Senin, 19 Desember 2011

It's disappointed . . .

Matahari pagi ini membangunkanku yang masih malas untuk bangkit dari tempat tidur, itu karena dua hari ini aku sudah memaksakan diri untuk lembur kerja demi mendapatkan hari libur akhir pekan yang lebih awal, ya aku berencana untuk mengambil cuti kerja hari ini, karena jumat ini aku sudah berjanji akan meluangkan waktuku untuk berangkat ke Bandung, demi menghadiri acara pernikahan sahabat ku saat kuliah dulu, "Jui, jam berapa ini ? Apa kamu gak masuk kerja?" kakak berteriak dari luar kamar memanggil namaku, usiaku hanya terpaut 3 tahun dengannya, dan saat ini dia bekerja sebagai kepala cabang di salah satu bank swasta di Jakarta, posisi yang luar biasa menurutku, mungkin itu juga karena dia lulusan sebuah universitas di luar negri, tidak seperti diriku, pekerjaanku sebagai salah satu editor media cetak yang terbit dua mingguan, sebenarnya di tentang keras oleh kakakku, karena dia pernah mengatakan bahwa sebenarnya aku bisa mendapatkan pekerjaan yang jauh lebih baik dari itu, apa lagi dengan latar belakang pendidikanku yang lulusan fakultas perfilman dan seni peran, tapi mungkin aku sudah terlalu nyaman dengan semua pekerjaanku di kantor, jadi aku tidak pernah mempermasalahkannya, "iya ka, aku sudah bangun, Jui cuti hari ini" jawabku sembari menyamarkan suaraku yang aku yakin masih terdengar seperti suara bantal, "cuti? Kenapa gak resign aja sekalian?" jawabnya yang sepertinya masih berdiri di depan kamarku, "kakaaaak! Huh, itu sih maunya kakak" protesku geram, dia memang selalu blak blakkan kalau tentang itu.

Aku turun dari kamarku dengan membawa sebuah tas yang sedikit besar dan juga sebuah tas jinjing yang aku genggam di kedua tanganku, pagi ini meskipun masih jam 7 pagi, tapi aku tetap harus segera memulai perjalanan ke Bandung, karena teman temanku yang lainnya sudah menungguku, bahkan ada yang sudah tiba disana sejak dua hari yang lalu, "mau kemana? Mau kabur ya dari rumah?" tanya kakak yang ternyata masih duduk manis di meja makan sembari melahap sarapannya, "enak aja, Jui mau ke Bandung ka, kakak lupa ya kalau siang ini ada temen Jui yang nikah" jawabku sembari mengambil posisi duduk dan ikut melahap sarapan yang sudah disiapkan untukku, "siapa yang nikah? emang harus ya dateng kesana?"
"dia itu kakak tingkatku waktu kuliah dulu, sudah 2 tahun gak ketemu, sekalian reuni juga ka dengan yang lain"
"ya udah kakak gak jadi ke kantor, kakak temenin kamu ke Bandung" aku terpaku, tanganku masih melayang di udara dan akhirnya ku tunda suapan ku masuk ke mulutku, sepertinya kakakku tidak sedang bercanda, "masih kurang jelas?" tanyannya saat melihat wajahku yang tidak yakin dengan kalimatnya, "tapi ka?"
"tapi apa ? Tunggu sebentar, aku akan menghubungi kantor dan berganti pakaian" ucapnya tanpa menunggu jawaban dariku, 'apa apaan sih ka?' tanyaku lebih kepada diri sendiri karena melihat ulah kakakku itu. Jarak Bandung dan Jakarta memang tidak terlalu jauh, apalagi jika melalui tol, jika tidak ada kemacetan kami bisa tiba disana hanya dalam waktu 2 jam saja, tapi bukan kakak namanya kalau dia nyetir gak pake ngebut, mungkin karena dulu terobsesi jadi pembalap Formula1, jadi dia sering memperaktikan kemampuannya itu di jalanan, "kak, enak yah yang jadi bos, mau masuk kerja atau enggak tinggal telpon aja?" ucapku saat kami sudah hampir setengah perjalanan, dia memainkan letak kaca matanya dan menoleh sesaat padaku, "emang kamu gak bolos juga hari ini? Kita sama kan?" jawabnya dengan pertanyaan pula, "kakak cuma gak tenang aja kalo kamu ke Bandung sendirian"
"apa ? Gak salah denger nih?"
"ya nggak lah"
"perasaan waktu aku pergi ke Bunaken untuk riset kerjaan, kakak biasa aja tuh"
"oh ya? Kapan ya?"
"huh, dasar" ucapku akhirnya, ya aku menyerah jika harus berdebat mulut dengannya.

