Selasa, 07 September 2010

Dealova masa SMA™ 2


Setibanya mereka di lapangan basket, Shilla langsung memfokuskan pandangannya pada Rio, adik kelas sekaligus adik dari musuh besarnya sejak SD, sedangkan Ify dia masih mencari cari seseorang yang selama liburan kemarin selalu jadi daftar teman yang paling dia rindukan, “yeiy ! ayo donk, jangan mau kalah ! yeiy yeiy yeiy . . .” teriak Shilla menyemangati Rio sambil mengibas ngibaskan pom pom miliknya, sedangkan yang di teriaki malah jadi hilang konsentrasinya karena merasa terganggu oleh teriakan Shilla yang berkali kali memanggil namanya, lalu ternyata Shilla menyadari bahwa Ify sedari tadi hanya terdiam mematung, memperhatikan permainan teman temannya itu,
“hei ! ya ampun Fy, gw ngajakin lo kesini bukan buat bengong, tapi buat kasih support ke temen temen kita itu, gimana sih lo ?” ujar Shilla sewot,
“hha, sorry Shil . . .” jawab Ify singkat, tapi karena penasaran, Shilla lalu mengikuti arah mata Ify yang sedari tadi menuju ke satu titik,
IYEL ?? gak salah liat gw ? aduh, kasian banget sih elo Fy ? cantik cantik gini doyannya ama Iyel, huh ! yah gak salah juga sih, tapi dia itu musuh besar gw, masa sahabat gw suka dengan musuh abadi gw ??’ gerutu Shilla dalam hati sibuk bergulat dengan pemikirannya sendiri, ternyata di tengah lapangan, Iyel juga tak sengaja menangkap sosok Ify yang ternyata sedang melihat kearahnya, dan mata mereka bertemu, otomatis Iyel kehilangan konsentrasinya, dan bola basket yang semula ada di tangannya berhasil di rebut oleh Cakka, melihat hal itu, Ify sedikit lesu, “Shil, gw balik ke ruang Osis yah, kerjaan gw masih banyak nih” ujar Ify pada Shilla yang masih heboh meneriakan yel yel karangannya sendiri, “yah elo gak asik ah Fy . . .” jawab Shilla sambil manyun, tapi Ify tetap meninggalkan lapangan, ‘bruk!’ terdengar benturan keras dari tengah lapangan, Ify yang baru beberapa langkah meninggalkan sisi lapangan langsung berbalik arah kembali ke posisi semula, “kak Iyel !” ujar siswi siswi yang juga menonton, Ify yang kaget dan khawatir melihat hal itu, langsung berubah cemas, lalu Iyel segera dibawa keruang UKS oleh teman temannya itu.
          Keke segera menuju keruangan UKS saat tau bahwa kakaknya itu cidera saat bemain basket barusan, ia mengetahui berita itu dari Ray, karena teman barunya itu sedari tadi memang berada di pinggir lapangan basket untuk melihat pertandingan itu, “Ray, makasih banget yah lo dah kasih tau gw kalo Kak Iyel ada di UKS” ujar Keke saat mereka berjalan beriringan menuju UKS, setibanya di ruang UKS, Shilla yang melihat Keke datang bersama adiknya, memasuki UKS langsung melarang Keke untuk ikut masuk, “heh ! anak kecil, ngapain lo ikutan kesini ? mau jadi pahlawan kesiangan ?” tuduh Shilla pada Keke, mendengar ada keributan, Rio segera menuju pintu UKS, “Shil ! lo apa apaan sih ? berisik tau gak ? dasar mak lampir !” teriak Rio menengahi Shilla dan Keke, “Ke, lo gak papa kan ?” tanya Rio pada adiknya itu, Keke mengangguk dan setelah itu Rio mengajak Keke untuk melihat Iyel kedalam, “eh, ada