Kamis, 28 Agustus 2014

[Part II] Chase after Unno

Karena sedikit merasa aman, aku memutuskan untuk istirahat sejenak disebuah kedai kopi kecil di dekat exit selatan tersebut, aku meminum kopiku dengan santai sembari menikmati suasana disekitarku, jujur saja bibirku tak bisa berhenti mengulum senyum sejak tadi, bayangkan hanya tinggal 500 meter lagi aku bisa bertemu denganny. Bagaimana penampilannya kini ? apakah dia masih mengingatku ? hmm, aku rasa jarak 500 meter tidak ada artinya dengan jarak yang ada diantara kami selama 7 tahun ini.

Sekitar pukul 1 siang, aku melanjutkan perjalananku, menarik serta koperku, menggendong tas ranselku serta tak lupa alamat dan selembar foto digenggamanku dan akhirnya, aku sampai dialamat yang aku tuju ! aku tak bisa membayangkan jika aku tak bertemu dengan Rei, mungkin aku tidak akan pernah mengetahui alamat kantor Unno bekerja saat ini. Tapi …kenapa kantor ini ramai sekali ? dibagian depan pintu masuk gedung, terlihat sekumpulan remaja wanita berdiri dan membuat kerumunan, entah apa yang sebenarnya mereka lakukan disini. Namun akhirnya mau tak mau aku beranikan diri menerobos keramaian itu, beberapa dari mereka menatapku penuh tanya dan tatapan tak suka, aku tidak mengerti dengan sikap mereka, tapi akhirnya aku tahu, sepertinya mereka tidak mendapatkan ijin memasuki gedung ini, mengingat akupun tak luput dari pertanyaan petugas keamanan sebelum akhirnya aku mendapatkan ijin masuk dan dipersilahkan untuk menunggu, tentu saja setelah aku menjelaskan dengan lengkap maksud dan tujuan kedatanganku kesini. Tak lama kemudian aku mendengar suara riuh rendah teriakan para gadis remaja diluar tadi, saat sebuah minibus datang dan berhenti tepat didepan pintu masuk gedung ini, aku tak bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi, dan siapakah yang datang sehingga membuat para remaja diluar sana terdengar cukup berisik dari tempatku duduk saat ini, di saat yang bersamaan seorang pria berjalan menghampiriku dengan setelan jas rapi, “maaf, apakah ada sesuatu yang bisa ku bantu ?” tanyanya sopan padaku, ah aku pikir dia Unno, ternyata bukan, “aku, aku datang kesini untuk menemui seorang teman. Kami bertemu 7 tahun yang lalu dan dia sempat memberikanku alamat tempat tinggalnya, tapi karena ternyata dia tidak lagi tinggal disana, aku mendapatkan alamat tempat dia bekerja dari seorang petugas kepolisian yang tinggal tak jauh dari alamat tersebut” jelasku sedikit gugup, rasanya akupun bekerja pada perusahaan yang cukup terkemuka di tempatku, tapi apakah sesulit ini jika ingin menemui seseorang ? sepertinya baru kali ini aku harus menjelaskan alasan sedetail itu bahkan pada seseorang yang baru pertama kali aku temui, “maafkan aku, tapi kau tidak akan bisa bertemu dengannya saat ini, karena belakangan ini dia sangat sibuk. Aku harap kau bisa mengerti, jika memang ada yang ingin kau sampaikan padanya, aku bisa membantumu untuk menyampaikan hal itu padanya” jelas pria itu padaku, tapi jujur bukan kalimat itu yang ingin aku dengar darinya, bukan setelah aku menempuh perjalanan sejauh ini, “lalu, kapan aku bisa menemuinya ?” tanyaku tak ingin cepat putus asa, aku juga berusaha berpikir bahwa mungkin saja dia memang orang yang cukup penting diperusahaan ini dan sangat sibuk, “maafkan aku, tapi hingga akhir pekan ini saja jadwalnya masih cukup padat” jawab pria itu kemudian. Sulit untukku mempercayai begitu saja jika dia memanglah sesibuk itu bahkan untuk beberapa hari kedepan !? “percaya padaku, jika kau perlu menyampaikan sesuatu padanya, aku bisa menyampaikan langsung pesanmu padanya, kau juga bisa meninggalkan nomor kontak yang bisa dihubungi jika memang perlu ?” lanjut pria itu lagi, mungkin dia mengerti sedikit gurat keraguan diwajahku. Akhirnya dengan sedikit berat hati akhirnya aku menitipkan surat yang dari awal memang aku tuliskan untuknya yang tanpa kuduga kembali lagi ketanganku itu, aku juga menitipkan kartu namaku, kalau saja dia akan segera menghubungiku setelah dia membaca surat dariku, “baiklah aku akan menunggu” ujarku akhirnya, “oh iya, apakah ada penginapan dengan harga murah didekat sini ?” tanyaku tak ingin cepat putus asa, “ya kau memang harus sedikit bersabar. Penginapan ? kau bisa pergi ke café di seberang jalan, kalau tidak salah mereka menyewakan ruangan dilantai atas gedung” jawab pria berdasi itu, “baiklah, terima kasih. Jangan lupa sampaikan pesanku padanya” pamitku akhirnya dan berjalan pergi kembali kearah kerumunan para gadis remaja diluar sana, namun belum sempat aku sampai dibibir pintu langkahku terhenti saat beberapa pria masuk dan para petugas keamanan memberikan mereka jalan, kebeberapa pria muda dan tampan tersebut terlihat melambaikan tangan dan melemparkan senyuman kepada para kerumuman yang histeris melihat mereka. Tanpa terlalu memusingkan hal tersebut, aku segera melangkah keluar gedung dan mencoba mendatangi café diseberang jalan, berharap memang benar ada ruangan yang bisa ku tempati setidaknya hingga aku berhasil menemui Unno.

