Selasa, 26 Januari 2010

Mak Comblang Q Tercinta



Ayu bergegas memindahkan semua pakaian yang ada di lemari kedalam sebuah koper besar berwarna kuning, air matanya masih menetes deras dengan suara sesegukan yang tertahan, setelah barang-barang yang ia butuhkan sudah cukup ia langsung tancap gas meninggalkan rumahnya, “Halo, Dit ? ini Gw Ayu Loe bisa bantuin Gw nggak ? Gw tunggu Loe ditempat biasa ya …” ujarnya menghubungi salah satu sahabatnya.
Mungkin kini sudah lebih dari satu jam Ayu menangis tersedu-sedu di pinggir sebuah danau yang terletak di halaman belakang kampus tercintanya, Radit yang dari tadi ditunggu-tunggu ternyata belum juga datang padahal saat ini Ayu sangat membutuhkan seseorang untuk berbagi, “Rahayu ? ngapain Loe disini . . .” tanya seseorang yang sudah sejak satu jam yang lalu memperhatikan Ayu dari atas pohon, “Eko . . .?” Ayu yang sudah hapal kebiasaan salah satu sahabat sekaligus seniornya itu tidak terlalu kaget lagi karena cowok yang tadi namanya disebutin sebenernya habitatnya emang di atas pohon, alias di hutan (kidding), “eh, percuma lagi, Loe nangis cuma gara-gara IP Loe turun, mendingan Loe nangisin IP Gw yang selalu diatas rata-rata . . . “ ujar Eko dengan maksud menghibur dari atas singgah sananya “yey, orang bukan karena IP kok . . .” jawab Ayu yang terpaksa mendongakkan kepalanya untuk berbicara dengan Eko yang masih nempel di salah satu ranting pohon tempat Ayu bersandar, tak lama kemudian Radit akhirnya datang dengan membawa beberapa makanan ringan, “eh, sorry ya Gw telat abisnya Loe mendadak sih nelponin Gw, jadi sebagai gantinya Gw bawain Loe buanyak makanan . . .” ujar Radit pada Ayu yang sedikit kesal karena Radit terlihat tidak merasa bersalah sedikitpun, “Hey Bro ! turun dong, kita ngemil bareng . . .” ajak Radit pada Eko teman sekelasnya sesama anak Sipil, akhirnya mereka segera menikmati cemilan yang dibawa Radit sembari mendengarkan curhatan Ayu, “o … jadi karena masalah itu Loe ampe nangis termelet-melet begitu ?” tanya Eko disela-sela cerita Ayu, “hush ! termehek-mehek Cuy . . .” Ujar Radit membenarkan kalimat Eko, “iya, kalian mau kan bantuin Gw ?” tanya Ayu memelas, “bantuin apa ?” jawab Eko dan Radit kompak, “cariin Gw tempat tinggal dong . . . please !” pinta Ayu pada kedua sahabatnya itu, “ng, kalo menurut Gw . . . “ ujar Eko menggantungkan kalimatnya, “ntar deh Gw mau mikir dulu, abis resikonya besar nich !” lanjutnya lagi dan kembali memanjat pohon untuk berfikir, “lebay banget sih Loe ? mikir aja harus di atas pohon segala ?” lagi-lagi Radit mengomentari sahabatnya itu, “kalo menurut Gw, Loe nggak usah pake acara minggat-minggat gitu deh, kasian Bonyok Loe . . .” lanjut Radit yang tidak menyetujui Ayu kabur dari rumahnya, Ayu yang makin bingung karena belum tau mau kemana malam ini memutuskan untuk pergi ke asrama putri milik kampusnya yang pastinya dia aman untuk beberapa hari ini, karena kamar asramanya yang berisi 2 orang sohibnya selalu siap sedia untuk dia huni, kan emang udah di jatahin.
Pagi baru saja menyapa, Ayu terbangun dari mimpi panjangnya saat cahaya mentari terasa menusuk di matanya, ‘hhoeam . . .’ ujarnya berusaha mengumpulkan semua tenaganya untuk bangun dari tempat tidur, “lho ? ini dimana nih . . .” tanyanya saat ia melihat di sekelilingnya, “yaelah ! ternyata hanya mimpi toh Gw kabur dari rumah ? atau jangan-jangan artinya mimpi itu adalah jalan keluar biar Gw bebas dari . . .” ‘tok-tok’ belum sempat Ayu menyelesaiakan kalimatnya ada seseorang yang mengetuk pintu kamarnya, “huhf, siapa lagi sih . . . ?! iya, Ayu udah bangun kok !” jawabnya dengan malas dan segera bernajak ke kamar mandi karena hari ini anak-anak kuliahan memasuki yang namanya semesteran, sedikit bocoran nih Ayu alias Rahayu adalah seorang cewek yang cuek tapi nggak terlalu tomboy ini sekarang sedang menjalankan kuliahnya di semester 4 fakultas sastra jerman dan cewek yang selalu terlihat aktif di acara-acara kampusnya ini punya hobi yang amat sangat jauh dari jurusan kuliah yang ia ambil, yaitu mengajari anak-anak playgroup berenang, kebayang nggak sih ? seorang Ayu ngajarin anak-anak kecil berenang . . . ???
