Kamis, 02 September 2010

RINDUKAN DIRIMU (part 12) Last Part™

Halo sobat cilik semuanya !
  Rise  Freenzy   Keers   Alvinoszta   Achapuccino  dan semua ICLovers
Maaf yah lagi lagi aku lama ngelanjutinnya, tapi kali ini aku gak bakal basa basi lagi :))
Selamat membaca & semoga suka …………… !!!
~~~
Saat ini Alvin dan teman teman baru saja tiba di Hotel tempat mereka akan di karantina, ternyata mereka bukan tinggal di hotel biasa, tapi mereka mendapatkan tempat penginapan yaitu sebuah apartemen yang lumayan mewah yang ada di ibu kota, Rio melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, ‘sudah jam 8 lewat, padahal tadi berangkat dari asrama jam 7 kurang’ ujarnya membatin,
“Nah, adik adik, perkenalkan, nama saya Acie, saya yang akan bertugas menjadi pembimbing kalian, atau bisa di bilang pengasuh kalian selama kalian mengikuti kegiatan di seminar ini, kalian bisa panggil saya kakak dan, ini adalah apartemen untuk grup kita, apartemen ini, memang minimalis, tapi sebenernya ada 3 kamar disini, jadi, yang cewe 1, yang cowo 1, dan saya sendirian” ujar Acie, yang katanya bertugas sebagai pembimbing mereka menjelaskan, saat mereka baru masuk ke apartemen no 221 tempat mereka akan menginap,
“baik kak, kami ngerti” jawab Rio sambil membalas senyum Acie, dan yang lainnya juga sepertinya masih sedikit kikuk berhadapan dengan Acie,
“kalian kok kaku banget ? ayo donk, aku bukan bu guru atau pak polisi yang harus kalian takutin, aku di sini sebagai pengasuh kalian, jadi kalau ada apa aja, kalian bilang yah ke kakak ?” ucap Acie lagi, dengan lebih lembut dari sebelumnya, agar suasana sedikit mencair,
“oh iya aku lupa, malam ini kalian memang belum ada kegiatan” lanjut Acie sembari melihat papan, yang biasanya di pake untuk alas anak anak ujian, dan membaca baca kertas yang ada di atasnya, sepertinya itu adalah daftar kegiatan mereka selama masa karantina,
“tapi,, jam 9 ini, kalian harus sudah berkumpul di aula utama di bawah, di lantai 3 dan disana nanti akan ada acara pembukaan dari seminar ini, kalian ngerti ?” lanjut Acie lagi,
“ngerti kak, lalu apa yang harus kami persiapkan ?” kali ini Alvin mulai berani untuk bicara, Acie tersenyum sejenak sebelum menjawab pertanyaan Alvin,
“ng,, gak ada kalian boleh pake baju biasa aja dulu, dan cukup ngebawa alat tulis, kali aja ada yang perlu di catet, oh iya, kalau mau bawa ponsel, jangan lupa di sailent yah ?” jawab Acie lagi, lalu mengingatkan mereka, “oke kakak!” jawab mereka kompak, Acie senang mendengarnya,
 “baiklah, aku ke bawah dulu untuk ketemu dengan panitia yang lain, nanti saat ada bunyi speaker panggilan, kalian langsung ke lantai 3 yah ? kalian ngerti kan ?” ujar Acie ingin pamit ke bawah, “siip!” jawab Rio meyakini Acie sambil memberikan jempolnya, lalu Acie bergegas meninggalkan mereka semua.
~~~
          Setelah Acie keluar dari apartemen mereka, Rio dan yang lainnya segera bergegas melihat kamar masing masing, tapi Ozy tetap memilih untuk ada di ruangan utama apartemen itu, ia sudah janji untuk segera menghubungi Zeva sesaat setelah tiba.
          Acha memasuki kamar mereka, yang terletak di lantai atas apartemen minimalis itu, dan Dea serta Keke juga Nova menyusul langkahnya, “waw ! qreen, andai aja kita disini dalam rangka liburan, pasti lebih menyenangkan !” ucap Dea kagum saat melihat dekorasi kamar mereka, “tempat tidurnya gede amat ! bisa nih untuk kita ber-5 !” celetuk Nova asal, “hey, kita kan cuma ber-4 ! gimana sih ?” kali ini Keke yang menimpali, lalu mereka sibuk dengan barang barang mereka.
