Senin, 21 Juni 2010

RINDUKAN DIRIMU (part 11)


Hulla semuanya ^_^ apa kabar ?
Absen dulu yuk ? hha ,,,

Keke 

cilukba ……..

Acha

hay achapuccino … “hay ACHAntik”

Nova

 aku disini …

Ozy

hy kakak penulis … “hy adek ku !”

Rio

aduh, tunggu bentar yah, masih andukan nih … (penulis teriak “tisuuu tisuuu” mimisan akut !) #abaikan

Alvin

yihaaaaaaaaa … aku qreen kan !! (penulis angguk angguk . geleng geleng)

Udah kan absennya ?? oke, sekarang kita mulai cerita tentang persahabatan mereka semuanya !!
Thx sebelumnya yang masih setia ngebaca tulisan ku ini (pasti karena semuanya pada meng idolakan mereka kan ?) ya iyalah … anak anak berprestasi penerus bangsa nih !!! hha …


~~~
                Nova berjalan memasuki koridor asrama, dia baru aja nyampe asrama siang ini, sebelumnya dia juga sempat menghubungi Acha yang ternyata masih di jalan sama seperti teman temannya yang lain, “siang Ibu …” sapa Nova saat berpapasan dengan Ibu Winda (masih pada inget kan ?) ya, Ibu Winda adalah kepala asrama mereka, “siang Nova, kamu baru dateng ?” jawab Ibu itu ramah, Nova tersenyum sambil mengangguk pelan, “teman teman kamu yang lainnya belum datang ya ?” tanya Bu Winda lagi, “belum Bu, masih di jalan”
“oh, kalau begitu kamu bisa ikut saya sebentar ?”
“saya ingin menanyakan sesuatu sama kamu” Nova menuruti ajakan Ibu kepala asrama mereka itu ke ruangannya, lalu sesampainya disana, Ibu Winda mempersilahkan Nova untuk duduk, “ini …” ujar Ibu Winda memberikan beberapa lembar potongan kertas, yang sepertinya … “tiket ? tiket apa ini Bu ?” tanya Nova gak ngerti, “itu tiket untuk mengikuti Seminar Anak Berbakat Indonesia yang bakal di adain tanggal 20 september ini …” ujar si Ibu menjelaskan, tapi Nova hanya diam “kamu masih belum ngerti yah ?”  Nova mengangguk lagi, “begini Nova, di seminar ini seluruh anak anak berbakat di Indonesia bakal di kumpulin jadi satu, dan di cari siapa yang terbaik, nah selama ini Ibu sebenarnya selalu mengamati kalian semua 1 per 1 …” Ibu Winda berhenti sejenak, lalu menyeruput teh yang ada di depannya, dan kembali bercerita, “… Rio yang suaranya ya menurut saya sih… sempurna (hhe) , Ozy yang melayu tapi dia juga tetap bisa menyesuaikan di setiap lagu, Keke yang suaranya kaya Rio tapi versi cewe, Acha yang suaranya ceria, dan kamu yang punya suara melengking tapi indah, kalian juga punya bakat yang lain kan ? ada yang bisa main alat musik, olahraga, kalian juga semuanya, saya rasa jago dalam koreografi dan masih banyak lagi, jadi intinya pihak sekolah ingin kalian mewakilkan sekolah untuk mengikuti seminar ini, tapi tenang saja, Dea kakak kelas kalian juga akan ikut …” ujar Ibu Winda berhenti untuk memberi jeda panjang pada penjelasannya, “saya gak akan memaksa kalau kalian gak mau, tapi saya kasih kalian waktu selama 3 hari hingga hari rabu, untuk memberikan kepastian, gimana ?” tanya Bu Winda mengakhiri untaian kalimatnya, “baik Bu, terima kasih, saya senang kalau saya dan teman teman bisa memberikan yang terbaik untuk sekolah ini, tapi apa Ibu yakin ?” jawab Nova sopan, Ibu Winda mengangguk dengan pasti “iya, saya yakin” jawabnya dengan tegas, lalu setelah itu, Nova pamit untuk segera ke kamarnya, tentu saja dengan 6 tiket yang ada di tangannya, ‘aduuh yang lain mana sih ? pasti mereka seneng banget nih kalo tau kabar yang 1 ini!!’ ucap Nova dalam hati.