Seperti biasa Ayu selalu saja melengos pergi jika di ajak serapan oleh kedua orang tuanya dengan alasan takut telat ke kampus, padahal ia menghindar dari pertanyaan orang tuanya yang selalu menanyakan sesuatu yang nggak banget deh kalo jaman sekarang ini (kwkwkkw nggak usah dibahas dulu ya . . .) jarak dari rumah menuju kampus tercinta hampir 10 kilometer dan karena pagi ini ia sedikit terlambat bangun, terpaksa kali ini Rahayu alias Ayu terpaksa menerima keadaan terjepit di kemacetan Jakarta, “humh, cerita apa nggak ya dengan anak-anak yang laen ? abisnya Gw jadi nggak konsen nih mau ujian kalo kepikiran masalah ini terus . . .” gerutu Ayu saat ia memutar kemudi mobilnya, dan memilih parkir ditempat yang teduh, ternyata disana sudah menunggu para sahabatnya yang sudah tiba lebih awal, “hey ! tumben Loe telat ?” sapa salah satu dari mereka pada Ayu yang baru saja turun dari mobilnya, “iya nih, sekarang udah jam 6.45, biasanya juga Loe dateng jam 6.30 . . .” lanjut seorang lagi, “aduh . . . Tyan dan Aurel dua sahabat ku yang cantik, kalian jangan bawel deh, lagian Gw kan baru telat 15 menit doang ?” jawab Ayu sambil cipika-cipiki pada Tyan dan Aurel, “oh iya, ntar abis ujian kita ngumpul di tempat biasa ya, oke ?” tanya Radit pada Ayu dan tentu saja Aurel dan Tyan, “iya nih, kita harus masuk duluan, bye . . .” ujar Eko yang menyusul langkah Radit, dan saat itu juga mereka bertiga segera menuju gedung sastra jerman yang lokasinya membelakangi gedung sipil.
Hari mulai terasa panas menyengat saat Ayu dan para sahabatnya berkumpul di salah satu pondok kecil di pinggir danau tepat di belakang kampus mereka, tak ada satupun yang membuka obrolan untuk kali ini mungkin karena mereka baru saja menyelesaikan ujian yang menurut mereka cukup memusingkan, jam tangan Radit saat ini tepat menunjukan pukul 12.34, “Hoeam . . . bosen nich disini terus, gimana kalo kita ke café aja ? Gw yang teraktir deh” ujar Radit membuka mulut, “oh iya, usul yang bagus !” jawab Eko dari atas pohon favoritnya, “iye, tapi ente turun dulu dong . . .” ujar Tyan sembari beranjak dari tempat duduk, “ng . . .” Ayu mulai mengeluarkan suaranya meski nyaris tak terdengar, “Guys, Gw lagi bingung banget nih . . .” akhirnya Ayu merasa sedikit lega karena ia bisa mengatakan hal yang dari tadi ia pikirkan, “kalian tau nggak ? Bonyok Gw ngejodohin Gw dengan anak relasi bisnis mereka . . .” ujar Ayu tertahan bersamaan dengan itu Aurel dan Tyan langsung mengelus-elus pundak Ayu, “Loe yang sabar ya ?” ujar Radit yang ikut mengelus kepala Ayu, “waduh ! gawat dong . . .” Eko tak kalah kagetnya mendengar kalimat Ayu barusan, mereka lalu bergegas menuju sebuah café yang biasa menjadi tempat tongkrongan mereka jika kelima sahabat itu sudah merasa bosan berada di kampus, dan mulai berfikir mencari jalan keluar untuk masalah yang kini sedang dihadapi Ayu.
Malam ini diam-diam Ayu merapikan pakainnya dan pergi melalui pintu belakang yang tidak jauh dari jendela kamarnya, meskipun jam di layar ponsel Ayu sudah menunjukan pukul 23.45, namun komplek perumahan elit tempat ia tinggal memang selalu ramai karena masih banyak warga yang beraktifitas atau hanya sekedar bersantai di depan teras rumah masing-masing, ‘duh . . .Tyan mana sih ???’ tanyanya dalam hati sembari sesekali melihat jam tangannya, karena yang ditunggu belum juga datang ia memutuskan untuk berjalan kaki menuju gerbang komplek yang hanya berjarak 100 meter dari rumahnya, sebenarnya ia cukup merasa takut karena kini sudah lewat tengah malam dan tak ada seorangpun yang ia kenali dan sedari tadi hanya berlalu lalang di depannya, “Hai . . .” ujar seseorang menyapa, “ngapain Loe disini sendirian ? jangan bilang kalo Loe nyasar dan nggak tau jalan pulang ?” ujar orang itu menebak berusaha mengajak Ayu ngobrol, “siapa sih Loe . . . ??? Gw nggak kenal dengan Loe, jadi jangan ganggu Gw deh . . .” ujar Ayu berusaha menjauhi orang asing itu, “makanya, kita kenalan dulu dong ” ujar cowok itu lagi, karena Ayu merasa bahwa yang ngajak dia ngobrol itu anak baik-baik, Ayu sedikit berani menyebutkan namanya, “Ayu . . .” ujarnya masih sedikit ragu, “nah gitu dong, kenalan aja kok repot” cowok tadi mulai tersenyum lebih lebar dari sebelumnya sesaat setelah ia berjabat tangan dengan Ayu, “nama Gw Ade, Gw kuliah di jurusan kedokteran semester akhir dan sekarang lagi nyusun skripsi . . .” ujarnya lagi mencoba lebih aktif mengajak Ayu ngobrol, “Gw nggak nanya tuh” jawab Ayu cuek, “ng. . . maaf ya ? kalo menurut Gw anak cewek nggak baik malem-malem sendirian diluar, gimana kalo Loe ikut Gw dan nginep di rumah Gw aja ? tenang aja, Gw yakin Loe bakal betah . . .” rayu Ade lagi “. . . ng, gini dech, sekarang kita telpon nyokab Gw biar Loe percaya, gimana ?” “Loe bisa diem nggak sih ?! udah deh Gw itu nggak kenal dengan Loe, jadi mendingan Loe tinggalin Gw sendiri deh …” Ayu mulai merasa agak risih dengan kehadiran Ade yang dari tadi SKSD banget ke dia, “yah, jangan marah gitu dong nih Gw liatin KTP Gw, ini juga kartu Mahasiswa Gw, dan . . . ” “aduh . . . Loe ngerti nggak sih dari tadi Gw ngomong apa ?!” potong Ayu pada Ade yang terlihat masih santai dan terus mencoba meyakini Ayu untuk ikut kerumahnya, sudah lebih dari 1 jam Ade mangajak Ayu dan merayunya agar mau ikut pulang bersamanya namun Ayu tetap saja menolak ajakannya, “awaaaas . . . !!! ada kantib . . .” ujar beberapa orang berlarian menghindari patroli polisi yang tiba-tiba datang, tanpa basa-basi lagi Ade langsung menarik tangan Ayu agar Ayu mau naik ke mobilnya, detik itu juga ia segera tancap gas semaksimal mungkin, “Loe apaan sih !” tanya Ayu memberontak pada Ade, “duh, Loe mau apa kalo malem ini kita nginep di kantor polisi ?” jawab Ade yang terus menambah kecepatan mobilnya, “terus Loe mau bawa Gw kemana nih ? jangan-jangan Loe mau jual Gw keluar negeri ya ? atau jangan-jangan . . .” “sstt . . . pikiran Loe kotor banget sih ?” potong Ade sambil menutup mulut Ayu, “udah deh, ngaku aja ! Gw telpon Bonyok Gw sekarang juga kalo Loe nggak mau stop !” ujar Ayu menggertak Ade sambil mulai mencari-cari ponsel di dalam tasnya, “telpon aja, bukannya Loe lagi kabur dari rumah ya?” tebak Ade tepat,
“kok . . . Loe bisa tau sih”
“kenapa ? heran ? kaget ? kok nggak jadi nelpon Bonyok Loe ?”
