Selasa, 21 Juni 2011

Tanyaku™ -ketika pertanyaan menjadi mimpi buruk yang panjang-

Mendadak ada sedikit kisah yang membuatku menggelitik di kala itu, mungkin hingga saat ini, dan aku harap itu hanya sementara karena sedikit terdengar seperti sebuah lelucon bila di katakan . . . .

''Ciee...'' ledekan kecil dari beberapa temanku membuat ku sedikit puas telah memancing mereka yang memang terkadang usil membuat gossip tentangku, termasuk saat ini, saat aku sedang bersama Arya, salah satu teman kuliah kami, aku hanya membantunya untuk mengoleskan minyak angin di leher belakang temanku itu, aku pun tak memberi respon apa apa untuk ledekan kekanakan seperti itu, ''udah mendingan ka nyerinya ?'' tanyaku pada Arya yang tadi sempat merasakan nyeri di bagian belakang kepalanya, ''iya aku rasa cukup, sudah sedikit baikan'' jawabnya sesaat kemudian, dan aku pergi meninggalkannya begitu saja, ya aku rasa itu hanya sebuah pertolongan kecil dariku atas nama persaudaraan yang sudah lama timbul di antara kami, antara kami semua.
Malam pun datang, hujan yang turun mengguyur camp tempat kami bermalam, membuat suasana di daerah perbatasan tempat kami menjadi sukarelawan saat ini sangat dingin, tubuhku menggigil hingga tak dapat tidur dengan nyenyaknya, yah maklum saja meskipun aku suka dengan hal hal yang menantang, atau pun semua tentang petualangan baru, tapi tubuhku beberapa teman sering menggoda bahwa aku adalah orang yang...penyakitan, ya saat ini adalah bukti kecilnya, disaat yang lain sudah tertidur pulas, aku malah masih terjaga dengan mulut yang bergetar dahsyat, membuat bunyi dari benturan gigi atas dan gigi bawah mulutku, Arya masuk ke dalam camp kami, aku tahu hari ini adalah jadwalnya berjaga malam dengan 3 teman kami yang lain, dari sedikit cahaya lampu petromax yang kami gunakan untuk camp malam itu, aku bisa jelas melihat bahwa ia sedang memeriksa keadaan kami, dia sibuk mengingatkan kami satu per satu untuk menggunakan mantel penghangat, hingga ia tiba di dekatku dan mendapatkanku yang sedang menggigil hebat, ''waduh kalian kenapa jadi kayak batu gini ?'' celetuknya bergurau namun tetap berusaha membantu kami menghangatkan tubuh kami saat ini. Begitulah dia, cuek, sedikit kasar mungkin dan sebenarnya dia orang yang bisa diandalkan dan dijadikan teman bertukar pikiran yang baik, dalam hal apapun! setelah ia merasa bahwa keadaan kami semua sudah baik, lalu ia kembali melanjutkan tugasnya untuk berjaga malam, aku yang tak sempat mengucapkan terima kasih karena masih terus kedinginan, segera berusaha untuk kembali tidur, aku rasa jika hanya hal itu, tidak perlu kata terima kasih dalam persaudaraan, hanya perlu mengingat bahwa kita tak sendiri, karena mereka yang selalu ada.
Pagi ini, seharusnya aku sudah menyelesaikan tugasku dengan beberapa teman teman perempuan yang lain, untuk membuat sarapan pagi, tapi mungkin karena hujan semalaman yang baru reda pada subuh harinya, aku sedikit susah untuk menggerakan tubuhku, kerena sisa dingin itu masih menjalar di beberapa bagian tubuhku, ''adek, bangun dek...'' suara Hans membangunkan ku yang kala itu sebenarnya sudah setengah terjaga, ''ah iya ka, makasih ya udah bangunin, masih berasa dingin nih ka'' jawabku padanya, Hans adalah temanku juga, sama seperti Arya dan yang lainnya yang saat ini sedang menjalankan tugas sebagai relawan selama 1 minggu di sebuah perkampungan di daerah yang masih sangat minim fasilitas disini, bahkan listrik pun hanya sesekali saja dalam seminggu dinyalakan di kampung ini, aku bangun dari tempat tidurku, dan aku melangkah keluar camp untuk segera mencari air untuk sedikit menyegarkan wajahku, dan ternyata memang belum banyak dari temanku yang lain, yang sudah bangun saat ini, padahal waktu sudah menunjukan pukul 8 kurang!