adik cantik !” ucap Cakka saat melihat Keke memasuki ruangan UKS, tapi Keke sama sekali gak menggubris perkataan Cakka, ia lebih kepikiran dengan kakaknya, “Kak Iyel kenapa kak ?” tanya Keke pada Rio, “hm, itu tadi Kiki mau ngasiin bola basket ke arah dia, tapi malah meleset kena kepalanya, alhasil dia ambruk dah” cerita Rio pada adiknya itu, “ehm, Yo ? lo kayaknya belum cerita deh ke kita kita . . .” kali ini Alvin angkat bicara, sambil melirik Keke, “oh, sorry guys! Hampir aja gw lupa, kenalin ini adik gw namanya Keke, dia kelas 10.b” jawab Rio memperkenalkan Keke pada teman temannya yang lain, lalu Keke bergantian bersalaman dengan Alvin, Obiet, dan Kiki,  sedangkan Cakka malah sibuk mikir, karena setau dia, kemarin Rio mengakatakan bahwa Keke bukanlah adiknya, “jadi, lo boongin gw kemarin Yo ? wah, baru kali ini gw di kibulin, oleh elo lagi!” ucap Cakka sambil merangkul Rio dari belakang, sedangkan yang ditanya malah senyum senyum gak jelas, “oh, jadi namanya Keke ?” tanya Obiet pada Keke, “iya kak” jawab Keke singkat, “kirain lo ceweknya Rio ? habisnya kemaren lo datengnya telat bareng ni bocah sih” kali ini Alvin lagi lagi bersuara, lalu saat mereka sedang asik berkenalan, Iyel sadar dari pingsannya, “Kak Iyel ?” ujar Rio dan Keke kompak, “hei, gw dimana nih ?” tanya Iyel sambil memegangi kepalanya yang sakit, “hm, kakak di UKS, kakak jatoh tadi waktu tanding basket” jawab Keke masih dengan tatapan khawatir, “hm, sorry banget ya sob! Gara gara gw ngasih bolanya gak bener lo jadi gini” ujar Kiki meminta maaf, “eits, nyantai aja lagi gw baik baik aja kok” jawab Iyel berusaha tersenyum, lalu mendengar suara Iyel dari dalam, Ify langsung menarik Shilla untuk ikutan masuk, dan setelah dipaksa beberapa kali oleh Ify, Shilla akhirnya meng-iyakan permintaan Ify untuk ikut masuk, dan Ray membuntuti mereka, “Iyel, lo gak apa apa kan ?” tanya Ify khawatir, dia nyaris lupa kalau disana ada teman temannya yang lain, “ehm, ada yang khawatir nih!” sindir Cakka sedikit berbisik, mendengar perkataan Cakka barusan, Ify sadar kalau dia gak bisa mengontrol dirinya tadi, “hm, maksud gw lo udah baikan ?” tanya Ify lagi, kali ini Iyel langsung mengambil posisi duduk, “gw baik baik aja kok Fy ! hha, masa seorang Gabriel lemah sih ?” ujar Iyel berusaha jaga gengsi di depan Ify, “yah… sayang banget! coba lo kenapa kenapa aja, jadi kan gw gak perlu tuh berantem lagi sama lo!” ucap Shilla dengan santai, sontak membuat semuanya yang ada diruangan itu melihat kearahnya, “loh ? kenapa ? gw gak salah ngomong kan ?” tanya Shilla tak merasa bersalah sama sekali, “Shil !” gertak Ify pelan, lalu Ray berusaha mengajak kakaknya keluar, dari pada si kakak jadi amukan masa ? hhe . . . dan mereka semua yang di UKS pun beberapa menit kemudian bubar, dan kembali beraktifitas seperti semula, sedangkan Keke masih menemani kakaknya itu diruangan Osis, karena sebenarnya Iyel masih sedikit merasa pusing, sedangkan Rio kembali ke stan ekskul basket bersama teman temannya yang lain, yang lokasinya gak jauh dari lapangan basket.