“mampus deh Gw . . .”
“siapa yang bakal mampus ? tenang aja kali, Gw nggak bakalan ngajak Loe kamana-mana, oke ? percaya deh dengan Gw” ujar Ade pelan sambil memutar kemudi mobilnya menuju salah satu perumahan mewah yang bangunannya bergaya arsitektur perancis, Ayu hanya diam dan pasrah karena kebodohannya ini ia kini sama sekali tidak mengetahui apakah besok ia masih bisa melihat matahari terbit di pagi hari atau justru lebih buruk lagi ? mobil terhenti tepat di depan sebuah rumah dengan pagar yang megah tinggi menjulang dan kalau dilihat-lihat rumah ini adalah rumah yang paling mewah diantara rumah-rumah yang lainnya, “turun yuk, udah sampe nih . . .” ajak Ade dengan senyuman yang sebenarnya tulus dari hatinya, tapi justru mengerikan bagi Ayu, “udah, nggak usah takut” lanjut Ade sembari membantu Ayu membawa tasnya, begitu memasuki ruang depan alias ruang tamu dari rumah itu, Ayu sedikit marasa lega karena dari foto-foto yang terpajang di dinding, ia sedikit yakin bahwa yang tinggal dirumah ini semuanya orang baik-baik, “ng, kenapa ? Loe kaget ya ? atau masih takut dengan Gw ?” tanya Ade pada Ayu yang masih mematung didepan pintu, ‘ini istana klasik yang cantik banget, tapi . . . ih serem ! jangan-jangan cuma luarnya aja yang begini ? tapi ntar orang-orangnya . . .’ ujar Ayu di dalam hati bertanya-tanya, “nah, itu Nyokab Gw . . .“ ujar Ade saat ada seorang wanita yang kira-kira umurnya nggak jauh berbeda dari ibunya Ayu, “Ade, dari mana aja kamu jam segini baru pulang ?” ujar wanita itu saat Ade mencium tangannya, “ng, ini Bunda Ade tadi abis jemput cinderela dipinggir jalan, kan kasian Bunda kalo dia sendirian malem-malem gini ?” jawab Ade sedikit bergurau dengan ibunya, “oh ya ? siapa namanya sayang ?” tanya wanita itu ramah pada Ayu, namun ia masih ragu untuk menjawab, “eng, namanya Ayu Bunda oh iya Bun, Ade mandi dulu ya ? udah ngantuk nih, tadi abis kuliah langsung main dengan temen-temen” ujar Ade mewakili Ayu dan segera meninggalkan Ayu dan Bundanya berdua saja, “nak Ayu, kenalin Tante mamanya Ade kamu cukup panggil tante Bunda aja ya ? sini Bunda antar kamu ke kamar kamu pasti capek kan ?” ajak wanita itu ramah, namun Ayu masih merasa ragu dan belum bisa percaya seratus persen pada wanita itu dan juga anaknya, meskipun sebenarnya ia sudah tidak terlalu cemas lagi seperti sebelumnya.
Kini Ayu masih terdiam di atas sebuah tempat tidur yang juga bergaya klasik, ia masih bingung apakah kini ia ada di posisi yang aman atau justru sangat berbahaya ? karena ia masih sangat merasa takut, matanya sama sekali tidak bisa terpejam walaupun sesungguhnya ia sangat merasa ngantuk malam ini, lalu ia memutuskan untuk tetap terjaga hingga pagi tiba, kini jam di dinding kamar itu sudah menunjukan pukul 5.43 ia memutuskan untuk bergegas mandi karena apapun yang terjadi nanti, ia tidak akan bisa menebak dan sebenarnya yang ada di kepalanya saat ini adalah ujian semester yang hari ini masih berjalan, tepat pukul 6.35 pintu kamar terbuka, walaupun sebenarnya semalaman pintu itu tidak terkunci namun Ayu tetap takut untuk melangkah keluar, “Pagi sayang, kamu sudah rapi ya ? kita sarapan bareng yuk ?” ujar Bunda menyapa Ayu yang terlihat sedikit kaget, “iya, ng . . . Bunda” jawab Ayu berusaha memberanikan diri, “kamu kuliah pagi ini kan ? nanti kamu perginya bareng dengan Ade aja, biar dia yang anterin kamu sampe di tempat kuliah, nggak apa-apa kan sayang ?” ujar wanita itu lagi penuh perhatian, Ayu segera mengambil tas miliknya dan mengikuti wanita itu dari belakang, sesampainya diruang makan, tentu saja Ade sudah lebih dulu duduk manis di salah satu kursi makan, “Yah, kenalin ini Ayu cantik kan Yah ? nah nak Ayu, ini suami Tante, karena kamu memanggil tante dengan sebutan Bunda, jadi nggak ada salahnya kan, kalau kamu memanggil suami Bunda dengan sebutan Ayah juga ? . . .” ujar wanita itu memperkenalkan Ayu pada suaminya, “nah kalau yang ini namanya Sarah, dia anak bunda yang paling kecil dan sekarang baru kelas 5 SD, karena anak bunda cuma ada dua, yang besar ya si Ade itu, dan yang kecil Sarah . . .” lanjutnya lagi masih dengan senyuman yang tak pernah hilang dari wajahnya, dan mulai mengajak Ayu untuk sarapan bersama.
