Rabu, 18 Agustus 2010

Titip Rindu Lewat Doa™ 1


Hai ! kenalkan, aku Queenisya Ananda Fauziah … aku itu punya idola yang sampe sekarang belum pernah kesampean untuk ketemu dengan dia langsung : ( hhe, andai aja dia mau dateng ke kampung ku, aku pasti bakal seneeeeeng banget ! oh iya lupa, aku adalah siswi kelas 2 smp di desa terpencil di Kalimantan selatan, nah idola aku itu juga sama dengan ku, dia kelas 2 smp juga, dan nama kami berdua hampir sama lho,, oh iya, aku biasa di panggil Queen oleh teman teman dan keluargaku, tapi sejak aku suka dengan idolaku itu, aku lebih suka di panggil Ziah ! mau tau kenapa ? karena nama itu jadi sedikit kompak dengan idola ku itu, aduh kalian pasti tau deh siapa idola ku itu dan aku yakin, bukan cuma aku yang mengidolakan dia : ) nama idola ku itu Ahmad Fauzi Adriansyah !! simak curhatanku yah …
*Flashback di mulai*
Waktu itu, aku di ajak teman sekolahku, untuk menonton tivi bersama di balai desa, dia bilang ada acara bagus di tivi, karena aku gak mau ngecewain dia, aku akhirnya meng-iyakan ajakan dia untuk pergi ke balai desa : ) “Queen, kamu tau gak ? aku suka banget dengan acara tivi ini, aku yakin kamu juga bakal suka : )” ucap sahabat ku itu saat kami berdua baru tiba di balai desa, ternyata sudah banyak anak seumuran kami yang datang lebih awal, tentunya hanya untuk menonton acara tivi yang sama ! otomatis aku makin penasaran dengan acara yang emang terus jadi bahan obrolan akhir akhir ini oleh anak anak seusiaku terutama di sekolah, tapi karena di kampungku hanya ada satu satunya televisi yaitu di balai desa, jadi kami semua harus berkumpul disini jika ingin menonton televisi : ( oh iya, aku lupa sahabatku ini namanya Tarra Amanda, tapi aku biasa panggil dia dengan panggilan Rara, gak seperti namaku yang teman temanku bilang terlalu bagus untuk anak kampung seperti kami, hhe … “oh ya? hm, aku jadi penasaran Ra ? awas yah kalo gak bagus !” jawabku pada Rara yang terlihat sangat antusias menanti acara tersebut di mulai … setelah beberapa iklan di tivi akhirnya acara yang di tunggu tunggu Rara itu di mulai juga, dan aku mulai memperhatikan, karena aku juga ingin tau kenapa Rara sampai segitunya suka dengan acara tivi ini, sampai sampai dia lupa mengganti seragam pramukanya, karena takut terlambat tiba di balai desa siang ini : )  dasar Rara !
Berminggu minggu sudah berlalu, aku dan Rara kini memiliki jadwal rutin setiap sabtu dan minggu untuk bersama sama nonton tivi di balai desa, hari ini kami sengaja membawa bekal dari rumah agar tidak perlu membeli jajanan di luar kalau kami kelaparan saat menonton tivi, layar tivi yang sebelumnya menampilkan acara berita, sekarang sudah berganti dengan warna yang sangat colour full dan irama musik yang sangat ceria, aku suka ! ternyata aku sudah benar benar tertular virus Rara, aku jadi benar benar suka dengan acara tivi ini, Idola Cilik 3, itu nama acara tivi favorit ku dan Rara, serta hampir semua anak seusia kami saat ini, dan secara tidak langsung juga, karena sering nonton bersama, kami pun mendapat banyak teman baru disini, hanya karena 1 acara televisi, hha … “Queen, kan sekarang sudah 14 besar nih ? ayoo kamu ngejagoin siapa hayo! Kalo aku sih yang namanya Ahmad itu…” tanya Rara saat acara tersebut baru saja dimulai, “aduh Ra! setau aku gak ada deh yang namanya Ahmad ? kamu salah sebut kali ? ng, kalo aku siapa yah ? aku yang dari makasar itu deh kayaknya, tapi aku juga masih belum hapal banget namanya” jawabku sambil tetap fokus memandangi layar tivi, “oh, masa sih ? hm,, tapi aku yakin kok nama lengkap dia ada Ahmad nya” ucap Rara lagi,
 “oh, iyadeh, hha aku juga belum hapal kok !”
