Kamis, 02 Juni 2011

Bakpao ( kakak )


Dari hijaunya daun bisa aku rasakan betapa sejuknya pagi ini
dan dari semilir angin bisa aku bayangkan betapa damainya kehidupan ini
ingin aku bisa ikut bernyanyi dengan angsa angsa yang berlarian mengitari hamparan sawah
dan menikmati betapa luar biasanya kuasa dari sang illahi
***
“Tasya ? bangun Sya ?” suara itu menyadarkan ku, dan berhasil mengakhiri mimpi itu, “ayo dong hari ini kamu sudah bukan anak sekolahan lagi ! kakak gak mau terlambat cuma gara gara kamu !” sergah kakak ku yang sepertinya sudah bersiap untuk memasuki hari pertama di semester barunya, tapi bagiku hari ini hari pertama ku menjadi seorang mahasiswa, tanpa banyak menjawab aku segera bangun dan beranjak ke kamar mandi.
Diperjalanan gak banyak kata yang keluar dari mulut kakak ku itu, dia adalah satu satunya saudara yang aku punya meskipun kami bukanlah dari satu ayah, namun dia tetap menjadi kakak yang paling aku sayangi, ya ibuku menikah lagi setelah kehilangan ayahnya, dan setelah ibu menikah dengan ayahku lahirlah aku, “kamu kenapa ?” tanyanya yang sepertinya merasa tidak nyaman dengan tatapanku, “ah nggak kak, makasih ya kak udah ngajakin tasya bareng ke kampus hari ini ?” jawab ku dengan tatapan teduh kearahnya, dan berharap ia akan melontarkan senyuman padaku, setidaknya untuk pertama kalinya dan untuk menyambut hari pertamaku sebagai mahasiswa, “oh itu, iya sama sama” jawabnya singkat dan masih memandang lurus ke depan dan konsentrasi dari balik kemudi mobil, dan ternyata senyum itu masih belum bisa aku miliki.
Setibanya di kampus dia segera mengantarkan ku menuju fakultas seni dan budaya yang berada tidak jauh dari fakultas hukum tempat dia kuliah, aku sengaja memilih kampus yang sama dengannya agar aku bisa dekat dengannya, mungkin tidak saat ini namun aku harap kelak aku bisa perlahan memenangkan hatinya, “ini fakultas kamu, dan fakultas kakak disana” ujarnya saat kami tiba di depan pintu utama fakultasku, sembari mengarahkan telunjuknya kearah sebuah gedung yang tak kalah megahnya berdiri di seberang fakultasku, “iya ka, sekali lagi terima kasih ka” jawabku tentu saja dengan senyuman yang paling tulus, aku tau meskipun dia tidak pernah memperlihatkan senyumannya untuk ku, tapi di balik sikap kaku nya, dia adalah kakak yang baik hati, “oke selamat belajar” ujarnya lalu pergi meninggalkanku mematung dan membiarkan aku menikmati memandangi punggunggnya yang tegap.
***
Hari hari Ospek yang sudah seminggu berakhir, membuat aku tidak terlalu merasa kesulitan di hari pertama ku ini, karena aku sudah memiliki beberapa teman baru disini, “hey kamu kenal dengan kak Aldo ?” Sinta salah satu teman baru ku yang memang aku kenal sejak Ospek kemarin tiba tiba bertanya padaku tantang kakak ku itu, “ka Aldo ? kenapa?” jawabku cepat, aku gak kepikiran teman baru ku ini mengenal kakak ku? “kamu tahu gak sih ? dia itu cowok yang paling banyak fans nya di kampus kita, apa lagi cewek cewek fakultas hukum !” ujar Sinta menggebu, “kamu harus hati hati loh kalau deket dengan dia, apalagi kita kan masih baru banget disini ? bisa bisa kita di gencet oleh para senior !” lanjutnya lagi, entah kenapa aku merasa kalimatnya itu justru menjadi seperti saran yang harus aku turuti, padahal dia kan kakak ku ? “kamu tahu dari mana ? ka Aldo yang bilang ?” tanyaku lugu, gak ngerti apa maksud teman baruku ini, “udah deh, pokoknya lebih baik kamu gak usah deket deket dia lagi, dari pada jadi bulan bulanan para senior senior centil ?” ujar Sinta lagi.