Endah memanggilku untuk menemaninya membuat sarapan pagi ini, dan tentu saja dengan senang hati aku akan membantunya membuat sarapan, dan hanya dalam waktu kurang dari 1 jam, sarapan sudah siap untuk kami santap bersama sama, Arya mendekati Endah dan sedikit merengek dengan usilnya untuk segera diberi makan, kami hanya tertawa melihat hal itu, ya itu hal biasa, hanya sedikit guyonan untuk mencairkan suasana di antara kami semua, aku memberikan 1 porsi sarapan pagi ini padanya, harena Endah saat ini masih sedikit sibuk untuk meladeni bayolan teman kami itu, ''gak, aku maunya dari Endah saja!'' ujarnya menolak sarapan yang aku berikan, padahal sarapan itu sama saja dengan sarapan yang lainnya, hanya semangkuk bubur kacang hijau, aku tertawa, bukan hal yang aneh jika Arya bertingkah sedikit nyeleneh seperti ini, ''oke buat ku saja ya ? bolehkan ?'' Hans menyambar sarapan yang ada di tanganku, tanpa perlu aku menjawab, dia sudah langsung melahap sarapan itu.
Hari ke4 kami disini, kami isi dengan penyaluran kesehatan sederhana untuk warga desa disini, semua warga antusias mendengarkan penjelasan Arya dan Hans yang sepertinya sudah hafal diluar kepala apa saja yang harus mereka jelaskan pada warga, aku dan Endah serta teman kami yang lain menyimak dari kejauhan, kami tak ingin mengganggu, lagi pula kami harus memberikan penyuluhan yang lainnya nanti, ''tadi Arya bilang, dia yang akan menemaniku untuk memberi penyuluhan tentang PLTA untuk warga desa'' ujar Endah di sela sela obrolan kami siang ini sembari tetap memasang telinga mendengar penjelasan ke2 teman kami itu, ''loh ? bukannya itu tugas kita berdua nanti sore ?'' tanyaku bingung, ''iya nanti kamu pergi sama Hans untuk berbelanja keperluan dapur saja ya ? kalau gak salah ada warung kecil di ujung jalan ini, lalu kalian tinggal belok saja kearah utara'' jelas Endah lagi, ''oh ya ? Okelah Lea akan pergi dengan ka Hans nanti'' jawabku menyanggupi.
            Pagi ini, memasuki hari ke6 kami menjadi para mahasiswa yang belagak sok pintar berharap bisa sedikit membantu kehidupan warga di desa ini, aku berlari lari kecil di seputar camp, demi menghilangkan rasa dingin dan lelahku karena sedikit kurang istirahat sejak kami berada disini. Tanpa sengaja aku menangkap sosok Arya yang ternyata sudah bangun lebih awal dariku, dan sepertinya dia juga sedang melakukan hal yang sama dengan apa yang aku lakukan saat ini, ya tentu saja berolahraga pagi, ''hai ka ?'' sapaku pada cowok yang lebih sering aku sapa dengan panggilan kakak ini, sama juga seperti Hans dan teman teman ku yang lain, yang juga kakak tingkatku di kampus, ''ngapain disini ?'' tanyanya sedikit dingin, entahlah aku melihat tatapannya sedikit tidak bersahabat pagi ini, tapi aku takkan menggubris hal sepele itu, aku tetap dengan cueknya melanjutkan olahraga ku pagi ini. Siang harinya aku membantu Hans untuk membersihkan sampah sampah di sekitar camp, maklum saja besok sudah akan menjadi hari terakhir kami disini, meskipun cuaca disini membuat kami sedikit tidak betah berlama lama, tapi suasana alam di kampung ini membuat kami sangat nyaman, ''dek, hari ini kegiatan kita apa aja ?'' tanyanya saat ia sedang mencoba menyalakan api untuk membakar sampah, ''ng...kalo gak salah hari ini kita kunjungan ke rumah kepala desa, jaraknya hampir 1 kilometer dari sini ka'' jawabku sembari menghentikan kegiatan ku sejenak, ''oh ya? Endah, Arya, Emely dan yang lainnya ikut juga kan?'' tanyanya lagi, ''iya ka, tentu saja mereka ikut'' jawabku, lalu aku melihat Arya melintas di depan kami, huh! aku benci tatapan matanya akhir akhir ini, terlalu dingin dan tidak bersahabat, aku jadi berfikir apakah aku punya salah padanya???