Dan ternyata café ini memang menyewakan beberapa kamar munngil untuk wisatawan dengan tarif cukup bersahabat. Aku merebahkan tubuhku diatas kasur kecil dan mencoba menenangkan sejenak pikiranku, juga tetap berdoa penuh harap semoga dia segera membaca suratku dan langsung menghubungiku.

Siang sudah berganti gelap, aku baru terbangun dari tidur siangku, setelah berganti pakaian aku bersiap untuk segera keluar kamar sembari sedikit berkeliling dan mencari makan malam. Entah hampir tiap menit atau mungkin detik aku mengecek ponselku, berharap dia segera menghubungiku, serta foto kami saat 7 tahun yang lalu, entah kenapa senyumannya di foto itu terlihat sedikit sendu untukku saat ini, aku pun mulai merasa khawatir akankah aku bisa bertemu dengannya …?

Hari kedua …bahkan sampai hari ketiga, masih juga belum kudapatkan kabar apapun darinya. Sedangkan besok akan menjadi hari terakhirku disini, sesuai tiket yang sudah lebih dulu aku beli, penerbanganku besok sekitar pukul 2 siang. Pagi ini aku bangun jauh lebih awal untuk sedikit berjalan pagi, aku rasa aku tak merasakan lagi jetlag setelah beberapa hari berada disini.

Aku mengenakan setelan training berwarna pastel dan juga sebuah topi berwarna sedikit lebih tua. Pagi ini aku mulai dengan sedikit berjalan cepat disekitar area penginapanku, meskipun saat ini waktu belum menunjukan pukul 6 pagi tapi suasana disini tidak menyeramkan sama sekali untukku berkeliaran seorang diri.

Tak terasa aku sampai disebuah taman bermain kecil yang disebalahnya ada sebuah lapangan yang tidak terlalu besar, aku memutuskan untuk duduk istirahat sejenak disalah satu kursi taman, “ah permainan basketmu sangat payah !” teriak salah seorang dari beberapa pemuda yang sedang bermain disana, dari tempatku duduk aku bisa melihat beberapa dari mereka sedang bermain basket bersama. Aku memakai topi yang tersambung langsung dengan jaket training ku, berusaha melindungi udara dingin pagi yang segar namun tetap saja terasa begitu lembab, perhatianku masih belum bisa terlepas dari para pemuda dilapangan itu, ah aku semakin merindukan teman temanku, “hei kenapa kau tidak ikut bermain ?” tiba tiba seseorang menepuk pundaku dari arah belakang, aku benar benar kaget dan secara reflex berdiri dari dudukku dan memutar badanku kearah orang tersebut, “oh maafkan aku, aku pikir kau salah satu temanku” ujar pria yang menegurku itu beberapa detik setelah dia menyadari bahwa aku bukanlah salah satu dari kelompok mereka, dan langsung melangkah pergi menuju lapangan, “tunggu !” ujarku cepat, aku merasa seperti mengenalnya tapi entah dimana, lidahku terasa kaku dan pikiranku seakan terhenti, tapi dimana ? aku sepertinya benar benar pernah melihat pria itu, “ada apa, apakah aku mengenalmu ?” tanyanya menghentikan langkahnya karena teriakanku, namun karena tak juga ada jawaban dariku, dia akhirnya benar benar pergi menyusul teman temannya untuk ikut bermain. Karena merasa tidak enak, akhirnya aku langsung memutuskan pergi dari sana dan kembali kepenginapanku, aku pikir tak ada gunanya memikirkan pertemuan barusan.

