Senin, 06 Juni 2011

Cintaku, Cintanya untuk CintaNya


Pagi itu udara di kotaku sangat dingin, membuat beberapa orang memilih untuk berdiam diri di balik selimutnya, mencari kehangatan dan sedikit menunda aktifitasannya hari ini, aku terbangun setelah ibu beberapa kali menggedur pintu kamarku untuk segera bangun dan melakukan kewajibanku sebagai seorang muslim, jam dinding tua yang bergantung di salah satu sisi tembok kamarku menunjukan pukul 5.07 aku tahu bahwa lagi lagi aku terlambat untuk melaksanakan shalat subuh, aku bangun dengan malas dan bersegera mandi, mengambil air wudhu dan melakukan shalat 2 rakaat.
Tepat pukul 7 pagi aku bersiap untuk mengganti pakaian ku dengan pakaian kuliahku, aku ingat hari ini ada kuliah pagi, tepat pukul 8 itu sudah waktu paling terlambat untukku segera melangkah menuju kampusku, meskipun hujan aku tetap berniat pergi, tapi entahlah rasanya ada sesuatu yang menggeliat di dalam dadaku, aku mendadak malas setengah mati untuk beranjak meninggalkan rumah, aku merasa akan ada sesuatu yang buruk menimpaku, ‘. . .naudzubillah’ ujarku membatin saat pikiran itu melintas dikepalaku, dengan bissmillah aku melangkah pergi keluar rumah menelusuri lorong kecil di tempat tinggalku menuju jalan utama untuk menanti angkutan umum yang akan segera membawaku menuju kampus.
Aku memandangi jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kiriku, pukul 7.45 syukurlah sepertinya aku bisa sedikit bersantai, jika jalanan tidak macet, insyaallah dalam 30 menit aku sudah tiba di kelasku, namun ternyata dugaanku hanya sementara, aku baru bisa mendapatkan kendaraan umum yang selanjutnya untuk melanjutkan perjalananku, dengan cukup lama, aku harus menunggu 10 menit lebih di halte tempat ku transit, pukul 8.12 aku baru sedikit bernafas lega karena telah mendapatkan angkutan umum yang aku tunggu dari tadi, aku yakin 15 menit saja aku sudah tiba di kampus, meskipun dengan hati yang berdebar, karena perasaanku masih belum membaik sedari tadi, terlebih lagi, aku takut tiba di kelas dan ternyata pelajaran telah di mulai, ya kuliah ku hari ini di mulai pukul 8.30 pagi.
Seorang seniman jalanan menghibur kami para penumpang bus yang rata rata berisi para mahasiswa yang sepertinya berkuliah di kampus kampus yang berada tak jauh dari kampusku, “….tak ada yang abadi tak ada yang abadi…” seniman itu mengakhiri lagunya, sepertinya aku mengenal lagu itu namun sudahlah, setelah memberikan selembar uang ribuan aku kembali fokus pada pikiranku dan do’a do’a yang sedari tadi menemani perjalananku, agar hati ini sedikit tenang, mungkin saja dosenku sedikit terlambat datang karena hujan masih membasahi kota.
Seturunnya aku dari bus, aku yakin jika aku sudah sangat terlambat saat ini, belum lagi aku harus menyeberangi jalan yang ramai dan juga melanjutkan perjalananku menuju fakultasku, yang kurang lebih berjarak 250 meter dari gerbang utama kampusku, lagi lagi perasaan takut itu menghantui, dengan alasan mempersingkat waktu, aku putuskan untuk menyeberangi jalan tanpa menaiki jembatan pernyeberangan, aku beranikan diri untuk menyeberangi jalan bersama para mahasiswa lainnya yang juga sepertinya bandel sepertiku saat ini, karena tidak memanfaatkan fasilitas yang ada, sebelum menyeberang, aku melihat seorang kakek tua di seberang jalan, kakek itu seolah menunggu seseorang yang berada di seberang jalan, tepat dimana aku berdiri saat ini, dan ternyata benar ada seorang nenek tua yang hendak menyeberang jalan, payung yang melindungi kerudungku yang sedikit kebasahan terkena hujan segera aku gunakan untuk memanyungi si nenek dan segera menuntunnya menyeberangi jalan, dan kami menyeberang bersama.