Kami tiba di Bandung tepat pukul 11 pagi, dan kami memang sengaja untuk langsung menuju ke sebuah masjid tempat resepsi pernikahan temanku itu, "ini bener tempatnya?" tanya kakak yang juga ikut celingak celinguk mencari tahu, aku sangat yakin ini tempatnya hanya saja, aku ragu karena aku lupa membawa undangannya, "Dira dan Dika ya nama pengantinnya?" kakak lagi lagi bertanya padaku, "Dira ? Hm mungkin itu nama kecilnya ka Andira kali ya ka ? dan aku gak hafal nama pasangannya" jawabku sambil berfikir dan menyesali kebodohanku, "ayo turun" ajak kakak padaku. Begitu turun dari mobil, aku tak sengaja menangkap sosok April, salah satu mahasiswa berbakat yang seangkatan denganku, tapi aku ragu dengan yang lainnya, aku jadi sempat teringat tentang cerita lamaku saat aku berteman dengan April, "Jui! Jui kan ?" sebuah suara memanggilku, ternyata Mario salah seorang sahabatku yang saat itu sering aku panggil kakak, "benerkan Jui, wah kesini bareng ka Nathan ya ? Kirain sama pasangan" dasar, belum ada yang berubah dari seorang Mario, masih sama seperti dulu dia memang sering menggodaku yang memang lebih sering terlihat bersama kakakku dari pada dengan seorang pria yang punya hubungan special denganku, kak Nathan juga sudah hafal keisengannya itu, tapi kakakku tahu kalau sebenarnya dia adalah teman yang baik, sepertinya kakak dan Mario langsung bisa menikmati suasana siang hari ini, mereka berbincang seru seolah melupakan adanya aku disini, aku menyebarkan pandanganku hingga aku melihat ke salah satu arah di halaman masjid itu, aku terdiam dan saat itu rasanya ada sebuah batu raksasa yang menindih kepalaku, sebuah foto pernikahan yang terpajang disana membuatku merasa tidak percaya, bukan ini bukan masalah posisi foto atau gambarnya, tapi ini tentang objek foto itu, ya aku melihat gambar ka Andira yang berias make up yang membuatnya terlihat sangat anggun, aku akui aku bangga memiliki kakak tingkat secantik dan sepintar dia, dia juga baik padaku, sejak awal bertemu aku sudah mersa nyaman berteman dengannya, maklum saja aku tidak memiliki saudara perempuan, jadi aku sudah mengaggapnya seperti saudaraku sendiri, tapi semua itu sepertinya salah, aku terlalu bodoh jika baru menyadari kali ini, ya laki laki yang berpose di sebelah ka Andira adalah Andi, aku tahu dengan jelas siapa dirinya, teman sekelas ka Andira yang juga bintang kampus kala itu, bodohnya aku, bagaimana mungkin aku tidak tahu kalau ka Andira ternyata menikah dengannya ? Seorang pria yang membuatku sempat buta oleh pesonanya, dan ka Andira tahu betul tentang itu, aku masih berusaha meyakinkan diriku bahwa penglihatanku keliru, dan aku yakin Dika bukanlah nama belakang pria itu.

