas, lalu ia berkata dengan sangat lembut yang sempat tak terdengar jelas olehku, “aku mau shalat mahgrib dulu, kamu mau ikut ?” tanyanya padaku, “oh ya? tentu aja ! tapi aku wudhu dulu yah …” jawabku dengan semangat, dan akhirnya kami shalat bersama, sebelum akhirnya kami berpisah saat akan duduk di tempat masing masing, dan tenyata waktunya sangat pas ! karena kini 5 besar idola cilik 3 sudah bersiap dengan standing mic mereka masing masing, aku terpana melihat pakian mereka yang sangat rapi, semuanya sepertinya seragam, hanya Nova yang terlihat sangat cantik di antara ke 4 teman temannya yang lain, “tak ada manusia yang terlahir sempurna …” mereka mulai bernyanyi dan lagu itu, Ozy yang mengawalinya : ) kini, aku dan hampir seisi gedung ikut bernyayi bersama, hingga akhirnya … Ka Oky keluar, aku mulai sedih apakah benar ini kali pertama dan terakhirnya aku bisa melihatnya ?
            Acara usai dengan dimenangkan oleh Lintar, dan setelah 14 besar idola cilik 3 diberikan medali dan hadiah masing masing, aku dapat melihat dengan jelas senyum kemenangan mereka semua, meskipun tak semua dari mereka menjadi juara, namun bagi ku mereka semua sudah menjadi juaranya ! aku pun sempat ikut ternyum saat melihat senyum kemenangan Rio, hingga aku mengabaikan Lintar yang kini sedang bernyanyi sebagai penutup acara hari ini, sekaligus menutup rangkaian acara idola cilik 3 selama beberapa bulan ini, dan kini seluruh pengisi acara berkumpul diatas panggung, aku tak henti hentinya memuaskan mataku ini memandangi mereka, aku melihat Ozy yang berpelukan 1 per 1 dengan para sahabatnya, ada Rio, Alvin, dan semuanya ! entah kenapa aku sepertinya sudah terbius oleh pesona bakat dan suara indah yang mereka miliki, dan jujur aku belum siap jika harus berpisah dengan mereka.
            Tanpa sadar air mataku membasahi pipiku, disaat kami sudah di pejalanan menuju bandara, ya ! malam ini juga kami akan pulang ke daerah asal masing masing, ya Allah, kenapa ? kenapa aku harus kehilangan mereka semua disaat yang bersamaan, padahal rasa haru ku belum habis setelah melihat perpisahan para bintang itu, lalu aku menceritakan semuanya dengan Rara kejadian apa yang terjadi padaku saat aku di mushala tadi, begitu kami tiba di bandara dan pesawat baru saja tinggal landas, meninggalkan serta kenangan berharga selama di Jakarta.
*di mushala*
            Acha memperkenalkan ku dengan seorang temannya, yang kebetulan saat itu berpapasan dengan kami saat kami baru selesai shalat, “Oji !” teriak Acha sedikit tertahan, lalu anak laki laki yang dipanggilnya datang menghampiri kami, “Ji, kenalin ini temen baru ku, namanya Ziah, katanya dia suka banget liat kamu di tivi …” ujar Acha saat temannya itu, mendatangi kami, Ozy ! aku tak menyangka akan bertemu dengannya ! seperti mimpi, terima kasih Acha ! kamu sudah membantu ku bertemu dengan idola ku ini ! dan kalian tau ? hal pertama yang aku lakukan ialah bersalaman dengan Ozy, ya tentu saja ! dan tanpa perintah siapapun, ia mengeluarkan sesuatu dari saku jas abu abu nya, sepertinya jas itu yang akan ia gunakan untuk penampilan berikutnya, “ini …” ujarnya memberikan sebuah pin berwarna biru, bertuliskan huruf “f” dan “z” , “ini untuk ku ?” tanyaku karena merasa tidak yakin, “iya Zi, ini untuk kamu …” jawab Ozy dengan senyumnya yang nyaris membuatku meleleh, dan Acha pun memberikan sebuah tas kertas yang awalnya aku tak tau apa isi dari tas itu, “dan ini juga dari kami, buka deh …” Acha memintaku untuk segera membukanya, 2 lembar baju, aku tau kalau salah 1 baju itu adalah baju freenzy, lalu … apa ? ini bukannya kaos serupa seperti freenzy ? namun bertuliskan achapuchino, dan juga ada sebuah pin yang berwarna dasar hitam di sana, “ini untukku Cha ?” lagi lagi aku masih belum bisa mempercayai kejadian ajaib itu, lalu Ozy segera pamit meninggalkan kami berdua, meninggalakan aku yang masih tak percaya, namun sebelumnya aku sempat memeluknya, pelukan dari awal persahabtan antara aku dan Ozy, berkat Acha meskipun aku tau mungkin kami takkan pernah bisa bertemu lagi, terima kasih atas kebaikan kalian teman, terima kasih ya Allah, dan Acha pun segera mengajakku untuk kembali ketempat duduk masing masing …
            Setelah menceritakan semuanya, Rara hanya tersenyum mendengar setiap kalimat ku, tentang rasa suka citaku bertemu mereka, namun sebuah kalimat seolah menyadarkan aku dan entah kenapa Rara kali ini sangat membuatku kesal ! karena ia seolah sengaja menghancurkan hatiku yang sedang berbunga saat ini, “Zi, inget kita hanya orang biasa …” jujur aku benci kalimat itu ! namun sudahlah kini kami sudah akan tiba di kampung kecil kami, dan aku sadar mungkin kini sudah saatnya aku melupakan semua kenangan selama di Jakarta dan aku kini hanya bisa menitipkan rinduku lewat do’a, untuk dia bintang kecil kebanggaan ku… AHMAD FAUZI ADRIANSYAH
                                                                               