~~~
            Waktu menunjukan pukul 3 siang menjelang sore, Acha yang lagi serius ngelanjutin PR di meja belajarnya, tiba tiba berhenti menulis karena teringat sesuatu, “ya ampuun ! gw lupa aktifin BBM, pantesan aja dari tadi gak bunyi bunyi …” ujarnya heboh sendiri, “napa Cha ?” tanya Keke yang baru masuk kamar, “eh gak papa Ke” jawab Acha singkat dan kembali melanjutkan menulis, “Nova bilang, ntar kita nyusul dia di taman belakang asrama, ada yang mau di bicarin katanya sih penting” ucap Keke kembali mengeluarkan suara, “iya deh, ni juga bentar lagi kelar kok” Acha kembali konsen menulis, Keke tau sahabatnya 1 ini paling gak bisa di ganggu kalo lagi belajar, jadi dari pada nganggur Keke memilih untuk mendengarkan Ipod nya sambil duduk santai di beranda kamar asramanya, maklum Nova dan yang lainnya sudah pada ngumpul di taman belakang asrama dari tadi, dia disini hanya karena ingin menemani Acha, toh Nova juga bukan cewek sendirian, kan ada kak Dea ? ucapnya dalam hati.

~~~
            Semuanya sudah berkumpul, dan baik Nova ataupun Dea, sudah menjelaskan apa yang Ibu Winda bilang sama mereka , Dea juga sudah sempet ke ruang Ibu Winda sebelumnya, “nah, kesimpulannya, Ibu winda bilang, dia minta kepastian dari kita semua ampe hari rabu, apa kita mau ikut atau nggak di seminar ini” ujar Dea mengakhiri penjelasannya, “hm,,, gimana yah ?” Rio ngelus ngelus dagunya sambil mikir, Alvin malah asik bersandar saling membelakangi dengan punggung Rio, “kalo gw sih mau aja, tapi kalo untuk nyanyi ….” Belum selesai Alvin ngomong malah di potong oleh Ozy, “udahlah Vin, loe itu sebenernya ada bakat jadi penyanyi, apa salahnya di coba dulu ? siapa tau kan hasil dari loe nyanyi bisa di tabung untuk sekolah bola di luar negri (curcol penulis) ??” ujar Ozy memberikan saran (thanks Ozy dah di sampein ke Alvin #bigHUG), “iya tuh, si Osi bener, loe kan punya tampang qreen, suara oke, koreo juga nampol, nah kalo pun loe suatu saat jadi pemain bola beneran, loe kan dah punya banyak supporter tuh …” kali ini Nova ikut menimpali, “ehm, kalo gw boleh saran sih, kita semua ikut aja, ya minimal ini untuk pengalaman kita ? gimana” Keke akhirnya memberi usul, ehm maaf solusi maksudnya, karena semuanya langsung menyetujui pemikiran Keke, “oke lah kalo begitu, kapan nih kita mau kasih tau Bu Winda ?” tanya Acha dengan semuanya, “lebih cepat lebih baik ! ayo …” jawab Rio semangat dan langsung berdiri dari duduknya, lalu mereka saat itu juga langsung menghadap Ibu Winda untuk menerima tawaran mengikuti seminar tersebut.