          Rio melangkah menuju kamar mandi yang ada di kamar mereka, ia berniat mengganti pakaiannya yang sebelumnya adalah seragam sekolah mereka, ya! Mereka masih menggunakan jas sekolah mereka hingga saat ini, “mau ganti baju ?” tanya Alvin yang sedang duduk di atas kasur empuk di kamar itu, “bukan, mau berubah wujud ! ya iyalah ganti baju” jawab Rio asal, “hm, mending kita tetep pake seragam sekolah dulu deh, kan tadi kak Acie juga udah bilang, kalo kita gak perlu ganti baju malam ini ?” jawab Alvin menerangkan, semuanya masih inget kan ? sekolah mereka semua ? yupsz ! SMA 38, sekolah internasional yang berkonsep jepang modern, dan tentu saja seragam merekapun berkonsep sekolah sekolah di jepang, (kalo pada lupa ! inget inget seragam sekolahnya anak anak sailormoon yah !) hhha .. yang cowo pake kemeja dengan tambahan jas panjang, sedangkan yang cewe, menggunakan jas yang serupa, namun mereka menggunakan rok layaknya sekolah dasar, “oke, thanks sob dah ngingetin” ujar Rio yang akhirnya mengurungkan niatnya untuk bertukar pakian.
          Bel berbunyi, bertanda ada seseorang yang datang, Ozy yang sedang BBMan dengan Zeva di ruang tengah, segera berjalan menuju pintu, “hay !” ujar seseorang di depan pintu, yang langsung melangkah masuk dengan seenaknya, “lho ? kok sepi ? yang lain mana ?” ujar orang itu lagi, “Deva …???” ucap Ozy yang tiba tiba mengeluarkan 1 kata yang sangat membuat semuanya kaget, ternyata teman temanya yang lain sudah menyusul dia di ruang tengah, “hey Zy ! gw gak nyangka loe masih inget gw” ujar Deva ramah dan tersenyum lebar, “Ozy ! loe inget Deva ?” kali ini Keke dan Rio kompak bertanya, sedangkan Alvin masih tercengang mendengar Ozy menyebutkan nama teman SMP mereka itu, “hey guys ! pa kabar kalian ?” sapa Deva pada Rio, Keke serta Alvin, lalu ia duduk di sofa empuk di ruangan itu tanpa komando sama sekali, “Hey Zy !” panggil Deva lagi, karena Ozy masih sama sekali belum menjawab pertanyaan Deva sebelumnya, “sorry, gw asal sebut tadi, gak tau kenapa, gw ngerasa itu nama lo!” jawab Ozy dengan air muka yang datar alias cengo, “hey, Acha, Nova ! sini, kenalin ini temen SMP kami dulu” panggil Alvin pada 2 temannya itu, “oh, ternyata 2 cewe cantik ini namanya Nova dan … Acha yah ?” ucap Deva dengan muka yang jahil, “hey, please jangan kumat lagi yah playboy nya !” ucap Keke menyela perkataan Deva, “Ozy ? sampe kapan loe mau tetap berdiri di sana ?” tanya Deva lagi, kali ini Ozy mulai bejalan mendekati mereka, Ozy masih bingung ada apa dengan dirinya kini ? kenapa ia tiba tiba bisa menyebutkan nama teman lamanya dengan tepat ?, “kalian tau ? Lintar udah cerita semuanya dengan gw, termasuk tentang Ozy, makanya gw kesini, kan Lintar yang kasih tau kalau kalian juga ikut seminar ini, dan gw tau kalian di apartemen ini, juga dari Lintar, karena kak Dea, yang kasih tau Lintar langsung, sayangnya dia gak mau ikut seminar ini, iya kan kak Dea ?” ujar Deva bercerita tanpa di minta, lalu beberapa menit kemudian suara speaker berbunyi, memanggil semua peserta seminar, dan saat itu juga mereka segera bergegas menuju ruang pertemuan di lantai 3.
