Kamis, 28 Agustus 2014

[Part I] Chase after Unno

Aku membaca kembali surat itu, sebelum akhirnya benar benar aku kirimkan padanya. . . .

Sekitar 7 tahun yang lalu, aku bertemu dengannya secara tidak sengaja, saat dia datang ke kotaku sebagai siswa pertukaran pelajar disekolahku, dari sekian banyak siswa dikelas aku mendapatkan kesempatan duduk sebangku dengannya, hal itu karena dua tahun sebelumnya aku juga pernah mewakili sekolahku mengikuti program pertukaran pelajar. Selama hampir tiga bulan, kami berteman dan belajar bersama, meskipun pada awalnya dia adalah orang yang sangat asing bagiku, tetapi ternyata tidak membutuhkan waktu lama untuk kami bisa dekat dan merasa nyaman satu sama lain, oh iya aku juga biasa memanggilanya dengan panggilan Unno, meskipun itu bukanlah namanya yang sesungguhnya, tapi nama itu sudah cukup mewakili namanya yang sebenarnya.

Sudah 7 tahun berlalu, aku sangat penasaran bagaimana keadaannya saat ini …

Sepulangnya dari mengirimkan suratku itu melalui kantor pos, aku mulai merapikan beberapa pakaian dan perlengkapan lain yang akan aku butuhkan untuk perjalananku pergi menemuinya nanti, sudah beberapa minggu ini aku sengaja mengambil waktu lembur agar bisa mendapatkan ijin cuti dati tempatku bekerja. Pakaian, biaya perjalan, hingga kesiapan mental dan fisik semuanya sudah benar benar aku perhitungkan, dan tinggal menunggu beberapa hari lagi, akhirnya aku akan terbang untuk menemuinya.

Aku tersenyum kecil membayangkan bagaimana pertemuan kami nanti…

Apakah dia sudah mendapatkan surat yang aku kirimkan padanya beberapa hari yang lalu ? apakah dia akan datang dan menyambutku dibandara ? aku memandangi selembar foto yang mulai pudar ditanganku, 7 tahun bukanlah waktu yang singkat untuk menghapus tentangku diingatannya bukan ? tapi aku tidak pernah melupakannya, maka dari itu aku yakin dia juga tidak akan melupakanku.

Setelah berjam jam di pesawat, akhirnya aku tiba di kota kelahirannya, satu hal yang aku pikirkan saat ini ialah berharap dia benar benar akan datang menungguku diluar sana. Tapi …aku sama sekali tidak melihat sosoknya ! bahkan aku tidak menemukan seorangpun dengan wajah mirip dirinya seperti yang ada pada foto yang kubawa, jujur aku kecewa dengan imajinasi ku sendiri, tanpa buang waktu aku segera menuju parkiran taksi dan minta diantarkan kesebuah alamat, ya 7 tahun lalu dia memberikan alamat itu padaku. Meskipun awalnya beberapa dari mereka menolak untuk mengantarkanku, akhirnya ada seorang pengemudi taksi yang mengaku bahwa ia mengenal daerah tersebut,  ah syukurlah aku cukup lega.