~~~
            Rio sedang fokus menyalin catatan yang ada di papan tulis yang tadi di tuliskan oleh sekretaris kelas, dia ketinggalan mencatat karena sedari tadi dia mencatat sambil mendengarkan Ipod, “Rio, loe masih belum selesai juga ?” tanya Ozy yang juga mengikuti kelas yang sama dengan Rio, Rio mengangguk, sepertinya dia sedang tidak bisa di ganggu, alhasil Ozy kembali duduk di tempat duduknya semula lalu mengambil alih Ipod Rio yang lagi nganggur, ‘eh, lagu siapa nih ? kok gw belum pernah denger yah ? suara penyanyinya juga lembut banget tapi tetep tinggi’  batin Ozy saat mendengarkan salah 1 lagu yang ternyata sedang di play di Ipod itu, lalu tanpa sadar dia ikut bernyanyi setelah masuk reff ke 2, “semoga dirimu disana, kan baik baik saja untuk selamanya disini aku kan selalu rindukan dirimu …” belum selesai Ozy mengikuti lirik yang ada di lagu yang sedang dia dengarkan itu, tiba tiba Ipod yang ada ditangannya langsung di tarik oleh yang punya, “Rio ?” tanya Ozy kaget, “hahaha, suara loe jelek Zy ! untuk lagu ini, mending loe nyanyi lagu laen aja yah…” ujar Rio sambil tertawa dan terpaksa berbohong, karena sebenarnya dia kaget, gimana bisa si Ozy ngedenger lagu bikinan Rio yang sebenernya Rio buat waktu Ozy tiba tiba menghilang ? , “maksud loe ? iya, gw tau yang suaranya bagus” jawab Ozy pura pura ngembek agar bisa kembali mendengarkan lagu tersebut, Rio tersenyum lebar melihat tingkah sahabatnya itu, lalu iya kembali menulis, Ozy hanya manyun melihat Rio, lalu beberapa menit kemudian dia malah asik dengan BB nya.
            Rio dan Ozy kini sedang berjalan beriringan menelusuri koridor, “kita bentar lagi masuk kelas fisika kan Io ?” tanya Ozy sedikit berbisik, “nah lho ! loe amnesia lagi yah Zy ?” tanya Rio kaget, “emangnya kenapa ?” Rio tertawa mendengar pertanyaan Ozy, “yeiy ni anak ! jelas jelas kita baru aja belajar Fisika, masa loe mau masuk kelas fisika lagi ? kalo gw sih ogah Zy …”
“oh iya ! astaga, gw lupa”
“hhuu …”
“terus kita mau kemana sekarang ?”
“loe lupa kalo kita siang ini mau ngumpul di ruangannya Ibu Winda ? yang lain dah duluan tuh dari tadi”
“hm,,, oke deh” jawab Ozy mengerti dan mereka akhirnya berbelok menuju ruangan kepala asrama mereka itu.

~~~
            “Nah, kalau begitu ibu akan menjelaskan bagaimana kelanjutannya untuk mengikuti seminar ini, acara puncaknya adalah tanggal 20 september, tapi kalian akan di karantina selama 3 hari, dari hari kamis hingga hari sabtu untuk mempersiapkan semuanya pada acara puncak tanggal 20 september itu, kalian ngerti ?” ujar Ibu Winda menjelaskan garis besar dari seminar tersebut,
“di karantina Bu ?” tanya Alvin mewakili yang lainnya,
“iya betul, jadi hari rabu malam, kalian akan di jemput oleh panitia pelaksana untuk di ajak ke hotel, tempat kalian akan menerima pembekalan selama 3 hari 3 malam, tenang aja besok pagi kalian saya persilahkan untuk kembali kerumah masing masing, untuk mempersiapkan semuanya, tapi ingat sore harinya kalian sudah harus ada di asrama karena malam harinya kalian akan langsung di jemput” ujar Ibu Winda panjang,
“baik Bu, kita semua sudah cukup ngerti, terus apa aja yang harus kami persiap kan ?” Ibu Winda tersenyum sesaat mendengar perkataan muridnya itu,
“pertanyaan yang bagus Rio, kalian cukup membawa pakaian ganti dan alat tulis, lalu selebihnya semuanya di tanggung oleh pihak panitia penyelenggara acara” jawab Ibu Winda lagi, lalu beranjak dari kursinya, menuju salah 1 lemari yang ada di ruangan itu,
“lalu Bu, apakah kami akan bergabung dengan peserta dari sekolah lain ? lalu apa kami semuanya tetap bisa bareng selama di sana ?” tanya Keke beruntun, Ibu Winda tidak langsung menjawab pertanyaan Keke, tapi dia terlihat tersenyum lebar mendengar pertanyaan Keke,
“ini untuk kalian semuanya masing masing 1 ya …” ujar Ibu Winda membagikan bungkusan pada mereka semua,
“nah, pertanyaan Keke tadi belum saya jawab yah ? begini, kalian disana tentu saja akan bertemu dengan peserta dari sekolah sekolah lain, dan mereka bukan hanya dari Jakarta, tapi dari seluruh Indonesia, dan kalau tentang kalian akan di pisah atau tidak, tentu saja tidak, karena kalian adalah 1 regu, jadi jangan takut kalau disana kalian akan berpencar” Jawab Ibu Winda dengan senyum tipis yang tidak pernah lepas dari bibirnya,
“oh iya, barang barang yang baru saya bagikan itu adalah tas, alat tulis, serta t-shirt yang akan kalian gunakan selama karantina” sambung Ibu Winda lagi menjelaskan barang barang yang kini sudah ada di tangan mereka masing masing,
“boleh saya buka sekarang Bu ?” tanya Dea karena penasaran,
“oh tentu silakan kalian lihat dulu” jawab Ibu itu mempersilahkan, dan mereka kompak membuka bungkusan masing masing, ternyata di dalamnya memang ada sebuah tas yang berwarna ungu dengan corak bintang bintang, lalu alat tulis yang juga senada dengan warna tas, serta 3 buah t-shirt berwarna dasar putih yang juga tidak lepas dari aksen ungu (nyontek dari perangkat Icil), lalu setelah itu mereka kembali berbincang sejenak sebelum akhirnya semuanya pamit untuk kembali ke kamar masing masing, dan besok paginya akan pulang kerumah masing masing untuk bersiap, sebelum masuk karantina.

