Minggu, 15 Agustus 2010

Daun "Lumpur 15"


Hari itu adalah hari yang sangat kami tunggu-tunggu, tentu saja kami menyambutnya dengan perasaan haru dan bergembira, namun di sisi lain kami juga takut, entah apa lagi ujian yang akan kami terima untuk mencapai sesuatu yangg kami ingini itu, yaitu menjadi anggota tetap LPM UMP ! meskipun 3 bulan sudah,  kami menjadi anggota muda di lebaga ini, sebenarnya masih bayak kekurangan di diri kami, namun kami masih terus berusaha maju, untuk menerima hal-hal yang kami masih belum tahu apa yang akan terjadi di depan sana.
Rabu, 19 mei pukul 19.00 saat itu, kami semua sudah berkumpul di basecamp kami, yang biasa kami sebut dengan sekret, nama yang di ambil dari kata sekretariat, tentu saja kami sangat bersyukur karena jam karet masih berlaku disini kala itu, karena pada waktu itu, kami para anggota muda bersama sama berusaha melengkapi kekurangan dari peralatan dan persyaratan untuk mengikuti Diklat II LPM UMP angkatan ke-15 ini, malam itu kami berkumpul menjadi 1 di sebuah ruangan yang tak lebih besar ukurannya dari 3x3m, ya kurang lebih begitu, di malam yang lembab karena saat itu turun hujan, kami berusaha berpacu dengan waktu untuk saling membantu, saling mengingatkan, dan tentu saja saling menjaga, karena kami saat itu benar benar sendiri, meskipun bukan dengan arti yang sebenarnya, “priiiiiiiiiiiit!!” terdengar bunyi peluit di tiup dengan kencang dan panjang, sudah dapat di tebak siapa yang membunyikan peluit itu, lalu kami lari dengan tergopoh gopoh mendatangi sumber suara, yang ternyata mengharuskan kami berdiri di tengah lapangan dengan rintik hujan yang masih terasa, dari raut wajah kami semua, sudah tak perlu di tanyakan lagi apa yang ada di benak kami, takut ? munafik jika ada yang berkata tidak, namun kami berusaha saling menenangkan satu sama lain, tugas pertama kami, yaitu kami harus membersihkan air yang menggenangi ruangan depan, ya mungkin bukan tugas yang berat dan nampaknya tak berarti apa apa, namun hal itu cukup untuk memulai malam itu, sebagai pemanasan bagi kami para anggota muda, dan tentu saja, kakak-kakak kami bermaksud ingin melihat kekompakan kami semua dari kegiatan itu.
Detik demi detik terasa sangat lambat saat itu, kami semua tak lepas dari perasaan tegang, atau apalah namanya, namun yang aku tahu, tak sedikit dari kami yang sempat terbesit di benaknya untuk mundur pada malam itu !
Keadaan sedikit menjadi hangat setelah kami kembali beraktifitas, malam itu tak terlalu ketat peraturan yang kami terima, tapi malam itu juga, adalah malam yg tetap menyenangkan untuk kami semua, dan setelah makan malam, kami pun di persilahkan untuk tidur sejenak, untuk menyiapkan tenaga di keesokan paginya.
Pagi itu… Kamis, 20 mei 2010 pukul 4.30 bukan waktu yang tepat untuk bangun di pagi hari yang masih menyisakan hujan tadi malam, namun kami tetap harus bangun, melawan rasa kantuk dan lelah yang menjalari di seluruh tubuh, “priiiiiiiiit” suara yang entah sejak kapan, seolah menjadi momok yang menakutkan di setiap detik kami, kami takut jika tiba-tiba suara peluit itu sampai di telinga kami, dan itu berarti kami harus segera menuju ke arah sumber suara tersebut !
Saat semuanya sudah lengkap di barisan masing-masing, kami mulai mengambil posisi untuk mulai menggerakan badan, olah raga kepagian pun di mulai, dengan bertelanjang kaki, kami menikmati pagi yang masih sangat basah itu, untung saja, kami semua justru langsung terbangun oleh sengatan dingin udara saat itu.
Waktu terus berlalu, tak terasa beberapa saat lagi kami akan segera menuju ke tempat diklat yang sesungguhnya, nah tempat itulah yang akan menjadi saksi bisu cerita cerita kami, selama Diklat LPM UMP ini.
Di sepanjang jalan, kami sejenak melupakan inti dari diklat ini, mungkin lebih tepatnya sedikit bersenang senang, di dalam bis kampus yang membawa kami meninggalkan kota, kami semua bersama menikmati perjalanan, bahkan ada yang bernyanyi bersama dan tentu saja hal yang selalu wajib dan mungkin tak pernah di lupakan, yaitu berfoto bersama, padahal kami semua tahu, bahwa kami sedang menuju ke tempat pendidikan yang sebenarnya!