“sayang yah, Bian sama Acha gak masuk 14 besar : (“
“lha ? kamu juga suka sama mereka ?”
“iya, hhe mang kamu juga suka yah ? wah, jangan jangan ntar kita ngidolain orang yang sama lagi ! hha …” kami tertawa sambil terus memandang televisi yang berukuran 14” itu yang kini sedang di tonton oleh puluhan pasang mata, warga desa kami, kami semua menikmati kebersamaan di sini, yah harus kami terima karena kami masih bersyukur kami bisa menonton televisi, meskipun dengan cara seperti ini.
            Hari ini di sekolah ku akan di adakan seleksi anak berprestasi yang akan di adakan di ibu kota, kata guru ku acara ini di selenggarakan dalam rangka pemerataan standar pendidikan se-Indonesia, tentu saja aku dan Rara mengikuti seleksi tersebut, karena Rara adalah siswi yang selalu mendapatkan juara umum 1 di sekolah, sedangkan aku, selalu ada di urutan setelah dia, aku bangga memiliki sahabat seperti dia.
            Sepulang dari sekolah, aku sengaja mengajak Rara untuk mengerjakan tugas bersama di rumah, karena biasanya aku yang belajar di rumah Rara yang jaraknya sekitar 15 menit dari rumah ku jika berjalan kaki, maklum saja transportasi umum di kampungku masih sangat minim, “Queen ? hey … kenapa bengong ?” Rara mengibas ngibaskan tangannya di depan mukaku, “hey, ah kamu Ra ! ngagetin aja ?” jawab ku dengan manja, “kamu itu lo, aneh ! lagi belajar malah bengong …” jawab Rara sambil melanjutkan menulis,
“aku kangen Ozy Ra ! hha … kapan yah aku bisa liat dia gak cuma di tivi ?”
“aduh ! kamu itu kalo mimpi jangan ketinggian Zi …”
“Zi ?? eh, kamu tadi panggil aku apa ? Zi ? bagus juga !”
“yaelah, dia malah senyum senyum gak jelas, iya, kayaknya kalo aku panggil kamu Ziah juga bagus, kan mirip tuh nama kamu sama si Ozy jadinya ?”
“ih, temen ku yang paling cantik, paling pinter, makasih banget yah …”
“hhuu… ya sudah, lanjutin sana nulisnya ! besok kita gak ada waktu luang lagi nih, kan harus nonton di balai desa ?” aku mengangguk mendengar kalimat Rara barusan, temen ku ini memang benar, besok itu hari sabtu ya setiap sabtu dan minggu kami selalu berusaha gak pernah absen ke balai desa, untuk melihat Ozy, idola kami itu.
            Lonceng sekolah telah berbunyi, menandakan sudah saatnya kami pulang kerumah masing masing, tapi hujan turun dengan derasnya, beberapa atap di sekolah kami pun basah karena bocor, aku mulai khawatir, karena aku takut tidak bisa melihat Ozy hari ini, begitupun dengan Rara dia yang saat ini sedang menyalin catatan matematika yang ada di papan tulis, juga sesekali bertanya tanya, kapan hujan deras ini akan berhenti, ya siang ini hujan mengurung kami di sekolah, hujan yang juga seakan diikuti oleh hati ku yang kecewa karena tak bisa melihat idola ku kali ini, padahal aku sangat merindukannya.
            Keesokan paginya, aku mulai membuka mata ku, ternyata dari jam dinding yang ada di kamar ku, aku tau kalau aku sudah sangat kesiangan, “astaghfirullah, aku gak shalat subuh nih, masa aku bangun jam 10 ?” ucap ku komat kamit sendiri di kamar, aku juga heran, kenapa ibuku tidak mencoba membangunkan ku ? padahal bisanya beliau yang paling cerewet mengingatkan aku untuk shalat tepat waktu, aku berjalan keluar kamar, lalu duduk di meja makan, “ibu ? kenapa ibu gak bangunin Queen untuk shalat ?” tanya ku pelan, “kamu kan sakit ? salah kamu sendiri kenapa hujan hujanan kemarin sore ?” jawab ibu ku tanpa memalingkan pandangannya dari sayur sayuran yang akan beliau masak untuk berjualan gado gado keliling desa, iya ibu ku hanya penjual gado gado keliling, sedangkan ayah ku hanya buruh bangunan, dan aku ingat kemarin hujan begitu deras sampai menggenangi sekolah ku, dan karena sudah terlalu sore aku dan Rara nekat menerjang hujan, alhasil aku sakit hari ini.
