Selasa, 26 April 2011

sedikit kisah dari alam bawah sadarku

Hari itu hujan membasahi tanah dengan gerimisnya yang sedikit membuat suasana menjadi hangat. Ada mata yang sedikit menyimpan dendam disana saat sepasang mata itu menatap kearah dua orang yang terlihat sedang berbincang sedikit berbisik bisik, lalu seorang diantara mereka pergi, menjauh dari kerumunan sebelumnya, termasuk meninggalkan lawan bicaranya itu. Setelah ia merasa bahwa keadaan sudah sedikit membaik, ia berniat kembali ketempatnya semula, dan berkumpul lagi dengan yang lainnya, namun ternyata ia justru bertemu dengan laki laki yang tadi sempat berbincang dengannya, setelah sempat beberapa kali mengelak dan menghindari laki laki itu, perempuan itu akhirnya menyerah dan dengan berusaha seolah tidak mendengar laki laki itu, perempuan itu terus berjalan, “tunggu! Kamu tahu ? dia marah pada ku saat ini, dia marah dan dia cemburu ! dia seolah kesal dan merasa bahwa aku tidak memperdulikannya ! padahal, kita sudah berusaha memintanya berhenti, tapi dia tidak mendengarkan kita” lelaki itu akhirnya berteriak di telinga perempuan tadi, tanpa menjawab sepatah katapun, karena ia tahu, mata itu masih memandangi mereka dengan sinis, meskipun sebenarnya perempuan ini enggan membantu lelaki itu, namun tiba tiba ia beranjak pergi menuju ruangan tempat wanita pemilik sepasang mata itu memperhatikan mereka sedari tadi, “tenang, yang sabar yah!” ujar perempuan itu saat meninggalkan laki laki itu sembari mengusap pundak laki laki itu secara sekilas. Lalu, keadaan seolah berubah dengan tiba tiba, wanita itu mengamuk dan dia marah! Padahal perempuan itu belum sempat berbicara apapun dengannya, mungkin karena emosinya yang sudah tak bisa ia tahan lagi, perempuan itu sengaja membiarkan aliran listrik membakar ruangan itu, seketika keadaan menjadi tegang, dan semuanya panik, termasuk perempuan itu, ia seakan ingin berlari, namun nyaris tak ada cela! Dan, kebakaran besarpun terjadi. . . .

Waktu berganti, cuaca jalan perumahan kecil ini sangat cerah hari ini, dengan menaiki kendaraan roda tiga, aku dengan perasaan antuias, tak sabar ingin melihat lokasi itu, yang dulu sempat terbakar hebat, terbakar oleh api kecemburuan dan dendam, namun tidak saat ini, tampat itu sudah kembali diperbaiki, dan entahlah, aku merasa sangat merindukan tempat itu, tempat itu ternyata belum berubah, masih seperti dulu, persis sebelum kejadian dahsyat itu terjadi . . . .




(17.20)