Taksi yang aku naiki ternyata langsung mengambil jalur bebas hambatan, sekitar 50 menit kemudian aku sudah sampai disebuah perkampungan kecil yang padat dengan rumah rumah bergaya tradisional dan memiliki jalanan sedikit berbukit dan berliku, namun begitu, kampung ini tetap terlihat indah dan sangat bersih, pengemudi taksi itu mengatakan padaku bahwa dari sini, aku cukup berjalan sedikit kearah jalan berbukit didepan kami, lalu akan akan segera tiba dialamat tersebut, setelah membayar ongkos taksi dan mengucapkan terima kasih padanya, aku langsung menarik koperku, tak lupa juga aku mengencangkan tali sepatuku. Tidak seperti yang aku duga ternyata cukup sulit menemukan alamat yang aku cari, sialnya lagi aku tak menemukan seorang wargapun yang bisa aku tanyai tentang alamat ini, terik matahari dikota ini pada tengah tahun seperti ini, ternyata tidak kalah teriknya seperti dikotaku. Meskipun jalanan berbukit yang seakan tanpa ujung terbentang didepan mataku, aku tetap menyapu pandanganku dan membaca satu persatu tanda alamat yang tertera pada tembok depan disetiap bangunan rumah yang aku lalui, sudah cukup lama aku mencari bahkan rasanya aku ingin menyerah, hingga akhirnya aku menemukan sebuah toko kecil dan memutuskan untuk sejenak beristirahat disana, kebetulan ada tempat duduk kecil didepan toko itu, setelah meneguk habis minumanku, tak lupa aku menanyakan alamat yang aku cari, dan …betapa bahagianya aku saat si penjaga toko mengatakan bahwa tempat aku berdiri saat inilah alamat yang aku cari ! hal yang sangat tidak pernah aku duga sebelumnya. Tapi ternyata senyum dibibirku hanya bertahan beberapa detik saja, karena sipenjaga toko mengatakan bahwa tak ada seorangpun yang seusiaku yang tinggal disana, lalu tiba tiba dia juga mengatakan bahwa dia juga menerima sebuah surat yang ditujukan pada alamat toko ini padaku, astaga ! ternyata surat itu adalah surat yang aku kirimkan beberapa hari yang lalu ! rasanya saat ini tiba tiba sebuah batu berukuran raksasa jatuh tepat diatas kepalaku… barulah aku tahu darinya bahwa ternyata keluarga pemilik bangunan ini yang sebelumnya, sudah pindah kekota sekitar 2 tahun yang lalu, aku langsung merasa putus asa dan kecewa bukan main, parahnya lagi dia tidak mengetahui alamat persis tempat tinggal mereka saat ini !

Aku mendesah nafas panjang, …kecewa …kesal …putus asa dan berbagai macam hal berputar dikepalaku, bagaimana nasibku disini selanjutnya ?

Hari mulai beranjak gelap, dengan langkah lunglai tanpa semangat dan terus berpikir keras, aku melangkahkan kakiku menuju halte bis terdekat. Ya Tuhan …bagaimana ini ? apakah aku harus menyerah sampai disini dan kembali ke bandara saja ? disisi lain, aku juga tak tahu harus bermalam dimana, karena mulanya aku berpikir akan bisa langsung bertemu dengannya.