~~~
          Acara pembukaan seminar Anak Berbakat Indonesia sudah lebih dari setengah jalan, disini di ruangan yang sepertinya berkapasitas lebih dari 1000 orang, terlihatjelas beragam anak bangsa dengan seragam sekolah mereka masing masing, dan berbagai corak sesuai asal mereka tinggal, riozykevincha, tentu saja bersama Nova & Dea yang duduk berjejer bersama kakak pembimbing mereka Acie, sedari tadi tidak bisa berhenti tersenyum, terutama hal ini di karenakan kekaguman mereka saat masing masing regu menunjukan bakat mereka masing masing, “baiklah, selanjutnya unjuk bakat untuk peserta no 221, dari SMA 38 !” pembawa acara memanggil Rio & kawan kawan, lalu mereka segera berjalan menaiki panggung dan menerima mic masing masing, “baiklah, SMA 38, tunjukan bakat kalian !” ujar pembawa acara memberi aba aba, & musik mulai mengalun sesuai apa yang telah mereka pelajari 2 hari ini, kali ini mereka akan bernyanyi 2 buah lagu sekaligus secara Medley, yaitu lagu Tunjuk 1 Bintang & di lanjutkan dengan sebuah lagu yang lumayang nge-beat yang berjudul Meraih Mimpi, mereka bernyanyi bersama dan saling bersahutan sesuai pembagian suara masing masing, serta dengan koreografi yang telah mereka pelajari di sela sela waktu luang mereka saat di asrama, “jangan bersedih & putus asa, masih ada jalan bila kau trus berdoa, tabur harapmu sebanyak bintang, sebanyak bintang bintang di angkasa…” mereka bernyanyi bak penyanyi professional yang telah biasa berkali kali menginjakan kaki di panggung besar dengan di lihat beribu pasang mata, hanya perasaan bangga akan diri mereka sendiri & tentunya sedikit rasa gugup yang menghinggapi mereka, namun mereka tetap semangat bernyanyi & berusaha tak ada kesalahan sekecil apapun yang mereka buat, “…tak ada yang tak mungkin bila kita yakini pastilah engkau dapati, ya ya kita kan terus berlari, ya ya takkan berhenti di sini, ya ya marilah meraih mimpi, hingga nafas tlah berhenti” mereka mengakhiri nyanyian mereka dengan beberapa sentuhan koreo terakhir, dan semuanya memberikan tepuk tangan yang sangat meriah, “terima kasih” ujar mereka kompak saat membentuk barisan di atas panggung sambil membungkukan badan, lalu pergi turun kembali ke tempat duduk mereka.
~~~

          “Keke ? loe tau gak kalo gw itu suka sama loe ?” Rio bertanya dengan penuh rasa gugup pada Keke hingga suaranya putus putus (mang di telpon) , Keke tersenyum, lalu ia membaca gulungan kertas yang ada di tangannya, “aduh Ke ! kok loe masih belum hapal juga sih dialognya ?” tanya Rio gemas, karena sudah berkali kali mereka mengulangi dialog yang sama, tapi Keke masih saja terpaku pada script, “sorry, Io … habisnya sih : (“ jawab Keke melengos, dia juga merasa bersalah karena sudah membuat Rio kesal siang ini, “eleh eleh, rajin banget !” Dea yang datang menghampiri ke-2 sahabat yang sedang berlatih drama di koridor apartemen itu, ngecengin sembari membawakan 2 buah orange juice, “hhha ,, thank’s ka : )” ujar Rio menerima minuman itu, “gimana latiannya ? udah hapal bagian masing masing ?” tanya Dea pada ke-2nya, Keke menggeleng sambil mengidikan bahu, sedangkan Rio hanya tersenyum simpul, “sudah, gak apa apa kok, kan pentasnya untuk acara puncak ? masih 2 hari lagi kok” jawab Dea mengingatkan, lalu ia kembali meninggalkan Keke dan Rio di koridor. Setelah Dea pergi, mereka diam sejenak, asik dengan pikiran masing masing, ‘ya ampun Keke, lo sarap kali yah ? lo gak tau apa gimana nervous nya gw buat nyebutin kalimat kalimat itu ?’ ujar Rio membatin sembari membuang pandangannya pada pemandangan kota yang terbentang didepan mereka, hhuh ! bego banget sih gw ? dialog gitu aja gw dah salting aja ! bego bego bego … itu kan cuma akting !’ gerutu Keke menyalahi dirinya sendiri, “oh iya !” ujar mereka bersamaan, dan keduanya alhasil menunda pembicaraan mereka, “ya udah, lo duluan deh Io” ucap Keke pada Rio yang masih belum menatap kembali kearah Keke, “gak, lo aja ! ladies first…” jawab Rio lalu menunduk dalam, alhasil keduanya saling tertawa lepas oleh tingkah mereka sendiri, “cie …… hatciim ! hatciim ! hhha !!!” terdengar sorakan dari belakang mereka, ternyata Ozy dan Alvin sudah sedari tadi memperhatikan kedua temannya itu, “hey ! sejak kapan kalian di situ ? kalian nguping yah ?” tanya Rio bertubi tubi, serba salah plus bingung mau bilang apa, “hhha,,,” lagi lagi Ozy dan Alvin hanya tertawa, “masa sih Koko ? si Pupbay ini latian ama si bawel untuk dialog sesingkat itu belum bisa bisa yah ?” sindir Ozy seakan tak ada Keke dan Rio disana, “hhha, bener banget Ji ! hha, jadi curiga nih :p aiih,, kayaknya bakal ada apa apa nih ?” celetuk Alvin menambahi, “hey ! orangnya masih di sini woy …!” teriak Keke di telinga keduanya, “eh, ada yang sewot, hha… bawel bawel !” ucap Ozy lagi dengan santai, “eh, bentar deh, lo tadi manggil Keke, bawel, Alvin Koko dan manggil gw, pupbay ???” kali ini Rio berkata dengan tampang yang serius, “hha ! kalian gak tau yah ? eh, emang belum tau yah ?” ujar Alvin yang kini makin menjadi, “kenapa Rio ? mau balapan sepeda bareng nih kesekolah ? aduuh, pulang sekolah aja deh ! hhha …” jawab Ozy asal, Rio justru makin mikir serius, “Keke, hha … first love lo masih yang lama kan ? ampe sekarang masih suka ama dia ?” Ozy kali ini justru makin comel dengan tawanya yang tertahan, “aiih,, kalo koko sih tetep ! pemain bola gak jadi jadi, tapi gw yakin nih, dia pasti bakal jadi pemain bola jagoan ! jagoannya Oma n Cece tasya : )” ujar Ozy lagi yang akhirnya mendapatkan hadiah jitakan dari ke-3 sahabatanya, “oji …………!!! Awas loe yah !” ujar ke-3nya gemas sembari mengejar Ozy yang sudah melarikan diri setelah mereka jitak tadi, Alvin tau temannya itu kini telah pulih ingatannya, Ozy sengaja memberitahukan Alvin lebih dulu, karena tadi Rio dan Keke sedang serius seriusnya latian, sedangkan Keke dan Rio, masih bertanya tanya, apa bener sahabat mereka itu sudah sembuh ? karena hanya Ozy yang tau tentang balapan sepeda mereka berdua, begitupun juga dengan Keke, hanya Ozy yang tau siapa cinta pertamanya, yup ! cinta monyet ya tepatnya : )


~~~
          Hari ini Deva sengaja bermain ke kamar teman temannya, karena kegiatan hari ini baru akan di mulai siang nanti, saat baru saja masuk ternyata Acha yang membukakan pintu untuk Deva lalu, Deva langsung mencari teman temannya yang lain, “yang lain mana Cha ?” tanya Deva sambil melayangkan pandangannya pada seisi ruangan, “siapa ? Riozy ?” tanya Acha tepat,
“iya, Alvin juga mana ?”
“Oh, mereka lagi berenang tuh”
“what ? berenang, kenapa mereka gak ngajak ngajak gw sih ?”
“yeiy, mana gw tau…”
“hhe, jadi loe sama siapa aja sekarang ?”
“ada Nova, Keke, ama Ka Dea”
“o …”
“…?”
“ya udah, gw nyusul mereka deh, oh iya bilangin ama Keke, ada kakaknya tuh di bawah, kayaknya bareng ama temen temennya yang laen deh, hhe tadi gw gak sengaja ngintip :p”
“oh ya ? ada ka Obiet ??? beneran Dep ?”