                                                                                                                     *tamat* #LamFreenzy

Rabu, 18 Agustus 2010

Titip Rindu Lewat Doa™ 1


Hai ! kenalkan, aku Queenisya Ananda Fauziah … aku itu punya idola yang sampe sekarang belum pernah kesampean untuk ketemu dengan dia langsung : ( hhe, andai aja dia mau dateng ke kampung ku, aku pasti bakal seneeeeeng banget ! oh iya lupa, aku adalah siswi kelas 2 smp di desa terpencil di Kalimantan selatan, nah idola aku itu juga sama dengan ku, dia kelas 2 smp juga, dan nama kami berdua hampir sama lho,, oh iya, aku biasa di panggil Queen oleh teman teman dan keluargaku, tapi sejak aku suka dengan idolaku itu, aku lebih suka di panggil Ziah ! mau tau kenapa ? karena nama itu jadi sedikit kompak dengan idola ku itu, aduh kalian pasti tau deh siapa idola ku itu dan aku yakin, bukan cuma aku yang mengidolakan dia : ) nama idola ku itu Ahmad Fauzi Adriansyah !! simak curhatanku yah …
*Flashback di mulai*
Waktu itu, aku di ajak teman sekolahku, untuk menonton tivi bersama di balai desa, dia bilang ada acara bagus di tivi, karena aku gak mau ngecewain dia, aku akhirnya meng-iyakan ajakan dia untuk pergi ke balai desa : ) “Queen, kamu tau gak ? aku suka banget dengan acara tivi ini, aku yakin kamu juga bakal suka : )” ucap sahabat ku itu saat kami berdua baru tiba di balai desa, ternyata sudah banyak anak seumuran kami yang datang lebih awal, tentunya hanya untuk menonton acara tivi yang sama ! otomatis aku makin penasaran dengan acara yang emang terus jadi bahan obrolan akhir akhir ini oleh anak anak seusiaku terutama di sekolah, tapi karena di kampungku hanya ada satu satunya televisi yaitu di balai desa, jadi kami semua harus berkumpul disini jika ingin menonton televisi : ( oh iya, aku lupa sahabatku ini namanya Tarra Amanda, tapi aku biasa panggil dia dengan panggilan Rara, gak seperti namaku yang teman temanku bilang terlalu bagus untuk anak kampung seperti kami, hhe … “oh ya? hm, aku jadi penasaran Ra ? awas yah kalo gak bagus !” jawabku pada Rara yang terlihat sangat antusias menanti acara tersebut di mulai … setelah beberapa iklan di tivi akhirnya acara yang di tunggu tunggu Rara itu di mulai juga, dan aku mulai memperhatikan, karena aku juga ingin tau kenapa Rara sampai segitunya suka dengan acara tivi ini, sampai sampai dia lupa mengganti seragam pramukanya, karena takut terlambat tiba di balai desa siang ini : )  dasar Rara !
Berminggu minggu sudah berlalu, aku dan Rara kini memiliki jadwal rutin setiap sabtu dan minggu untuk bersama sama nonton tivi di balai desa, hari ini kami sengaja membawa bekal dari rumah agar tidak perlu membeli jajanan di luar kalau kami kelaparan saat menonton tivi, layar tivi yang sebelumnya menampilkan acara berita, sekarang sudah berganti dengan warna yang sangat colour full dan irama musik yang sangat ceria, aku suka ! ternyata aku sudah benar benar tertular virus Rara, aku jadi benar benar suka dengan acara tivi ini, Idola Cilik 3, itu nama acara tivi favorit ku dan Rara, serta hampir semua anak seusia kami saat ini, dan secara tidak langsung juga, karena sering nonton bersama, kami pun mendapat banyak teman baru disini, hanya karena 1 acara televisi, hha … “Queen, kan sekarang sudah 14 besar nih ? ayoo kamu ngejagoin siapa hayo! Kalo aku sih yang namanya Ahmad itu…” tanya Rara saat acara tersebut baru saja dimulai, “aduh Ra! setau aku gak ada deh yang namanya Ahmad ? kamu salah sebut kali ? ng, kalo aku siapa yah ? aku yang dari makasar itu deh kayaknya, tapi aku juga masih belum hapal banget namanya” jawabku sambil tetap fokus memandangi layar tivi, “oh, masa sih ? hm,, tapi aku yakin kok nama lengkap dia ada Ahmad nya” ucap Rara lagi,
 “oh, iyadeh, hha aku juga belum hapal kok !”
“sayang yah, Bian sama Acha gak masuk 14 besar : (“
“lha ? kamu juga suka sama mereka ?”
“iya, hhe mang kamu juga suka yah ? wah, jangan jangan ntar kita ngidolain orang yang sama lagi ! hha …” kami tertawa sambil terus memandang televisi yang berukuran 14” itu yang kini sedang di tonton oleh puluhan pasang mata, warga desa kami, kami semua menikmati kebersamaan di sini, yah harus kami terima karena kami masih bersyukur kami bisa menonton televisi, meskipun dengan cara seperti ini.
            Hari ini di sekolah ku akan di adakan seleksi anak berprestasi yang akan di adakan di ibu kota, kata guru ku acara ini di selenggarakan dalam rangka pemerataan standar pendidikan se-Indonesia, tentu saja aku dan Rara mengikuti seleksi tersebut, karena Rara adalah siswi yang selalu mendapatkan juara umum 1 di sekolah, sedangkan aku, selalu ada di urutan setelah dia, aku bangga memiliki sahabat seperti dia.
            Sepulang dari sekolah, aku sengaja mengajak Rara untuk mengerjakan tugas bersama di rumah, karena biasanya aku yang belajar di rumah Rara yang jaraknya sekitar 15 menit dari rumah ku jika berjalan kaki, maklum saja transportasi umum di kampungku masih sangat minim, “Queen ? hey … kenapa bengong ?” Rara mengibas ngibaskan tangannya di depan mukaku, “hey, ah kamu Ra ! ngagetin aja ?” jawab ku dengan manja, “kamu itu lo, aneh ! lagi belajar malah bengong …” jawab Rara sambil melanjutkan menulis,
