Selasa, 29 Maret 2011

Kisah cinta teladan 1

Para Ulama Salaf memahami standar kufu dalam menikahkan putri mereka adalah agama. Mereka tidak melihat harta dalam menikahkan putra-putrinnya tapi melihat kualitas iman,taqwa dan akhlak.Tak heran jika mereka lebih memilh yang miskin namun baik agamannya dari pada yang kaya namun kurang agamanya.
Kisah Said bin Musayyab dalam menikahkan putrinya adalah kisah keteladanan yang sangat indah penuh hikmah . Beliau memilki seorang anak putri yang sangat terkenal kecantikan , kecerdasan dan kesalehannya. Kabar itu sampai ketelinga Khalifah Abdul Malik bin Marwan dan putra mahkotanya yaitu Walid bin Abdul Malik di Damaskus.Khalifah datang ketempat Said bin Musayyab untuk meminang putrinya itu, untuk putra mahkotanya. Namun tampa keraguan sedikitpun Said menolak pinangan itu,meskipun ia harus menghadapi resiko yang tidak ringan.Karena menolak pinagan Khalifah ia sampai dicambuk sebanyak seratus kali.
Tak lama setelah kejadian itu,ia kembali mengajar di masjid nabawi.ia adalah seorang ulama dan maha guru yang sangat perhatian dan menyayangi murid-muridnya,ia selalu menayakan keadaan mereka, dan jika ada yang berhalangan hadir ia selalu menayakan,kenapa.Suatu kali ada seorang muridnya bernama Abdullahbin Abi Wada’ah tidak menghadiri pengajian. Ketika ditanyakan pada murid yang lainya,tidak ada yang tahu sebabnya. Beberapa hari berikutnya, Abdullah bin Abi Wada’ah hadir,Imam Said bin Musayyab langsung bertanya,
“Abdullah,kenapa kemarin tidak datang ?”
“Maaf Imam , kemarin istri saya meninggal dunia dan saya tidak sempat minta izin dan memberitahukan kabar ini pada Imam.”
“ Apakah kau sudah menikah lagi?’
“Semoga Allah merahmati Imam,siapakah yang sudi menikahkan putrinya denganku.Aku ini miskin tidak memiliki apa-apa kecuali hanya dua atau tiga dirham saja?”
“Akulah yang akan menikahkan kamu.”
“Banarkah?”
“ya,benar.Aku akan menikahkan kamu dengan putriku,jika kau mau.”
Dan jadilah saat itu juga Imam Said bin Musayyab menikahkan putrinya yang terkenal cantiknya itu dengan Abdullah bin Wada’ah,salah seorang muridnya yang miskin,dengan mahar hanya dua dirham.
Begitulah imam Said bin Musayyab lebih memilih laki-laki yang miskin namun ia tahu persis ketakwaan dan kedalaman ilmu agamanya. Ia tidak memilih putra raja yang kaya dan memilki kedudukan yang tinggi.ia sangat percaya bahwa putrinya akan selamat didunia dan diakhirat jika berda dalam bimbingan suami yang bertakwa. Betapa hati Imam Said takkaa menikahkan putrinya itu dapat dilihat dari cerita Abdullah bin Abi Wada’ah,