Lima tahun yang lalu, saat itu adalah hari pertamaku melangkah menjadi seorang mahasiswa, dan kala itu kemacetan kota Jakarta membuatku terlambat tiba di kampus dari waktu yang di tentukan oleh panitia ospek mahasiswa baru, alhasil aku mendapatkan hukuman, dan itulah kali pertama aku bertemu dengannya, dia diminta oleh beberapa temannya untuk memberikan hukuman padaku, hanya saja dia tidak tahu ingin memberi hukuman apa, lalu dia memintaku untuk berpura pura kalau aku sudah menerima hukuman darinya dan segera bergabung dengan mahasiswa baru lainnya, sedikit konyol memang, bagaimana mungkin seorang panitia ospek tidak memiliki keberanian atau ide untuk memberikan hukuman pada mahasiswa baru? Ya itulah dia saat pertama kali aku mengenalnya, selanjutnya waktu berganti aku baru menyadari ternyata dia adalah mahasiswa terbaik yang dimiliki kampus di angkatannya dan juga dia adalah bintang di kampus kami, banyak mahasiswa wanita yang menyukainya, terutama sikapnya yang sopan dan senyumanya yang hangat jika bertemu dengan wanita, terkadang aku juga berfikir kalau itu memang gaya khasnya atau bisa juga dikatakan bahwa dia sedikit playboy hanya saja, aku tidak memperdulikan semua itu, karena sepertinya aku juga mulai terbutakan oleh pesonanya. Di tahun kedua ku menikmati bangku kuliah, aku berhasil mendapatkan nilai yang cukup baik maka dari itu aku bisa mengambil beberapa mata kuliah tingkat atas, dan saat itu aku sengaja memilih ikut di kelasnya, bukan karena dirinya aku masuk di kelas itu, tapi karena disana ada ka Andira, salah satu senior cantik yang beberapa bulan lalu menjadi temanku di klub musikal, ka Andira sendiri yang membujukku untuk bergabung di kelasnya, dia membujukku dengan mengatakan bahwa kelasnya berisi orang orang pintar, itu saja!

Ternyata ka Andira bisa menangkap kekagumanku pada Andi, teman sekelasnya itu, dan aku ingat ka Andira pernah bilang padaku "kamu suka sama dia ya ? Kalau kakak sih nggak, habisnya nama dia hampir sama denganku" bisiknya saat itu dengan raut wajah sedikit jahil, waktu itu aku tidak terlalu menggubrisnya lagi pula aku tidak terlalu ingin mencari tahu tentangnya, cukup melihat dimana dia dan sedang apa dirinya, itu sudah cukup membantu.

Hei, kenapa aku begitu bodoh ? Kenapa aku tidak pernah menanyakan padanya siapa pria yang namanya bersanding dengan nama ka Andira di surat undangan pernikahan itu? Undangan yang sengaja dia kirim khusus dengan mengantarkannya secara pribadi ke tempat kerjaku dua bulan lalu? Aku masih terpaku disini, kakak berusaha menyadarkanku yang bengong sedari tadi, "kamu sakit Jui?" ucapnya dengan nada cemas, "ka, kita pulang yuk?" ucapku, aku bahkan tidak tahu harus berkata apa lagi selain mengucapkan kalimat itu, "aneh, kamu gak pengen kasih selamat dulu sama pengantinnya?" tanya kakak yang aku rasa masih belum menyadari ekspresiku, Mario menyikut tangan kakak ku dan memberi kode agar dia membujukku untuk masuk kedalam masjid tempat para tamu undangan duduk, sepertinya acaranya juga sudah berlangsung setengah jalan, dengan tetap menutup rapat mulutku, aku mengikuti mereka yang berjalan sembari menggandengku dengan celotehan khas mereka, aku senang sepertinya hatiku yang masih terasa tersambar petir itu tidak membuat wajahku berubah dari sebelumnya.

Pikiran ku kembali terbawa pada masa lalu, saat itu aku ingat bahwa hampir setiap hari aku menceritakan kekagumanku pada ka Andira tentang Andi, ya pria yang ternyata bernama Andika itu, yang kini menjadi pendamping di sisa usia ka Andira, kala itu dia selalu antusias mendukungku dan tanpa diminta dia menawarkan diri untuk menjadi makcomblang ku dan Andi, tapi kenyataanya semuanya berbalik, aku menyesal kenapa aku harus lembur dua hari ini hanya untuk menyaksikan ini ? kenapa aku harus rela mengambil cuti lebih awal demi mendatangi pernikahan ini ? apakah dia ingat siapa pria itu ? dan apakah dia lupa apa saja yang sudah dia katakan padaku, dan apa saja yang aku ceritakan padanya ? apa ini, apakah memang sejak awal dia merencanakan semua ini ? pernikahan ini ? makcomblang itu, dia sengaja ingin membuatku terlihat bodoh ?? Setelah acara ikrar suci itu berjalan lancar, kami para undangan berbaris untuk menyalami kedua mempelai yang terlihat sangat bahagia itu, aku berdiri di belakang Mario dan kakak mengkuti langkahku, aku masih diam, hampir semua penglihatanku gelap, aku masih belum bisa percaya dengan fakta yang aku lihat hari ini, "Yui, terima kasih ya sudah mau datang" ucap ka Andira saat melihatku berdiri di hadapannya, dia memang seperti itu, dia memanggilku 'Yui' bukan 'Jui' itu memang kebiasaan lamanya, dan sepertinya aku tidak menemukan firasat bahwa dia merasa bersalah padaku, "selamat ya kak, semoga pernikahannya bahagia" ucapku sembari menatap mereka secara begantian, aku melihat sorot mata Andi seakan dia cukup terkejut melihat kehadiranku, bahkan dia lupa kalau telah mengabaikan Mario, kak Andira tersenyum melihat reaksi teman sekelasnya itu, ah bukan kini dia sudah resmi menjadi suaminya, sebelum akhirnya dia berkata, "ah, aku lupa kalian pasti saling mengenal bukan ? Dika, dulu dia sempet cerita kalau dia suka loh sama kamu, eh gak nyangka ya, ternyata kamu jadi suami aku sekarang" bisiknya manja pada Dika namun justru terdengar sinis ditelingaku, aku yakin aku gak salah denger, apa maksud kalimatnya itu !? aku berlalu tanpa berniat meladeni perbincangan mereka, setelah sempat beberapa saat bertemu dengan mereka, aku baru percaya bahwa sejak awal aku tidak salah lihat...ya, Andi itu adalah Dika, Andika! Betapa bodohnya aku.