          Saat tiba di ruangan Osis, Keke langsung duduk di sebelah Iyel yang masih mengerang sesekali karena kepalanya yang sakit, melihat hal itu Keke membujuk Iyel untuk kerumah sakit, “gak dek, gw baik baik aja kok” jawab Iyel meyakinkan adiknya untuk kesekian kalinya, “hai, kalian disini ?” sapa Ify yang baru datang, karena mereka memang berpisah jalan saat dari UKS tadi, “kak Ify ? kakak anggota Osis juga yah ? sama kaya kak Cakka dan yang lainnya ?” tanya Keke saat melihat Ify datang, Iyel tersenyum mendengar pertanyaan adiknya ini, “iya Ke, Ify itu sekretaris Osis” jawab Iyel mewakili Ify, “ng, iya bener kata Iyel Ke” jawab Ify sambil melanjutkan kegiatannya yang tadi sempat tertunda karena Shilla mengajaknya melihat pertandingan basket, “lo masih ngerjain tugas Osis ?” tanya Iyel pada Ify, “iya, tapi tinggal sedikit lagi kok, bentar lagi juga kelar” jawab Ify lagi, “hm, Keke ? kamu kelas 10.b kan ? kalo gitu kamu satu kelas dong dengan adikku ?” tanya Ify pada Keke, “iya kak, nama adik kakak siapa ?”
“namanya Acha, kamu tau ?”
“oh, yang cantik itu yah kak ? aku tau kak, tadi pagi baru aja kenalan dengan dia”
“hm, kamu bisa aja, kamu juga cantik kok Ke”
“tapi, ternyata kakak lebih cantik dari yang di foto yah, oopsz!” ujar Keke keceplosan, dan refleks mendekap mulutnya sendiri, Iyel yang sedari tadi duduk dengan tampang malas di meja Osisnya, mendadak mengangkat wajahnya, “maksudnya ?” tanya Ify bingung,
“ah, nggak kak, maksud aku kakak lebih cantik kalo diliat dari deket” jawab Keke mengelak, Iyel tau pasti kalau adikknya ini sedang menutupi sesuatu, karena Keke bukanlah orang yang pintar berbohong.
***
          Hari ini Keke beriat untuk pergi bersepeda keliling komplek di dekat rumahnya, jadi meskipun jam tangannya masih menunjukan angka 5.32 tapi dia sudah siap untuk keluar rumah, dan gak lupa dengan Ipod nya yg sudah terpasang rapi dari tadi, “Ke ? mau kemana ?” tanya Mama yang sepertinya baru bangun, saat melihat anak bungsunya itu jam segini sudah rapi, “Keke mau main sepeda Ma” jawab Keke sambil tersenyum, dan bergegas menuju garasi untuk mengambil sepedanya, “hati hati ya nak” ujar Mama mengingatkan.
          Sudah lebih dari 1 jam keke mengelilingi komplek di sekitar rumahnya, karena merasa haus, ia berinisiatif untuk mampir ke sebuah café kecil di dekat taman komplek, dan memesan secangkir milkshake, saat ia sedang duduk duduk di rumput taman, persis di sebelah sepedanya, lalu ada seorang cowok datang memberikan sebuah hamburger untuknya, “kak Obiet ?” tanya Keke kaget, “nih untuk kamu” ujar Obiet sambil ikut duduk disebelah Keke, “kakak, kok bisa ada disini ?” tanya Keke bingung, “hm, aku tinggal gak jauh dari sini kok, cuma beda beberapa blok aja”
“kamu ngapain disini ? habis olahraga yah ?” tanya Obiet lagi,
“iya kak, dah lama nih gak maen sepeda pagi pagi, kalo waktu masih SMP aku suka bawa sepeda sendiri kesekolah, tapi kalo sekarang kan jauh kak”
“oh, gitu yah ? btw, kamu itu beneran adiknya Rio ? hha,, habisnya aku sempet ngira kalo Rio itu anak bungsu, soalnya kelakuan dia terkadang kayak anak kecil”
“hm, iya kak aku adiknya Kak Rio, ya emang bener sih yang kakak bilang, dia terkadang kaya anak kecil, tapi aku suka kalau sikap dewasanya tiba tiba muncul”
“oh ya ? contohnya ?”
