Jumat, 11 Juni 2010

Mak Comblang ala IDOLA™

Keke bergegas memindahkan semua pakaian yang ada di lemari kedalam sebuah
koper besar berwarna kuning, air matanya masih menetes deras dengan
suara sesegukan yang tertahan, setelah barang-barang yang ia butuhkan
sudah cukup ia langsung tancap gas meninggalkan rumahnya, “Halo, Zy ?
ini Gw Keke Loe bisa bantuin Gw nggak ? Gw tunggu Loe ditempat biasa ya
…” ujarnya menghubungi salah satu sahabatnya.
Mungkin kini sudah lebih dari satu jam Keke menangis tersedu-sedu di
pinggir sebuah danau yang terletak di halaman belakang kampus
tercintanya, Ozy yang dari tadi ditunggu-tunggu ternyata belum juga
datang padahal saat ini Keke sangat membutuhkan seseorang untuk berbagi,
“Keke ? ngapain Loe disini . . .” tanya seseorang yang sudah sejak
satu jam yang lalu memperhatikan Keke dari atas pohon, “Alvin . . .?” Keke
yang sudah hapal kebiasaan salah satu sahabat sekaligus seniornya itu
tidak terlalu kaget lagi karena cowok yang tadi namanya disebutin
sebenernya habitatnya emang di atas pohon, alias di hutan (kidding),
“eh, percuma lagi, Loe nangis cuma gara-gara nilai Loe turun, mendingan Loe
nangisin nilai Gw yang selalu diatas rata-rata . . . “ ujar Alvin dengan
maksud menghibur dari atas singgah sananya “yey, orang bukan karena nilai
kok . . .” jawab Keke yang terpaksa mendongakkan kepalanya untuk
berbicara dengan Alvin yang masih nempel di salah satu ranting pohon
tempat Keke bersandar, tak lama kemudian Ozy akhirnya datang dengan
membawa beberapa makanan ringan, “eh, sorry ya Gw telat abisnya Loe
mendadak sih nelponin Gw, jadi sebagai gantinya Gw bawain Loe buanyak
makanan . . .” ujar Ozy pada Keke yang sedikit kesal karena Ozy
terlihat tidak merasa bersalah sedikitpun, “Hey Bro ! turun dong, kita
ngemil bareng . . .” ajak Ozy pada Alvin teman sekelasnya sesama anak Musik, akhirnya mereka segera menikmati cemilan yang dibawa Ozy
sembari mendengarkan curhatan Keke, “o … jadi karena masalah itu Loe ampe
nangis termelet-melet begitu ?” tanya Alvin disela-sela cerita Keke, “hush
! termehek-mehek Cuy . . .” Ujar Ozy membenarkan kalimat Alvin, “iya,
kalian mau kan bantuin Gw ?” tanya Keke memelas, “bantuin apa ?” jawab Alvin dan Ozy kompak, “cariin Gw tempat tinggal dong . . . please !”
pinta Keke pada kedua sahabatnya itu, “ng, kalo menurut Gw . . . “ ujar Alvin menggantungkan kalimatnya, “ntar deh Gw mau mikir dulu, abis
resikonya besar nich !” lanjutnya lagi dan kembali memanjat pohon untuk
berfikir, “lebay banget sih Loe ? mikir aja harus di atas pohon segala
?” lagi-lagi Ozy mengomentari sahabatnya itu, “kalo menurut Gw, Loe
nggak usah pake acara minggat-minggat gitu deh, kasian Bonyok Loe . . .”
lanjut Ozy yang tidak menyetujui Keke kabur dari rumahnya, Keke yang
makin bingung karena belum tau mau kemana malam ini memutuskan untuk
pergi ke asrama putri milik sekolahnya yang pastinya dia aman untuk
beberapa hari ini, karena kamar asramanya yang berisi 2 orang sohibnya
selalu siap sedia untuk dia huni, kan emang udah di jatahin.
Pagi baru saja menyapa, Keke terbangun dari mimpi panjangnya saat cahaya
mentari terasa menusuk di matanya, ‘hhoeam . . .’ ujarnya berusaha
mengumpulkan semua tenaganya untuk bangun dari tempat tidur, “lho ? ini
dimana nih . . .” tanyanya saat ia melihat di sekelilingnya, “yaelah !
ternyata hanya mimpi toh Gw kabur dari rumah ? atau jangan-jangan
artinya mimpi itu adalah jalan keluar biar Gw bebas dari . . .”
‘tok-tok’ belum sempat Keke menyelesaiakan kalimatnya ada seseorang yang
mengetuk pintu kamarnya, “huhf, siapa lagi sih . . . ?! iya, Keke udah
bangun kok !” jawabnya dengan malas dan segera bernajak ke kamar mandi
karena hari ini anak-anak sekolah memasuki yang namanya semesteran,
sedikit bocoran nih Keke alias Angeline adalah seorang cewek yang cuek tapi
nggak terlalu tomboy ini sekarang sedang menjalankan sekolahnya di kelas 12 Sekolah Idola Internasional dan cewek yang selalu terlihat aktif
di acara-acara sekolahnya ini punya hobi yang amat sangat dia suka sesuai kelas yang ia ambil, yaitu bernyanyi.