Endah berlari kecil menyusul langkahku yang berjalan beberapa langkah lebih awal di depannya, kami memang hanya bisa mengandalkan kedua kaki kami menuju rumah kepala desa, karena disini sangat minim transportasi, bahkan bisa dibilang belum ada angkutan umum sama sekali, ''kenapa ?'' tanyaku padanya karena dia terlihat seperti tergesa gesa menysul langkahku, tapi belum sempat dia menjawab, Arya sudah berada disebelahnya, Arya sepertinya juga menyusul langkahku, tapi lebih tepatnya langkah kaki Endah, ''hey Endah!'' sapa Arya tanpa memperdulikanku, tapi ini bukan saatnya menjadi sensi tanpa alasan, mungkin saja Arya memang sedang ingin membicarakan sesuatu pada Endah, sampai sampai dia tidak menyadari kehadiranku disini, ''Alea!'' suara dari belakang membuatku refleks berhenti, ternyata itu adalah suara Hans, dia memberikan kode agar aku menunggunya, karena dia sudah tertinggal cukup jauh dari rombongan kami, tentu saja aku menyanggupinya alhasil kami berjalan beriringan, tidak jauh di belakang Arya dan Endah.
Sepulangnya kami dari rumah kepala desa, aku tak sengaja terpeleset dan hampir saja aku masuk ke jurang yang dalamnya di penuhi pinus pinus tua, Arya refleks menarik tanganku, karena kebetulan dia berjalan persis di belakangku, aku tahu meskipun beberapa hari ini dia mendadak dingin padaku, tapi dia bukanlah tipe orang seperti itu, buktinya dia tetap menolongku, “Alea, kamu baik baik aja ?” tanya Hans dan Emely bersamaan, mereka terlihat khawatir dengan keadaanku, jujur aku masih sedikit kaget, Arya melepaskan genggaman tangannya dari tanganku, tanpa banyak kata dia berjalan begitu saja, Hans membantuku untuk melanjutkan perjalanan hingga kami tiba di camp dan mereka memintaku untuk beristirahat.
Malam ini adalah malam terakhir kami semua disini, besok pagi kami sudah harus bersiap untuk kembali ke kota dan segera menyelesaikan laporan kegiatan kami kepada pihak kampus. Pukul 22.30 biasanya aku sudah tertidur pulas saat ini, tapi entahlah aku masih belum bisa memejamkan mataku karena aku teringat sikap Arya padaku akhir akhir ini, jadi aku memutuskan keluar camp mungkin saja udara malam ini bisa sedikit menenangkan pikiranku, sudah dua malam terakhir ini, udara disini terasa hangat, mungkin kami mulai bisa terbiasa, “sedang apa kau disana ? ini sudah malam, masuk sana !” Arya. aku tak tahu ternyata dia yang malam ini sedang berjaga, dia membentakku tanpa melihat kearahku, dia masih menatap lurus pada api unggun yang memang biasa kami gunakan untuk menghangatkan udara disini ketika malam, “hm, itu ka, Lea gak bisa tidur” jawabku jujur dan sedikit kaku, “yasudah kalau begitu kau saja yang berjaga, aku ngantuk!” lagi lagi suara ketusnya itu membuatku jengkel, aku tak tahu kenapa ada manusia seperti itu di dunia ini ?? manusia yang bisa mendadak berubah 180 derajat dalam waktu singkat ! aku tak langsung menjawab perkataanya, aku tahu dia tidak serius berkata seperti itu, itu bukan Arya yang aku kenal ! “ka, Lea boleh tanya ?” ujarku memberanikan diri, tapi dia hanya diam, “apa Lea pernah bikin kakak kesel ?” tanya ku lagi, “aku ngantuk, kalau kau butuh teman mengobrol, nanti aku bangunkan Hans untuk menemanimu !” jawabnya, dan dia pergi ke dalam camp, dan benar benar membiarkan aku sendiri.