“aku kangen Ozy Ra ! hha … kapan yah aku bisa liat dia gak cuma di tivi ?”
“aduh ! kamu itu kalo mimpi jangan ketinggian Zi …”
“Zi ?? eh, kamu tadi panggil aku apa ? Zi ? bagus juga !”
“yaelah, dia malah senyum senyum gak jelas, iya, kayaknya kalo aku panggil kamu Ziah juga bagus, kan mirip tuh nama kamu sama si Ozy jadinya ?”
“ih, temen ku yang paling cantik, paling pinter, makasih banget yah …”
“hhuu… ya sudah, lanjutin sana nulisnya ! besok kita gak ada waktu luang lagi nih, kan harus nonton di balai desa ?” aku mengangguk mendengar kalimat Rara barusan, temen ku ini memang benar, besok itu hari sabtu ya setiap sabtu dan minggu kami selalu berusaha gak pernah absen ke balai desa, untuk melihat Ozy, idola kami itu.
            Lonceng sekolah telah berbunyi, menandakan sudah saatnya kami pulang kerumah masing masing, tapi hujan turun dengan derasnya, beberapa atap di sekolah kami pun basah karena bocor, aku mulai khawatir, karena aku takut tidak bisa melihat Ozy hari ini, begitupun dengan Rara dia yang saat ini sedang menyalin catatan matematika yang ada di papan tulis, juga sesekali bertanya tanya, kapan hujan deras ini akan berhenti, ya siang ini hujan mengurung kami di sekolah, hujan yang juga seakan diikuti oleh hati ku yang kecewa karena tak bisa melihat idola ku kali ini, padahal aku sangat merindukannya.
            Keesokan paginya, aku mulai membuka mata ku, ternyata dari jam dinding yang ada di kamar ku, aku tau kalau aku sudah sangat kesiangan, “astaghfirullah, aku gak shalat subuh nih, masa aku bangun jam 10 ?” ucap ku komat kamit sendiri di kamar, aku juga heran, kenapa ibuku tidak mencoba membangunkan ku ? padahal bisanya beliau yang paling cerewet mengingatkan aku untuk shalat tepat waktu, aku berjalan keluar kamar, lalu duduk di meja makan, “ibu ? kenapa ibu gak bangunin Queen untuk shalat ?” tanya ku pelan, “kamu kan sakit ? salah kamu sendiri kenapa hujan hujanan kemarin sore ?” jawab ibu ku tanpa memalingkan pandangannya dari sayur sayuran yang akan beliau masak untuk berjualan gado gado keliling desa, iya ibu ku hanya penjual gado gado keliling, sedangkan ayah ku hanya buruh bangunan, dan aku ingat kemarin hujan begitu deras sampai menggenangi sekolah ku, dan karena sudah terlalu sore aku dan Rara nekat menerjang hujan, alhasil aku sakit hari ini.
            Setelah makan siang, aku menguatkan diri ku untuk tetap bisa melihat Ozy di tivi hari ini, jadi aku berusaha merayu ibu agar dia mengizinkan aku untuk pergi sore nanti, “kamu itu lagi sakit ! ibu gak suka kalau kamu kelewatan mengidolakan artis itu, karena ibu takut nanti kamu malah gak konsen belajar cuma karena dia, dan 1 lagi, kita itu cuma keluarga yang serba pas pasan, jadi kamu jangan mimpi bisa ketemu dengan dia …” ibu menjawab rayuan ku dengan kalimat panjang nya yang selalu sama, dan tentu saja aku selalu kalah jika harus berdebat dengan ibu, aku tau maksud ibu baik, tapi apa aku salah kalau aku mengidolakan dia ?
            Pukul 2 siang aku menjemput Rara kerumahnya, karena ibu sedang berjualan keliling aku jadi bisa pergi ke balai desa, memang aku akui tubuhku sedang sakit saat ini, tapi jika hanya untuk berjalan kaki menuju balai desa yang juga melewati rumah Rara, aku yakin aku masih sanggup, Rara membukakan pintu rumahnya untukku, rumah Rara memang sedikit lebih bagus dari rumahku, maklumlah kedua orang tua nya adalah guru di SD yang ada di kampung kami, “Ziah ? kamu dah sembuh ?” tanya Rara kaget melihat kedatanganku, aku mengangguk pelan, sepertinya Rara tau kalau aku sedang berbohong, “kamu tau Zi ? kata tetangga belakang rumah ku, Ozy kemarin nyanyi dengan cakka lho, aku sih gak tau cakka itu siapa, tapi kata tetangga ku itu, mereka nyanyi berduanya qreen banget ! sayang kita gak bisa liat yah ?” ujar Rara bercerita panjang tanpa memberi ku cela untuk menimpali, aku tau hari ini sudah 5 besar, untuk ke dua kalinya, karena minggu lalu tidak ada dari mereka yang tinggal kelas.
            Balai desa sudah cukup ramai saat kami tiba, alhasil kami menonton dari tempat duduk paling belakang, ya sudahlah yang penting aku masih bisa melihat ozy, batinku … berjam jam berlalu aku kecewa ternyata Ozy mendapatkan rapor merah, meskipun aku senang bisa melihat ia bernyanyi, tapi entah kenapa perasaan ku benar benar tak enak saat ini.
Ozy kini berdiri diantara Alvin dan Nova, lampu disana berkerlap kerlip seiring dengan musik yang bergemuruh, aku melihat tatapan putus asa yang terpancar dari matanya, entah kenapa dengan idola ku itu ? kenapa ia begitu bersedih ? aku melihat kesekelilingku, Rara menggenggam tangan ku kuat, apakah dia juga memikirkan hal yang sama dengan ku ? meskipun aku yakin tidak mungkin ozy yang tinggal kelas minggu ini, 