Bis yang aku tunggu tak juga datang, dari kejauhan aku baru menyadari ada sebuah kantor polisi kecil tak jauh dari halte tempatku menunggu saat ini. Aku beranikan diri melangkah dan menyeberangi jalanan yang mulai sepi didepanku, pikirku akan ada secercah harapan jika aku menanyakan hal ini pada mereka, benar bukan ?
“maaf, apakah kami bisa melihat kartu identidas anda ?”
ya, sudah kuduga mereka tidak akan langsung begitu saja mempercayai orang asing sepertiku menanyakan sebuah alamat dan memberitahuku begitu saja, jadi aku langsung menunjukan semua surat yang berhubungan dengan data diri yang aku bawa, setelah itu mereka juga menanyakan beberapa pertanyaan padaku, seperti apa hubunganku dengan pemilik alamat tersebut, hingga apa alasanku sampai jauh jauh datang kesini. Sekitar setengah jam berlalu, mereka menyambungkan sebuah nomor telpon padaku yang mereka yakini itu adalah nomor telpon dari alamat baru orang yang aku cari, satu kali, dua kali, hingga yang ketiga kalinya, ternyata tetap saja tidak ada jawaban dari nomor telpon tersebut, aku kembali putus asa dan tanpa aku sadari waktu saat ini juga telah menunjukan lewat dari pukul 9 malam. Aku terduduk lemas disebuah kursi yang ada disalah satu sudut kantor polisi tersebut, aku tidak tahu lagi harus bagaimana mengusahakannya, hingga seorang polisi watina menghampiriku dan menawarkanku sepotong roti serta sebotol air mineral padaku, “hai boleh aku menanyakan sesuatu padamu ?” ucapnya ramah tersenyum padaku, baiklah setidaknya aku tidak benar benar merasa terasing disini, “dari alamat yang kau cari, sepertinya aku mengenal salah satu dari penghuni sebelumnya yang tinggal disana” lanjutnya kemudian, mataku langsung terbuka lebar terbelalak tak percaya, “benarkah ?” tanyaku, aku tak bisa lebih sabar menanti kalimat berikutnya dari polisi wanita muda itu, “aku Rei, dulu aku berteman dengan salah seorang anak dari keluarga itu, kalau tidak salah dia memiliki seorang kakak perempuan yang usianya beberapa tahun diatasnya. Dan aku dengar beberapa tahun yang lalu mereka sekeluarga pindah ke kota” cerita polisi yang bernama Rei itu padaku, “apakah kau mengetahui alamat mereka ?” tanyaku menggebu, “hmm, sayang sekali sejak mereka pindah, berita yang terakhir aku dengar saat ini mereka hidup dengan sangat baik, dan akan sedikit sulit jika kita ingin menemui mereka” ujarnya bercerita yang tanpa sadar kembali membuatku putus asa, “tapi…” polisi itu kembali membuka suaranya, “…aku mengetahui dimana temanku itu bekerja. Ya sebenarnya aku dan temanku itu dulunya berteman cukup dekat karena kami sama sama tergabung dalam kelompok drama sekolah” ceritanya padaku lalu memberikan sebuah alamat padaku, “kau bisa bermalam dirumahku malam ini, butuh waktu sekitar 2 jam jika berangkat menggunakan bis kesana, kau bisa mencoba mendatangi alamat itu besok, bagaimana ?” ujarnya yang saat ini justru menawarkanku untuk bermalam ditempatnya, ”benarkah ? apakah itu tidak akan merepotkanmu ?” tanyaku mulai bersemangat lagi, tentu saja aku sangat membutuhkan alamat yang dia berikan, tapi aku lebih membutuhkan tempat untuk bermalam saat ini, “tentu saja, ini juga termasuk tugasku sebagai pelayan masyarakat, lagi pula aku yakin kau bukan orang jahat” jawabnya lagi.

Satu jam kemudian tepatnya pukul 10 malam, kami berjalan pulang menuju rumahnya, tentu saja kami melewati jalanan berbukit dan menanjak yang sama dengan yang aku lalui siang hari tadi, jujur kakiku sebenarnya sudah tidak sanggup lagi berjalan, belum lagi aku harus menarik koper dan menggendong ranselku. “maaf, aku hanya punya ini, kau pasti lapar bukan ? aku akan memasakannya untukmu, sekarang kau mandi dan segera ganti pakaianmu” ujarnya padaku saat kami sudah tiba ditempat tinggalnya, dan mempersilahkanku menggunakan kamar mandi miliknya.

Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, saat ini kami duduk berhadapan dilantai persis didepan kami ada sebuah meja kecil dengan dua mangkuk mi instan diatasnya, dengan asap yang masih mengepul diudara, “ayo makan, kau pasti lapar” ujarnya padaku, “terima kasih, selamat makan” balasku padanya, beberapa menit kemudian aku melihat tatapannya tertuju pada ponselku yang terletak tak jauh dari piring makanku, lalu tanpa bicara dia langsung mengambil selembar foto yang berada persis dibawah ponselku, tentu saja itu fotoku bersama Unno, “oh, kau kah ini ? bagaimana bisa kau ada di foto ini bersamanya ?” tanya Rei kaget saat melihat foto yang pudar ditangannya, “oh…Unno. Jika kau menanyakan hal itu, karena dialah aku berada sidini saat ini, aku kesini karena ingin bertemu dengannya. 7 tahun yang lalu kami bertemu saat dia menjadi siswa pertukaran disekolahku” jawabku yang ikut mengambil jeda untuk menyeruput sup dari mi instan ku, “Unno ? ah mungkin kau lupa, tapi tadi aku sudah mengatakan hal ini padamu bahwa aku berteman dengan anak laki laki dari keluarga pemilik alamat yang kau cari itu. Tapi apakah kau yakin ?” sahutnya panjang, tersirat sedikit kekhawatiran dibalik kalimatnya, “maafkan aku, jadi kau mencari siswa laki laki yang ada di foto ini ?” tanya Rei lagi, jujur aku tidak mengerti apa maksud pertanyaannya, tapi tentu saja, aku jauh jauh kesini memang untuk menemuinya. Seorang teman yang sangat aku rindukan, seseorang yang meski hanya 100 hari aku kenal sekitar 7 tahun yang lalu, “ada apa ? apakah ada sesuatu yang tidak aku ketahui ?” tanyaku padanya, “hmm …aku tidak terlalu yakin. Hanya saja pertama dia bukan Unno, takkan ada yang mengenalinya jika kau menanyakan tentang seseorang dengan nama Unno, namanya tidak hanya sesederhana itu, kau pasti tahu bukan ? dan, tanpa bermaksud membuatmu putus asa, aku juga akan ikut mendoakanmu agar kau berhasil menemuinya besok. Tunggu, aku akan memperlihatkan foto alumni angkatan kami dan padamu” ucapnya semakin membuatku penasaran, aku duduk diam menunggunya mencari buku yang dia maksud diantara jajaran buku pada arak yang menjadi sekat antara ruang makan dan kamar tidurnya itu, tak ada sedikitpun lagi rasa lapar diperutku, yang ada aku hanya ingin segera mengetahui informasi tentang Unno dari Rei, “jadi ternyata saat itu dia pergi mengikuti pertukaran pelajar disekolahmu ?” tanya Rei saat kembali duduk didekatku sambil membuka sebuah buku hitam cukup tebal ditangannya, “ya, kami berteman cukup baik, maka dari itu sebelum dia pergi dia memberikanku alamatnya padaku dan mengatakan padaku bahwa dia akan menunggu kunjunganku kerumahnya suatu hari nanti. Sayangnya saat itu juga terakhir kalinya kami saling berbicara satu sama lain, aku bahkan tak menyangka perlu waktu hingga 7 tahun untuk aku bisa pergi mengunjunginya” jawabku sedikit bercerita, “benarkah begitu ? hm …nah ini dia” jawab Rei singkat lalu menunjukan padaku sebuah foto siswa laki laki berseragam sekolah di dalam buku itu, “ya benar itu Unno” jawabku membenarkan sembari membandingkan foto itu dengan selembar foto ditanganku, dibuku itu terpasang foto seorang murid laki laki dengan garis wajah yang tegas dan senyum tipis dibajahnya tengah menggunakan seragam sekolah dari sekolah asalnya, dia terlihat jauh lebih tampan dengan jas sekolah berwarna biru gelap difoto itu jika dibandingkan dengan fotonya saat menggunakan seragam kemeja putih dengan dasi panjang berwarna nudy has seragam sekolahku dulu, disamping foto itu tertera sedikit biodata singkat tentangnya dan beberapa prestasinya selama disekolah. Jika diingat, tepat satu tahun setelah masa pertukaran pelajar selesai adalah masa kelulusan bagi kami, jadi bisa dipastikan foto ini diambil satu tahun setelah kami berpisah, alias enam tahun yang lalu, “dia adalah salah satu siswa yang popular disekolah, entahlah mungkin karena dia cukup berprestasi dan bagi beberapa siswa perempuan seperti kami, wajahnya juga cukup tampan. Hha…” kenang Rei bercerita tanpa aku minta, “benar, dia juga cukup populer saat dia datang kesekolah kami” sahutku setuju dengan kalimatnya, “apakah kau yakin akan tetap mencarinya ? sayang sekali besok aku harus bekerja, kalau tidak aku pasti akan menemanimu mencari alamat itu” tanya Rei padaku, “jangan khawatir, aku rasa aku sudah terlalu banyak merepotkanmu” jawabku mencoba tersenyum. Tak terasa malam semakin larut, obrolan kami tentang Unno juga berlahan berakhir, malam itu setelah aku mengirimkan email melalui ponselku pada keluargaku dirumah dan mengatakan kepada mereka bahwa aku baik baik saja disini, akupun berusaha menutup mataku dengan tak lupa berdoa dan juga berharap semoga besok aku bisa segera bertemu dengannya.