Di sela jadwal pergantian mata kuliah, aku mengayunkan langkah kakiku menuju kantin kampus, sekalian untuk belajar terbiasa dengan suasana disini, sepanjang koridor aku merasa semua orang melihatku dengan tatapan aneh dan …. “ehm !” langkahku terhenti, “kakak ?” tanyaku pelan, “ngapain disini ?” ucapnya lagi, “aku kak?” tanyaku polos, tapi dari matanya aku rasa dia bukan sedang berbicara dengan ku, sebelum sempat aku menoleh kebelakang, dia langsung menarik tanganku dan kini aku berdiri tepat disampingnya, “kalo kalian ganggu dia lagi, kalian semua bakal tahu akibatnya !” kali ini ka Aldo berbicara dengan sedikit berteriak, aku gak nyangka ternyata dia sedang membelaku saat ini, aku pun baru tahu ternyata dari tadi aku sedang diikuti oleh beberapa senior, benar kata Sinta.
***
Sore ini aku berniat untuk bersepeda keliling komplek dan berharap nanti aku bisa bertemu dengan penjual bakpao, aku ingin membelikannya untuk kakak, sebagai ucapan terima kasih karena sudah menolongku tadi, “ma, Tasya keluar sebentar ya ?” teriakku mencari mama untuk pamit terlebih dahulu, “mama lagi gak ada, lagi pergi tuh sama papa kamu” ucap ka Aldo dari depan tivi, huhff, apa maksudnya dengan kalimat barusan ? “oh kalo gitu aku pamit sebentar yah kak” lanjutku yang akhirnya pamit dengan ka Aldo, tapi kayaknya dia gak denger kata kataku barusan, okelah aku akan tetap pergi.
Sudah hampir satu jam aku berkeliling dan tak satupun penjual bakpao aku temui, padahal aku ingin sekali membelikannya untuk kakak. Dering ponsel ku berbunyi dan dari layarnya aku tau bahwa yang menghubungiku adalah papa, “halo pa ?” jawabku dengan segera, “Tasya, kamu malam ini makan malam berdua aja ya dengan ka Aldo ? mama dengan papa masih ada urusan” ucap papa dari seberang sana, “oh, gitu ya pa ? iya pa gak-papa” jawabku sedikit kecewa, karena sebenarnya kami tidak pernah melewatkan waktu makan malam tanpa seisi rumah ikut berkumpul, karena tak kunjung menemukan apa yang aku cari akhirnya aku memutuskan untuk pulang.
***
Langkah tertatih menanti duka yang ingin ku akhiri
Senyum tertimbun dalam kebencian yang membukit
Seakan senja takkan lagi mengharap bintang bintang
Dan rerumputan menolak untuk berayun ….
“POKOKNYA BESOK ALDO GAK MAU LAGI JADI SUPIR PRIBADINYA MA !” aku tersentak, jarum jam di kamarku menunjukan pukul sebelas malam lebih tiga puluh empat menit, mungkin mama baru saja pulang, dan ka Aldo langsung menyerbu mama dengan emosinya, oh Tuhan apa salah ku? Sehingga dia begitu membenci ku ? aku melangkah keluar kamar, kaget! ternyata papa ada di depan pintu kamar ku dan dia langsung memelukku, aku tahu papa pasti khawatir aku mendengar keributan itu, “pa, mulai besok Tasya bawa mobil sendiri aja ya pa, Tasya gak apa apa kok pa?” ujarku berbisik dan mencoba meyakinkan papa, bersekolah di luar negri selama 3 tahun, tidak terlalu membuat ingatanku kabur tentang jalanan di kota ku, apa lagi kalau hanya sekedar menuju kampus ku, “kamu masih inget dengan jalan jalan disini ? keputusan papa untuk menyekolahkan kamu diluar negri salah satunya agar kelak Aldo merasa bahwa dia membutuhkan kamu, tapi ternyata salah, Aldo sepertinya masih belum bisa menerima kita disini” ucap papa dengan tatapan khawatir, aku ngerti meskipun hanya terpaut dua tahun usianya dengan ku tapi dia tidak terlalu menyukaiku, juga papa ku entah kenapa padahal saat itu dia seharusnya belum mengerti siapa ayahnya sebenarnya, tapi ka Aldo kecil memang sangat pintar, bahkan dia tahu betul siapa ayah kandungnya.