“Ozy ! sayang sekali kamu harus tinggal kelas hari ini” teriak si pembawa acara yang nyaris tak bisa ku percaya, yang tiba-tiba membelalakan mata ku, apa ? siapa yang tinggal kelas ? buka Ozy kan ? aku masih tak bisa mempercayai pendengaranku, namun aku tak bisa menyangkal saat aku melihat Ozy langsung di peluk penuh haru oleh Alvin, Rio dan Lintar, dan sepertinya hanya aku yang kini tidak menangis atau pun bersedih, tapi pandanganku mulai gelap aku tak bisa lagi mendengar orang orang yang sedang heboh membicarakan Ozy yang baru saja tinggal kelas, dan mataku juga mulai rabun, dan … aku pingsan !
            Seminggu telah berlalu, hari ini aku sudah bisa pulang ke rumah, berhari hari di rawat di puskesmas sangat membosankan bagiku, ternyata aku terkena gejala demam berdarah, untung saja keluarga ku punya kartu jaminan kesehatan untuk keluarga miskin seperti kami ini, Rara yang kini sedang membantu Ibu ku berkemas untuk pulang, sepertinya masih merasa bersalah pada ku, karena saat itu dia tidak melarangku untuk nonton di balai desa padahal saat itu aku masih sakit, “gimana ? enak toh di rawat di sini ? enak toh sakit ?” ujar Ibu menyindir ku sambil melipat pakaian ku, “Ibu, maafin Queen ya ? soalnya sudah bikin Ibu sama Ayah susah” jawab ku dengan penuh rasa bersalah, Rara yang ada di ruangan yang sama dengan kami hanya bisa diam, beberapa menit kemudian akhirnya Ayahku datang, kami kembali ke rumah menggunakan becak, Ayah bersama Ibu ku dan aku bersama Rara, “Zi ? aku masih kaget banget waktu kamu pingsan waktu itu, aku takut kamu kenapa kenapa …” ucap Rara kepadaku, aku tau dalam arti lain dia ingin meminta maaf pada ku, entah sudah untuk keberapa kalinya, “kamu itu ! aku udah bosen tau gak denger kamu minta maaf terus ? lagi pula kan gak ada yang perlu di maafin ? aku yang salah, sudah tau sakit, tapi masih aja maksain untuk ke balai desa …” jawab ku sedikit tegas pada Rara, lalu aku mulai teringat waktu itu, sesaat sebelum aku pingsan, Ozy ? Ozy tinggal kelas ? aku masih tidak bisa mempercayainya, tapi karena hari itu, kini aku sudah tak di izinkan lagi untuk pergi ke balai desa, Ibu dan Ayah ku sudah mengingatkan ku beribu ribu kali selama aku di rawat kemarin, “kenapa Zi ? kok kamu sedih ?”
“ah, gak papa Ra aku cuma kepikiran Ozy, apa bener yah waktu itu dia yang tinggal kelas ?”
“ya ampun Zi, hampir aja aku lupa! Ini titipan dari wali kelas kita” Rara memberikan amplop putih yang sudah tidak rapi lagi karena ia meletakkanny di saku rok sekolahnya, aku membuka amplop itu dan segera membacanya karena penasaran, “apa maksud dari surat ini Ra ?” tanya ku gak ngerti, karena menurutku tulisan di surat itu terlalu berat bahasanya, “aduh Zi ! kamu itu gimana sih ? di surat itu, tertulis kalau karangan ilmiah kita di terima ! dan kita bisa ikutan lomba itu ke tingkat nasional ! tapi, sebelumnya kita harus mengikuti seleksi tingkat profinsi terlebih dahulu !” Rara bercerita penuh semangat, aku tau Rara bukanlah tipe anak yang mudah puas kalau tentang pendidikan, “lalu ?” tanya ku masih belum mengerti, “iiiih ! tugas kita selanjutnya, yaitu membuat karya ilmiah lagi, tapi kali ini di tentuin dari pusat, makanya kamu cepet sembuh dong, biar bisa sekolah lagi dan kita bisa bikin karya ilmiah kita berikutnya, oke ?” aku mengangguk mengerti, ini lah hal yang aku suka dari Rara dia selalu penuh semangat dan aku tau cita cita untuk menjadi seorang insinyur yang bisa memajukan desa kami adalah impian terbesarnya.
*flashback selesai*
            Hari ini, aku dan Rara beserta anak anak smp seumuran kami yang berhasil mendapatkan kesempatan untuk ke Jakarta, demi mengikuti lomba karya ilmiah tingkat nasional, sudah tiba di bandara, kami mendapatkan fasilitas yang sangat cukup dari kegiatan ini, dari akomodasi dan semuanya, selama kami mengikuti kegiatan ini kami juga mendapatkan seragam baru selama di Jakarta dan juga alat tulis, aku dan Rara yang baru sekali ini meninggalkan desa kami untuk pergi jauh, dan juga menggunakan pesawat terbang, jujur masih merasa takut, tapi demi beasiswa yang sangat kami inginkan itu, rasa takutku perlahan terlupakan, aku dan Rara memiliki teman baru yang sama sama mewakili Kalimantan selatan pada lomba ini, Rara yang sedang asik ngobrol dengannya sepertinya lupa dengan kehadiranku disini, tapi tak masalah aku juga tak ingin mengganggu, “kamu tau gak dengan acara anak anak yang namanya Idola Cilik ?” tanya teman baru Rara itu padanya, aku mendadak memasang telingaku, aku sudah lama sekali tidak melihat acara tivi favoritku itu, entah kalau Rara, karena aku sudah lama tidak membicarakan hal itu padanya, karena aku sudah berjanji pada Ayah dan Ibuku, meskipun aku sangat rindu akan acara itu, “Zi, kamu sudah kenalan dengan temen kita yang baru ?” Rara menyadarkan aku dari lamunan ku tentang dia yang selama ini sangat ingin aku temui, “hah ? apa ?” jawab ku dengan tampang bodoh, “aduh Zi, ini nih kenalin namanya Nurul, ternyata dia ini suka juga lo nonton idola cilik ?” ujar Rara dengan senyum lebar yang merekah, aku tau anak kota seperti Nurul pasti selalu menonton acara itu, karena dia pasti memiliki televisi sendiri di rumahnya tidak seperti kami yang terpaksa menonton bersama di balai desa, “iya, aku Nurul kamu Ziah ya temannya Rara ?” ucap anak itu ramah sambil tersenyum, dan kami pun berjabat tangan, “oh iya kamu suka dengan siapa di IC ?” tanya Nurul pada ku, aku terdiam sejenak, setelah berminggu minggu apakah acara itu masih ada ? apakah nanti di Jakarta aku bisa melihatnya ? padahal sudah hampir 1 bulan aku tidak lagi membicarakan tentang acara tersebut, “ng, aku aku suka dengan …” “Ozy ! iya nurul, kalau Ziah sukanya sama Ozy” potong Rara pada ku, “oh, kamu sukanya sama ozy ? sayang banget yah, karena dia kan sudah lama tinggal kelas, sekarang yang tersisa hanya Rio dan Lintar” jawab nurul sambil tersenyum, lalu ia mengeluarkan selembar kertas dari saku jaketnya, “ini …”