“Hei, kenapa kalian tidak menungguku ? lihat, aku baru saja mendapatkan surat dari manajer kita, dia mengatakan beberapa hari yang lalu ada seorang wanita yang memberikan surat ini langsung kepadanya dan memintanya untuk menyerahkan surat ini padaku” teriak pria tadi sesampainya dia dilapangan ditengah temannya yang lain, “wah benarkah ? siapa dia, apakah dia cantik ?” tanya salah seorang dari temannya, tanpa menjawab pria itu langsung mencoba membuka surat yang ada ditangannya, “hm …disini tertulis bahwa namanya Anne. Entahlah aku tidak begitu ingat, dia mengatakan bahwa kami pernah bertemu saat aku mengikuti pertukaran pelajar” ujar pria itu membaca ringkas surat tersebut, “Unno ? hha …bagaimana bisa dia memanggilmu Unno ?” sahut seorang teman yang lainnya, “Unno …hm, aku tidak begitu ingat bagaimana awalnya aku mendapatkan panggilan seperti itu” pikirnya berusaha mengingat, “tapi jika melihat gaya bahasa yang ia gunakan, sepertinya kau cukup akrab dengannya ?” pendapat yang lainnya lagi tentang surat itu, “benarkah ? astaga aku benar benar tidak ingat apa apa tentang hal itu” keluhnya karena tidak bisa mengingat siapa pengirim surat tersebut, “oh ya, manajer bilang dia juga meninggalkan kartu namanya” ingat pria itu yang kemudian mengeluarkan kartu nama yang ia dapat bersamaan surat tersebut dari sang menajer, “baiklah, mungkin besok atau lusa aku akan mencoba menghubunginya” ujar pria itu lalu melipat kembali surat tersebut, dan memasukannya disaku pakaiannya, sebelum akhirnya mereka melanjutkan permainan basket mereka.

Hari ini, adalah hari terakhirku dikota ini, tak bisa aku percaya ternyata kedatanganku kesini sangatlah sia sia, meskipun aku sempat berkeliling kota dan menikmati liburanku disini, tapi tetap saja tujuan utamaku kesini ialah untuk menemui Unno. Sebelum akhirnya aku benar benar berangkat kebandara, untuk terakhir kalinya aku menyempatkan diri menanyakan kembali apakah ada sedikit kemungkinan untuk aku bisa menemuinya dikantornya, aku benar benar berdoa sekalipun kemungkinan itu kini sangatlah kecil, aku sangat ingin bertemu dengannya.

“Maaf, dari nama yang kau sebutkan dan foto orang yang ingin kau temui, sepertinya ada sedikit kekeliruan, tapi dia bukanlah Unno. Orang orang biasa memanggilnya Junho, kau hanya terlambat beberapa menit saja datang kemari. Karena mobil yang barusan pergi tadi adalah rombongan mereka, hari ini mereka akan berangkat ke Jepang. Apakah kau tidak tahu grup idola yang bernama 2PM ? pria yang kau cari itu adalah salah satu dari angota grup tersebut” ujar seorang pegawai wanita yang aku tanyai saat aku datang kekantornya kali ini.

Astaga bodohnya aku ! ya, tentu saja aku tahu nama lengkapnya, tapi bagaimana bisa aku tidak peka seperti ini ? tak pernah terpikirkan olehku untuk mencari tahu tentang perusahaan yang sudah beberapa kali aku masuki ini, rasanya aku ingin menangis atau bahkan teriak saat ini juga ! kenyataan bahwa aku sama sekali tak mengenalinya sedikitpun, tidak mengetahui apapun tentang statusnya saat ini, benar benar membuatku hampir gila, bahkan saat ini …mereka sudah jauh lebih dulu pergi. Aku mencoba mengontrol diriku dan berusaha kembali meminta pegawai tersebut memastikan apakah yang dia lihat benar, dan tetap saja wanita itu mengatakan 100% bahwa orang yang digambar itu ialah Lee Junho !!

Bodoh bodoh bodoh ! apa saja yang sudah aku lakukan selama ini ??

Jika memang kenyataannya seperti itu, sangatlah sulit bahkan hanya untukku memikirkan kemungkinan dia akan menerima dan membaca surat dariku ! bagaimana mungkin aku bisa sebodoh ini ?? kenapa tidak terpikirkan dari awal olehku untuk mencari tahu semuanya setidaknya sejak aku mengetahui nama perusahaan tempatnya bekerja ? entahlah aku merasa seperti orang yang sangat dan benar benar bodoh didunia ini. Aku bahkan pergi seorang diri dengan tak pernah menduga sama sekali hal seperti ini akan terjadi.