Seperti biasa Keke selalu saja melengos pergi jika di ajak serapan oleh
kedua orang tuanya dengan alasan takut telat ke sekolah, padahal ia
menghindar dari pertanyaan orang tuanya yang selalu menanyakan sesuatu
yang nggak banget deh kalo jaman sekarang ini (kwkwkkw nggak usah
dibahas dulu ya . . .) jarak dari rumah menuju sekolah tercinta hampir
10 kilometer dan karena pagi ini ia sedikit terlambat bangun, terpaksa
kali ini Keke menerima keadaan terjepit di
kemacetan Jakarta, “humh, cerita apa nggak ya dengan anak-anak yang laen
? abisnya Gw jadi nggak konsen nih mau ujian kalo kepikiran masalah ini
terus . . .” gerutu Keke saat ia memutar kemudi mobilnya, dan memilih
parkir ditempat yang teduh, ternyata disana sudah menunggu para
sahabatnya yang sudah tiba lebih awal, “hey ! tumben Loe telat ?” sapa
salah satu dari mereka pada Keke yang baru saja turun dari mobilnya, “iya
nih, sekarang udah jam 6.45, biasanya juga Loe dateng jam 6.30 . . .”
lanjut seorang lagi, “aduh . . . Oliv dan Dea dua sahabat ku yang
cantik, kalian jangan bawel deh, lagian Gw kan baru telat 15 menit doang
?” jawab Keke sambil cipika-cipiki pada Oliv dan Dea, “oh iya, ntar
abis ujian kita ngumpul di tempat biasa ya, oke ?” tanya Ozy pada Keke
dan tentu saja Oliv dan Dea, “iya nih, kita harus masuk duluan, bye . .
.” ujar Alvin yang menyusul langkah Ozy, dan saat itu juga mereka
bertiga segera menuju kelas masing-masing.
Hari mulai terasa panas menyengat saat Keke dan para sahabatnya
berkumpul di salah satu pondok kecil di pinggir danau tepat di belakang sekolah mereka, tak ada satupun yang membuka obrolan untuk kali ini
mungkin karena mereka baru saja menyelesaikan ujian yang menurut mereka
cukup memusingkan, jam tangan Ozy saat ini tepat menunjukan pukul
12.34, “Hoeam . . . bosen nich disini terus, gimana kalo kita ke café
aja ? Gw yang teraktir deh” ujar Ozy membuka mulut, “oh iya, usul yang
bagus !” jawab Alvin dari atas pohon favoritnya, “iye, tapi ente turun
dulu dong . . .” ujar Oliv sembari beranjak dari tempat duduk, “ng . .
.” Keke mulai mengeluarkan suaranya meski nyaris tak terdengar, “Guys, Gw
lagi bingung banget nih . . .” akhirnya Keke merasa sedikit lega karena
ia bisa mengatakan hal yang dari tadi ia pikirkan, “kalian tau nggak ?
Bonyok Gw ngejodohin Gw dengan anak relasi bisnis mereka . . .” ujar Keke
tertahan bersamaan dengan itu Dea dan Olivia langsung mengelus-elus
pundak Keke, “Loe yang sabar ya ?” ujar Ozy yang ikut mengelus kepala Keke, “waduh ! gawat dong . . .” Alvin tak kalah kagetnya mendengar kalimat Keke barusan, mereka lalu bergegas menuju sebuah café yang biasa menjadi
tempat tongkrongan mereka jika kelima sahabat itu sudah merasa bosan
berada di sekolah, dan mulai berfikir mencari jalan keluar untuk masalah
yang kini sedang dihadapi Keke.
Malam ini diam-diam Keke merapikan pakainnya dan pergi melalui pintu
belakang yang tidak jauh dari jendela kamarnya, meskipun jam tangan Keke sudah menunjukan pukul 23.45, namun komplek perumahan elit
tempat ia tinggal memang selalu ramai karena masih banyak warga yang
beraktifitas atau hanya sekedar bersantai di depan teras rumah
masing-masing, ‘duh . . .Oliv mana sih ???’ tanyanya dalam hati sembari
sesekali melihat jam tangannya, karena yang ditunggu belum juga datang
ia memutuskan untuk berjalan kaki menuju gerbang komplek yang hanya
berjarak 100 meter dari rumahnya, sebenarnya ia cukup merasa takut
karena kini sudah lewat tengah malam dan tak ada seorangpun yang ia
kenali yang sedari tadi hanya berlalu lalang di depannya, “Hai . . .”
ujar seseorang menyapa, “ngapain Loe disini sendirian ? jangan bilang
kalo Loe nyasar dan nggak tau jalan pulang ?” ujar orang itu menebak
berusaha mengajak Keke ngobrol, “siapa sih Loe . . . ??? Gw nggak kenal
dengan Loe, jadi jangan ganggu Gw deh . . .” ujar Keke berusaha menjauhi
orang asing itu, “makanya, kita kenalan dulu dong ” ujar cowok itu lagi,
karena Keke merasa bahwa yang ngajak dia ngobrol itu anak baik-baik, Keke
sedikit berani menyebutkan namanya, “Keke . . .” ujarnya masih sedikit
ragu, “nah gitu dong, kenalan aja kok repot” cowok tadi mulai tersenyum
lebih lebar dari sebelumnya sesaat setelah ia berjabat tangan dengan Keke, “nama Gw Rio, Gw sekolah di Music High School Indonesia . . .” ujarnya lagi mencoba lebih aktif
mengajak Keke ngobrol, “Gw nggak nanya tuh” jawab Keke cuek, “ng. . . maaf
ya ? kalo menurut Gw anak cewek nggak baik malem-malem sendirian
diluar, gimana kalo Loe ikut Gw dan nginep di rumah Gw aja ? tenang aja,
Gw yakin Loe bakal betah . . .” rayu Rio lagi “. . . ng, gini dech,
sekarang kita telpon nyokab Gw biar Loe percaya, gimana ?”
“Loe bisa diem nggak sih ?! udah deh Gw itu nggak kenal dengan Loe, jadi mendingan
Loe tinggalin Gw sendiri deh …” Keke mulai merasa agak risih dengan
kehadiran Rio yang dari tadi SKSD banget ke dia, “yah, jangan marah gitu
dong nih Gw liatin KTP Gw, ini juga kartu pelajar Gw, dan . . . ”
“aduh . . . Loe ngerti nggak sih dari tadi Gw ngomong apa ?!” potong Keke pada Rio yang terlihat masih santai dan terus mencoba meyakini Keke
untuk ikut kerumahnya, sudah lebih dari 1 jam Rio mangajak Keke dan
merayunya agar mau ikut pulang bersamanya namun Keke tetap saja menolak
ajakannya, “awaaaas . . . !!! ada kantib . . .” ujar beberapa orang
berlarian menghindari patroli polisi yang tiba-tiba datang, tanpa
basa-basi lagi Rio langsung menarik tangan Keke agar Keke mau naik ke
mobilnya, detik itu juga ia segera tancap gas semaksimal mungkin, “Loe
apaan sih !” tanya Keke memberontak pada Rio, “duh, Loe mau apa kalo
malem ini kita nginep di kantor polisi ?” jawab Rio yang terus menambah
kecepatan mobilnya, “terus Loe mau bawa Gw kemana nih ? jangan-jangan
Loe mau jual Gw keluar negeri ya ? atau jangan-jangan . . .”