Sepanjang perjalanan menuju tempat kuliahnya, Ayu masih tetap mengunci mulutnya rapat-rapat, meskipun Ade sudah beberapa kali memancing obrolan agar Ayu mau di ajak ngobrol, “oke kita udah sampe tuan putri silahkan turun . . .” ujar Ade sembari membukakan pintu Mobil agar Ayu turun, “ng ? kok Loe bisa tau kalo Gw kuliah disini ?” tanya Ayu kaget, “asal nebak aja !” jawab Ade santai, Ayu yang semakin curiga dan sedikit merasa takut, bergegas turun dari mobil dan berjalan meninggalkan Ade, “eits, jangan lupa ya jam 2 teng Gw jemput disini, otre ?” teriak Ade pada Ayu yang sudah cukup jauh dari mobilnya, namun Ayu tidak menggubrisnya sedikipun dan pura-pura tak mendengar.
Waktu baru menunjukan pukul 11 pagi namun kelas Ayu sudah keluar lebih dari setengah jam yang lalu, ia sengaja tidak mencari para sahabatnya karena ia sedang ingin menyendiri, semilir angin yang bertiup membuat Ayu sedikit merasa tenang dari kegundahannya meskipun semalaman ia tidak tidur, namun ia tak merasa mengantuk sedikitpun, ‘aduh . . . gimana nih ?’ ujarnya terus bertanya di dalam hati karena ia sangat bingung dengan keadaan yang kini ia hadapi, “hey Jeng Ayu, what’s up honey ?” sapa Eko yang tanpa sengaja melintas di depan Ayu, “eh, Elo ?” ujar Ayu menutupi kegelisahannya, “kenapa sih Loe, kok muka Loe ditekuk gitu ?” tanya Eko yang mengambil posisi duduk tepat di samping Ayu, tanpa menyebutkan sepatah katapun, Ayu langsung merangkul lengan Eko dan bersandar di pundak sahabatnya itu, “eh buk, Gw barusan nanya sama Elo, kenapa Loe kusut banget ???” ujar Eko mengulang pertanyaannya, Ayu masih diam tanpa kata dan dari tatapan kosongnya Eko sebenarnya merasa nggak tega dengan sahabatnya itu, sudah hampir satu jam lebih Ayu mengunci mulutnya dan tanpa sadar ia tertidur perlahan, entah kenapa ia sangat merasa tenang saat ini, Eko yang mengetahui bahwa Ayu terlelap di pundaknya juga tak ingin mengganggu namun ia segera mengambil ponselnya dan menelepon seseorang.
Saat membuka matanya Ayu sadar kalau saat ini dia sudah tidak lagi berada di taman belakang kampusnya atau pun di pinggir danau, namun ia kini sudah ada di dalam sebuah kamar yang kemarin malam ia tempati, ‘loh ? kok Gw bisa ada di kamar ini lagi sih ?’ tanyanya dalam hati dan segera bangkit dari tempat tidur ia pun duduk disalah satu kursi yang menghadap kejendela, ‘ttok . . . ttook’ terdengar ketukan pintu yang membuyarkan Ayu dari lamunannya, “hai K’ . . .” ujar seseorang yang muncul dari balik pintu kamar, “Sarah ?” jawab ayu sedikit kaget, melihat Sarah yang datang sembari membawa makanan untuk Ayu, “ini untuk Kakak, K’ Ayu cantik deh . . .” ujar Sarah sembari tersenyum polos, “ng, terima kasih ya Sarah . . .” jawab Ayu mencoba tersenyum pada Sarah yang kelihatannya baru saja pulang dari sekolah karena ia masih memakai seragamnya, “K’ . . .” panggil sarah lagi pada Ayu yang masih menatap kosong kearah jendela, “Kakak mau kan jadi Kakak Sarah ?” lanjut Sarah yang beranjak keluar dari kamar, “ng, iya . . .” jawab Ayu singkat, setelah sarah pergi dan pintu kamar kembali tertutup ia tak juga segera menghabiskan makanan yang dibawakan Sarah tadi, namun ia justru terus bertanya pada dirinya sendiri ‘apa yang kini sedang terjadi di hidupnya ? apakah ini adalah sesuatu yang menyenangkan, atau mungkin hal ini akan terus berlanjut di hari-hari dia berikutnya ?’ ia terus mengulang-ulang pertanyaan itu hingga sang mentari pun perlahan redup.