Pagi ini, aku masih terjaga di luar camp, tak ada sedikitpun rasa kantuk yang menghantuiku, mungkin aku memang butuh istirahat tetapi aku lebih membutuhkan jawaban atas sikap dinginnya itu saat ini! Emely mendatangiku dan dia memarahiku habis habisan ketika dia tahu bahwa semalaman aku tidak berada di dalam camp, tapi justru sendiri di luar dan hanya dipayungi langit penuh bintang serta api unggun yang hangat, “apa kau sudah gila ? apa yang kau lakukan ? kemana pikiranmu ? masa anak cewek begadang di luar tenda ? gak ngeri ?” cercah Emely padaku yang kala itu masih menatap lurus keangkasa, “aku baik baik saja” jawabku singkat tanpa menatapnya, lalu dia pergi meninggalkanku setelah puas menasehatiku yang tetap diam, untuk segera membantu teman kami yang lain membuat sarapan. Candra salah satu senior kami yang juga ikut dalam rombongan kami, mendatangiku dengan seorang temannya yang bernama Petra, mereka berdua hanyalah pengawal kami para adik tingkat mereka, Petra yang sedang memegang gitar langsung bersandar membelakangiku dan memainkan gitarnya, entahlah aku yakin dia adalah teman yang baik. aku menyukainya, dia orang yang menyenangkan, untuk seseorang yang baru pertama kali aku kenal sejak kami disini, Candra bernyanyi mengikuti petikan gitar Petra seolah tak ada aku disana, mungkin mereka ingin sedikit menghibur ku, “lupakanlah saja diriku bila itu bisa membuatmu, kembali bersinar dan berpijar seperti dulu kala, caci maki saja diriku bila itu bisa membuatmu kembali bersinar dan berpijar seperti dulu kala . . .” ujar Candra menyanyikan salah satu lagu dari band kesanyanganku, ya kebetulan kami menyukai band yang 1 itu, “kenapa Lea ?” Petra bertanya padaku sesaat setelah lagu itu berakhir, “huhff, gak apa apa kok ka” jawabku berusaha menutupi, “aduh aduh, adek kita satu ini, mana mungkin gak ada apa apa tapi mukanya nunjukin kalo ada apa apa ?” Candra kali ini ikut berkometar, “wah, kalian terlalu berlebihan nih ka, Alea gak apa apa kok” jawabku lagi, “Hans mana ? biasanya kalau gak bareng Arya, kamu bakal bareng Hans kan ?” Petra bertanya sambil memainkan beberapa kunci gitar, “ng,,,,ka Hans lagi bantuin Emely tuh, bareng yang lain juga, kalau ka Arya, Lea belum liat” jawabku setengah hati, entahlah aku masih belum bisa terima jika ada seseorang yang bersikap mendadak dingin kepadaku, “Lea, mau ikut denganku ?” Petra kali ini berusaha mengalihkan topik obrolan kami, “kemana ?” tanyaku datar, “kemana aja, kita keliling desa ?” ujarnya menawarkan kepadaku, kalau saja mood ku sedang baik, aku pasti akan dengan senang hati menerima ajakan itu, “kakak pergi bareng ka Candra aja deh, Lea masih pengen disini” jawabku tak ingin mengecewakannya, “o, tidak bisa! kalau kamu gak ikut, yah kita tetap disini aja deh nemenin kamu ?” ujar Candra lagi, dan kami hanya diam, menatap langit yang membiru dan sedikit kemerahan terkena sinar matahari yang baru saja akan terbit.
Kami mengemasi barang barang kami masing masing, Arya dan Hans yang juga sedang berada di dalam camp, yang biasanya selalu berbicara bersama dengan bayolan khas mereka, terlihat saling diam. Aku memperhatikan Endah dan Emely, sepertinya suhu di ruangan ini memang sedang tidak baik, tapi entahlah semoga ini hanya perasaanku, tapi jujur aku rindu dengan keakraban dan kekompakan kami, seperti saat hari hari pertama kami disini, dan selama kami di karantina sebelum menjadi 1 tim seperti saat ini.