  ujarnya sembari memberikan kertas itu pada ku, ternyata itu bukanlah selembar kertas melainkan selembar foto, aku masih ingat dengan jelas bahwa di foto itu ada Alvin, rio, ozy, nova, dan yang cukup sulit terlihat ada lintar dan ka oky, “foto ini ?” mulut ku rasanya sangat susah untuk berkata, namun yang aku tau pasti ini adalah foto saat aku terakhir kali melihat dia di tivi, saat ini menangis di pelukan para sahabtanya, “iya aku selalu bawa foto ini kemana pun, soalnya aku suka banget dengan persahabatan mereka, aku juga nangis waktu ozy tinggal kelas, dan beberapa minggu kemudian Alvin yang tinggal kelas…” Nurul bercerita tanpa di pinta, sepertinya dia bisa membaca pikiranku kalau aku sudah lama ingin mendengar kabar mereka, kami bercerita panjang lebar selama di pesawat, tak terasa kami hampir tiba di bandara Jakarta.
            Berhari hari kami mengikuti pelatihan disini, aku senang mendapat banyak teman baru di sini, ternyata anak anak kota tidak se jelek yang aku kira, ternyata selama ini anggapan ku salah bahwa anak anak kota semuanya jahat dan sombong sombong, buktinya kami semua di sini bisa menjadi 1, “Nurul, kegiatan kita hari ini sudah selesai kan ?” tanya ku pada teman baru ku itu, “iya sekarang kita sudah boleh istirahat di kamar masing masing” jawab Nurul dengan sumringah, “kok kamu keliatannya gembira banget ?” tanya ku ingin tau, “hha .. iya ! karena hari ini ada grand final ic ! untung banget yah kita, karena setiap peserta kamarnya ada telivisi : )” bisik nurul di telingaku, aku terdiam, entah kenapa aku justru bingung harus memberi respon apa, karena sejak di pesawat waktu itu, kami tak pernah ada waktu untuk membicarakan tentang idola kami, “ayo kita ke kamar sekarang juga, Rara sudah nungguin kita dari tadi” Nurul menarik tanganku, aku mengikuti langkahnya, namun masih dengan pikiran yang campur aduk.
            Ternyata benar kata Nurul, hari ini adalah grand final idola cilik 3, acaranya sungguh luar biasa, apa lagi untuk ku yang sudah lama tidak melihat acara ini, aku pun kaget saat acara ini baru saja di mulai, aku melihatnya lagi ! aku benar benar melihatnya ! aku melihat senyumnya dan aku melihat gerakannya ! suara khasnya pun terdengar jelas di telinga ku ! meskipun ia saat itu bernyanyi bersama sama dengan temannya, aku rindu senyum itu, aku rindu keceriaan wajahnya, aku rindu hadirnya ! aku rindu dengan dia, saat acara berlangsung, tak banyak komentar dari ku, Nurul apalagi Rara, hanya perasaaan senang yang menggebu dan rasa kagum dapat melihat idola kami, rasanya semua perasaan dan pikiran kami semuanya tertuju pada 1 titik fokus, iya kami semua menikmati memandang dengan puas idola kami masing masing, aku tau kalau ternyata para penggemar mereka memiliki sebutan masing masing, ada Rise untuk pendukung Rio, ada Alvinoszta untuk pendukung Alvin, ada Dlinstar untuk pendukung lintar, dan Freenzy untuk pendukung idola ku, Ozy, sebenarnya aku sudah lama mengetahui panggilan itu, hanya saja aku masih belum terlalu paham, kami menghabiskan waktu berjam jam di dalam kamar hanya untuk memandangi televisi yang sedang menyiarkan anak anak kebanggan bangsa yang sedang berkompetisi secara sehat menggunakan bakat yang mereka punya, dan ternyata acara yang memakan waktu lebih dari 3 jam itu masih belum cukup membayar rasa rinduku, hingga saat mereka bernyanyi bersama, ka oky mengucapkan kalimat ‘sampai jumpa minggu depan di rapor grand final idola cilik 3!’ aku sadar, bahwa sejak berjam jam yang lalu kami telah di bodohi, kami kira hari ini juga kami akan mengetahui siapa pemenangnya, kami mengira hari ini adalah saat terakhir kami melihat mereka berlenggak lenggok di layar kaca, dan saat pesta idola itu selesai kami bergegas untuk mandi, meskipun saat itu waktu sudah menunjukan lewat dari pukul 7 malam.
            Hari ini kami akan diajak kesuatu tempat, karena kami sudah 2 minggu mengikuti kegiatan di ibu kota dan hari ini hari terakhir kami di sini, kami menaiki sebuah bis pariwisata yang entah akan mengantarkan kami kemana, yang jelas kami semua akan diajak bersenang senang hari ini, “anak anak semuanya, kita sudah setengah perjalanan, hari ini kami akan mengajak kalian untuk melihat sebuah konser musik yang memang pengisi acaranya hampir semuanya anak anak seusia kalian ini, dan kami harap kalian akan menyukainya” ujar salah seorang panitia yang juga ikut di bis yang sama dengan kami, kami semua bertanya tanya, akan kemana kami ? konser apa ? lalu apa saja yang akan terjadi disana ? namun 1 hal yang kami tau, hal itu pasti sangat menyenangkan !
            Jam 1 siang, kami tiba di suatu tempat, dan sepertinya tak ada 1 pun dari kami yang mengetahui tempat itu, disana sangat ramai orang orang yang terlihat sedang menunggu sesuatu, kami di arahkan untuk menerobos masuk kedalam, melewati semua kerumunan orang orang yang sebenarnya sudah bisa di tebak bahwa mereka sudah lama tiba disini, di hadapan kami ada sebuah panggung megah yang sekarang di kerumuni oleh banyak kru, musik yang mengalun tidak terlalu kuat saat ini, seolah menyambut kami, tapi entah kenapa aku seperti mengenal sayup sayup suara yang ada di panggung sana, kami duduk di kursi yang tidak terlalu depan dari panggung, hanya saja, tempat duduk ini cukup strategis menurutku, Nurul melompat lompat kegirangan saat kami baru akan duduk, “kenapa kamu ?” tanya Rara melihat tingkah teman kami itu, “astaga ! kalian bener bener gak tau ? liat itu !” Nurul menjawab, sambil terus sedikit histeris kegirangan, dia mengarahkan tangannya menunjuk ke arah orang orang yang ada di panggung, dan dia memberi tau atribut atribut yang ada di sana, “astaga …” ucap ku dan Rara kompak, suara kami nyaris tertahan, tak percaya ! kami sekarang ada di acara itu ! kami akan menonton acara itu secara langsung ?! aku nyaris tak bisa berpikir apa apa, karena lampu ruangan yang masih redup, aku berusaha menajamkan pandanganku, untuk melihat siapa saja yang ada di atas panggung sana, dan kini aku yakin bahwa aku mengenal mereka, iya mereka semua anak anak idola cilik yang sedang melakukan latihan akhir, sebelum acara tersebut di mulai ! aku senang, aku terharu ! dan ternyata semua orang yang ada di luar tadi beberapa menit kemudian di persilahkan masuk, dan suasana pun mulai ramai, dan tidak terlihat lagi dari mereka yang tadi latihan diatas panggung, mungkin kini mereka sedang bersiap di belakang panggung.