Ayu baru saja selesai mandi saat jam dinding menunjuk ke pukul 5 sore dan ia kini sudah merasa lebih baik dari pada sebelumnya, saat ia melihat piring makanan yang tadi siang dibawa oleh Sarah untuknya, ia pun tidak bisa berbohong pada dirinya sendiri kalau saat ini ia memang sangat merasa lapar dan meskipun ia sedikit ragu, akhirnya makanan itu ia lahap hingga tak bersisa, ia memutuskan untuk berfikir seolah tak terjadi apa-apa dan mencoba untuk lebih terbiasa di tempat yang menurutnya masih sangat asing ini, Ayu melangkah menuju tas miliknya dan mengambil sebuah buku untuk membaca bahan ujian yang mungkin besok akan muncul, tepat pukul 7 malam, Ade mengetuk pintu kamar Ayu dan begitu ia masuk, ia melihat Ayu yang ternyata begitu serius membaca hingga ia tak menyadari keberadaan Ade disana, “ehm, selamat malam tuan putri . . .” sapa Ade sesaat setelah ia menunggu selama 15 menit, “eh, Elo ? ngapain Loe disini ?” tanya Ayu kaget, “ng . . . tenang, Gw cuma pengen ajak Loe makan di luar gimana ?” tanya Ade menawarkan Ayu untuk makan malam, “ng ?” ujar Ayu nggak ngerti, “iya K’ kita makan malem bertiga diluar, mau ya K’ . . .” celetuk Sarah yang baru saja muncul, “ya udah, Gw tunggu 10 menit lagi ya di bawah, okey ? dan Loe tinggal pilih aja baju apa yang mau Loe pake, semuanya ada tuh di lemari . . .” ujar Ade sambil lalu meninggalkan Ayu bersama aadik tercintanya untuk menyiapkan mobil terlebih dahulu, Ayu sempat berfikir mungkin jika ia ikut ia akan sedikit mendapat angin segar untuk me-rileks-kan pikirannya, maka dari itu ia pun segera bersiap untuk ikut makan malam bersama Ade dan tentu saja Sarah.
Sudah hampir dua jam lebih Ayu, Ade dan tentu saja Sarah menikmati santap malam mereka di salah satu restoran khas italy dan mereka tidak berhenti bercanda tawa, saling melempar tebakan-tebakan yang mengocok perut, jujur Ayu yang anak tunggal alias anak satu-satunya memang tidak pernah merasakan keakraban kakak adik yang kini ia rasakan dan membuatnya sangat merasa bahagia, ia sudah mulai bisa berbaur dan tidak lagi merasa kaku baik dengan Ade atau pun Sarah, “oh iya, udah hampir jam 10 nih, gimana kalau kita nonton pesta kembang api aja ?” ujar Sarah yang tiba-tiba merubah topik pembicaraan, “pesta kembang api ?” tanya Ayu dan Ade kompak, “cie . . . ngomongnya kok bisa bareng gitu ” ledek Sarah pada keduanya dan membuat wajah keduanya sedikit memerah, “iya K’ pestanya ada di daerah Tamrin, kesana yuk ? mau ya Bang . . .” lanjut sarah sedikit memohon pada Ade, “gimana ?” tanya Ade pada Ayu, “terserah sih” jawab Ayu singkat, dan tanpa berlama-lama lagi mereka bergegas menuju tempat berlangsungnya pesta kembang api tersebut.
Setibanya di tempat pesta kembang api, tak ada Satupun dari mereka yang turun dari mobil, karena jalan yang cukup padat oleh kendaraan dan mereka tidak bisa melihat secara dekat, “hei, Loe ngomong kek ?” tegur Ade yang melihat Ayu yang hanya diam sejak tadi, “ng, Loe suka denger musik nggak ?” tanya Ayu pada Ade, “musik ? tentu aja ” jawab Ade sambil tersenyum lebar, “kalo gitu, kenapa tape mobil Loe nggak pernah di nyalain ?” tanya Ayu pada si tuan yang punya mobil, “hhe, abisnya Gw takut ntar Loe nggak suka kalo Gw idupin ?” jawab Ade sembari menyalakan tapenya, “tapi buka radio aja ya ?” pinta Ayu lagi, “oke tuan putri mau channel berapa ?” tanya Ade senang karena Ayu sudah mau ngobrol dengannya, “terserah Loe aja” jawab Ayu singkat, “oke, gimana kalau kita dengerin U radio aja ?” tanya Ade menawarkan pada Ayu, tapi sebelum Ayu menjawab ia sudah menyetel channel tersebut lebih dulu, ‘hai listener semuanya, masih bareng Gw Gigo di sini, di U radio, staytune favorit tongkrongannya anak muda ! . . .’ terdengar suara penyiar yang sudah nggak asing lagi di telinga Ayu ataupun Ade, Ayu tak menyangka bahwa Ade juga punya hobi yang sama sepertinya yaitu mendengarkan U radio ini, “Loe suka banget ya ngupingin ni radio ?” tanya Ayu pada Ade saat suara si penyiar menghilang dan berganti dengan sebuah lagu, “ya iyalah . . .” jawab Ade sembari memukul-mukulkan tangannya pelan di atas kemudi mobil mengikuti lagu yang sedang terdengar, mereka lalu terus berbincang tentang radio favorit mereka ini, ditemani dengan warna-warni kembang api yang sudah mulai menghiasi langit di malam itu, meskipun mereka hanya bisa melihat dari jarak 20 meter dari tempat kembang api itu dinyalakan, namun Sarah terlihat sangat menikmati pemandangan malam itu dan tidak ingin mengganggu keasyikan Ade dan Ayu yang dari tadi hanya sibuk berdua.
Hari ini adalah hari terakhir ujian semester, dan sudah beberapa hari terakhir ini Ayu tidak melihat satupun batang hidung sahabat-sahabatnya, karena setiap ia selesai kuliah Ade selalu lebih dulu datang untuk menjemputnya, “De, Gw kangen banget nih dengan temen-temen Gw . . .” ujar Ayu ketika ia sedang makan siang bareng Ade saat mereka sudah tiba di rumah, “oh ya ? emang temen Loe pada kemana ?” tanya Ade balik,
“ng . . .”
“ya udah, besok kan weekend tuh ? gimana kalo besok kita jalan bareng temen-temen Loe ?”
“ng ? itu dia masalahnya hp Gw ketinggalan di rumah dan Gw juga bingung nih kok mereka nggak pernah nyariin Gw sih di kampus ?”
“hp Loe ketinggalan ? kok bisa ?”
“ya bisa lah, namanya juga kabur dari rumah, kalo ntu hp Gw bawa yang ada ntar bonyok nelponin terus . . .”
“oh, ya udah kalo gitu . . . Gw punya ide bagus !”