            Setelah makan siang, aku menguatkan diri ku untuk tetap bisa melihat Ozy di tivi hari ini, jadi aku berusaha merayu ibu agar dia mengizinkan aku untuk pergi sore nanti, “kamu itu lagi sakit ! ibu gak suka kalau kamu kelewatan mengidolakan artis itu, karena ibu takut nanti kamu malah gak konsen belajar cuma karena dia, dan 1 lagi, kita itu cuma keluarga yang serba pas pasan, jadi kamu jangan mimpi bisa ketemu dengan dia …” ibu menjawab rayuan ku dengan kalimat panjang nya yang selalu sama, dan tentu saja aku selalu kalah jika harus berdebat dengan ibu, aku tau maksud ibu baik, tapi apa aku salah kalau aku mengidolakan dia ?
            Pukul 2 siang aku menjemput Rara kerumahnya, karena ibu sedang berjualan keliling aku jadi bisa pergi ke balai desa, memang aku akui tubuhku sedang sakit saat ini, tapi jika hanya untuk berjalan kaki menuju balai desa yang juga melewati rumah Rara, aku yakin aku masih sanggup, Rara membukakan pintu rumahnya untukku, rumah Rara memang sedikit lebih bagus dari rumahku, maklumlah kedua orang tua nya adalah guru di SD yang ada di kampung kami, “Ziah ? kamu dah sembuh ?” tanya Rara kaget melihat kedatanganku, aku mengangguk pelan, sepertinya Rara tau kalau aku sedang berbohong, “kamu tau Zi ? kata tetangga belakang rumah ku, Ozy kemarin nyanyi dengan cakka lho, aku sih gak tau cakka itu siapa, tapi kata tetangga ku itu, mereka nyanyi berduanya qreen banget ! sayang kita gak bisa liat yah ?” ujar Rara bercerita panjang tanpa memberi ku cela untuk menimpali, aku tau hari ini sudah 5 besar, untuk ke dua kalinya, karena minggu lalu tidak ada dari mereka yang tinggal kelas.
            Balai desa sudah cukup ramai saat kami tiba, alhasil kami menonton dari tempat duduk paling belakang, ya sudahlah yang penting aku masih bisa melihat ozy, batinku … berjam jam berlalu aku kecewa ternyata Ozy mendapatkan rapor merah, meskipun aku senang bisa melihat ia bernyanyi, tapi entah kenapa perasaan ku benar benar tak enak saat ini.
Ozy kini berdiri diantara Alvin dan Nova, lampu disana berkerlap kerlip seiring dengan musik yang bergemuruh, aku melihat tatapan putus asa yang terpancar dari matanya, entah kenapa dengan idola ku itu ? kenapa ia begitu bersedih ? aku melihat kesekelilingku, Rara menggenggam tangan ku kuat, apakah dia juga memikirkan hal yang sama dengan ku ? meskipun aku yakin tidak mungkin ozy yang tinggal kelas minggu ini, 


“Ozy ! sayang sekali kamu harus tinggal kelas hari ini” teriak si pembawa acara yang nyaris tak bisa ku percaya, yang tiba-tiba membelalakan mata ku, apa ? siapa yang tinggal kelas ? buka Ozy kan ? aku masih tak bisa mempercayai pendengaranku, namun aku tak bisa menyangkal saat aku melihat Ozy langsung di peluk penuh haru oleh Alvin, Rio dan Lintar, dan sepertinya hanya aku yang kini tidak menangis atau pun bersedih, tapi pandanganku mulai gelap aku tak bisa lagi mendengar orang orang yang sedang heboh membicarakan Ozy yang baru saja tinggal kelas, dan mataku juga mulai rabun, dan … aku pingsan !