***
Tak terasa sudah satu bulan aku kuliah disini dan ini adalah hari kesekian dimana aku memutuskan untuk membawa mobil sendiri, “Sya! Tasya, tunggu” Reno memanggilku sambil sedikit berlari menyusul langkahku menuju kelas kami, lalu dia memberikan sesuatu untukku, “ini ada titipan” ujarnya tanpa perlu aku tanya, “untukku ?” Reno mengangguk pasti dan segera memasuki kelas, “dari Aldo anak fakultas hukum” bisiknya saat berjalan mendahuluiku, apa ? aku gak salah denger ? aku membuka kotak hitam kecil itu, disana ada dua lembar kertas yang dilipat kecil, aku membuka kertas pertama yang berwarna biru –happy birthday Sya, semoga kelak menjadi seorang wanita dewasa yang bisa jadi kebanggaan mama, juga papa mu dan ayah ku- hanya itu yang tertulis, singkat dan sangat sederhana tapi aku tak pernah menyangka setelah 18tahun aku tak pernah sekalipun mendapatkan ucapan selamat darinya, sampai hari ini,,,lalu aku malanjutkan membuka kertas yang kedua yang berwarna hijau, disana ada tertulis seruan bahwa nanti malam jam 7 aku harus segera menemuinya di sebuah mall dan hanya sendirian, aku bingung kenapa dia tidak mengatakan semua ini secara langsung ? “Tasya ? mau sampai kapan kamu berdiri disana ?” tanya seorang dosen yang mendatangiku, dan aku segera masuk kelas karena dosen itu akan segera memulai perlajaran.
***
Mata kuliah terakhir sudah selesai tapi aku masih belum beranjak meninggalkan kampus, aku melirik jam tangan ku yang mulai akan menunjukan tepat jam empat sore, aku duduk di salah satu kursi panjang yang terletak di dekat parkiran mobil, dari sini aku bisa melihat mobil kak Aldo dengan jelas, dan entah kenapa aku menyukai pemandangan ini.
Setiap detik yang berlalu terasa bagaikan dentuman ombak yang menghantam karang
saat hati membutuhkan siraman hujan sang elang justru membuatnya semakin menggebu
apa ini rasa akan hausnya tawa dan canda atau kah hanya pikiran egois ku yang berharap semuanya akan menjadi sempurnya
***
Aku melajukan mobilku tanpa jelas arah dan tujuan entahlah aku malas untuk pulang kerumah, aku bingung dan aku sangat tidak siap jika nanti aku harus menemui kakak ku, padahal aku selalu menanti kejadian ini, ‘huh! lampu merahnya lama banget’ ujar ku mendesah kesal, sampai akhirnya aku menghentikan laju mobilku di depan sebuah sekolah, taman kanak kanak tepatnya, aku melangkah masuk karena sekolah itu kini dalam keadaan kosong, kegiatan sekolah sudah selesai dari siang tadi, pikiranku langsung melayang bersama semua kenangan disini, aku teringat sewaktu itu, ka Aldo membantuku menganyunkan ayunan untukku, tapi saat ia sadar bahwa papa sedang tersenyum melihat kearah kami, dia langsung mendorongku dari ayunan itu, aku ingat saat itu aku bukannya menangis tapi aku justru tertawa karena terjatuh dari ayunan, dan hal itu sangat membuat dia kesal, lalu pandangan ku berputar kearah sebuah pondok kecil mirip rumah batu, aku mencoba masuk kedalamnya dengan sedikit merunduk dan aku meraba dinding bagian dalam rumah itu, ya! ada, ternyata tulisan itu masih ada, sewaktu itu aku sedang memegang pensil baru ku yang dibelikan oleh mama, dan kakak langsung merampasnya dari ku dan menuliskan sesuatu di dinding ini, ‘bodoh’ tulisan itu yang ia tulis disana, aku masih bisa membacanya dengan baik, meskipun sudah sedikit pudar dan tertimpa dengan tulisan yang lain, ponsel ku berbunyi dan aku segera menjawab panggilan telpon itu, “Tasya sayang, kamu kenapa belum pulang nak ?” terdengar pertanyaan yang penuh ke khawatiran dari mama di seberang sana, “iya ma Tasya sebentar lagi pulang kok ma” jawabku cepat dan langsung kembali ke mobil.