“ide apa ?”
“ada deh, yang jelas Gw janji besok Loe bisa ketemu dengan sohib-sohib Loe ” ujar Ade berteka-teki, setelah selesai makan siang, Ayu segera menuju teras belakang yang beberapa hari ini sudah menjadi tempat favoritnya, ‘duh . . . Bonyok pa kabar ya ?’ tanyanya dalam hati sembari duduk di ayunan gantung yang terbuat dari bambu sembari memandang halaman sekitar yang serba hijau dan terdengar gemericik air yang mengalir dari kolam seolah berada di hutan tropis yang sejuk, “siang sayang lagi melamun ya ?” sapa Ibunya Ade yang sepertinya baru saja pulang dari aktifitasnya, “eh, siang Bunda” jawab Ayu dengan senyuman khasnya, “nggak kok Bun, Ayu lagi santai aja ” jawab Ayu lagi,
“kalau begitu, sekarang kamu ikut Bunda dan Sarah ya ?”
“kemana Bunda ?”
“belanja . . .”
“belanja Bunda ?”
“iya, biasanya Bunda selalu belanja bareng dengan Sarah setiap dua minggu sekali, kamu mau ikut kan sayang ?”
“tapi Bunda . . .”
“udah, ikut aja ya ? kamu bisa nyetir mobil kan ? jadi kita nggak usah pake supir ”
“bisa sih Bun . . .”
“nah bagus dong kamu siap-siap sekarang juga ya ? Bunda tunggu loh, Sarah juga lagi ganti baju tuh di kamarnya” ujar Bunda pada Ayu dan ia segera menuju ruangan depan, Ayu pun segera bersiap untuk menemani Sarah dan juga Bundanya berbelanja, yah itung-itung cuci mata katanya.
Waktu sudah hampir menunjukan tengah malam, Ayu masih tidak bisa memejamkan matanya karena ia begitu kangen dengan semua sahabatnya, meskipun kini ia sudah memiliki teman baru namun ia tetap saja merindukan kehangatan persahabatan yang biasanya selalu ia rasakan kapanpun dan dimanapun ia berada, ia lalu memutuskan untuk keluar kamar dan melangkah ke kamar Ade yang letaknya tidak jauh dari kamarnya, “De, ini Gw Ayu . . .” ujar Ayu sambil mengetuk pintu kamar Ade, “Hm Ayu ? masuk aja nggak di kunci kok . . .” sahut Ade dari dalam kamar, “Loe lagi ngapain ? Gw kira Loe udah tidur ?” tanya Ayu menyusul Ade yang sedang duduk di beranda kamarnya, “lagi ngeliatin bintang” jawab Ade tanpa memalingkan pandangannya menatap langit malam yang berwarna biru kehitaman dan bertabur bintang yang berkilauan bak permata di angkasa, “oh . . . hm, Gw nggak nyangka ternyata Loe suka juga menikmati langit malam” ujar Ayu sembari tersenyum simpul kearah Ade, sejenak mereka hanya terdiam memandang langit malam itu entah apa yang ada dipikiran mereka masing-masing yang jelas Ayu sangat merasa aman bila ada di dekat Ade, seorang cowok yang tanpa sengaja bertemu dengannya saat ia berniat kabur dari rumahnya, “Ade, thank’s banget ya ? Loe udah mau jadi temen Gw . . .” ujar Ayu pada Ade yang berdiri disampingnya, “he ? . . .” belum sempat Ade menjawab, dering ponselnya berbunyi pertanda ada telpon masuk, “halo . . .” jawab Ade pada orang di sebrang sana dan berdiri menjauh dari Ayu, hampir 1 jam lebih ia sibuk berbicara pada orang yang menghubunginya itu, Ayu yang merasa sedikit jenuh menunggu segera mengambil sebuah gitar yang ada di dekatnya, dan memainkan gitar itu mencoba mengalihkan pikirannya yang sedang kacau balau saat ini, “hei, Loe jago juga maen gitarnya ” puji Ade yang ternyata sudah selesai menelpon, “ nggak kok . . .” jawab Ayu yang terus memainkan gitar tersebut, “oh iya Loe tadi mau ngomong apa ?” tanya Ade yang teringat bahwa Ayu tadi sempat menanyakan sesuatu padanya sebelum ia menerima telpon, “ha ? nggak kok, lupain aja ” jawab Ayu berusaha menyimpan kata-kata itu hanya untuk dirinya saja dan memperlambat petikan gitarnya,
“bener nih ?”
“iya . . .”
“ . . .”
“oh iya, besok rencananya Gw pengen balik ke rumah Bonyok Gw . . .”
“apa ?!”
“ng ? kok Loe segitu kagetnya sih ?”
“ng . . . oh, nggak apa-apa kok Gw seneng aja dengernya”
“. . .”
“tapi, katanya Loe besok pengen ketemu dengan sohib-sohib Loe ?”
“iya sih, tapi menurut Gw kalo Gw balik besok, mungkin Gw bisa bicara baik-baik dengan Bonyok Gw”
“bicara baik-baik ?”
“iya, Gw kabur dari rumah karena mereka pengen ngejodohin Gw dengan anak relasi bisnis Bokap . . .”
“oh, terus ?”
“ng . . . menurut Gw kalo Gw terus-terusan kabur dari rumah masalah ini nggak akan pernah selesai”
“apa Loe yakin kalo Bonyok Loe bakalan setuju dengan penolakan Loe ?”
“hm ? Gw kan belom bilang kalo Gw bakalan nolak ?”
“eh, iya maksud Gw . . .”
“emang sih Loe bener, Gw bakalan menolak perjodohan itu tapi kalau emang hal itu nggak bisa dihindarin, ya Gw juga nggak mau kalau nanti malah di cap sebagai anak yang durhaka . . .”
“iya sih, Loe yakin Bonyok Loe nggak akan marah saat Loe balik ntar ?”