            Seminggu telah berlalu, hari ini aku sudah bisa pulang ke rumah, berhari hari di rawat di puskesmas sangat membosankan bagiku, ternyata aku terkena gejala demam berdarah, untung saja keluarga ku punya kartu jaminan kesehatan untuk keluarga miskin seperti kami ini, Rara yang kini sedang membantu Ibu ku berkemas untuk pulang, sepertinya masih merasa bersalah pada ku, karena saat itu dia tidak melarangku untuk nonton di balai desa padahal saat itu aku masih sakit, “gimana ? enak toh di rawat di sini ? enak toh sakit ?” ujar Ibu menyindir ku sambil melipat pakaian ku, “Ibu, maafin Queen ya ? soalnya sudah bikin Ibu sama Ayah susah” jawab ku dengan penuh rasa bersalah, Rara yang ada di ruangan yang sama dengan kami hanya bisa diam, beberapa menit kemudian akhirnya Ayahku datang, kami kembali ke rumah menggunakan becak, Ayah bersama Ibu ku dan aku bersama Rara, “Zi ? aku masih kaget banget waktu kamu pingsan waktu itu, aku takut kamu kenapa kenapa …” ucap Rara kepadaku, aku tau dalam arti lain dia ingin meminta maaf pada ku, entah sudah untuk keberapa kalinya, “kamu itu ! aku udah bosen tau gak denger kamu minta maaf terus ? lagi pula kan gak ada yang perlu di maafin ? aku yang salah, sudah tau sakit, tapi masih aja maksain untuk ke balai desa …” jawab ku sedikit tegas pada Rara, lalu aku mulai teringat waktu itu, sesaat sebelum aku pingsan, Ozy ? Ozy tinggal kelas ? aku masih tidak bisa mempercayainya, tapi karena hari itu, kini aku sudah tak di izinkan lagi untuk pergi ke balai desa, Ibu dan Ayah ku sudah mengingatkan ku beribu ribu kali selama aku di rawat kemarin, “kenapa Zi ? kok kamu sedih ?”
“ah, gak papa Ra aku cuma kepikiran Ozy, apa bener yah waktu itu dia yang tinggal kelas ?”
“ya ampun Zi, hampir aja aku lupa! Ini titipan dari wali kelas kita” Rara memberikan amplop putih yang sudah tidak rapi lagi karena ia meletakkanny di saku rok sekolahnya, aku membuka amplop itu dan segera membacanya karena penasaran, “apa maksud dari surat ini Ra ?” tanya ku gak ngerti, karena menurutku tulisan di surat itu terlalu berat bahasanya, “aduh Zi ! kamu itu gimana sih ? di surat itu, tertulis kalau karangan ilmiah kita di terima ! dan kita bisa ikutan lomba itu ke tingkat nasional ! tapi, sebelumnya kita harus mengikuti seleksi tingkat profinsi terlebih dahulu !” Rara bercerita penuh semangat, aku tau Rara bukanlah tipe anak yang mudah puas kalau tentang pendidikan, “lalu ?” tanya ku masih belum mengerti, “iiiih ! tugas kita selanjutnya, yaitu membuat karya ilmiah lagi, tapi kali ini di tentuin dari pusat, makanya kamu cepet sembuh dong, biar bisa sekolah lagi dan kita bisa bikin karya ilmiah kita berikutnya, oke ?” aku mengangguk mengerti, ini lah hal yang aku suka dari Rara dia selalu penuh semangat dan aku tau cita cita untuk menjadi seorang insinyur yang bisa memajukan desa kami adalah impian terbesarnya.
*flashback selesai*
            Hari ini, aku dan Rara beserta anak anak smp seumuran kami yang berhasil mendapatkan kesempatan untuk ke Jakarta, demi mengikuti lomba karya ilmiah tingkat nasional, sudah tiba di bandara, kami mendapatkan fasilitas yang sangat cukup dari kegiatan ini, dari akomodasi dan semuanya, selama kami mengikuti kegiatan ini kami juga mendapatkan seragam baru selama di Jakarta dan juga alat tulis, aku dan Rara yang baru sekali ini meninggalkan desa kami untuk pergi jauh, dan juga menggunakan pesawat terbang, jujur masih merasa takut, tapi demi beasiswa yang sangat kami inginkan itu, rasa takutku perlahan terlupakan, aku dan Rara memiliki teman baru yang sama sama mewakili Kalimantan selatan