***
Rinai hujan menjawab tanyaku memberikan cela di asa ku yang penuh dengan ke khawatiran
seolah mendung takkan merganti dengan pelangi yang berwarna warni
aku hanya tahu bahwa hujan ini masih takkan mereda di dasar hatiku
***
Tepat pukul 7 malam, aku tiba di rumah, aku lihat tak ada yang spesial disini, ‘apakah mereka lupa hari ini adalah hari ulang tahunku ?’ kakiku melangkah masuk entah kenapa aku merasa ingin sekali langsung masuk ke halaman belakang rumah, dan ternyata mereka disana, ada mama, papa, dan. . . ka Aldo ? ‘bukankah dia mengajakku untuk bertemu malam ini ?’ lalu kenapa dia ada disini ? “selamat ulang tahun sayang !” ujar papa menyambutku lalu mama langsung memelukku, aku melihat ka Aldo yang masih tetap dengan wajah tanpa ekspresinya memandangku dengan malas, lalu dia memberiku kode untuk segera meniup lilin lilin yang bejajar di atas kue ulang tahun yang dia bawa, setelah itu entah apa yang terjadi itu seolah mimpi! Mimpi yang paling indah, ka Aldo memelukku dengan erat seolah kami sudah lama tidak saling bertemu, aku tak menyangka dia memelukku, aku sangat merindukannya! Malam itu kami lalui dengan canda tawa dan obrolan ringan hanya kami berempat dan di malam itu di usiaku yang ke 18 tahun, itu adalah malam pertama aku melihat senyuman kakak tersayangku.
***
Mentari berdiri menyapa hangat seluruh senyuman yang ada
mataku terbangun tersadar dari semua mimpi buruk dan bayangan hitam masa lalu
dan seolah semua keajaiban sirna oleh cinta dari persaudaraan yang kembali hidup
***
Pagi ini, aku berangkat kuliah dengan semangat dan senyuman, tapi sayang, mobilku hari ini mendadak harus dibawa ke bengkel! Andai saja aku ingat untuk membawanya kebengkel kemarin, mungkin hari ini aku tidak akan terancam terlambat sampai kampus! “kenapa ?” kakak keluar dengan motor besar kesayangannya, sepertinya hari ini dia juga ada kuliah pagi, nalarku berjalan cepat, mungkin aku bisa meminjam mobilnya untuk berangkat kuliah hari ini, tapi tidak sepertinya hal itu tidak akan pernah terjadi, “ya udah lo ambil helm di dalam dan buruan naik kita berangkat kuliah bareng aja hari ini!” perintah kakak membuyarkan lamunku, ‘apa ? aku gak salah dengerkan?’ tanpa memperlambat waktu aku segera bergegas mengambil helm di dalam, dan segera naik di atas motornya, entahlah hingga detik ini aku masih tak menyangka perubahan kakakku ini.
Seluruh mata tertuju pada kami saat ini, wajar saja kakak mengantarkanku tepat di depan gedung fakultasku, sama seperti hari pertama aku berkuliah disini saat itu kakak juga mengantarkan aku tepat didepan gedung ini, aku turun karena tak ingin membuat dia terlambat masuk kelas karena aku, “hey, sini helmnya, biar gw yang bawa!” ujarnya sesaat setelah aku melepaskan helmku, “oh iya ka, makasih ya ka udah anterin Tasya” jawabku lagi, lalu dia tersenyum mendengar kalimatku dan bergegas menuju fakultasnya.