Selasa, 17 Agustus 2010

Tentang Sahabat

aku yakin, semua orang di dunia ini pasti memiliki sahabat
dan aku tau tak semua orang bisa mendefinisikan sahabat itu dengan tepat
lalu apa kau kira aku pun sudah bisa dengan tepat mendifinisikannya ?
tentu saja tidak !
aku pun masih belum tau apakah definisi sahabat itu
yang aku tau, sahabat adalah
orang yang ada saat kita sedih ataupun susah
orang yang mengingatkan kita dikala salah
tapi juga memberi kita dukungan di waktu yang tepat
kau tau ?
aku memiliki banyak sahabat, tapi aku bingung
siapa diantara mereka yang benar benar sahabat ku ?
yang selalu ada ?
yang selalu memihak kepadaku ?
yang selalu netral kepada ku ?
ataukah justru yang selalu menggunakan keegoisannya ?
aku bingung, kadang kala di saat mereka ada di dekatku, aku selalu berdiam diri
bukan berarti aku tertekan dengan kehadiran mereka, namun aku takut
takut jika aku sampai menyakiti mereka
tapi jika aku melakukan sesuatu apakah aku bisa mengontrol diriku ?
apakah aku bisa menjamin aku bisa melakukan sesuatu yang benar ?
apakah aku bisa menjamin diriku sendiri bahwa aku tak akan menyakiti mereka ?