“sstt . . . pikiran Loe kotor banget sih ?” potong Rio sambil menutup mulut Keke,
“udah deh, ngaku aja ! Gw telpon Bonyok Gw sekarang juga kalo Loe nggak
mau stop !” ujar Keke menggertak Rio sambil mulai mencari-cari ponsel di
dalam tasnya, “telpon aja, bukannya Loe lagi kabur dari rumah ya?” tebak Rio tepat,
“kok . . . Loe bisa tau sih”
“kenapa ? heran ? kaget ? kok nggak jadi nelpon Bonyok Loe ?”
“mampus deh Gw . . .”
“siapa yang bakal mampus ? tenang aja kali, Gw nggak bakalan ngajak Loe
kamana-mana, oke ? percaya deh dengan Gw” ujar Rio pelan sambil memutar
kemudi mobilnya menuju salah satu perumahan mewah yang bangunannya
bergaya arsitektur perancis, Keke hanya diam dan pasrah karena
kebodohannya ini ia kini sama sekali tidak mengetahui apakah besok ia
masih bisa melihat matahari terbit di pagi hari atau justru lebih buruk
lagi ? mobil terhenti tepat di depan sebuah rumah dengan pagar yang
megah tinggi menjulang dan kalau dilihat-lihat rumah ini adalah rumah
yang paling mewah diantara rumah-rumah yang lainnya, “turun yuk, udah
sampe nih . . .” ajak Rio dengan senyuman yang sebenarnya tulus dari
hatinya, tapi justru mengerikan bagi Keke, “udah, nggak usah takut”
lanjut Rio sembari membantu Keke membawa tasnya, begitu memasuki ruang
depan alias ruang tamu dari rumah itu, Keke sedikit marasa lega karena
dari foto-foto yang terpajang di dinding, ia sedikit yakin bahwa yang
tinggal dirumah ini semuanya orang baik-baik, “ng, kenapa ? Loe kaget ya
? atau masih takut dengan Gw ?” tanya Rio pada Keke yang masih mematung
didepan pintu, ‘ini istana klasik yang cantik banget, tapi . . . ih
serem ! jangan-jangan cuma luarnya aja yang begini ? tapi ntar
orang-orangnya . . .’ ujar Keke di dalam hati bertanya-tanya, “nah, itu
Nyokab Gw . . .“ ujar Rio saat ada seorang wanita yang kira-kira umurnya
nggak jauh berbeda dari mamanya Keke, “Rio, dari mana aja kamu jam
segini baru pulang ?” ujar wanita itu saat Rio mencium tangannya, “ng,
ini Bunda, Rio tadi abis jemput cinderela dipinggir jalan, kan kasian
Bun, kalo dia sendirian malem-malem gini ?” jawab Rio sedikit bergurau
dengan bundanya, “oh ya ? siapa namanya sayang ?” tanya wanita itu ramah
pada Keke, namun ia masih ragu untuk menjawab, “eng, namanya Keke Bunda
oh iya Bun, Rio mandi dulu ya ? udah ngantuk nih, tadi abis sekolah
langsung main dengan temen-temen” ujar Rio mewakili Keke dan segera
meninggalkan Keke dan Bundanya berdua saja, “nak Keke, kenalin Tante
mamanya Ryo kamu cukup panggil tante Bunda aja ya ? sini Bunda antar
kamu ke kamar kamu pasti capek kan ?” ajak wanita itu ramah, namun Keke
masih merasa ragu dan belum bisa percaya seratus persen pada wanita itu
dan juga anaknya, meskipun sebenarnya ia sudah tidak terlalu cemas lagi
seperti sebelumnya.
Kini Keke masih terdiam di atas sebuah tempat tidur yang juga bergaya
klasik, ia masih bingung apakah kini ia ada di posisi yang aman atau
justru sangat berbahaya ? karena ia masih sangat merasa takut, matanya
sama sekali tidak bisa terpejam walaupun sesungguhnya ia sangat merasa
ngantuk malam ini, lalu ia memutuskan untuk tetap terjaga hingga pagi
tiba, kini jam di dinding kamar itu sudah menunjukan pukul 5.43 ia
memutuskan untuk bergegas mandi karena apapun yang terjadi nanti, ia
tidak akan bisa menebak dan sebenarnya yang ada di kepalanya saat ini
adalah ujian semester yang hari ini masih berjalan, tepat pukul 6.35
pintu kamar terbuka, walaupun sebenarnya semalaman pintu itu tidak
terkunci namun Keke tetap takut untuk melangkah keluar, “Pagi sayang,
kamu sudah rapi ya ? kita sarapan bareng yuk ?” ujar Bunda menyapa Keke
yang terlihat sedikit kaget, “iya, ng . . . Bunda” jawab Keke berusaha
memberanikan diri, “kamu sekolah pagi ini kan ? nanti kamu perginya
bareng dengan Rio aja, biar dia yang anterin kamu sampe di tempat, nggak apa-apa kan sayang ?” ujar wanita itu lagi penuh
perhatian, Keke segera mengambil tas miliknya dan mengikuti wanita itu
dari belakang, sesampainya diruang makan, tentu saja Rio sudah lebih
dulu duduk manis di salah satu kursi makan, “Yah, kenalin ini Keke cantik
kan Yah ? nah nak Keke, ini suami Tante, karena kamu memanggil tante
dengan sebutan Bunda, jadi nggak ada salahnya kan, kalau kamu memanggil
suami Bunda dengan sebutan Ayah juga ? . . .” ujar wanita itu
memperkenalkan Keke pada suaminya, “nah kalau yang ini namanya Zeva, dia
anak bunda yang paling kecil dan sekarang baru kelas 11, karena anak
Bunda cuma ada dua, yang besar ya si Rio itu, dan yang kecil Zevana . .