Aku akui, selama 1 minggu di camp, aku memang akrab hampir dengan semuanya, termasuk dengan Arya, Hans, Endah, Emely, juga Candra dan Petra, seperti saat ini, sebelum angkutan khusus yang akan membawa kami pulang datang menjemput, kami menghabiskan waktu bersama sama hingga lewat tengah hari, dengan tertawa dan bernyanyi bersama, aku memang sedang tak ingin mendekati yang lainnya, dari pada aku merasa gak enak hati berada di tengah mereka, dan hari ini pun belum ada tanda tanda bahwa Arya akan kembali bersikap baik padaku.
Pukul 01.10 dini hari, kami tiba di kampus, perjalanan yang panjang dan melelahkan memang, dan aku segera kembali masuk ke dalam kamar asramaku, tentu saja bersama Emely yang juga teman sekamarku, berbeda dengan Endah dan yang lainnya, yang memang kakak tingkat kami, dan sebelum tidur pun aku masih bingung kenapa sikap mereka tiba tiba berubah ? apakah aku punya salah ? jika aku ingat kembali, rasanya sangat asing bagiku melihat Arya saat ini, dan Hans yang juga sedikit berubah hari ini, tapi pikiran itu segera aku lenyapkan, dengan mengingat canda tawa khas Petra dan Candra yang menghiburku seharian ini.
                                         
          Waktu berlalu, kisah yang menggelikan itu kini menjadi tanda tanya besar di pikirku, aku memang selalu dekat dengan semuanya, juga keduanya, namun aku tak pernah mendapatkan sikap aneh mereka seperti belakangan ini, lalu siapa yang bisa menjawab pertanyaanku ? apakah aku memang bersalah ? atau aku hanya terlalu sensitif dengan sikap dingin mereka ? atau, ada hal lain yang tak pernah bisa aku tahu jawabnya ? adakah yang bisa membantu aku ?

_________________________________________________________ Flashback

Arya – Alea
            Hari pertama training, seminggu sebelum keberangkatan mereka ke desa untuk menjadi relawan dan pemberi penyuluhan kepada masyarakat desa.
            Arya menghentikan motornya tepat di depan asrama mahasiswi angkatan 09, sore ini dia berniat untuk mengajak Endah berdiskusi tentang salah satu teori yang akan mereka bagikan untuk masyarakat desa nantinya, sembari bersandar di samping motornya, Arya memainkan tombol tombol hapenya untuk mengirimkan sebuah pesan singkat pada Endah, tapi belum sempat ia mengirimkannya, dia tidak sengaja melihat Alea yang ternyata baru saja keluar dari asrama mahasiswi angkatan 09, padahal Alea sendiri adalah angkatan 10, “kakak ? ngapain disini ?” tegur Alea yang menyadari keberadaan Arya disana, “ah Lea ? aku lagi nungguin Endah, kamu liat dia ?” jawab Arya ramah seperti biasanya, “oh, ka Endah ? aku tadi juga kesini nyariin dia, tapi kepala asrama bilang, kalau ka Endah lagi keluar kampus bareng temen temennya ka
oh ya ? kalau gitu, kamu bisa bantu aku ?
bantu apa ka ?
kamu punya data tentang desa yang mau kita kunjungi minggu depan ? aku butuh sedikit tambahan informasi
oh, tentu ka, kakak mau pinjem ?
wah, baguslah gimana kalau kita diskusiin hal ini bareng ? nanti sore jam 5 di taman asrama ya ?” ujar Arya lagi pada Alea, “oke ka, nanti aku kesana bareng Emely juga” jawab Alea menerima tawaran Arya, untuk berdiskusi bersama sore ini.
            Alea memang salah satu dari 11 mahasiswa se-angkatannya yang mendapatkan beasiswa di kampusnya, selain karena prestasinya di bidang akademik, dia juga memiliki prestasi seperti dalam bidang public speaking dan dia juga suka sekali bila di ajak berdebat, masalah politik terhangat di Negara ini, adalah salah satu bahasan yang paling dia sukai, jadi meskipun dia adalah anak fakultas seni dan sastra bahasa, namun dia sangat menyukai bila berteman dengan mahasiswa hukum internasional seperti Arya, yang memang juga pintar dalam hal itu, meskipun Alea sering di buat tidak mengerti oleh bahasanya yang terlalu tinggi, tapi Alea berusaha mencuri ilmu dari temannya itu, yang berada 2 angkatan diatasnya, Arya pun sebenarnya sangat suka bila ada teman yang bisa di ajak berdebat, dari hal yang paling serius sampai yang gak penting sama sekali, kini selalu menjadi bahan perdebatan mereka, dan jika sudah berdebat, pasti mereka lupa dengan sekitarnya, itulah Alea dan Arya jika sedang akur, tapi jika sedang renggang atau Alea sedikit malas untuk bertemu dan mulai membuat jarak, pasti Arya akan mulai mengirimkan sms sms aneh, sebagai basa basi untuk memulai perdebatan mereka, lagi.