kini, mungkin aku mulai lelah mengalah dan berdiam diri
mungkin kini aku mulai merasa jenuh dengan kehadiran mereka
namun satu hal yang ada di benakku
takkan ada yang bisa menggantikan mereka disini
disini disaat aku tertawa ataupun hal apapun yang sedang aku lakukan
tapi saat mereka akan meninggalkan aku
entah itu untuk waktu yang panjang ataupun sebaliknya
aku seakan tidak ingin mereka meninggalkanku sedetikpun

lalu siapa yang kini egois ?
aku, atau mereka ?

siapa yang kini tak bisa tanpa mereka ?
aku atau justru sebaliknya ?

namun hingga saat ini, aku masih berharap
mereka masih yang dulu
yang aku kenal karena kebaikan mereka
bukan karena keegoisan

meskipun aku tau
semua orang pasti akan berubah
namun aku yakin
tak seutuhnya dari yang ada di diri mereka akan pergi meninggalkan ku
karena, terkadang mereka masih seperti yang dulu
meskipun kini
dengan tampilan yang berbeda ...



*untuk sahabat ku, yang masih takkan terganti TIRAMISSU*

Minggu, 15 Agustus 2010

YAB 16 7/7 What should I do - Jang Geun Suk

Daun "Lumpur 15"