.” lanjutnya lagi masih dengan senyuman yang tak pernah hilang dari
wajahnya, dan mulai mengajak Keke untuk sarapan bersama.
Sepanjang perjalanan menuju sekolahnya, Keke masih tetap mengunci
mulutnya rapat-rapat, meskipun Rio sudah beberapa kali memancing obrolan
agar Keke mau di ajak ngobrol, “oke kita udah sampe tuan putri silahkan
turun . . .” ujar Rio sembari membukakan pintu Mobil agar Keke turun,
“ng ? kok Loe bisa tau kalo Gw sekolah disini ?” tanya Keke kaget, “asal
nebak aja !” jawab Rio santai, Keke yang semakin curiga dan sedikit
merasa takut, bergegas turun dari mobil dan berjalan meninggalkan Rio,
“eits, jangan lupa ya jam 2 teng Gw jemput disini, otre ?” teriak Rio pada Keke yang sudah cukup jauh dari mobilnya, namun Keke tidak
menggubrisnya sedikipun dan pura-pura tak mendengar.
Waktu baru menunjukan pukul 11 pagi namun kelas Keke sudah keluar lebih
dari setengah jam yang lalu, ia sengaja tidak mencari para sahabatnya
karena ia sedang ingin menyendiri, semilir angin yang bertiup membuat Keke sedikit merasa tenang dari kegundahannya meskipun semalaman ia tidak
tidur, namun ia tak merasa mengantuk sedikitpun, ‘aduh . . . gimana nih
?’ ujarnya terus bertanya di dalam hati karena ia sangat bingung dengan
keadaan yang kini ia hadapi, “hey Jeng Keke, what’s up honey ?” sapa Alvin
yang tanpa sengaja melintas di depan Keke, “eh, Elo ?” ujar Keke menutupi
kegelisahannya, “kenapa sih Loe, kok muka Loe ditekuk gitu ?” tanya Alvin
yang mengambil posisi duduk tepat di samping Keke, tanpa menyebutkan
sepatah katapun, Keke langsung merangkul lengan Alvin dan bersandar di
pundak sahabatnya itu, “eh buk, Gw barusan nanya sama Elo, kenapa Loe
kusut banget ???” ujar Alvin mengulang pertanyaannya, Keke masih diam tanpa
kata dan dari tatapan kosongnya Alvin sebenarnya merasa nggak tega dengan
sahabatnya itu, sudah hampir satu jam lebih Keke mengunci mulutnya dan
tanpa sadar ia tertidur perlahan, entah kenapa ia sangat merasa tenang
saat ini, Alvin yang mengetahui bahwa Keke terlelap di pundaknya juga tak
ingin mengganggu namun ia segera mengambil ponselnya dan menelepon
seseorang.
Saat membuka matanya Keke sadar kalau saat ini dia sudah tidak lagi
berada di taman belakang sekolahnya atau pun di pinggir danau, namun ia
kini sudah ada di dalam sebuah kamar yang kemarin malam ia tempati, ‘loh
? kok Gw bisa ada di kamar ini lagi sih ?’ tanyanya dalam hati dan
segera bangkit dari tempat tidur ia pun duduk disalah satu kursi yang
menghadap kejendela, ‘ttok . . . ttook’ terdengar ketukan pintu yang
membuyarkan Keke dari lamunannya, “hai K’ . . .” ujar seseorang yang
muncul dari balik pintu kamar, “Zeva ?” jawab Keke sedikit kaget,
melihat Zevana yang datang sembari membawa makanan untuk Keke, “ini untuk
Kakak, K’ Keke cantik deh . . .” ujar Zevana sembari tersenyum polos,
“ng, terima kasih ya Zeva . . .” jawab Keke mencoba tersenyum pada Zevana
yang kelihatannya baru saja pulang dari sekolah karena ia masih memakai
seragamnya, “K’ . . .” panggil Zevana lagi pada Keke yang masih menatap
kosong kearah jendela, “Kakak mau kan jadi Kakak Zeva ?” lanjut Zeva
yang beranjak keluar dari kamar, “ng, iya . . .” jawab Keke singkat,
setelah Zevana pergi dan pintu kamar kembali tertutup ia tak juga segera
menghabiskan makanan yang dibawakan Zevana tadi, namun ia justru terus
bertanya pada dirinya sendiri ‘apa yang kini sedang terjadi di hidupnya ?
apakah ini adalah sesuatu yang menyenangkan, atau mungkin hal ini akan
terus berlanjut di hari-hari dia berikutnya ?’ ia terus mengulang-ulang
pertanyaan itu hingga sang mentari pun perlahan redup.
Keke baru saja selesai mandi saat jam dinding menunjuk ke pukul 5 sore
dan ia kini sudah merasa lebih baik dari pada sebelumnya, saat ia
melihat piring makanan yang tadi siang dibawa oleh Zevana untuknya, ia
pun tidak bisa berbohong pada dirinya sendiri kalau saat ini ia memang
sangat merasa lapar dan meskipun ia sedikit ragu, akhirnya makanan itu
ia lahap hingga tak bersisa, ia memutuskan untuk berfikir seolah tak
terjadi apa-apa dan mencoba untuk lebih terbiasa di tempat yang
menurutnya masih sangat asing ini, Keke melangkah menuju tas miliknya dan
mengambil sebuah buku untuk membaca bahan ujian yang mungkin besok akan
muncul, tepat pukul 7 malam, Rio mengetuk pintu kamar Keke dan begitu ia
masuk, ia melihat Keke yang ternyata begitu serius membaca hingga ia tak
menyadari keberadaan Rio disana, “ehm, selamat malam tuan putri . . .”