Hans – Alea
            Berbeda dengan Arya yang beda fakultas dengannya, dan baru berkenalan ketika mereka di tunjuk sebagai 1 tim untuk berkunjung ke desa terpencil, Hans adalah teman 1 fakultas Alea, tapi bedanya, Hans adalah angkatan 08, sama seperti Arya. Bagi mereka, bukan masalah yang sulit untuk bertemu dan saling bertukar pikiran tentang tugas kali ini, karena Emely, Hans serta Alea dan juga Endah, memang sering bertemu di koridor fakultas untuk berdiskusi, yah ke3 angkatan yang berbeda itu, tidak terlalu sulit mencairkan suasana diantara mereka, hanya tinggal menyesuaikan waktu untuk bertemu, dan jika sudah berkumpul, mereka pasti akan menghabiskan waktu luang mereka hingga berjam jam lamanya, “maaf aku terlambat” ujar Hans yang baru datang saat Alea bersama Endah dan Emely sedang asik berdiskusi, “gak apa apa kok ka, ayo duduk sini, kita lagi bahas tentang konsep untuk di desa nanti” ujar Emely mengawali, “oke, langsung aja ya ? disana nanti kita bener bener jauh dari kota, bahkan dari informasi yang Alea dapet, di desa itu belum ada listrik, makanya kita bakalan sedikit bermasalah dengan penerangan di malam hari, dan juga di desa itu kita akan menggunakan tenda barak, kita gak akan menumpang di rumah salah satu warga, karena selama ini memang seperti itu keadaannya, setiap mahasiswa yang ke desa, pasti selalu membuat tenda sendiri” ujar Endah panjang, dan diskusi terus berlanjut, hingga membicarakan tentang konsumsi, obat obatan, alat penerangan, tenda, matras dan lain sebagainya untuk mereka disana selama 1minggu nanti, sembari sedikit bercanda gurau dan menikmati beberapa cemilan yang sengaja mereka bawa untuk mencairkan suasana. Hingga sore tiba, dan mereka memutuskan untuk kembali ke asrama masing masing, “Lea ? Emely mana ?” tanya Hans saat berjalan beriringan keluar fakultas, “oh Emely lagi nemenin ka Endah keruangan ketua prodi ka” jawab Alea, “dek, katanya nanti bakal ada 2 senior dari angkatan 07 yang jadi pemandu kegiatan kita ? kamu tahu itu ?” tanya Hans lagi,
iya ka, Lea tahu kok, kalau gak salah namanya ka Candra dan ka Petra, mereka dari fakultas Ekonomi ka, kebetulan Lea juga sudah kenal dengan ka Candra, tapi kalau dengan ka Petra, Lea belum tahu orangnya ka
oh iya, Candra ya ? aku juga kenal dia, kebetulan dia salah satu aktifis kampus katanya, dan mungkin Petra juga
iya ka, semoga kita semua bisa kerja sama ya ka, disana nanti
oh iya dong! Pasti dan harus itu!” ujar Hans sedikit memainkan nada suaranya, dan Alea hanya tertawa kecil melihat tingkah kakak tingkatnya itu.