pada lomba ini, Rara yang sedang asik ngobrol dengannya sepertinya lupa dengan kehadiranku disini, tapi tak masalah aku juga tak ingin mengganggu, “kamu tau gak dengan acara anak anak yang namanya Idola Cilik ?” tanya teman baru Rara itu padanya, aku mendadak memasang telingaku, aku sudah lama sekali tidak melihat acara tivi favoritku itu, entah kalau Rara, karena aku sudah lama tidak membicarakan hal itu padanya, karena aku sudah berjanji pada Ayah dan Ibuku, meskipun aku sangat rindu akan acara itu, “Zi, kamu sudah kenalan dengan temen kita yang baru ?” Rara menyadarkan aku dari lamunan ku tentang dia yang selama ini sangat ingin aku temui, “hah ? apa ?” jawab ku dengan tampang bodoh, “aduh Zi, ini nih kenalin namanya Nurul, ternyata dia ini suka juga lo nonton idola cilik ?” ujar Rara dengan senyum lebar yang merekah, aku tau anak kota seperti Nurul pasti selalu menonton acara itu, karena dia pasti memiliki televisi sendiri di rumahnya tidak seperti kami yang terpaksa menonton bersama di balai desa, “iya, aku Nurul kamu Ziah ya temannya Rara ?” ucap anak itu ramah sambil tersenyum, dan kami pun berjabat tangan, “oh iya kamu suka dengan siapa di IC ?” tanya Nurul pada ku, aku terdiam sejenak, setelah berminggu minggu apakah acara itu masih ada ? apakah nanti di Jakarta aku bisa melihatnya ? padahal sudah hampir 1 bulan aku tidak lagi membicarakan tentang acara tersebut, “ng, aku aku suka dengan …” “Ozy ! iya nurul, kalau Ziah sukanya sama Ozy” potong Rara pada ku, “oh, kamu sukanya sama ozy ? sayang banget yah, karena dia kan sudah lama tinggal kelas, sekarang yang tersisa hanya Rio dan Lintar” jawab nurul sambil tersenyum, lalu ia mengeluarkan selembar kertas dari saku jaketnya, “ini …”

  ujarnya sembari memberikan kertas itu pada ku, ternyata itu bukanlah selembar kertas melainkan selembar foto, aku masih ingat dengan jelas bahwa di foto itu ada Alvin, rio, ozy, nova, dan yang cukup sulit terlihat ada lintar dan ka oky, “foto ini ?” mulut ku rasanya sangat susah untuk berkata, namun yang aku tau pasti ini adalah foto saat aku terakhir kali melihat dia di tivi, saat ini menangis di pelukan para sahabtanya, “iya aku selalu bawa foto ini kemana pun, soalnya aku suka banget dengan persahabatan mereka, aku juga nangis waktu ozy tinggal kelas, dan beberapa minggu kemudian Alvin yang tinggal kelas…” Nurul bercerita tanpa di pinta, sepertinya dia bisa membaca pikiranku kalau aku sudah lama ingin mendengar kabar mereka, kami bercerita panjang lebar selama di pesawat, tak terasa kami hampir tiba di bandara Jakarta.
            Berhari hari kami mengikuti pelatihan disini, aku senang mendapat banyak teman baru di sini, ternyata anak anak kota tidak se jelek yang aku kira, ternyata selama ini anggapan ku salah bahwa anak anak kota semuanya jahat dan sombong sombong, buktinya kami semua di sini bisa menjadi 1, “Nurul, kegiatan kita hari ini sudah selesai kan ?” tanya ku pada teman baru ku itu, “iya sekarang kita sudah boleh istirahat di kamar masing masing” jawab Nurul dengan sumringah, “kok kamu keliatannya gembira banget ?” tanya ku ingin tau, “hha .. iya ! karena hari ini ada grand final ic ! untung banget yah kita, karena setiap peserta kamarnya ada telivisi : )” bisik nurul di telingaku, aku terdiam, entah kenapa aku justru bingung harus memberi respon apa, karena sejak di pesawat waktu itu, kami tak pernah ada waktu untuk membicarakan tentang idola kami, “ayo kita ke kamar sekarang juga, Rara sudah nungguin kita dari tadi” Nurul menarik tanganku, aku mengikuti langkahnya, namun masih dengan pikiran yang campur aduk.