Setelah menempuh perjalanan lebih dari 2x60 menit, akhirnya kami tiba di sebuah desa yg berada di desa Lorok Kabupaten OI, tepatnya di sebuah sekolah dasar milik sebuah yayasan, di saat kami turun dari bis, tak satupun dari kami berhasil menebak dengan benar dimana kami akan tinggal selama disini, ternyata benar-benar di luar dugaan, kami semua saat itu juga langsung bersama sama memasuki perkebunan karet, lalu membangun beberapa tenda disana, untuk kami bermalam, dan kami juga sudah diberi tugas masing-masing, dari ketua regu, sekretaris, hingga komandan dapur,  dan petualan kami pun benar benar di mulai disini …
Materi demi materi telah kami dapatkan, dan tentu saja kami semua benar-benar di uji saat itu, disana, kami benar benar diberitahu, apa arti dari kebersamaan, persahabatan, persaudaraan dari sebuah organisasi, semua emosi yang biasanya dengan mudah kami keluarkan, tentunya kami tak bisa seenaknya disini, kami harus betul-betul sabar menghadapi semuanya, terutama ujian yg paling besar ialah menahan ego kami yang ada di diri masing-masing, ada tangis, ada tawa, ada kejengkelan disana, dan tentu saja ada kekeluargaan yang tanpa sadar perlahan terbentuk disana, hingga akhirnya malam itu pun tiba …
Hujan deras yg menyirami pohon pohon rimbun tempat dimana tenda kami didirikan, ternyata tak bisa mengubah sedikitpun hal yang akan terjadi di malam itu, malam puncak dari acara diklat kami !
          Minggu, 23 mei 2010 pukul 2:00 pagi, dini hari lebih tepatnya, kami melangkah dengan badan yang bergetar oleh dinginnya angin yang menusuk tulang, lalu kami berjalan beriringan menuju tempat yang lebih teduh, dan disana kami mendapatkan pengarahan, bahwa malam itu kami akan mengelilingi hutan menuju 3 pos yang perbeda, dan malam itu juga, kami yang berjumlah 13 orang, dibagi menjadi 2 kelompok.
Posko 1, adalah pos kekeluargaan disini, kami semua di ajak untuk saling mengenal satu sama lain lebih dalam lagi, dan tak sedikit dari kami yang meneteskan air mata ketika disini, dan di pos ini juga, kami di ajarkan keterbukaan, kejujuran serta kasih sayang, bahwa kami bukan hanya teman sesama organisasi, namun juga kami semua bersaudara.
Posko selanjutnya, yaitu pos mentalitas, posko ini berada cukup jauh dari pos sebelumnya, kami berjalan dengan bantuan satu buah lambada yang dibawa oleh ketua kelompok, di posko ini sesuai namanya, kami di uji mental kami agar kami bisa belajar jika suatu saat nanti kami harus bertugas dengan keadaan yang kita tak pernah tau akan seperti apa jadinya, di posko ini kami tidak lebih lama dari saat kami berada di posko sebelumnya, namun, tentu saja di posko ini kesabaran, keberanian, dan pendirian kita benar-benar di uji, hampir semua dari kami para peserta basah kuyup oleh lumpur karena berbuat kesalahan kala itu, namun itulah resiko yang memang harus kami terima, karena mau tak mau, inilah salah satu proses pendidikan di malam itu. Lalu, kami melanjutkan langkah kami menuju posko selanjutnya, tak seperti saat kami diklat I beberapa bulan yang lalu, kami melalui banyak posko yang akhirnya baru bisa mencapai posko yang satu ini, yaitu posko terakhir kami di malam itu, pos pendinginan, disini kami hanya dipersilahkan duduk-duduk beristirahat, kami berbincang bincang santai sembari menunggu sang bulan yang akan berganti dengan mentari, kami saling berusaha menghangatkan dengan obrolan-obrolan yang bisa membuat kami melupakan ketegangan, dan haru yang telah kami rasakan di posko posko sebelumnya, ya dan saat itu waktu telah menunjukan pukul 5 pagi.
         
Mentari mulai terasa menghangatkan tubuh kami yang sepanjang malam ini, berkeliling hutan untuk mendapatkan materi-materi pamungkas dari diklat ini, dan kini tiba saatnya kami berkemas sembari menanti bis yang akan menjemput untuk kembali pulang ke kampus tercinta dan mengakhiri perjalan kami, tapi tentu saja ada satu hal yang harus kami lakukan disini, yaitu upacara pengangkatan dari anggota muda menjadi anggota tetap, ya itu yang benar benar kami tunggu, meskipun sebenarnya kami sangat bahagia, karena akhirnya bisa benar benar menjadi bagian dari lembaga ini, kami juga takut, takut jika suatu hari kami justru mengecewakan kakak-kakak kami yang sudah dengan susah payah mendidik kami beberapa bulan ini, dan tentu saja, dengan di angkatnya kami menjadi anggota tetap, tak berarti kami cepat puas begitu saja, namun justru inilah awalnya, inilah awal dari kisah kami, apakah kami bisa mempertanggung jawabkan apa yang telah kami perjuangkan selama ini.
Palembang, 23 Mei 2010 Kita Mau Kita Bisa, Bersama Kita Bisa !!!