“hm, contohnya waktu aku sama kak Rio masih SMP dan kak Iyel dah SMA, kak Rio yang selalu ngejagain aku, dia itu perhatian banget kak, beda sama kak Iyel yang lebih sering ngasih petuah yang terkadang aku juga gak ngerti, kayak mama aja! Hhe. . .”
“jadi, maksud kamu, Rio itu dewasanya dengan tindakan, kalo Iyel dengan perkataan dia gitu ?”
“tepat banget kak”
“hha, ternyata kamu anak yang asik yah diajak ngobrol ?” ujar Obiet tiba tiba berkata di luar topik pembicaraan mereka,
“maksudnya kak ?”
“yah, enak aja ngobrol sama kamu”
Keke masih gak ngerti, tapi dia memilih untuk tidak bertanya tanya lagi, karena waktu sudah nyaris lewat dari pukul 7, itu tandanya dia harus segera pulang kerumah, “kak, aku duluan yah” pamit Keke sambil menaiki sepedanya, “oke, sampe ketemu besok di sekolah yah. . .” jawab Obiet sambil terus memandangi Keke hingga menghilang di tikungan jalan, ‘keke, cantik juga ! hha …’ ujarnya berbisik di dalam hati.
          Setibanya di rumah, ternyata Rio sudah berdiri dengan tangan dilipat didepan dada menunggu adik bungsunya itu pulang, “dari mana ?” tanya Rio dengan suara cuek, “habis jalan jalan naik sepeda kak, udara pagi ini seger banget” jawab Keke sambil membawa sepedanya masuk ke garasi, “kenapa gak bilang ? kan gw bisa nemenin ?” tanya Rio lagi, “aduh kakak, aku tuh udah gede, lagi pula cuma jalan di deket sini aja kok”
“hm, terserah lo deh, lain kali minimal ngomong oke !”
“yah, kakak kan aku udah pamit tadi dengan Mama. . .” kali ini keke sedikit merasa bersalah dengan kakaknya itu,
“ya udah, sarapan gih sana! sebentar lagi Papa mau ngajak kita sekeluarga jalan jalan”
“oke kakak ku sayang, thanks banget yah dah perhatian sama aku” ucap Keke sambil berlari meninggalkan Rio, tapi sebelumnya ia sempat mencubit kedua pipi kakaknya, kebiasaan keke yang sejak dulu belum pernah hilang.
***
          Suasana sekolah sedikit lebih tenang di bandingkan minggu kemarin, karena mulai hari ini aktifitas belajar mengajar sudah mulai aktif, Acha yang baru tiba di sekolah langsung menuju kelas, untung saja guru mata pelajaran pertama masih belum datang, “Ray, Keke mana ?” tanya Acha pada temannya itu yang tempat duduknya persis diantara mejanya dan meja Keke, “gak tau tuh” jawab Ray singkat karena dia sedang asik memainkan game di ponselnya, “hhuu, di tanyain jawabnya gitu aja” jawab Acha bête, tak lama kemudian ada seseorang mengetuk pintu kelas mereka, “permisi …” ujar orang itu memasukan kepalanya, “hey Zy ! hha, ngapain lo ke kelas gw ?” tegur Ray saat mengetahui kalau yang datang itu adalah Ozy, kakak kelasnya, yang kenal akrab karena sering main kerumahnya, “woy Ray ! hha, kalian belum ada guru kan ?” jawab Ozy pada Ray dan dia malah langsung duduk di kursi Keke, karena kursi itu yang paling strategis dari tempat duduk Ray dan memang masih kosong, “iya nih, gak tau gurunya kemana” jawab Ray lagi, “oh… ng,, Ray, itu siapa Ray ?” tanya Ozy sambil melirik nakal ke Acha, yang sepertinya sedang sibuk dengan buku bukunya, Ray melihat kearah yang Ozy maksud, dia tau pasti dalam arti lain, Ozy ingin berkenalan dengan