“marah ? nggak tau deh”
“jadi, besok serius nih Loe mau balik ke rumah Loe ?”
“iya . . .”
“. . . ”
“kok muka Loe manyun gitu ?”
“ha ? masa sih . . .”
“iya tuh jelek banget ”
“abisnya, masa sih Loe bentar banget disini ?”
“bentar ? bentar dari mana ? Gw disini udah 2 minggu lebih De . . .”
“iya ya ? masa sih ? kok Gw ngerasa baru kemaren ya ?” tanya Ade sembari menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal sama sekali, “ya udah Gw balik ke kamar Gw ya ? nice dream De . . .” ujar Ayu beranjak meninggalkan Kamar Ade, “oke, nice dream to . . .” jawab Ade sembari menelpon kembali seseorang yang tadi sempat menelponnya, “halo ? bilang dengan yang lain besok nggak jadi ngumpul di rumah Gw, karena dia udah mau balik kerumahnya . . .” ujar Ade pada seseorang disebrang sana.
Pagi ini Ayu sedang besiap untuk pulang kerumahnya, meski sebenarnya ia ingin sekali untuk tetap labih lama di sini, bersama Ayah, Bunda, Sarah dan tentu saja Ade, namun ia tak mungkin terus-menerus disini, “Ayu . . .” panggil Ade yang melintas di depan kamar Ayu dan melihat Ayu yang sedang bersiap pulang, “eng ? napa De ?” jawab Ayu singkat, entah kenapa ia kali ini tak memiliki keberanian menatap mata Ade, “Loe serius mau balik ke rumah Loe ?”
“iya,”
“Gw anterin ya ?”
“boleh”
“rencananya jam berapa Loe mau pulang ?”
“pagi ini”
“beneran nih mau pulang hari ini ?”
“bener”
“Loe tega ninggalin Gw sendirian disini ?” tanya Ade dan membuat Ayu menghentikan aktifitasnya, tanpa menjawab pertanyaan Ade ia langsung memeluk Ade erat dan air mata yang dari tadi tertahan akhirnya menetes deras, meskipun ia sendiri tak tahu mengapa ia harus menangis, namun ia benar-benar berharap kalau ini bukanlah pertemuannya dengan Ade untuk yang terakhir kalinya, “Ayu ?” panggil Ade menyadarkan Ayu dari lamunannya, “eh, sorry . . .” jawab Ayu sembari melepaskan pelukannya, “ternyata seorang Ayu bisa nangis ya ?” ujar Ade tersenyum simpul sembari mencubit hidung Ayu yang mancung, “hhe, jangan-jangan Loe suka ya sama Gw ?” tanya Ade lagi,
“ih . . . ge-er banget sih, Gw lagi takut aja kalo sampe rumah ntar Bonyok marahin Gw abis-abisan”
“oh ya ? bukan karena Loe takut pisah dengan Gw ?”
“nggak kok”
“beneran ? ya udah kalo gitu kita buat janji ya ?”
“janji . . .”
“iya kita buat janji kalo kita nggak bakalan ketemuan lagi selamanya !”
“loh, kok gitu ?”
“ng, habisnya Loe udah buat Gw patah hati nih . . .” ujar Ade sambil melangkah keluar kamar meninggalkan Ayu yang masih berdiri mematung, “Ade . . . ! awas Loe ya, suka banget sih becanda kelewatan ?!” teriak Ayu kesal, padahal sebenarnya ia sangat merasa lega mendengar kalimat Ade barusan.
Sudah 3 hari ini Ayu berdiam diri di kamarnya, bukan Karena Papa atau Mamanya menghukumnya karena dia kabur dari rumah, namun karena ia memang sedang kurang sehat, dan sejak 6 hari yang lalu, saat ia kembali ke rumahnya, ia sama sekali belum sempat menghubungi sahabat-sahabatnya, karena ia sedang ingin menyendiri untuk beberapa hari ini, “Ayu . . .” panggil Papa dari luar kamar Ayu, “masuk Pa, “jawab Ayu dengan suara tertahan,
“gimana keadaan kamu ?”
“huhf, udah baik kok Pa, mungkin Ayu cuma terlalu capek aja Pa . . .”
“kalau begitu, kamu mau nggak ikut Papa sama Mama besok ?”
“kemana Pa ?”
“kebetulan Papa ada tugas di Belanda sekitar 2 sampai 3 minggu, kalau kamu mau ikut, nanti Papa pesankan tiket untuk kamu”
“Belanda Pa ?”
“iya, tapi kalau kamu masih sakit ya nggak usah di paksain”
“Ayu mau banget Pa, tapi . . .”
“tapi kenapa ?”
“ah, nggak kok Pa . . .” jawab Ayu berusaha menutupi sesuatu, di dalam hati ia berharap semoga saja besok ia sudah bisa perlahan menghapus bayang-bayang Ade dari pikirannya, karena ia sudah bodoh meng-iyakan perjanjian yang dibuat Ade agar mereka tak berhubungan lagi sama sekali.
Di sepanjang perjalanan, Ayu masih terus mengunci mulutnya sembari bersandar dibahu Mamanya, hari ini ia sekeluarga akan bertolak ke Belanda untuk menemani Papanya tugas disana sembari mengisi waktu liburan, “Ma . . .” bisik Ayu pada Mamanya nyaris tak terdengar, “kenapa sayang ?” jawab Mamanya lembut,
“maaf ya Ma, waktu itu Ayu nekat kabur dari rumah . . .”
“sst . . . nggak pa-pa kok sayang, yang pasti Mama sama Papa berharap kamu sudah bisa mengambil keputusan tentang perjodohan itu”
“apa ? maksud Mama . . . ???”
“iya, kamu mau kan tunangan dengan anaknya Om Seno, rekan bisnis Papa”
“tapi Ma . . .”
“nggak ada tapi tapian Ayu . . .”
“ . . .”
“karna mereka sekarang sudah nungguin kita di bandara”
“serius Ma ? Pa ?”