sapa Rio sesaat setelah ia menunggu selama 15 menit, “eh, Elo ? ngapain
Loe disini ?” tanya Keke kaget, “ng . . . tenang, Gw cuma pengen ajak
Loe makan di luar gimana ?” tanya Rio menawarkan Keke untuk makan malam,
“ng ?” ujar Keke nggak ngerti, “iya K’ kita makan malem bertiga diluar,
mau ya K’ . . .” celetuk Zevana yang baru saja muncul, “ya udah, Gw
tunggu 10 menit lagi ya di bawah, okey ? dan Loe tinggal pilih aja baju
apa yang mau Loe pake, semuanya ada tuh di lemari . . .” ujar Rio
sambil lalu meninggalkan Keke bersama adiknya untuk menyiapkan
mobil terlebih dahulu, Keke sempat berfikir mungkin jika ia ikut ia akan
sedikit mendapat angin segar untuk me-rileks-kan pikirannya, maka dari
itu ia pun segera bersiap untuk ikut makan malam bersama Rio dan tentu
saja Zevana.
Sudah hampir dua jam lebih Keke, Rio dan tentu saja Zevana menikmati
santap malam mereka di salah satu restoran khas Italy dan mereka tidak
berhenti bercanda tawa, saling melempar tebakan-tebakan yang mengocok
perut, jujur Keke yang anak tunggal alias anak satu-satunya memang tidak
pernah merasakan keakraban kakak adik yang kini ia rasakan dan
membuatnya sangat merasa bahagia, ia sudah mulai bisa berbaur dan tidak
lagi merasa kaku baik dengan Rio atau pun Zevana, “oh iya, udah hampir
jam 10 nih, gimana kalau kita nonton pesta kembang api aja ?” ujar Zevana
yang tiba-tiba merubah topik pembicaraan, “pesta kembang api ?” tanya Keke dan Rio kompak, “cie . . . ngomongnya kok bisa bareng gitu ” ledek Zevana pada keduanya dan membuat wajah keduanya sedikit memerah, “iya K’
pestanya ada di daerah Tamrin, kesana yuk ? mau ya Bang . . .” lanjut Zevana sedikit memohon pada Rio, “gimana ?” tanya Rio pada Keke, “terserah
sih” jawab Keke singkat, dan tanpa berlama-lama lagi mereka bergegas
menuju tempat berlangsungnya pesta kembang api tersebut.
Setibanya di tempat pesta kembang api, tak ada Satupun dari mereka yang
turun dari mobil, karena jalan yang cukup padat oleh kendaraan dan
mereka tidak bisa melihat secara dekat, “hei, Loe ngomong kek ?” tegur Rio yang melihat Keke yang hanya diam sejak tadi, “ng, Loe suka denger
musik nggak ?” tanya Keke pada Rio, “musik ? tentu aja! ” jawab Rio sambil
tersenyum lebar, “kalo gitu, kenapa tape mobil Loe nggak pernah di
nyalain ?” tanya Keke pada si tuan yang punya mobil, “hhe, abisnya Gw
takut ntar Loe nggak suka kalo Gw idupin ?” jawab Rio sembari menyalakan
tapenya, “tapi buka radio aja ya ?” pinta Keke lagi, “oke tuan putri
mau channel berapa ?” tanya Rio senang karena Keke sudah mau ngobrol
dengannya, “terserah Loe aja” jawab Keke singkat, “oke, gimana kalau kita
dengerin ICL Radio aja ?” tanya Rio menawarkan pada Keke, tapi sebelum Keke
menjawab ia sudah menyetel channel tersebut lebih dulu, ‘hai sobat ICL
semuanya, masih bareng Gw Oky di sini, di ICL radio, staytune favorit
tongkrongannya para idola ! . . .’ terdengar suara penyiar yang sudah
nggak asing lagi di telinga Keke ataupun Rio, Keke tak menyangka bahwa Rio
juga punya hobi yang sama sepertinya yaitu mendengarkan ICL radio ini,
“Loe suka banget ya ngupingin ni radio ?” tanya Keke pada Rio saat suara
si penyiar menghilang dan berganti dengan sebuah lagu, “ya iyalah . . .”
jawab Rio sembari memukul-mukulkan tangannya pelan di atas kemudi mobil
mengikuti lagu yang sedang terdengar, mereka lalu terus berbincang
tentang radio favorit mereka ini, ditemani dengan warna-warni kembang
api yang sudah mulai menghiasi langit di malam itu, meskipun mereka
hanya bisa melihat dari jarak 20 meter dari tempat kembang api itu
dinyalakan, namun Zevana terlihat sangat menikmati pemandangan malam itu
dan tidak ingin mengganggu keasyikan Rio dan Keke yang dari tadi hanya
sibuk berdua.
Hari ini adalah hari terakhir ujian semester, dan sudah beberapa hari
terakhir ini Keke tidak melihat satupun batang hidung sahabat-sahabatnya,
karena setiap ia selesai ujian Rio selalu lebih dulu datang untuk
menjemputnya, “Io, Gw kangen banget nih dengan temen-temen Gw . . .”
ujar Keke ketika ia sedang makan siang bareng Rio saat mereka sudah tiba
di rumah, “oh ya ? emang temen Loe pada kemana ?” tanya Rio balik,
“ng . . .”
“ya udah, besok kan weekend tuh ? gimana kalo besok kita jalan bareng
temen-temen Loe ?”
“ng ? itu dia masalahnya hp Gw ketinggalan di rumah dan Gw juga bingung
nih kok mereka nggak pernah nyariin Gw sih di sekolah ?”
“hp Loe ketinggalan ? kok bisa ?”
“ya bisa lah, namanya juga kabur dari rumah, kalo ntu hp Gw bawa yang
ada ntar bonyok nelponin terus . . .”
“oh, ya udah kalo gitu . . . Gw punya ide bagus !”
“ide apa ?”