Acha, “Cha, ada yang mau kenalan nih” panggil Ray tiba tiba, dan otomatis, Ozy langsung berdiri lalu pura pura sibuk membersihkan kedua tangannya untuk bersalaman dengan Acha, melihat tingkah Ozy barusan Acha sontak ingin tertawa geli, tapi dia cepat cepat menahannya sebelum Ozy melihat hal itu, “Ozy…” ucapnya memperkenalkan diri, “Larissa Safanah Arif” jawab Acha dengan tegas, sedangkan yang diajak ngomong malah memasang muka cengo nya, “hha, panggil aku Acha aja!” ucap Acha lagi, lalu mereka bersalaman, “eits, jangan lama lama salamannya!” ujar Ray memisahkan tangan keduanya, ‘isssh, apaan sih Ray! Lo ngerusak momen bagus aja!’ gerutu Ozy dalam hati, lalu Acha kembali ke posisi duduknya semula, “eh, Ray gw hampir lupa, ntar pas istirahat gw tunggu lo di ruang musik yah!” bisik Ozy lalu pergi meninggalkan kelas Ray.
***
          Obiet mendribel bola basket berkali kali di pinggir lapangan, kelihatannya dia sedang suntuk hari ini padahal saat ini masih jam istirahat pertama, “hey ! aduh, lo ngapain ?” tanya Kiki yang baru memasuki lapangan basket, “hah ? lo kira gw ngapain ?” jawab Obiet pada kakaknya itu, Kiki heran, tumben banget saudaranya itu murung di sekolah, “lo ada masalah ?” tanya Kiki lagi, Obiet hanya menjawab dengan menggidikan bahunya, “hey bro ! yaelah kakak adek lagi maen bareng nih ? gw gabung yah sob !” Cakka yang baru datang langsung menyamber bola dari Obiet, tapi entah kenapa Obiet malah jadi tertantang untuk bermain, “woy ikut donk” ujar Alvin yang juga baru datang, alhasil mereka bermain bersama, ‘huh! Dasar bocah cepet banget mood nya berubah’ ujar Kiki dalam hati melihat adiknya itu, yang tadi kelihatan badmood malah sekarang sangat bersemangat.
          Di saat yang bersamaan, Rio sedang duduk di salah satu kursi panjang yang ada di koridor sekolah dan mengarah langsung ke lapangan basket sambil memegang komik dan makanan favoritnya, ‘kayaknya seru tuh kalo ikutan, tapi gak deh…’ ujar Rio dalam hati melihat teman temannya itu, saat dia sedang memperhatikan teman temann, tiba tiba Shilla mendatanginya dan duduk di kursi yang sama dengannya, “hei! Lo ngapain disini sendirian ? hm, kebiasaan banget sih ke sekolah masih suka bawa komik ?” tegur Shilla pada Rio, tapi Rio malah pura pura gak denger, “hallo… perasaan disini ada orang deh, tapi kok gw berasa ngomong ama tembok yah ??” ucap Shilla sambil melambaikan tangannya di depan muka Rio, dan tiba tiba Rio menangkap pergelangan tangan Shilla, “please gw lagi gak mau di ganggu, sorry” ujar Rio masih menahan tangan Shilla, “what ? please deh, perasaan gw gak ngeganggu lo deh ? gw kan cuma ngajakin lo ngobrol ?” jawab Shilla sambil menarik tangannya dan mengelus ngelus pergelangan tangannya yang lumayan nyeri karena Rio terlalu kuat menggenggamnya, “oke, tapi gak sekarang” jawab Rio lagi dan berlalu pergi meninggalkan Shilla, “huh!! Awas lo yah, gak kakak gak adek, sama aja ngebeteinnya!” gerutu Shilla memaki Rio, sedangkan Rio berjalan sambil menahan tawanya, “hha, emang enak dikerjain?” ucap Rio sambil memegangi perutnya dan tertawa sendiri sambil memasuki kelas.