***
Waktu sudah menujukan pukul 3 sore, aku baru saja keluar dari kelas, dan aku melihat kerumunan mahasiswa di dekat parkiran kendaraan di fakultas kakakku, karena penasaran aku segera kesana, tentu saja di temani sengan Sinta, yang akhirnya tahu bahwa aku dan ka Aldo adalah kakak adik, “ada apa ?” tanya Sinta pada salah satu mahasiswa yang juga ikut berkumpul, “ada anak fakultas ekonomi yang nembak anak fakultas hukum!” kami tertawa mendengar jawaban itu, ada ada saja, hanya kejadian itu mereka semua berkumpul, tapi sesaat kami akan meninggalkan kerumunan itu, langkahku terhenti, “gw gak cinta sama lo !” suara itu ? aku mengenalnya! Lalu aku mengajak sinta untuk masuk ke dalam kerumunan itu lagi, hingga akhirnya aku berhasil berdiri dibarisan paling depan, ternyata benar, itu suara ka Aldo! “kenapa sih lo gak mau nerima gw ? apa karena mahasiswa baru itu lo nolak gw?” mereka masih terus beradu mulut, wajar saja mahasiswa ramai berkumpul seperti ini, karena mereka yang terang terangan berteriak seenaknya, dan berhasil menarik perhatian mahasiswa lainnya, “kakak ?” ucapku, entahlah aku keceplosan karena kaget melihat ka Aldo yang ternyata menjadi pusat perhatian disana, tapi ternyata aku salah, cewek itu dengan cepat tangannya menyambar tanganku dan menarikku, “ini nih ! pasti lo nolak gw karena cewek ini kan ?” ujar mahasiswi itu menghardik kakakku, ka Aldo yang dari tadi hanya duduk santai di atas motornya langsung refleks turun dan melepaskan tanganku yang dicengkram kuat oleh cewek itu, “kalo lo gak tau apa apa, sebaiknya lo tutup mulut lo!” ujar ka Aldo membelaku untuk yang kedua kalinya, “udah kamu pulang sana, jangan ikut campur!” ka Aldo memaksaku pulang, meskipun dia berkata seperti itu, aku tahu kalau dia tidak bermaksud membentakku, aku lari dan pergi menjauh dari mereka, Sinta mengejarku dan akhirnya kami memutuskan untuk segera mencari taksi dan pulang kerumah.
Baru setengah perjalanan, aku teringat sesuatu, aku ingin sekali membelikan makanan favorit kakak, karena waktu itu aku belum berhasil membelikan makanan itu untuknya, aku turun dari taksiku, sinta yang memang masih bersamaku sengaja aku minta untuk menunggu di dalam taksi, aku melihat penjual bakpao di seberang jalan, jadi aku putuskan untuk menyebrangi jalan itu, lalu aku melihat sebuah mobil melaju cepat kearahku, aku tak punya waktu untuk menghindar karena aku berada persis ditengah jalan, dan seseorang tiba tiba menarikku, kepalaku terbentur dan rasanya kakiku sangat sakit saat itu, lalu. . . . semuanya gelap.
***
Tuhan inikah jawaban dari semua misteriMu
tentang sebuah kehidupan yang diawali dengan senyuman
dan tentang pertemuan yang di akhiri dengan semua penyesalan
***
Aku membuka mataku perlahan, aku melihat papa ada didekatku, aku melihat butiran airmata yang membendung di ujung matanya, “papa. . .” ujarku pelan, papa tersenyum, dan memelukku, “papa kenapa nangis ? Tasya ada dimana pa ?” tanyaku lagi, entahlah mataku masih sedikit rabun untuk melihat dengan jelas dimana aku berada saat ini, kepalaku masih terasa sakit, dan. . . “pa, kaki Tasya kenapa pa ? kenapa gak bisa di gerakin ?” papa menangis mendengar pertanyaanku, lalu mama datang dan segera memelukku, ternyata tangisan mama tak kalah hebatnya dari papa, sejak saat itu aku menjalani hariku di rumah sakit, hingga dokter mengijinkanku untuk pulang.
Pagi ini langit terasa sangat mendung, 2 minggu sudah berlalu sejak kejadian itu, aku sangat merindukan teman teman kuliahku, dan yang paling aku rindukan adalah kakakku, selama aku dirawat dia tidak pernah datang menjengukku, mama dan papa selalu bilang bahwa kakak sedang sibuk dengan kuliahnya dan juga kakak harus menjaga rumah, maka dari itu dia tak pernah sempat datang menjengukku, padahal dalam kondisiku saat ini, aku sangat membutuhkan dia.