Endah – Alya
            Sejak hari pertama pengumuman tentang tugas penyuluhan ke desa 1bulan lalu, Alea sudah mengenal baik siapa itu Endah, karena dia sudah beberapa kali bertemu dengan Endah di perpustakaan dan kantin fakultas, bahkan tak jarang Alea meminjam buku atau materi kuliah pada Endah, “ka, kenalin ini Emely, dia temen sekamarku di asrama” ujar Alea suatu sore saat bertemu dengan Endah di koridor fakultas, “hai Emely . . . ” sapa Endah, kemudian mereka berkenalan, dan saling berjabat tangan “wah kalau begitu, kita bakal jadi 1tim kan ? kira kira, siapa lagi yah yang akan masuk dalam tim kita ? denger denger masih ada mahasiswa yang lainnya ?” ujar Endah bersemangat, “iya ka, setahuku, masih ada 4orang lagi, tapi Lea belum tahu pasti, dan Lea juga gak tahu, mereka cewek atau cowok” jawab Alea tak kala semangatnya, “semoga cowok yah ka, cowok cowok ganteng lebih bagus! jadi bisa lebih semangat lagi” ujar Emely frontal, hahaha, dasar!” kali ini Alea dan Endah sukses tertawa lebar karena ucapan Emely barusan. Dan sejak saat itu, dimana pun dan kapan pun, mereka selalu saja menyempatkan waktu untuk berdiskusi, terutama agar hubungan mereka semakin akrab dan gak kaku lagi nantinya.

Candra – Alea
            Hubungan kedua mahasiswa yang berbeda angkatan dan fakultas ini sebenarnya di awali ketika Candra menjadi salah satu panitia ospek ketika Alea akan memulai kuliahnya disini. Tepat 1tahun yang lalu, saat itu, Alea terlambat datang dan tentu saja Candra menghukumnya, “lo tahu gak sih ini jam berapa ? lo pikir lo siapa bisa dateng seenak jidat hah ?” ujar Candra menghardik Lea kala itu, “maaf ka, aku terlambat karena kena macet di jalan tadi” jawab Alea beralasan, padahal sebenarnya dia juga kesiangan bangun tadi pagi, dan saat ospek, mereka memang belum masuk asrama, “ah alasan ! kalau begitu, lo bakal gua hukum ! gua kasih lo waktu 10 menit tuntuk ngumpulin 25jenis tanaman yang berbeda, yang ada di taman belakang kampus !” bentak Candra lagi, dan tanpa pembelaan, Alea menuruti perintah seniornya itu. Sore harinya, semua kegiatan ospek sudah selesai untuk hari itu, dan sudah 1jam Alea menunggu jemputan, tapi tetap saja jemputannya belum datang, padahal kampus sudah mulai sepi dan langit perlahan redup, karena para mahasiswa pun belum mulai kembali ke asrama, ‘tin tin’ suara kelekson motor berbunyi dari arah belakang Alea, “lagi apa disini ?” tanya seseorang dari atas motornya, Alea tak merasa mengenal orang tersebut, jadi dia sedikit ragu untuk menjawab, “hei, kenalin nama ku Candra, kalau gak salah, kamu yang terlambat datang ospek tadi pagi kan ?” ujar pengendara motor itu lagi, sembari membuka helmnya dan mengulurkan tangannya untuk berkenalan, “Alea ka” jawab Lea singkat, “oh, Alea ? nama yang bagus, lagi apa disini ?” tanya Candra lagi, berusaha mencairkan suasana, dia yakin, mahasiswi baru yang sekarang ada dihadapannya ini pasti masih takut atau ragu untuk di ajak ngobrol, “tenang, ini kan sudah bukan jam ospek ? jadi gak ada yang perlu ditakutin” lanjutnya lagi,
iya ka, Lea lagi nungguin jemputan, tapi sampe sekarang belum keliatan juga
jemputan ? kamu pulang kemana ? mau aku anter ?
ah, gak usah ka, rumahku jauh, di selter32 ka
oh ya ? wah, rumahku lebih jauh lagi dek, kakak di selter25, gimana mau di anterin gak ?” lagi lagi Candra menawarkan bantuan pada Alea, “tenang, aman kok, kakak gak bakal macem macem” lanjutnya lagi meyakinkan, dan memberikan helm pada Alea. Sejak saat itu, mereka berteman baik, bahkan Alea pun tak sungkan untuk meminta pertolongan pada Candra, Alea menganggap Candra sudah seperti kakaknya sendiri, maklum saja Alea adalah anak satu satunya dirumah, dan sejak saat itu juga mereka bersahabat dan selalu berbagi cerita bersama.