Setelah keluar dari masjid itu aku membujuk kakak untuk segera kembali ke Jakarta, meskipun pandangannya terlihat bingung dengan ajakanku untuk segera pulang, tapi akhirnya dia menurutinya juga, "tadi kakak liat April disana" ucapnya sembari memutar kemudi mobil menjauh dari masjid, aku tidak mengerti kenapa kakak bisa tiba tiba menyinggung tentang April? "oh ya? Hm, aku tidak tahu kalau ada dia disana" jawabku bohong, aku tahu kakak pasti bisa mengenali kebohonganku, "tadi dia nangis" lanjutnya lagi, tapi tetap memandang lurus pada jalan di depannya, "kalau kakak gak salah inget April dulu sempet deket dengan Andi kan ? Hm maksud kakak, Dika. Betul? " aku tidak langsung menjawab kalimatnya itu, aku masih belum bisa menebak kemana arah pembicaraan kakak saat ini, "ehm! ya udah besok kamu ikut ke kantor kakak ya ? Besok kebetulan ada soft launching produk terbaru, gak boleh nolak!" pungkas kakak akhirnya, apa mungkin dia mengerti apa yang sedang terjadi denganku saat ini ? Entahlah aku sedang tidak ingin memikirkannya, aku ayunkan tanganku memutar dan memilih beberapa lagu untuk menghilangkan hening selama perjalanan, namun sekeras apapun musik yang aku dengarkan aku tetap merasa bahwa ini begitu sunyi.

Hidup memang penuh kejutan, 3 bulan sejak kejadian hari itu aku di pecat dari pekerjaanku karena perusahaan itu mengalami kebangkrutan dan memberikan PHK pada beberapa pegawainya, tapi saat ini aku sudah menemukan pekerjaan baru, ini semua berkat kakak, aku suka dengan pekerjaan baru ku ini, dan sudah hampir 1 tahun bekerja disini, sama sekali membuatku lupa dengan semua luka itu, aku tahu kalau kakak pasti sempat melakukan sesuatu agar aku mendapatkan pekerjaan ini, ya saat acara perusahaan kakak waktu itu, dia memperkenalkanku dengan seorang sutradara film asing yang kala itu sedang melakukan kunjungan ke Indonesia, dan dari dialah aku kini disini, bekerja sebagai seorang assistant director, bidang yang memang sesuai dengan gelarku, dan tentu saja banyak hal baru yang aku temui disini dan aku menikmati itu dan ternyata bekerja jauh dari ibu kota bahkan tanah air, adalah pembelajaran pendewasaan yang lainnya untuk diriku di dalam hidupku ini.

Aku ingat sewaktu kakak akhirnya berkata jujur alasan dia menghawatirkanku, dan aku ingat bagaimana selama ini kakak menjagaku, mungkin kalau semua itu tidak terjadi dan kakak tidak selalu ada untuk menjagaku, aku pasti akan menjadi seorang yang terpuruk dan hanya berhenti pada satu titik saja di sisa usiaku, tanpa sempat merasakan bahwa aku bisa melakukan yang lebih dari apa yang aku pikirkan sebelumnya. . .





#030891