“eitsz, heboh bener ? hey, nama gw Deva bukan Dedep, lo panggil panggil Dep aje …”
“hhe, becanda kali, eh lo serius kan ?”
“hm, kenapa nih ? lo naksir ama kakaknya Keke ? hayo …”
“ng …”
“hha ! gw becanda kok ! ng, udah deh jangan pasang tampang bego gitu, jelek tau ! ya udah, gw susul mereka dulu yah Cha …”
“oke” jawab Acha saat Deva pamit keluar dari kamar no 221 itu.
~~~
          Acie memasuki kamar no 221 dan mendapati adik adik asuhnya sedang bernyanyi bersama sama sembari memainkan gitar  dan juga sedikit berkreatifitas dengan alat alat seadanya, Rio yang sedang memetik gitarnya dan ikut bernyanyi sebuah lagu yang Acie tau lagu itu berjudul sahabat sejati, ternyata menyadari kedatangan Acie dan menghentikan petikan gitarnya, “lha ? kenapa berenti, lanjutin donk nyanyinya aku mau denger” ucap Acie saat mereka kompak berhenti bernyanyi, “hha, gak papa ka…” ucap Rio malu malu, sepertinya Acie tau kenapa mereka berhenti bernyanyi, ya mungkin mereka masih belum pede jika dilihat oleh orang lain saat mereka bernyanyi bersama, “oh iya Acha ini ada orangtua kamu, dan Keke ikut saya ke bawah ya, kebetulan ada yang mau bertemu katanya kakak kamu ?” ujar Acie menyampaikan maksud kedatangannya, lalu Keke segera menyusul langkah Acie dan kedua orangtua Acha memasuki kamar no 221 itu.
          Ozy saat ini sedang duduk berdua dengan Keke di depan tv, mereka sedang istirahat sejenak sebelum beberapa jam lagi mereka akan tampil untuk acara puncak dari seminar ini, ternyata seminar itu di hadiri juga oleh grup vocal Obiet. kakaknya Keke. tapi tidak hanya itu, karena Alvin dan Rio pun mendapat kesempatan untuk ikut bernyanyi bersama grup vokal itu, makanya saat ini Rio dan Alvin masih berada di aula karena sedang berlatih bersama grup vokal Obiet dan kawan kawannya, “Ji, lo kenapa sih jutek gitu dengan Acha sejak kemaren ? apa karena ada kakak gw di sini ?” tanya Keke karena penasaran dengan sikap sahabatnya itu, sejak kemarin, “hah ? maksud lo …” tanya Ozy kaget dengan pertanyaan Keke yang entah kenapa juga membuat mood Ozy jadi berubah, “iya Ji, secara kan gw tau kalo lo itu ada fell ke Acha ?” tanya Keke lagi,
“sotoy ah lo Ke !”
“jadi, kenapa donk lo jutek ke dia ? gak mungkin kan karena kemarin itu bonyoknya Acha dateng ? hhe …” tebak Keke asal tapi sebenarnya hal itulah yang membuat Ozy berubah sikap ke Acha,
“bener Ke, gw benci dengan orangtuanya Acha, dan gw lebih benci lagi kenapa mereka harus jadi orang tuanya Acha ?” jawab Ozy datar. mendengar hal itu Keke kaget bukan main,
“Zy ? apa ada sesuatu yang belum gw tau tentang lo saat ini ?”
Ozy mengangguk, dari matanya terbaca bahwa Ozy sedikit berapi saat ini (emosi –red),
“cerita donk Zy ke gw ?”
“ternyata, bokapnya Acha itu temen bokap gw, yang seharusnya berangkat ke batam …”
Keke kaget dan langsung menutup mulutnya, dia bingung kenapa semuanya bisa kebetulan gini ?
“sekarang lo udah ngerti kan Ke, kenapa gw benci dengan dia ?”
“tapi kan zy …”
“tapi apa ? lo masih mau nge belain Acha ? ngebelain ortunya juga ?”