Petra – Alea
            Pagi itu, mereka sudah bersiap untuk memulai perjalanana menuju desa, semuanya sudah siap dan hanya tinggal menunggu kendaraan yang akan membawa mereka datang menjemput, Alea sengaja memilih tempat duduk di kursi yang posisinya sedikit lebih depan, karena dia sangat suka menikmati perjalanan darat. Petra yang kala itu hanya mengenal Candra dan Arya dalam rombongan itu, langsung menyapa Alea, Endah serta Emely yang sedang asik mendengarkan musik bersama, “hai, aku Petra, kamu Endah ?” tanya Petra pada Alea, “hai ka, aku Alea, kalo ka Endah yang ini, dan ini Emely” jawab Alea ramah dan memperkenalkan temannya yang lain, “oh, maaf aku salah” ucap Petra merasa gak enak, “gak apa apa kok ka” ucap Emely selanjutnya, dan begitu kendaraan yang mereka tumpangi mulai berjalan, semuanya justru semakin seru berbincang hingga larut malam, dan saat yang lainnya mulai tertidur, Alea justru asik sendiri menikmati perjalanan malam mereka, “loh, kamu gak tidur ?” tanya Petra dari tempat duduknya, saat menyadari Alea masih terjaga, “ah, gak ka, Lea lebih suka menikmati pemandangan sepanjang perjalanan” jawab Lea sambil terus memandang jendela di sisi kanannya, “wah, gak mabuk Lea ?” tanya Petra lagi,
tentu aja nggak ka, Lea sudah biasa kok
oh ya ? suka traveling juga ?
iya ka, aku suka banget jalan jalan
bagus deh, sebelumnya kamu udah pernah ke desa yang mau kita kunjungi ini ?
sudah ka, tapi aku gak sampe sejauh tempat tujuan kita sekarang, itu juga hanya 1kali aku kesana
tapi itu sudah lumayanlah, jadi gak begitu kaget nantinya
iya ka” jawab Lea lagi, dan obrolan pun terus berlanjut, hingga mereka sudah hampir tiba di pemberhentian.

Sementara itu . . . .
            Di suatu sore, Alea pernah terjebak hujan saat baru akan kembali ke asramanya, dan dia memutuskan untuk berteduh sejenak di salah satu pos satpam kampus, dia lupa kalau akhir akhir ini hujan sering turun di sore hari, pos satpam itu memang sedikit luas untuk berteduh, meskipun hanya di bagian luarnya saja, Alea berusaha melindungi beberapa kertas yang tadi baru saja dia print berisi informasi tentang desa yang nantinya akan dia kunjungi itu, di dekapnya erat bahan bahan materi itu agar tidak terkena hujan, sembari menahan dingin yang mulai menjalari tubuhnya saat itu, dan tentu saja dia juga harus sedikit sempit sempitan dengan mahasiswa yang lain, yang juga berteduh disana. Arya dan Hans yang kala itu sedikit berlari menuju pos satpam terdekat, ternyata bertemu dengan Alea disana, meskipun hujannya perlahan deras, tetapi mereka tidak memperdulikannya, sudah beberapa kali mereka bertemu saat diskusi tim sebelumnya, jadi mereka sudah tidak canggung lagi, “apa itu dek ?” tanya Hans saat mereka berteduh bersama, Hans dan Arya sengaja berdiri tepat di sisi kiri dan kanan Alea, “ah ini cuma sedikit informasi tentang desa yang nanti akan kita kunjungi ka” jawab Alea lancar, “awas ntar basah Lea ?” kali ini Arya mengingatkan, “iya ka, makanya Lea neduh dulu, dari pada kertasnya jadi basah semua ?” jawab Lea Lagi, “ehm, sini masukin map kaak aja dek ? biar gak basah ?” ujar Hans menawarkan, “ng, gimana kalau aku aja yang pegang ? kebetulan aku bawa tas yang kedap air ?” ujar Arya sebelum Alea sempat menjawab tawaran dari Hans, Karena bingung, Alea hanya tersenyum, di ulurkannya salah satu tangannya pada rintik hujan, “ng, kayaknya hujannya udah mulai reda ka, jadi Lea bawa sendiri aja yah kertasnya, gak apa apa kok ka” jawab Lea menolak dengan halus, dari pada nanti dia bersikap gak adil pada 2 sekawan itu, “oh ya ? oke deh” ujar Hans pasrah, Arya pun hanya tersenyum mendengarnya.

the end