#di Ruang Musik
“Ray, lo waktu itu bilang mau ngajarin gw maen drum ? tapi karena gw ngerasa gak yakin sama lo, jadi gw pengen lo buktiin dulu ke gw …” ujar Ozy setibanya mereka di ruang musik, “oke, siapa takut!” jawab Ray dengan pasti, tapi baru saja Ray akan mengambil stik drumnya, mereka mendengar suara piano yang dimainkan dengan lembut, “eh, lo denger gak ? kayaknya ada orang diruangan piano ?” tanya Ozy pada Ray, “iya sih, tapi siapa ?” jawab Ray sambil bertanya balik, “gak tau kita liat yok!” ajak Ozy, tapi belum sempat mereka membuka pintu ruang piano, seseorang masuk dari pintu utama, “Gabriel ?” tanya Ozy kaget, tumben si ketua Osis itu terlihat disini, tapi mungkin lebih tepatnya, Ozy yang tumben datang keruangan ini, “kalian ngapain disini ?” tanya Iyel gak kalah kagetnya, “ng, kita mau maen drum” jawab Ray sambil memperlihatkan stik drum ditangannya, “trus ? ngapain kalian mau masuk ruangan piano ?” tanya Iyel lagi, dan keduanya hanya saling pandang, Ify yang berada diruangan itu merasa mendengar ada percakapan diluar sana, lalu dia beranjak keluar, “Iyel ? Ozy, Ray… ngapain kalian disini ??” tanya Ify kaget, karena ternyata dia tidak sendirian diruang musik saat ini, “ng,,, gw, gw cuma kebetulan lewat kok Fy” jawab Iyel bohong, padahal sebenarnya tujuan awalnya ingin melihat Ify yang rutin bermain piano pada saat jam istirahat, tapi tentu saja tanpa sepengetahuan siapapun, “aneh banget lo ? kalo kalian ?” kini pertanyaan Ify tertuju pada kedua adik kelasnya, “maen drum donk…” jawab Ozy sambil menunjuk Ray, “oke, gw duluan kalo gitu,  karena sebentar lagi bel masuk kelas bunyi lo…” ucap Ify meninggalkan ketiganya, “Fy, tunggu…” ujar Iyel menyusul langkah Ify, untuk kekelas bareng, dan Ozy serta Ray hanya menggidikan bahu, ‘au ah gelap!’ ujar mereka di benak masing masing, karena gak ngerti dengan sikap keduanya.
***
          Acha baru saja pulang dari bimbel, dan gak sengaja melihat Ify sedang sibuk di dapur ‘tumben banget, liat ah…’ pikir Acha dalam hati, “ngapain kak ?” tanya Acha sambil mendekat, “Cha ? kamu dah pulang ? hm, kebetulan banget, kakak baru aja nyobain resep kue, kamu cicipin yah nanti” jawab Ify sambil terus melakukan aktifitasnya,
“kue apa kak ? tumben banget kak…”
“cuma brownies kukus aja sih, yah lagi kepengen aja nyobain buat sendiri”
“hm, kayaknya enak, dari aromanya aja udah enak banget”
“o iya dong, siapa dulu yang buat”
“oke deh kak, aku ngeletakin tas dulu yah di kamar, nanti aku bantuin kakak deh”
“oke sayang…” jawab Ify lagi, dan Acha langsung bergegas ke kamarnya yang berada di lantai dua.