Keke hanya terdiam mendengar suara Ozy yang mulai meninggi,
“kalo aja bokapnya gak minta bokap gw untuk bertukar posisi waktu itu, gw gak perlu ngedenger kabar itu pagi itu, dan gw juga gak bakal kecelakaan dan juga gw pasti akan baik baik aja dan . . . kita semua gak pernah kepisah satu jarakpun …” ujar Ozy sedikit berteriak, terdengar dari suaranya bahwa ia sedikit menyimpan dendam yang dalam atas kisah nya beberapa tahun lalu,
“tapi Zy, sekarang lo kan udah sembuh, lo juga udah ngumpul lagi dengan kita semua, dan gw yakin, Acha gak tau apa apa tentang yang terjadi sama lo dan apa aja yang di lakukan oleh bokapnya, iya kan ?” ujar Keke membantu meyakinkan Ozy bahwa tak seharusnya Ozy membenci Acha atas kesalahan orangtuanya,
“please Ke, gw lagi gak mau ngebahas hal ini, gw masih butuh waktu untuk nerima semuanya, sorry …”
“lo yakin ? apa perlu gw bantu ?”
“gak, gw baik baik ja, tapi makasih banget yah Ke, kalian tetep inget gw selama gw ilang ingatan, setelah ketemu lagi dengan kalian gw baru bisa ngerasain lagi kalau gw gak hidup sendirian . . .”
Keke tersenyum sejenak lalu ia mengacak ngacak rambut Ozy, “kita sahabat selamanya, dan kalau lo ngerasain lo gak sendirian lagi setelah ketemu kita, termasuk Acha juga kan ? lo gak benci kan dengan dia Zy ?”
“Ke ! gw mohon sama lo . . .”
“oke oke, gw gak bakal ngebahas hal itu lagi, tapi se enggaknya, lo cerita sama gw atau sama Rio atau Alvin ya, kalu lo ada masalah, minimal kita bisa bantuin lo ngeringanin beban lo …”
Ozy mengangguk dan beranjak dari duduk, lalu saat ia berbalik, tiba tiba matanya terbelalak kaget saat mengetahui ada seseorang di belakangnya, “A Acha . . . ?” ujar Ozy nyaris berbisik, Keke yang mendengar hal itu ikut berdiri dan berbalik, namun ia tak tau harus berkata apa, mereka sepertinya Acha mendengar seluruh pembicaraan mereka barusan, karena air muka Acha yang menyiratkan kekesalan serta kesedihan yang tertahan, “Ozy, gw gak pernah kan buat salah sama lo, terus kenapa lo harus benci sama gw ?” ujar Acha getir, “Cha, gini deh …” “udah Ke, lo gak usah ngomong apa apa, gw udah denger semuanya” potong Acha saat Keke berusaha menjelaskan, “tapi Cha …” suara Ozy tertahan karena Acha sudah lebih dulu berlari ke kamar, dan akhirnya mereka terdiam mematung karena tak tau harus melakukan apa.
~~~
          Acara sudah hampir dimulai, semua peserta juga seluruh undangan sudah berkumpul dalam satu ruangan megah, hari ini mereka semua akan mengakhiri rangkaian acara seminar dengan penuh suka cita, karena selama beberapa hari di karantina, mereka sudah mendapatkan cukup banyak bekal serta ilmu pengetahuan, dan juga yang terpenting ialah teman teman baru, para Divo sebutan untuk grup vocal Obiet dan teman temanya sudah memasuki panggung, lalu musik mulai mengalun, dan disana sudah terlihat bahwa ada Alvin di tengah tengah mereka, namun Rio tak ada disana, dan di tengah lagu, salah satu lampu sorot mengarah ke arah kursi penonton paling belakang otomatis semuanya melihat kearah tersebut, “syair dan melodi kau bagai aroma penghapus pilu gelora dihati bak mentari kau sejukan hatiku …” ujar Rio menyanyikan part lagu miliknya dan perlahan berjalan dengan tetap bersahut sahutan dengan teman temannya yang ada di atas panggung, dan menyusul mereka, “hatiku mekar kembali terhibur simponi pasti hidupku kan bahagia, pasti hidup ku kan bahagia …” ujar mereka mengakhiri lagu, dan seisi ruangan memberikan standing applause untuk mereka semua.