“ada deh, yang jelas Gw janji besok Loe bisa ketemu dengan sohib-sohib
Loe ” ujar Rio berteka-teki, setelah selesai makan siang, Keke segera
menuju teras belakang yang beberapa hari ini sudah menjadi tempat
favoritnya, ‘duh . . . Bonyok pa kabar ya ?’ tanyanya dalam hati sembari
duduk di ayunan gantung yang terbuat dari bambu sembari memandang
halaman sekitar yang serba hijau dan terdengar gemericik air yang
mengalir dari kolam seolah berada di hutan tropis yang sejuk, “siang
sayang lagi melamun ya ?” sapa Ibunya Rio yang sepertinya baru saja
pulang dari aktifitasnya, “eh, siang Bunda” jawab Keke dengan senyuman
khasnya, “nggak kok Bun, Keke lagi santai aja ” jawab Keke lagi,
“kalau begitu, sekarang kamu ikut Bunda dan Zeva ya ?”
“kemana Bunda ?”
“belanja . . .”
“belanja Bunda ?”
“iya, biasanya Bunda selalu belanja bareng dengan Zeva setiap dua
minggu sekali, kamu mau ikut kan sayang ?”
“tapi Bunda . . .”
“udah, ikut aja ya ? kamu bisa nyetir mobil kan ? jadi kita nggak usah
pake supir ”
“bisa sih Bun . . .”
“nah bagus dong kamu siap-siap sekarang juga ya ? Bunda tunggu loh, Zeva juga lagi ganti baju tuh di kamarnya” ujar Bunda pada Keke dan ia
segera menuju ruangan depan, Keke pun segera bersiap untuk menemani Zevana
dan juga Bundanya berbelanja, yah itung-itung cuci mata katanya.
Waktu sudah hampir menunjukan tengah malam, Keke masih tidak bisa
memejamkan matanya karena ia begitu kangen dengan semua sahabatnya,
meskipun kini ia sudah memiliki teman baru namun ia tetap saja
merindukan kehangatan persahabatan yang biasanya selalu ia rasakan
kapanpun dan dimanapun ia berada, ia lalu memutuskan untuk keluar kamar
dan melangkah ke kamar Rio yang letaknya tidak jauh dari kamarnya, “Io,
ini Gw Keke . . .” ujar Keke sambil mengetuk pintu kamar Rio, “Hm Keke ?
masuk aja nggak di kunci kok . . .” sahut Rio dari dalam kamar, “Loe
lagi ngapain ? Gw kira Loe udah tidur ?” tanya Keke menyusul Rio yang
sedang duduk di beranda kamarnya, “lagi ngeliatin bintang” jawab Rio
tanpa memalingkan pandangannya menatap langit malam yang berwarna biru
kehitaman dan bertabur bintang yang berkilauan bak permata di angkasa,
“oh . . . hm, Gw nggak nyangka ternyata Loe suka juga menikmati langit
malam” ujar Keke sembari tersenyum simpul kearah Rio, sejenak mereka
hanya terdiam memandang langit malam itu entah apa yang ada dipikiran
mereka masing-masing yang jelas Keke sangat merasa aman bila ada di dekat Rio, seorang cowok yang tanpa sengaja bertemu dengannya saat ia berniat
kabur dari rumahnya, “Rio, thank’s banget ya ? Loe udah mau jadi temen
Gw . . .” ujar Keke pada Rio yang berdiri disampingnya, “he ? . . .”
belum sempat Rio menjawab, dering ponselnya berbunyi pertanda ada telpon
masuk, “halo . . .” jawab Rio pada orang di sebrang sana dan berdiri
menjauh dari Keke, hampir 1 jam lebih ia sibuk berbicara pada orang yang
menghubunginya itu, Keke yang merasa sedikit jenuh menunggu segera
mengambil sebuah gitar yang ada di dekatnya, dan memainkan gitar itu
mencoba mengalihkan pikirannya yang sedang kacau balau saat ini, “hei,
Loe jago juga maen gitarnya ” puji Rio yang ternyata sudah selesai
menelpon, “ nggak kok . . .” jawab Keke yang terus memainkan gitar
tersebut, “oh iya Loe tadi mau ngomong apa ?” tanya Rio yang teringat
bahwa Keke tadi sempat menanyakan sesuatu padanya sebelum ia menerima
telpon, “ha ? nggak kok, lupain aja ” jawab Keke berusaha menyimpan
kata-kata itu hanya untuk dirinya saja dan memperlambat petikan
gitarnya,
“bener nih ?”
“iya . . .”
“ . . .”
“oh iya, besok rencananya Gw pengen balik ke rumah Bonyok Gw . . .”
“apa ?!”
“ng ? kok Loe segitu kagetnya sih ?”
“ng . . . oh, nggak apa-apa kok Gw seneng aja dengernya”
“. . .”
“tapi, katanya Loe besok pengen ketemu dengan sohib-sohib Loe ?”
“iya sih, tapi menurut Gw kalo Gw balik besok, mungkin Gw bisa bicara
baik-baik dengan Bonyok Gw”
“bicara baik-baik ?”
“iya, Gw kabur dari rumah karena mereka pengen ngejodohin Gw dengan anak
relasi bisnis Bokap . . .”
“oh, terus ?”
“ng . . . menurut Gw kalo Gw terus-terusan kabur dari rumah masalah ini
nggak akan pernah selesai”
“apa Loe yakin kalo Bonyok Loe bakalan setuju dengan penolakan Loe ?”
“hm ? Gw kan belom bilang kalo Gw bakalan nolak ?”
“eh, iya maksud Gw . . .”
“emang sih Loe bener, Gw bakalan menolak perjodohan itu tapi kalau emang
hal itu nggak bisa dihindarin, ya Gw juga nggak mau kalau nanti malah
di cap sebagai anak yang durhaka . . .”
“iya sih, Loe yakin Bonyok Loe nggak akan marah saat Loe balik ntar ?”