Hari itu adalah hari yang sangat kami tunggu-tunggu, tentu saja kami menyambutnya dengan perasaan haru dan bergembira, namun di sisi lain kami juga takut, entah apa lagi ujian yang akan kami terima untuk mencapai sesuatu yangg kami ingini itu, yaitu menjadi anggota tetap LPM UMP ! meskipun 3 bulan sudah,  kami menjadi anggota muda di lebaga ini, sebenarnya masih bayak kekurangan di diri kami, namun kami masih terus berusaha maju, untuk menerima hal-hal yang kami masih belum tahu apa yang akan terjadi di depan sana.
Rabu, 19 mei pukul 19.00 saat itu, kami semua sudah berkumpul di basecamp kami, yang biasa kami sebut dengan sekret, nama yang di ambil dari kata sekretariat, tentu saja kami sangat bersyukur karena jam karet masih berlaku disini kala itu, karena pada waktu itu, kami para anggota muda bersama sama berusaha melengkapi kekurangan dari peralatan dan persyaratan untuk mengikuti Diklat II LPM UMP angkatan ke-15 ini, malam itu kami berkumpul menjadi 1 di sebuah ruangan yang tak lebih besar ukurannya dari 3x3m, ya kurang lebih begitu, di malam yang lembab karena saat itu turun hujan, kami berusaha berpacu dengan waktu untuk saling membantu, saling mengingatkan, dan tentu saja saling menjaga, karena kami saat itu benar benar sendiri, meskipun bukan dengan arti yang sebenarnya, “priiiiiiiiiiiit!!” terdengar bunyi peluit di tiup dengan kencang dan panjang, sudah dapat di tebak siapa yang membunyikan peluit itu, lalu kami lari dengan tergopoh gopoh mendatangi sumber suara, yang ternyata mengharuskan kami berdiri di tengah lapangan dengan rintik hujan yang masih terasa, dari raut wajah kami semua, sudah tak perlu di tanyakan lagi apa yang ada di benak kami, takut ? munafik jika ada yang berkata tidak, namun kami berusaha saling menenangkan satu sama lain, tugas pertama kami, yaitu kami harus membersihkan air yang menggenangi ruangan depan, ya mungkin bukan tugas yang berat dan nampaknya tak berarti apa apa, namun hal itu cukup untuk memulai malam itu, sebagai pemanasan bagi kami para anggota muda, dan tentu saja, kakak-kakak kami bermaksud ingin melihat kekompakan kami semua dari kegiatan itu.
Detik demi detik terasa sangat lambat saat itu, kami semua tak lepas dari perasaan tegang, atau apalah namanya, namun yang aku tahu, tak sedikit dari kami yang sempat terbesit di benaknya untuk mundur pada malam itu !
Keadaan sedikit menjadi hangat setelah kami kembali beraktifitas, malam itu tak terlalu ketat peraturan yang kami terima, tapi malam itu juga, adalah malam yg tetap menyenangkan untuk kami semua, dan setelah makan malam, kami pun di persilahkan untuk tidur sejenak, untuk menyiapkan tenaga di keesokan paginya.
Pagi itu… Kamis, 20 mei 2010 pukul 4.30 bukan waktu yang tepat untuk bangun di pagi hari yang masih menyisakan hujan tadi malam, namun kami tetap harus bangun, melawan rasa kantuk dan lelah yang menjalari di seluruh tubuh, “priiiiiiiiit” suara yang entah sejak kapan, seolah menjadi momok yang menakutkan di setiap detik kami, kami takut jika tiba-tiba suara peluit itu sampai di telinga kami, dan itu berarti kami harus segera menuju ke arah sumber suara tersebut !
Saat semuanya sudah lengkap di barisan masing-masing, kami mulai mengambil posisi untuk mulai menggerakan badan, olah raga kepagian pun di mulai, dengan bertelanjang kaki, kami menikmati pagi yang masih sangat basah itu, untung saja, kami semua justru langsung terbangun oleh sengatan dingin udara saat itu.
Waktu terus berlalu, tak terasa beberapa saat lagi kami akan segera menuju ke tempat diklat yang sesungguhnya, nah tempat itulah yang akan menjadi saksi bisu cerita cerita kami, selama Diklat LPM UMP ini.
Di sepanjang jalan, kami sejenak melupakan inti dari diklat ini, mungkin lebih tepatnya sedikit bersenang senang, di dalam bis kampus yang membawa kami meninggalkan kota, kami semua bersama menikmati perjalanan, bahkan ada yang bernyanyi bersama dan tentu saja hal yang selalu wajib dan mungkin tak pernah di lupakan, yaitu berfoto bersama, padahal kami semua tahu, bahwa kami sedang menuju ke tempat pendidikan yang sebenarnya!
Setelah menempuh perjalanan lebih dari 2x60 menit, akhirnya kami tiba di sebuah desa yg berada di desa Lorok Kabupaten OI, tepatnya di sebuah sekolah dasar milik sebuah yayasan, di saat kami turun dari bis, tak satupun dari kami berhasil menebak dengan benar dimana kami akan tinggal selama disini, ternyata benar-benar di luar dugaan, kami semua saat itu juga langsung bersama sama memasuki perkebunan karet, lalu membangun beberapa tenda disana, untuk kami bermalam, dan kami juga sudah diberi tugas masing-masing, dari ketua regu, sekretaris, hingga komandan dapur,  dan petualan kami pun benar benar di mulai disini …
Materi demi materi telah kami dapatkan, dan tentu saja kami semua benar-benar di uji saat itu, disana, kami benar benar diberitahu, apa arti dari kebersamaan, persahabatan, persaudaraan dari sebuah organisasi, semua emosi yang biasanya dengan mudah kami keluarkan, tentunya kami tak bisa seenaknya disini, kami harus betul-betul sabar menghadapi semuanya, terutama ujian yg paling besar ialah menahan ego kami yang ada di diri masing-masing, ada tangis, ada tawa, ada kejengkelan disana, dan tentu saja ada kekeluargaan yang tanpa sadar perlahan terbentuk disana, hingga akhirnya malam itu pun tiba …
Hujan deras yg menyirami pohon pohon rimbun tempat dimana tenda kami didirikan, ternyata tak bisa mengubah sedikitpun hal yang akan terjadi di malam itu, malam puncak dari acara diklat kami !
          Minggu, 23 mei 2010 pukul 2:00 pagi, dini hari lebih tepatnya, kami melangkah dengan badan yang bergetar oleh dinginnya angin yang menusuk tulang, lalu kami berjalan beriringan menuju tempat yang lebih teduh, dan disana kami mendapatkan pengarahan, bahwa malam itu kami akan mengelilingi hutan menuju 3 pos yang perbeda, dan malam itu juga, kami yang berjumlah 13 orang, dibagi menjadi 2 kelompok.
Posko 1, adalah pos kekeluargaan disini, kami semua di ajak untuk saling mengenal satu sama lain lebih dalam lagi, dan tak sedikit dari kami yang meneteskan air mata ketika disini, dan di pos ini juga, kami di ajarkan keterbukaan, kejujuran serta kasih sayang, bahwa kami bukan hanya teman sesama organisasi, namun juga kami semua bersaudara.
Posko selanjutnya, yaitu pos mentalitas, posko ini berada cukup jauh dari pos sebelumnya, kami berjalan dengan bantuan satu buah lambada yang dibawa oleh ketua kelompok, di posko ini sesuai namanya, kami di uji mental kami agar kami bisa belajar jika suatu saat nanti kami harus bertugas dengan keadaan yang kita tak pernah tau akan seperti apa jadinya, di posko ini kami tidak lebih lama dari saat kami berada di posko sebelumnya, namun, tentu saja di posko ini kesabaran, keberanian, dan pendirian kita benar-benar di uji, hampir semua dari kami para peserta basah kuyup oleh lumpur karena berbuat kesalahan kala itu, namun itulah resiko yang memang harus kami terima, karena mau tak mau, inilah salah satu proses pendidikan di malam itu. Lalu, kami melanjutkan langkah kami menuju posko selanjutnya, tak seperti saat kami diklat I beberapa bulan yang lalu, kami melalui banyak posko yang akhirnya baru bisa mencapai posko yang satu ini, yaitu posko terakhir kami di malam itu, pos pendinginan, disini kami hanya dipersilahkan duduk-duduk beristirahat, kami berbincang bincang santai sembari menunggu sang bulan yang akan berganti dengan mentari, kami saling berusaha menghangatkan dengan obrolan-obrolan yang bisa membuat kami melupakan ketegangan, dan haru yang telah kami rasakan di posko posko sebelumnya, ya dan saat itu waktu telah menunjukan pukul 5 pagi.
         
Mentari mulai terasa menghangatkan tubuh kami yang sepanjang malam ini, berkeliling hutan untuk mendapatkan materi-materi pamungkas dari diklat ini, dan kini tiba saatnya kami berkemas sembari menanti bis yang akan menjemput untuk kembali pulang ke kampus tercinta dan mengakhiri perjalan kami, tapi tentu saja ada satu hal yang harus kami lakukan disini, yaitu upacara pengangkatan dari anggota muda menjadi anggota tetap, ya itu yang benar benar kami tunggu, meskipun sebenarnya kami sangat bahagia, karena akhirnya bisa benar benar menjadi bagian dari lembaga ini, kami juga takut, takut jika suatu hari kami justru mengecewakan kakak-kakak kami yang sudah dengan susah payah mendidik kami beberapa bulan ini, dan tentu saja, dengan di angkatnya kami menjadi anggota tetap, tak berarti kami cepat puas begitu saja, namun justru inilah awalnya, inilah awal dari kisah kami, apakah kami bisa mempertanggung jawabkan apa yang telah kami perjuangkan selama ini.
Palembang, 23 Mei 2010 Kita Mau Kita Bisa, Bersama Kita Bisa !!!