          Rangkaian demi rangkaian acara telah di lalui, kini saat yang di tunggu tunggu, yaitu pengumuman grup grup atau kelompok terbaik dari seluruh peserta yang telah mengikuti seminar ini, pembawa acara mulai menaiki panggung megah itu dan seluruh peserta telah duduk bersama kelompok masing masing di bagian penonton, “baiklah, sekarang saatnya saya membacakan nominasi penghargaan yang akan diberikan pada hari ini …” ujar pembawa acara tersebut mengawali kalimat kalimatnya.
          Ternyata sekolah yang mendapatkan juara umum ialah SMA Putera tempat Obiet, Lintar, juga Deva bersekolah, mereka memenangkan kategori ini karena perwakilan mereka mendapatkan nilai akumulatif tertinggi, meskipun Obiet dan Lintar tidak mengikuti karantina ini, tapi karena kebetulan mereka tadi mengisi acara bersama grup vocal Divo mereka, alhasil pada saat sekolah mereka di umumkan sebagai juara umum, mereka juga ikut naik keatas panggung, sedangkan Rio dan kawan kawan dari SMA 38 mendapatkan juara 2 umum atas kreatifitas dan jiwa seni mereka yang tinggi, lalu di lanjutkan dengan penghargaan penghargaan selanjutnya, dan yang terakhir adalah pengumuman peserta karantina terbaik yang hanya ada 1 dan kali ini bukan atas nama kelompok namun perindividu sesuai penilaian dewan juri selama karantina, “… dan peserta terbaik pada seminar tahun ini iyalah …” ujar si pembawa acara memberi jeda panjang sebelum menyebutkan siapa pemenangnya, “Mario Stevano !!!” ujar pembawa acara menyebutkan nama itu dengan lantang dan setelah si pembawa acara menyebutkan mana itu, sontak Alvin, Ozy, Keke, Nova, serta Dea menoleh ke arah Rio yang sepertinya belum menyadari bahwa namanya yang barusan disebutkan, “RIO !!!!” ujar mereka kompak memeluk Rio memberikan selamat, “hah ? please deh kalian kenapa sih ??” tanya Rio dengan tampang lugunya dan berhasil mendapatkan jitakan dari Ozy dan Alvin, lalu Rio perlahan berjalan menuju panggung, “selamat ya Rio . . .” ujar pembawa acara saat ia naik keatas panggung, dan juga disamput dengan ucapan selamat bertubi tubi dari Deva, Obiet, serta Lintar dan pemenang lainnya, yang sudah lebih dulu berada di atas panggung.
~~~
          Sudah 1 bulan hari itu meninggalkan mereka, kini mereka sudah kembali ke asrama dan kembali fokus bersekolah, saat ini Alvin sedang berjalan membawa setumpuk buku tulis menuju ruang guru, namun karena terlalu banyak membawa buku, akhirnya ia sedikit kesulitan untuk melihat jalan dan, ‘BRuk!’ buku buku yang ditangannya terjatuh dan sepertinya dia menabrak seseorang, “duh! Buset dah ni orang kalo jalan pake mata dong ?” ujar seseorang yang kini ada di depan Alvin, “yah sorry gw tadi gak liat jalan, maaf yah . . .” jawab Alvin sambil mengumpulkan buku buku yang berserakan, “lho ? Alvin ?” ujar orang itu lagi, “Nova ?? yaelah, gw kira tadi siapa”
“ngapain lo disini ?” ujar mereka bersamaan,
“hhha !! lo tu Vin yg lagi ngapain disini ? ini kan koridor asrama cewe ?”
Alvin menggaruk garuk kepalanya yang sama sekali gak gatal.
“woy. . .”
“hha, maklum Va ni gw mau nganterin buku ke ruang guru, bantuin gw ya ? lo gak lagi sibuk kan ?”
“hm,, oke tapi gak gratis yah !”
“hhuu… niat gak sih ?”
Nova tersenyum melihat raut wajah Alvin yang mendadak manyun.