“marah ? nggak tau deh”
“jadi, besok serius nih Loe mau balik ke rumah Loe ?”
“iya . . .”
“. . . ”
“kok muka Loe manyun gitu ?”
“ha ? masa sih . . .”
“iya tuh jelek banget ”
“abisnya, masa sih Loe bentar banget disini ?”
“bentar ? bentar dari mana ? Gw disini udah 2 minggu lebih Rio . . .”
“iya ya ? masa sih ? kok Gw ngerasa baru kemaren ya ?” tanya Rio sembari
menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal sama sekali, “ya udah
Gw balik ke kamar Gw ya ? nice dream Io . . .” ujar Keke beranjak
meninggalkan Kamar Rio, “oke, nice dream to . . .” jawab Rio sembari
menelpon kembali seseorang yang tadi sempat menelponnya, “halo ? bilang
dengan yang lain besok nggak jadi ngumpul di rumah Gw, karena dia udah
mau balik kerumahnya . . .” ujar Rio pada seseorang disebrang sana.
Pagi ini Keke sedang bersiap untuk pulang kerumahnya, meski sebenarnya ia
ingin sekali untuk tetap labih lama di sini, bersama Ayah, Bunda, Zevana
dan tentu saja Rio, namun ia tak mungkin terus-menerus disini, “Ke . .
.” panggil Rio yang melintas di depan kamar Keke dan melihat Keke yang
sedang bersiap pulang, “eng ? napa Io ?” jawab Keke singkat, entah kenapa
ia kali ini tak memiliki keberanian menatap mata Rio, “Loe serius mau
balik ke rumah Loe ?”
“iya,”
“Gw anterin ya ?”
“boleh”
“rencananya jam berapa Loe mau pulang ?”
“pagi ini”
“beneran nih mau pulang hari ini ?”
“bener”
“Loe tega ninggalin Gw sendirian disini ?” tanya Rio dan membuat Keke
menghentikan aktifitasnya.
Tanpa menjawab pertanyaan Riyo, ia langsung memeluk Rio erat dan air mata yang dari tadi tertahan akhirnya menetes
deras, meskipun ia sendiri tak tahu mengapa ia harus menangis, namun ia
benar-benar berharap kalau ini bukanlah pertemuannya dengan Rio untuk
yang terakhir kalinya, “Keke ?” panggil Rio menyadarkan Keke dari
lamunannya, “eh, sorry . . .” jawab Keke sembari melepaskan pelukannya,
“ternyata seorang Keke bisa nangis ya ?” ujar Rio tersenyum simpul
sembari mencubit hidung Keke yang mancung, “hhe, jangan-jangan Loe suka
ya sama Gw ?” tanya Rio lagi,
“ih . . . ge-er banget sih, Gw lagi takut aja kalo sampe rumah ntar
Bonyok marahin Gw abis-abisan”
“oh ya ? bukan karena Loe takut pisah dengan Gw ?”
“nggak kok”
“beneran ? ya udah kalo gitu kita buat janji ya ?”
“janji . . .”
“iya kita buat janji kalo kita nggak bakalan ketemuan lagi selamanya !”
“loh, kok gitu ?”
“ng, habisnya Loe udah buat Gw patah hati nih . . .” ujar Rio sambil
melangkah keluar kamar meninggalkan Keke yang masih berdiri mematung,
“Rio . . . ! awas Loe ya, suka banget sih becanda kelewatan ?!” teriak Keke kesal, padahal sebenarnya ia sangat merasa lega mendengar kalimat Rio barusan.
Sudah 3 hari ini Keke berdiam diri di kamarnya, bukan Karena Papa atau
Mamanya menghukumnya karena dia kabur dari rumah, namun karena ia memang
sedang kurang sehat, dan sejak 6 hari yang lalu, saat ia kembali ke
rumahnya, ia sama sekali belum sempat menghubungi sahabat-sahabatnya,
karena ia sedang ingin menyendiri untuk beberapa hari ini, “Keke . . .”
panggil Papa dari luar kamarnya, “masuk Pa, “jawab Keke dengan suara
tertahan,
“gimana keadaan kamu ?”
“huhf, udah baik kok Pa, mungkin Keke cuma terlalu capek aja Pa . . .”
“kalau begitu, kamu mau nggak ikut Papa sama Mama besok ?”
“kemana Pa ?”
“kebetulan Papa ada tugas di Belanda sekitar 2 sampai 3 minggu, kalau
kamu mau ikut, nanti Papa pesankan tiket untuk kamu”
“Belanda Pa ?”
“iya, tapi kalau kamu masih sakit ya nggak usah di paksain”
“Keke mau banget Pa, tapi . . .”
“tapi kenapa ?”
“ah, nggak kok Pa . . .” jawab Keke berusaha menutupi sesuatu, di dalam
hati ia berharap semoga saja besok ia sudah bisa perlahan menghapus
bayang-bayang Rio dari pikirannya, karena ia sudah bodoh meng-iyakan
perjanjian yang dibuat Rio agar mereka tak berhubungan lagi sama sekali.
Di sepanjang perjalanan, Keke masih terus mengunci mulutnya sembari
bersandar dibahu Mamanya, hari ini ia sekeluarga akan bertolak ke
Belanda untuk menemani Papanya tugas disana sembari mengisi waktu
liburan, “Ma . . .” bisik Keke pada Mamanya nyaris tak terdengar, “kenapa
sayang ?” jawab Mamanya lembut,
“maaf ya Ma, waktu itu Keke nekat kabur dari rumah . . .”
“sst . . . nggak pa-pa kok sayang, yang pasti Mama sama Papa berharap
kamu sudah bisa mengambil keputusan tentang perjodohan itu”
“apa ? maksud Mama . . . ???”
“iya, kamu mau kan tunangan dengan anaknya Om Joe, rekan bisnis Papa”
“tapi Ma . . .”
“nggak ada tapi tapian Ke . . .”
“ . . .”
“karna mereka sekarang sudah nungguin kita di bandara”
“serius Ma ? Pa ?”