Dokter bilang bahwa kakiku harus diaputasi karena kacelakaan itu, sedih rasanya dan seolah masa depanku sudah pasti suram karena aku tak lagi sempurna, kini aku harus menggunakan kursi roda disepanjang sisa usiaku, namun jika aku ingat kembali senyuman kakak, aku merasa bahwa aku bisa melalui semuanya, mobil membawa kami kesebuah pemakaman, aku tak tahu kenapa mama dan papa mengajakku kesini, dengan susah payah papa membantuku untuk turun dari mobil dan duduk di kursi rodaku lagi, mama menggenggam tanganku tengan erat, aku melihat wajah mama penuh dengan kabut kesedihan, papa membantuku mendorong kursi roda, namun tetap saja tak satupun dari mereka memberi ku penjelasan untuk apa kami kesini.
Langkah kaki mama terhenti di depan sebuah gundukan tanah yang masih terkesan baru, aku yakin kuburan itu masih belum lama, papa menghentikan kursi rodaku, dan mama lansung menangis sambil memelukku, sekarang aku mengerti apa yang terjadi! Aku bisa membaca dengan baik nama yang tertulis di papan nisan itu, RIYALDO ! itu nama kakakku! Aku menangis sejadinya didalam pelukan mama dan papa, aku merasakan jiwaku hancur kala itu, seakan seluruh dunia ini tiba tiba berteriak menyiksaku, aku hampir gila melihat kenyataan ini, bahkan hingga aku tiba dikamarku aku masih belum bisa menghentikan tangisku, hanya kesepian yang mengisi hati, jiwa dan pikiranku saat ini, aku masih belum bisa mempercayai bahwa ka aldo kakakku satu satunnya yang selama ini paling aku sayangi, kini telah pergi untuk selamanya, dia telah pergi bahkan tanpa aku tahu kapan dan apa penyebabnya, dia pergi disaat aku sedang sangat membutuhkan senyumannya dan sifatnya yang selalu menjadi pahlawan untukku, aku sayang kakak, tapi kenapa kakak harus pergi secepat ini ? aku menangis disepanjang malam, aku sudah lupa dan sama sekali tidak memperdulikan sakit ditubuhku, hingga pagi menjelang aku tertidur dalam dukaku yang dalam.
***
Oh mentari jika memang hatiku harus terbakar oleh panasnya dukamu aku rela
aku mohon katakan pada bintang bintang untuk mengembalikan sang purnama didalam hidupku
untuk mengembalikan semua senyuman itu yang hanya sekilas mengisi hariku
karena kini sang purnama telah pergi tanpa sedikitpun meninggalkan pesan pada embun pagi
untukku yang selalu menyayanginya . . . .
***
Kini 1 tahun telah berlalu, aku bukan lagi seorang Tasya yang ceria seperti dulu, dan bukan lagi Tasya yang selalu bersemangat di setiap paginya jika ingin berangkat kuliah, aku hanya gadis cacat yang hidup di atas kursi rodaku, aku juga sudah lama tidak kuliah karena keadaan ku saat ini, keseharianku hanya berisi dengan ditemani kanvas dan warna warni cat yang aku goreskan dengan kuas putih untuk menemani waktuku yang masih selalu berselimut duka, aku selalu beharap cat cat yang aku goreskan disini, semoga bisa membuat hatiku sedikit berwarna tanpa kehadiran kakak, aku masih tak pecaya bahwa akulah penyebab kematian kakak, bahwa kakaklah yang menolongku saat itu, dan akulah yang membuatnya terluka parah hingga tak bisa lagi diselamatkan, jika aku bisa menukar hidupku untuk kakak, aku ingin sekali kakak kembali hidup dan biarkan aku yang mati, semua rasa sedih, rasa bersalah dan sayang bercampur dihatiku, meskipun hal itu sudah terjadi 1 tahun lamanya.
Aku tahu, kakak begitu menyayangiku, maka dari itu besok tepat 1 tahun kepergiannya, aku ingin mengadakan pameran lukisan yang aku peruntukan hanya untuk kakak, semua lukisan yang aku buat selama 1 tahun ini, hanya berisi tentangnya, tentang kakakku, tentang pahlawanku, tentang saudara yang paling aku sayangi, dan semoga kakak bisa tersenyum dan aku harap kakak bahagia disana . . . .
***
Dari hijaunya daun bisa aku rasakan betapa sejuknya pagi ini
dan dari semilir angin bisa aku bayangkan betapa damainya kehidupan ini
ingin aku bisa ikut bernyanyi dengan angsa angsa yang berlarian mengitari hamparan sawah
dan menikmati betapa luar biasanya kuasa dari sang ilahi . . . .