Selama ditaksi diperjalanan menuju bandara, aku tak berhenti menyesali kebodohanku, bahkan rasanya aku sangat tidak peka terhadap apa yang terjadi dengan dunia disekitarku, setidaknya jika saja selama ini aku tidak terlalu gila bekerja dan berusaha mengumpulkan semuanya untuk pergi menemuinya …oh Tuhan ada apa denganku ??

Sesampainya dibandara aku langsung mencoba mencari tahu segala informasi melalui ponselku, aku ingin memastikan tentang informasi yang aku dengar barusan tentangnya, setelah membaca beberapa fakta tentang perusahaan tersebut, aku akhirnya menyadari betapa banyaknya kesalahan yang sudah aku lakukan selama berhari hari disini, aku memang mengetahui nama lengkapnya, dan memang aku mendengar teriakan mana itu beberapa hari sejak aku disini, namun bukankah bisa saja ada 1 juta orang diluar sana yang memiliki nama yang sama dengannya ? jadi tak pernah terpikirkan sejauh ini oleh ku tentangnya, tentang teman yang sudah 7 tahun ini selalu aku rindukan itu.

Aku melangkah berat menuju lift untuk naik keruang tunggu penumpang, rasanya aku belum bisa menerima pulang tanpa hasil setelah aku menempuh semuanya seorang diri, “Anne !” sebuah suara tiba tiba menghentikan langkahku secara otomatis, aku membalikan badanku kearah sumber suara untuk memastikan bahwa pendengaranku tidak salah, “apakah kau akan pergi begitu saja ?” ucap seorang pria dengan suara yang sama tersenyum padaku, selanjutnya dia melepas topi serta kacamata yang ia gunakan, lalu ia mengacak rambutnya secara tak beraturan sambil terus tersenyum kearahku, “apakah kau ingat siapa aku ?” ujarnya lagi, astaga ! tanpa menunggu aku langsung berlari kearahnya dan memeluknya erat, seolah aku tak pernah ingin melepaskannya lagi dari pelukanku, “aku sangat merindukanmu !” teriakku memukul tubuhnya pelan, “benarkah ? kau beruntung karena seseorang dari perusahaan mengatakan padaku bahwa ada yang datang mencariku tadi” ujar pria itu kembali mengenakan topinya, tapi tetap menggenggam kacamata disebelah tangannya, “kau masih memanggilku dengan nama itu ?” tawa pria itu membuat matanya nyaris tak terlihat, “baiklah, Junho. Lee Junho” jawabku tak ingin berdebat tentang hal itu padanya, “kalau saja aku tidak harus naik penerbangan berikutnya, mungkin kita tidak akan bisa bertemu disini” sambung Junho lagi, ah aku benar benar tidak percaya bahwa dia sama sekali tidak berubah, dia masih seperti seorang teman yang ku kenal dulu, bertahun tahun yang lalu, hanya penampilannya saja yang terlihat jauh berubah, setelah 7 tahun aku tidak melihatnya penampilannya kini jauh terlihat lebih baik.

Akhirnya kami naik lift bersama menuju ruang tunggu keberangkatan, aku bahkan melihat pria yang waktu itu membantuku menyerahkan suratku pada Junho ikut bersama beberapa orang yang lainnya, “maafkan aku, kalau saja aku bisa mengingatmu lebih awal dan segera menghubungimu, mungkin kita bisa sedikit punya waktu yang cukup panjang untuk bertemu” ujarnya saat kami keluar dari lift, tapi menurutku dia akhirnya mengingatku saja, sudah lebih dari cukup untukku, “kau tidak perlu khawatir, dalam waktu dekat kami pasti akan melaksanakan konser dikotamu. Dan kita bisa bertemu lagi, kau akan datang bukan ?” tanya Junho lagi padaku, “tentu, aku akan menunggumu” jawabku dan dia pun merangkul tangannya diatas pundakku, “jadi, ini sudah waktunya kita berpisah ?” tanya Junho akhirnya setelah terdengar pengumuman bahwa sudah waktunya aku naik ke pesawat, tak lagi aku lihat senyuman diwajahnya detik itu, aku tidak langsung menjawab pertanyaan, aku justru memasangkan sebuah gelang yang melingkar disalah satu tanganku dan memasangkannya pada pergelangan tangannya, “kita belum akan berpisah …” jawabku mecoba tersenyum, “…kita baru saja akan bertemu kembali. Jaga dirimu teman” jawabku mengakhiri pertemuan kami dengan kembali memeluknya.

Jaga dirimu teman, pastikan padaku bahwa kau akan selalu bersinar dan selalu baik baik saja. Aku akan selalu menunggu kesempatan untuk bertemu lagi denganmu, sampai jumpa.

Sukses untukmu …


Dari teman 100 hari mu, 7 tahun yang lalu, Anne …


.....[finish]