~~~
            Semuanya sudah bersiap untuk memulai masa karantina mereka, tadi pagi, baik Nova, Rio, Ozy, Keke, Alvin, Acha dan Dea juga sudah sempat pulang kerumah masing masing, dan sekarang mereka baru saja tiba di asrama, Obiet yang kebetulan sedang tidak ada kegiatan menyanyi justru sengaja mengantar Keke ke asrama sore ini, dan sekarang mereka sedang asik ngobrol bersama di taman belakang asrama, Obiet yang hari ini sepertinya baru nyadar kalau ternyata banyak mata yang meliriknya dan merasa mengenalnya malah cukup merasa gak nyaman, padahal dia sangat menikmati suasana sore ini, “Ke, sudah jam 5 lewat nih, gw pulang ya ?” ujar Obiet ingin pamit dengan semuanya, “lho ? kakak gak nungguin ampe kita pergi ?” tanya Keke kaget, karena setau dia, Obiet sudah janji akan menemaninya hingga mereka di jemput nanti malam, “ng,,, kayaknya gak bisa deh, maaf ya semuanya” jawab Obiet pelan, dia juga memberi kode pada yang lain, agar yang lainnya tau bahwa ia tidak merasa nyaman disini, karena begitu banyak mata yang memandanginya, lalu akhirnya mereka mengantar Obiet hingga parkiran mobil, dan kembali ke kamar masing masing, untuk istirahat sejenak.

~~~
Di Kamar Riozyvin
            Ozy teringat tentang sebuah lagu yang dia dengarkan kemarin dari Ipod Rio, lalu karena keliatannya semuanya sedang santai, Ozy sengaja mendekati Rio yang sedang asik memetik gitarnya di beranda kamar, “widih .. si gitar boy !” ledek Ozy asal, lalu Rio segera menoleh ke sumber suara, dia melihat Ozy yang sudah ada di belakangnya, “Vin gabung yuk ! kita nyanyi bareng …” teriak Ozy pada Alvin yang lagi asik BBan, setelah semuanya berkumpul, Ozy mulai membuka suara, “Rio, kemarin lagu yang gw denger di Ipod lo bagus banget ! Itu lagunya ap siah ?” “hah ? lagu apa Rio ?” tanya Alvin yang penasaran, “lagu ? lagu yang mana Zy ?” tanya Rio pura pura lupa, “aduh, apa perlu ya gw nyanyiin ? ntar yang ada lo protes lagi ke gw ?” lagi lagi Ozy masih berusaha untuk bisa mendengarkan lagu itu lagi, “lagu yang mana sih Zy ?” kini Alvin ikut penasaran, “ehm, gini lho lagunya, semoga dirimu disana kan baik baik saja untuk selamanya disini aku kan selalu rindukan dirimu …” “wahai sahabatku …” potong Rio di kalimat terakhir tentu aja dengan falset khas nya (brrrrrr… merinding euy!) “nah itu inget !” ujar Ozy berseru, “oh, lagu itu yah Zy ? hahaha … Rio Rio” ucap Alvin sambil tertawa lalu geleng geleng saat menyebut nama Rio, “lo tau Vin ?” tanya Ozy sedikit kaget, Alvin mengidikan bahunya, lalu dia menunjuk Rio dengan bibirnya, “Rio, jiaaah napa ni anak malah diem Koko ??” ucap Ozy bingung, Rio tersenyum dan menarik nafas panjang, ‘mungkin ini sudah