          Waktu menunjukan pukul 4 sore, kini Acha baru saja akan mencicipi kue buatan kakaknya itu, ‘ting tong… ting tong’ bunyi seseorang menekan bel dari depan rumahnya, alhasil Acha harus menunda tangannya untuk memasukan kue itu kemulutnya, ‘siapa sih yang dateng ??’ tanyanya dalam hati, sedangkan Ify sedang membersihkan dapur, jadi Acha terpaksa bergegas menuju pintu, “kak Iyel ?” tanya Acha saat mengetahui bahwa yang datang adalah Gabriel, salah satu kakak kelasnya, “hey Cha, pa kabar ? Ify ada ?” jawab Iyel sambil bertanya pada Acha, “baik kak, ada, masuk aja” jawab Acha mempersilakan Iyel masuk, dan segera memanggilkan kakaknya, “kak, kakak hari ini ada janji ya dengan kak Iyel ?” tanya Acha setibanya didapur, “astaga, mereka dah dateng yah Cha ? iya hari ini kita mau ngerjain tugas bareng, ya udah kamu tolong buatin minuman yah ? kakak mau ganti baju dulu” ujar Ify mempercepat pekerjaannya, “mereka ? tapi didepan cuma  ada kak Iyel aja kak, emangnya mau ada berapa orang ?” tanya Acha heran, “oh ya ? Kiki sama Shilla belum dateng ?” tanya Ify heran, dan Acha hanya menggelengkan kepalanya, “sebentar lagi kali kak” jawabnya singkat dan mulai membuatkan minuman.
          Setelah selesai mengerjakan tugas di rumah Ify, Kiki langsung mengantarkan Shilla pulang kerumahnya, karena hari sudah gelap dan gak mungkin banget kalo Iyel yang nganterin Shilla, secara mereka musuh abadi ! hhee … “Shil, dah sampe nih” ujar Kiki pada Shilla saat ia menghentikan mobilnya di depan pagar rumah Shilla, “thanks banget yah Ki, dah mau nganterin gw” jawab Shilla saat akan turun, tapi ternyata Kiki malah membukakan pintu mobil untuknya, “dengan senang hati” jawab Kiki singkat, “baik banget sih, hhee” ujar Shilla salah tingkah, secara baru ada 1 cowok yang bersikap begini dengannya, “ya udah, gw langsung pulang yah Shil” ujar Kiki pamit, lalu kembali masuk ke mobilnya, “oke, ati ati lo…” ujar Shilla mengingatkan, dan Kiki hanya menjawab dengan anggukan, “cie yang dianterin !” ujar Ray yang ternyata sudah ada di balik pagar, “astaga ! ih, lo ngapain sih di situ ? bikin kaget tau gak ? gw kira ada tuyul tadi !” ujar Shilla sewot, “hha! Baru di kagetin gitu aja” ujar Ray sambil tertawa, “awas lo Ray !!” pekik Shilla geram, dia bingung kapan sih adiknya itu bisa stop ngerjain dia ? bikin naik darah aja!
***
          Ozy membalik halaman demi halaman buku pelajarannya, niat awalnya ia ingin belajar untuk kuis fisika besok, tapi gak tau kenapa dia malah kepikiran Acha terus, “grrrrrrrr… gimana gw mau belajar coba kalo gak konsen gini ??” ujarnya menggerutu lalu ia menuju kamar mandi yang ada di kamarnya dan membasahi kepalanya, dengan maksud ingin me-refresh otak dan cuci otak sekalian (emang bisa yah Zy ??) lalu setelah mengeringi rambutnya dengan handuk, ia berdiri di depan kaca dan melihat rambutnya yang masih belum disisir, “eh, rambut gw qreen juga kalo berantakan gini, gw baru nyadar kalo gw itu ganteng ternyata” ujarnya narsis memuji dirinya sendiri di depan cermin, dan setelah itu dia kembali ke meja belajar, “hha, kalo narsis gw udah kambuh mau ngapain aja semangat deh” ujarnya dan fokus belajar.

^_^ BERSAMBUNG ^_^