Jalanan yang terlalu padat dan rintik hujan yang semakin menjadi membuatku terfokus pada sang nenek agar beliau tidak kehujanan dan segera bisa menyeberangi jalan, dan aku tak tahu ternyata ada sebuah bus kota dengan laju yang cukup kencang mengarah kearah kami berdua, aku terkejut dan yang ada dipikirku, bagaimana kami dapat menyeberang dengan selamat ? Lalu, seseorang mendorong kami kesisi jalan, aku kaget dan sempat membantu sang nenek untuk berdiri dan memberikan payungku kepadanya, untungnya nenek itu baik baik saja, meskipun aku yakin saat ini ada darah segar yang membasahi pelipis ku, dan dengan cepat aku mencari seseorang yang menolong kami tadi, betapa terkejutnya aku, pria itu terbaring merintih di bawah gerimis hujan yang kini perlahan mereda, aku segera berlari kearahnya, aku mengenalinya sangat mengenalinya, dia memegangi tangan kirinya yang sepertinya mengalami luka parah karena menolongku dan nenek tadi, aku juga melihat darah segar mengalir dari kepalanya, bagian belakang tepatnya, tanpa memperdulikan apapun, dan mendadak lupa bahwa dia bukanlah muhrimku, aku menopang kepalanya di atas kakiku, ingin sekali aku berteriak meminta tolong, namun keadaan kampus kala itu sepi, sepertinya semuanya sedang berlindung dari hujan, tanpa sadar air mataku mengalir membasahi kedua pipiku dengan deras dan aku menangis dalam diam, dia yang saat ini ada dipangkuanku, dia yang baru saja menyelamatkan nyawaku, adalah pria yang selama ini mengisi rongga kosong di dadaku, dimimpiku, di do’aku sejak aku mengenalnya beberapa tahun lalu. Aku tak tahu apakah dia mengetahui hal itu, dengan terbata dia sempat menghapus air mataku dengan sisa tenaganya, “kau tahu ? demi Allah, aku mencintaimu . . . .” ucapnya saat itu sambil terbata dan menahan sakit, ‘ya Allah, akupun mencintainya namun hamba mohon jangan biarkan hamba melihatnya merintih penuh luka seperti ini di hadapan hamba’ doaku dalam hati kala itu, aku bingung saat sirine ambulan mulai terdengar, aku melihat butiran air mata menggenangi matanya, aku lupa akan sakit yang aku rasakan, yang aku fikirkan hanya dia, aku ingin dia selamat, “insyaallah, aku akan menemui mu lagi nanti . . . .” ucapnya lagi sebelum petugas ambulan membawanya, “….lailahaillah!” lanjutnya, dan saat itu saat terakhir aku mendengar suaranya, terakhir aku memandangnya dengan jarak terdekat, dan saat itu juga aku kehilangan dia yang aku cintai yang belum sempat aku sampaikan apa yang aku rasakan juga padanya.
Dia kini telah pergi untuk selamanya, jujur aku sangat merasa bersalah, karena diriku, dia kini pergi, dan karena aku juga yang membuat perpisahan kami begitu memilukan, sebelum ia dimakamkan, dengan sisa tenaga dan keberanianku, aku meminta maaf kepada kedua orang tuanya, karena aku yang menyebabkan dia meninggal dunia. Namun tak pernah aku kira sebelumnya, aku menyangka cacian penuh amarah yang akan ku terima namun sebaliknya, ibunya memelukku dengan erat, memelukku yang saat itu masih berjalan menggunakan tongkat untuk menjaga keseimbangan tubuhku, beliau berterima kasih kepadaku, aku tak mengerti namun aku membalas pelukan itu dengan air mata yang membasahi pipiku saat itu, membuat rasa hangat menjalar diseluruh tubuhku, yang saat itu langit pun pasih ikut mangis sedih.
“Yaa Allah, Yaa Malik, Yaa Rahim, Yaa Salam, Yaa Aziz, ini hambaMu yang penuh dengan dosa dan berlumur penyesalan dan kata maaf untukMu berdoa di sepertiga malamMu saat ini, berharap menjadi salah satu pengisi surgaMu kelak, tertunduk di hadapanMu kini, memohon maaf, meminta kepadaMu agar kau jaga dia disisiMu kini, dan semoga kau terangkan jalannya menuju kehidupannya yang abadi saat ini, hamba mencintainya dengan segenap hati hamba, namun hamba lebih mencintaiMu Yaa Razzaq dengan seluruh hidup dan mati hamba, hamba mohon dengarlah doa hamba kali ini Yaa Adil, amin ya Allah” aku menangis dalam diam, masih tergambar jelas didalam memori otakku kejadian pagi itu, yang membuatku semakin dekat dengan penciptaku, yang membuatku semakin sulit melupakan dia hingga saat ini, saat aku hampir menggunakan seragam kebesaranku, sebagai tanda aku telah resmi mejadi seorang sarjana.