waktunya untuk cerita’ ujarnya sempat membatin, “beneran pengen tau ?” tanya Rio sok berteka teki dengan memasang tampang jahilnya, Ozy mengangguk dan Alvin juga sudah siap memasang telinga, padahal Alvin juga sudah tau cerita di balik lagu itu, “ini lagu ciptaan gw sendiri Zy (maaf kak Ryan dMassiv) ! lagu ini gw buat waktu gw kehilangan sahabat terbaik gw waktu itu, dan masa lo gak bisa ngenalin suara gw sih Zy ? hha …” cerita Rio bangga dengan lagunya sendiri, “hah ? beneran lo bikin sendiri tu lagu ? terus, itu juga suara lo Pupbay ??” tanya Ozy gak percaya, Alvin malah cuma senyum senyum gak jelas, “iya Zy, seisi sekolah juga tau kok lagu itu, karena waktu perpisahan SMP dia nyanyiin lagu itu akustik ama gitar tersayangnya ! hhha …” celetuk Alvin ikut bercerita, malah sekarang giliran Rio yang senyum senyum sambil garuk garuk kepala, “gak percaya ah ! kalo emang iya, buktiin dong !” jawab Ozy nantangin Rio, padahal dia sengaja biar Rio nyanyi beneran, “bener tuh Zy ! gw setuju aja sih kalo si Rio nyanyi, hha … soalnya gw dah lama gak denger dia bawain lagu ini sejak … sejak SMA” ujar Alvin sambil ngelirik Rio usil, “iya iya, gw nyanyi deh …!” jawab Rio pasrah dan mulai memetik dawai dawai gitarnya, “berjanjilah wahai sahabatku bila kau tinggalkan aku tetaplah tersenyum, meski hati sedih dan menangis ku ingin kau tetap tabah menghadapinya bila kau harus pergi meninggalkan diriku jangan lupakan aku …” Alvin dan Ozy bertepuk tangan kecil mendengar kata demi kata dari lirik lagu yang sedang di nyanyikan Rio (mewakili Rise gitu …) “…semoga dirimu disana kan baik baik saja untuk selamanya disini aku kan selalu rindukan dirimu wahai sahabatku, rindukan dirimu” ujar Rio menyelesaikan lagunya, dan kini Alvin dan Ozy benar benar tepuk tangan dengan hebohnya, Rio masih tersenyum senang bisa membuat kedua sahabatnya ini senang sore ini, “gila ! qreen Io …” ujar Ozy takjub, karena ia baru sekali ini mendengar lagu itu, “tapi, Rio temen lo itu emangnya kemana ? kok bisa ampe segitunya lo bikin ni lagu ?” tanya Ozy lagi, kali ini Rio dan Alvin justru saling lirik, antara ingin tertawa tau bahkan bingung untuk menjelaskan pada Ozy, “ah… gak penting juga sih ! toh sekarang gw juga dah ketemu lagi ama orangnya …” jawab Rio tersenyum renyah sembari merangkul Ozy dan Alvin, lalu mereka masuk ke dalam kamar lagi, karena langit sudah mulai gelap.
~~~
O0opsz!! Segini dulu yah ^_^
Aku janji insyaallah kalo gak ada hambatan, besok dah aku lanjutin lagi kok : )
Semoga kalian suka yah …
Dan tungguin aja, di part selanjutnya mereka semua mulai di karantina lho !!
Oke oke ?
Jangan lupa komentar & di tunggu masukannya (terima kasih)