            Ternyata benar kata Nurul, hari ini adalah grand final idola cilik 3, acaranya sungguh luar biasa, apa lagi untuk ku yang sudah lama tidak melihat acara ini, aku pun kaget saat acara ini baru saja di mulai, aku melihatnya lagi ! aku benar benar melihatnya ! aku melihat senyumnya dan aku melihat gerakannya ! suara khasnya pun terdengar jelas di telinga ku ! meskipun ia saat itu bernyanyi bersama sama dengan temannya, aku rindu senyum itu, aku rindu keceriaan wajahnya, aku rindu hadirnya ! aku rindu dengan dia, saat acara berlangsung, tak banyak komentar dari ku, Nurul apalagi Rara, hanya perasaaan senang yang menggebu dan rasa kagum dapat melihat idola kami, rasanya semua perasaan dan pikiran kami semuanya tertuju pada 1 titik fokus, iya kami semua menikmati memandang dengan puas idola kami masing masing, aku tau kalau ternyata para penggemar mereka memiliki sebutan masing masing, ada Rise untuk pendukung Rio, ada Alvinoszta untuk pendukung Alvin, ada Dlinstar untuk pendukung lintar, dan Freenzy untuk pendukung idola ku, Ozy, sebenarnya aku sudah lama mengetahui panggilan itu, hanya saja aku masih belum terlalu paham, kami menghabiskan waktu berjam jam di dalam kamar hanya untuk memandangi televisi yang sedang menyiarkan anak anak kebanggan bangsa yang sedang berkompetisi secara sehat menggunakan bakat yang mereka punya, dan ternyata acara yang memakan waktu lebih dari 3 jam itu masih belum cukup membayar rasa rinduku, hingga saat mereka bernyanyi bersama, ka oky mengucapkan kalimat ‘sampai jumpa minggu depan di rapor grand final idola cilik 3!’ aku sadar, bahwa sejak berjam jam yang lalu kami telah di bodohi, kami kira hari ini juga kami akan mengetahui siapa pemenangnya, kami mengira hari ini adalah saat terakhir kami melihat mereka berlenggak lenggok di layar kaca, dan saat pesta idola itu selesai kami bergegas untuk mandi, meskipun saat itu waktu sudah menunjukan lewat dari pukul 7 malam.
            Hari ini kami akan diajak kesuatu tempat, karena kami sudah 2 minggu mengikuti kegiatan di ibu kota dan hari ini hari terakhir kami di sini, kami menaiki sebuah bis pariwisata yang entah akan mengantarkan kami kemana, yang jelas kami semua akan diajak bersenang senang hari ini, “anak anak semuanya, kita sudah setengah perjalanan, hari ini kami akan mengajak kalian untuk melihat sebuah konser musik yang memang pengisi acaranya hampir semuanya anak anak seusia kalian ini, dan kami harap kalian akan menyukainya” ujar salah seorang panitia yang juga ikut di bis yang sama dengan kami, kami semua bertanya tanya, akan kemana kami ? konser apa ? lalu apa saja yang akan terjadi disana ? namun 1 hal yang kami tau, hal itu pasti sangat menyenangkan !
            Jam 1 siang, kami tiba di suatu tempat, dan sepertinya tak ada 1 pun dari kami yang mengetahui tempat itu, disana sangat ramai orang orang yang terlihat sedang menunggu sesuatu, kami di arahkan untuk menerobos masuk kedalam, melewati semua kerumunan orang orang yang sebenarnya sudah bisa di tebak bahwa mereka sudah lama tiba disini, di hadapan kami ada sebuah panggung megah yang sekarang di kerumuni oleh banyak kru, musik yang mengalun tidak terlalu kuat saat ini, seolah menyambut kami, tapi entah kenapa aku seperti mengenal sayup sayup suara yang ada di panggung sana, kami duduk di kursi yang tidak terlalu depan dari panggung, hanya saja, tempat duduk ini cukup strategis menurutku, Nurul melompat lompat kegirangan saat kami baru akan duduk, “kenapa kamu ?” tanya Rara melihat tingkah teman kami itu, “astaga ! kalian bener bener gak tau ? liat itu !” Nurul menjawab, sambil terus sedikit histeris kegirangan, dia mengarahkan tangannya menunjuk ke arah orang orang yang ada di panggung, dan dia memberi tau atribut atribut yang ada di sana, “astaga …” ucap ku dan Rara kompak, suara kami nyaris tertahan, tak percaya ! kami sekarang ada di acara itu ! kami akan menonton acara itu secara langsung ?! aku nyaris tak bisa berpikir apa apa, karena lampu ruangan yang masih redup, aku berusaha menajamkan pandanganku, untuk melihat siapa saja yang ada di atas panggung sana, dan kini aku yakin bahwa aku mengenal mereka, iya mereka semua anak anak idola cilik yang sedang melakukan latihan akhir, sebelum acara tersebut di mulai ! aku senang, aku terharu ! dan ternyata semua orang yang ada di luar tadi beberapa menit kemudian di persilahkan masuk, dan suasana pun mulai ramai, dan tidak terlihat lagi dari mereka yang tadi latihan diatas panggung, mungkin kini mereka sedang bersiap di belakang panggung.