Pukul 9 pagi, aku kembali melewati jalanan berbukit ini, entah sudah untuk keberapa kalinya, dan tentu saja masih dengan menarik koper serta menggendong ransel milikku, “baiklah kau bisa menunggu disini, jangan lupa kau harus menaiki bis dengan kode S, dan turun pada pemberhentian terakhir” pesan Rei sekali lagi padaku agar aku tidak salah menaiki bis. Setelah bersalaman dia lalu memelukku sebagai tanda perpisahan, setelah itu ia pun langsung menyeberangi jalanan menuju tempatnya bekerja, “terima kasih Rei, aku tidak akan pernah melupakan kebaikanmu !” teriakku sembari melambaikan tangan padanya yang perlahan menjauh, ‘huhfft …’ ku tarik nafas panjang dan meniupnya dengan berat, kupersiapkan diriku lagi untuk melanjutkan perjalananku hari ini seorang diri lagi seperti semula, ditempat yang benar benar asing seperti ini.

Sekitar setengah jam kemudian, akhirnya bis yang kutunggu datang dan berhenti tepat didepanku, setelah sedikit kesulitan mengangkat koperku ke atas bis, akhirnya aku bisa duduk dengan nyaman disalah satu kursi dengan posisi yang persis berada disisi jendela, tempat yang pas untukku agar dapat melihat lihat pemandangan diluar selama perjalanan. Aku kembali memandangi fotoku dan Unno, Tuhan apakah dia juga merindukanku saat ini ? dan lagi lagi perhatianku tertuju pada amplop coklat muda yang berisi surat yang aku tuliskan untuknya, tak pernah aku duga sebelumnya bahwa surat yang sudah aku kirimkan ini akan kembali lagi ketanganku. Sengaja aku tidak membukanya sama sekali, aku masih berharap untuk bisa memberikan surat ini padanya dan membiarkan dia membaca sendiri surat ini. Selama 2 jam diperjalan, dengan perasaan yang campur aduk dan berbagai macam pikiran dibenakku, tentu bukanlah perjalanan yang singkat untukku lalui pagi ini, meski mataku sesekali terasa berat dan hampir saja aku tertidur karena bosan, tapi rasanya aku tak punya keberanian untuk sejenak saja menutup mataku selama perjalanan, ‘Unno, tunggulah kita akan bertemu sebentar lagi …’ bisikku dalam hati dan lagi lagi tersenyum memandangi foto kami.


Akhirnya, bis yang membawaku sampai di pemberhentian terakhir, berdasarkan informasi yang ku dapat dari seorang petugas informasi disana, dari terminal ini aku cukup melanjutkan perjalan dengan menaiki kereta cepat jalur G dan keluar dapi exit selatan setelah 2 kali pemberhentian. Entah kenapa, langkah kakiku mulai terasa ringan saat ini, bayangan tentang aku akan segera bertemu dengannya benar benar membuatku bersemangat dan tidak lagi aku merasa ragu untuk melangkah. Setelah berhasil membeli tiket dari sebuah mesin otomatis, aku mengikuti petunjuk arah menuju kereta bawah tanah di jalur G. seperti yang sudah direncanakan, aku turun pada pemberhentian kedua dan segera menuju ke exit selatan, tak lupa aku kembali memastikan pada bagian informasi apakah lokasi ini sudah benar sesuai alamat yang aku tuju. Syukurlah, petugas tersebut mengatakan padaku bahwa aku sudah berada ditempat yang banr, aku cukup berjalan sekitar 500 meter dari exit selatan tersebut hingga aku menemukan sebuah persimpangan, lalu persis disebelah kanan persimpangan itulah bangunan yang aku cari berdiri. Wah, andai saja aku mengetahui hal ini jauh lebih awal, mungkin sejak kemarin aku sudah bisa bertemu dengannya....


. . . . [tbc]