“iya . . .” jawab Papa dan Mama kompak, “tapi, Keke nggak mau tunangan
dengan orang yang nggak Keke kenal Ma, please jangan paksa Keke dong . .
.” ujar Keke lagi memohon pada kedua orang tuanya, namun Papa dan Mamanya
hanya tersenyum penuh misteri.
Setibanya di bandara, Keke cukup kaget karena semua sahabatnya yang
sebenarnya sangat ia rindukan itu, ternyata sengaja datang untuk
mengantarnya “Keke . . . pa kabar best plen ku ?!” teriak Dea dan Olivia yang langsung memeluk Keke bersamaan, “duh, Gw baik kok pa kabar
kalian semuanya ?” jawab Keke nggak kalah senangnya, “Gw ? Gw atau si Pak Alvin yang Loe tanyain ?” tanya Ozy balik dengan gaya khasnya, “ya
kalian berdua lah . . .” jawab Keke yang masih merasa kaget dengan
kehadiran keempat teman sekolahnya, “kita berdua baik neng . . .” jawab Alvin yang kali ini terpaksa duduk di atas kursi ruang tunggu bandara
karena di sana nggak ada pohon yang bisa ia dudukin, mereka semuanya
terlihat larut dengan canda gurau dan kekocakan masing-masing sembari
menunggu Papa dan Mama Keke memeriksa barang, “nah, itu dia Om Joe dan
keluarganya . . .” ujar Mama pada Keke dan yang lainnya sembari menunjuk
kearah yang ia maksud, tentu saja baik Papa, Keke dan semua
teman-temannya reflek menoleh kearah yang ditunjuk Mama tadi, “pagi Mb’ Romi
. . .” sapa Mama Keke pada wanita yang sepertinya sudah tidak asing lagi
dimata Keke, “Bunda . . . ???” ucap Keke kaget, “pagi K’ . . .” sapa Zevana yang berdiri membuntuti Bundanya, Keke masih merasa kaget bukan
main, seluruh pikirannya berputar entah kemana, saat ia tahu bahwa Om Joe yang di maksud kedua orang tuanya itu adalah Ayahnya Rio, “pagi nak Keke apa kabar sayang ?” tanya Bunda pada Keke yang masih mematung
kehilangan kata-kata, “Tante Ira, kok Keke nya diem aja sih ?” tanya Rio
dengan senyum usilnya pada Mama Keke, “duh. . . ini pasti gara-gara
idenya Ozy dengan yang lain deh kalian aja ya, yang ngejelasin . .
.” jawab Bunda yang hanya bisa menahan tawa karena melihat Keke yang
masih belum bisa berkata apa-aapa karena begitu terkejutnya ia.
Pesawat sudah lepas landas dan kini Keke hanya fokus melihat kejendela
luar pesawat dan mengamati jejeran awan putih dan langit biru yang luas membentang, ia berusaha melupakan masalah yang
hampir satu bulan ini ia hadapi, dan ternyata orang-orang di balik
semua ini adalah Olivia yang sengaja tidak menjemputnya yang malam itu
berniat kabur dari rumah, Alvin yang ternyata sengaja menghubungi Rio
untuk menjemput Keke sewaktu ia sedang terlelap di pinggir danau, dan
tentang kantib yang sebenarnya itu semua akal-akalan Ozy dan Dea
karena melihat Keke yang sangat susah di bujuk oleh Rio pada malam itu. Kini
yang duduk di samping Keke tentu saja bukan Zevana ataupun salah satu
orang tuanya, bukan juga salah satu orang tua Rio, namun Rio sendiri
yang kini duduk disampingnya, “Ke. . . ngomong dong dari tadi kok diem
aja sich ?” panggil Rio untuk kesekian kalinya dari tempat duduk yang
persis bersebelahan dengan Keke, “mau ngomong apa ?” tanya Keke yang
akhirnya mau juga membuka mulutnya, “Loe marah ya dengan Gw . . .?”
“menurut Loe ?”
“iya maaf deh kalo Gw maennya kelewatan, ini juga kan idenya Ozy dan sohib-sohib Loe yang laen . . .”
“Gw nggak nanya kok”
“tuh kan, Loe jangan ngambek dong . . . please, maafin Gw ya ?”
“ . . .”
“Keke, masa sih Loe mau uterus-terusan cuekin Gw gini sih ?”
“bodo amat”
“terus, gimana dong tentang perjodohan yang Loe certain ke Gw waktu itu ?”
“gimana apanya ?”
“iya, Loe udah ambil keputusan belom ?”
“keputusan apa ?”
“ng, Loe mau nggak tunangan dengan Gw . . . ?”
“yei ! enak di Elo nggak enak di Gw dong . . .” jawab Keke sewot dengan sedikit senyuman
khasnya, “nah gitu dong senyum . . .” ujar Rio lagi,
“. . . ”
“itu tandanya, Loe mau dong di jodohin ? bukannya kemaren nggak mau neng ?”
“emang kata siapa Gw mau ? apa lagi di jodohin dengan Loe !”
“beneran nih ? terus yang ampe demam tinggi gara-gara mikirin Gw siapa dong ?”
“heh ??? Gw demam tinggi emang karena Gw lagi nggak fit aja kemaren ! bukan
karena mikirin Loe, ge-er banget sih . . . ?!” jawab Keke lagi masih
nggak mau kalah dengan Rio, mereka terus saling melempar pertanyaan dan
adu mulut meskipun sebenarnya dihati mereka masing-masing begitu bahagia
karena akhirnya mereka bisa ketemu lagi dan kompak lagi seperti saat Keke masih tinggal di rumah Rio dalam rangka kabur dari rumahnya karena
ia menolak dijodohkan oleh kedua orang tuanya, ‘coba Gw tau dari awal
kalo calon Gw itu Rio, mungkin Gw nggak bakalan pake acara minggat dari
rumah kali ya . . .?’ ujarnya dalam hati dan terus tersenyum karena ia
sangat merasa aman bila ada di dekat Rio.