“iya . . .” jawab Papa dan Mama kompak, “tapi, Ayu nggak mau tunangan dengan orang yang nggak Ayu kenal Ma, please jangan paksa Ayu dong . . .” ujar Ayu lagi memohon pada kedua orang tuanya, namun Papa dan Mamanya hanya tersenyum penuh misteri.
Setibanya di bandara, Ayu cukup kaget karena semua sahabatnya yang sebenarnya sangat ia rindukan itu, ternyata sengaja datang untuk mengantarnya “Ayu . . . pa kabar best plen ku ?!” teriak Aurel dan Tyan yang langsung memeluk Ayu bersamaan, “duh, Gw baik kok pa kabar kalian semuanya ?” jawab ayu nggak kalah senangnya, “Gw ? Gw atau si Pak Eko yang Loe tanyain ?” tanya Radit balik dengan gaya khasnya, “ya kalian berdua lah . . .” jawab Ayu yang masih merasa kaget dengan kehadiran keempat teman kuliahnya, “kita berdua baik neng . . .” jawab Eko yang kali ini terpaksa duduk di atas kursi ruang tunggu bandara karena di sana nggak ada pohon yang bisa ia dudukin, mereka semuanya terlihat larut dengan canda gurau dan kekocakan masing-masing sembari menunggu Papa dan Mama Ayu memeriksa barang, “nah, itu dia Om Seno dan keluarganya . . .” ujar Mama pada Ayu dan yang lainnya sembari menunjuk kearah yang ia maksud, tentu saja baik Papa, Ayu dan semua teman-temannya reflek menoleh kearah yang ditunjuk Mama tadi, “pagi Mb’ . . .” sapa Mama Ayu pada wanita yang sepertinya sudah tidak asing lagi dimata Ayu, “Bunda . . . ???” ucap Ayu kaget, “pagi K’ . . .” sapa Sarah yang berdiri membuntuti Bundanya, Ayu masih merasa kaget bukan main, seluruh pikirannya berputar entah kemana, saat ia tahu bahwa Om Seno yang di maksud kedua orang tuanya itu adalah Ayahnya Ade, “pagi nak Ayu apa kabar sayang ?” tanya Bunda pada Ayu yang masih mematung kehilangan kata-kata, “Tante, kok Ayu nya diem aja sih ?” tanya Ade dengan senyum usilnya pada Mama Ayu, “duh. . . ini pasti gara-gara idenya Radit dengan yang lain deh kalian aja ya, yang ngejelasin . . .” jawab Bunda yang hanya bisa menahan tawa karena melihat Ayu yang masih belum bisa berkata apa-aapa karena begitu terkejutnya ia.
Pesawat sudah lepas landas dan kini Ayu hanya fokus melihat kejendela luar pesawat dan mengamati jejeran awan putih dan langit biru yang luas membentang, ia berusaha melupakan masalah yang hampir satu bulan ini ia hadapi, dan ternyata orang-orang di balik semua ini adalah Tyan yang sengaja tidak menjemputnya yang malam itu berniat kabur dari rumah, Eko yang ternyata sengaja menghubungi Ade untuk menjemput Ayu sewaktu ia sedang terlelap di pinggir danau, dan tentang kantib yang sebenarnya itu semua akal-akalan Radit dan Aurel karena melihat Ayu yang sangat susah di bujuk Ade pada malam itu. Kini yang duduk di samping Ayu tentu saja bukan Sarah ataupun salah satu orang tuanya, bukan juga salah satu oranng tua Ade, namun Ade sendiri yang kini duduk disampingnya, “Ayu . . . ngomong dong dari tadi kok diem aja sich ?” panggil Ade untuk kesekian kalinya dari tempat duduk yang persis bersebelahan dengan Ayu, “mau ngomong apa ?” tanya Ayu yang akhirnya mau juga membuka mulutnya, “Loe marah ya dengan Gw . . .?”
“menurut Loe ?”
“iya maaf deh kalo Gw maennya kelewatan, ini juga kan idenya Radit dan sohib-sohib Loe yang laen . . .”
“Gw nggak nanya kok”
“tuh kan, Loe jangan ngambek dong . . . please, maafin Gw ya ?”
“ . . .”
“Ayu, masa sih Loe mau uterus-terusan cuekin Gw gini sih ?”
“bodo amat”
“terus, gimana dong tentang perjodohan yang Loe certain ke Gw waktu itu ?”
“gimana apanya ?”
“iya, Loe udah ambil keputusan belom ?”
“keputusan apa ?”
“ng, Loe mau nggak tunangan dengan Gw . . . ?”
“yei ! enak di Elo nggak enak di Gw dong . . .” jawab Ayu sewot dengan sedikit senyuman khasnya, “nah gitu dong senyum . . .” ujar Ade lagi,
“. . . ”
“itu tandanya, Loe mau dong di jodohin ? bukannya kemaren nggak mau neng ?”
“emang kata siapa Gw mau ? apa lagi di jodohin dengan Loe !”
“beneran nih ? terus yang ampe demam tinggi gara-gara mikirin Gw siapa dong ?”
“heh ??? Gw demam tinggi emang karena Gw lagi nggak fit aja kemaren ! bukan karena mikirin Loe, ge-er banget sih . . . ?!” jawab Ayu lagi masih nggak mau kalah dengan Ade, mereka terus saling melempar pertanyaan dan adu mulut meskipun sebenarnya dihati mereka masing-masing begitu bahagia karena akhirnya mereka bisa ketemu lagi dan kompak lagi seperti saat Ayu masih tinggal di rumah Ade dalam rangka kabur dari rumahnya karena ia menolak dijodohkan oleh kedua orang tuanya, ‘coba Gw tau dari awal kalo calon Gw itu Ade, mungkin Gw nggak bakalan pake acara minggat dari rumah kali ya . . .?’ ujarnya dalam hati dan terus tersenyum karena ia sangat merasa aman bila ada di dekat Ade.