“iya iya, dasar Koko ! sini gw bawain sebagian”
“nah gitu donk …” ujar Alvin kembali tersenyum, dan mereka berjalan beriringan menuju ruang guru. Ternyata, di tempat yang gak jauh dari mereka ada Rio dan Keke yang sedang menguping pembicaraan mereka, “hha, sejak kapan mereka jadi gitu sikapnya ?” tanya Rio menahan tawa melihat Alvin dan Nova tadi yang terlihat kaku satu sama lain, “hm, lo gak tau sih Iyo, mereka kan gitu sejak karantina sebulan yang lalu ?” jawab Keke sambil menyamakan langkah kakinya dengan Rio, “oh ya ?”
Keke mengangguk.
“kok gw gak tau ?”
“hhu, lo inget gak waktu itu kan pas malem terakhir sebelum besoknya kita pulang dari karantina, itukan hari ultahnya koko ? tau gak itu Nova yang punya ide buat kasih surprise ! hhe . . .”
“oh iya, gw inget yang si Nova ngebawain kue itu yah ? duh, kok gw bisa pikun gini sih” ujar Rio panjang, dan mereka asik cerita panjang tentang kedua sahabat mereka itu sembari mengelilingi lapangan asrama yang sore itu sedang ramai oleh siswa siswi yang sedang melakukan ektrakulikuler.
          Di tempat berbeda, Acha sedang duduk di danau belakang asrama sembari melemparkan batu batu kecil ke danau itu, dari wajahnya terlihat dia sedang tidak baik, lalu sebuah uluran tangan menyadarkan Acha dari lamunannya, tangan itu menggenggam sebuah ice cream cone, “ini buat lo. . .” ujar si pemilik tangan itu tersenyum pada Acha dan ikut duduk di dekat Acha, “elo ?” tanya Acha kaget, sedangkan orang itu hanya tersenyum,
“elo dah gak marah lagi sama gw ?” tanya Acha lagi, dan yang di ajak berbicara masih menjawab dengan senyuman dan anggukan,
“ini buat gw ?”
“iya, buat lo, anggep aja sebagai permintaan maaf gw ke elo”
“thanks yah Zy . . .”
“ya, sebebnernya gw kesepian juga dah gak pernah berantem lagi dengan lo sebulan ini”
“hah ??”
“iya, sebenernya gw gak berhak nyalahin elo atas kejadian beberapa tahun itu”
Acha terdiam menunduk sambil menatap ice cream yang ada di genggamannya,
“lo masih mau kan temenan sama gw ?”
“maksudnya ?”
“sahabat selamanya ?” tanya Ozy sambil mengulurkan jari kelingkingnya,
Acha tersenyum sejenak dan mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Ozy.
“hha gitu donk … Achantik !! hhee …” ucap Ozy senang sambil menggoda sahabatnya itu, tanpa sadar wajah Acha merona merah, tapi Ozy malah semakin menjadi untuk menjahili temannya itu, alhasil sore ini mereka sibuk saling beradu mulut sambil tertawa bersama khas anak seusia mereka di pinggir danau belakang halaman sekolah.
~~~
            Sejak saat itu, sejak aku menjadi siswa SMP, sejak dia menyapaku, sejak kami rajin bersepeda bersama, sejak kami mulai saling mengenal.
          Sejak saat itu, sejak dia menghilang, sejak aku menjadi murung, sejak sekolah menjadi hal yang membosankan bagiku.
          Sejak hari itu, sejak hari terakhir ujian kenaikan kelas, sejak aku mencarinya, sejak kami kehilangan sosok cerianya.
          Sejak itu sejak aku akan menyelesaikan sekolah menengah pertamaku, sejak aku mulai terbiasa tanpanya, sejak Alvin dan keke masih setia menemaniku mencarinya.
          Sejak saat itu sejak aku beranjak SMA, sejak aku takut terlupa akan kenangan bersamanya, sejak aku kembali melihatnya, sejak ia masih melupakan kami.
          Dan, sejak itu sejak persahabatan kami dimulai kembali, sejak ia pulih dari amnesianya, sejak ia kembali berada di tengah tengah kami.
Aku Mario Stevano kini telah kembali menjadi diriku sendiri, dan kehadirannya kembali ditengah tengah tengah kami, aku, Alvin dan Keke, juga menjadi kebahagiaan tak tertandingi bagi sahabat baru kami, Acha dan Nova, kami semua bersahabat dari dulu, dan hingga kini, juga selamanya ! sahabat selamanya . . . RIOZYKEVINCHA ^_^